Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Satu



"Ueeeeek.... Mas Riko makan durian ya.... " teriak Dini. Dia segera berlari ke kamar mandi.


Riko diam terpaku melihat reaksi Dini seperti itu.


"Belum aku apa - apain dia sudah hamil duluan" ucap Riko pada diri sendiri.


"Ueeek... ueeeek.... " terdengar suara Dini dari kamar mandi.


"Yank kamu kenapa? Belum aku apa - apain lho masak kamu sudah mual - mual?" tanya Riko sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Jangan masuk Mas, jorok" cegah Dini.


"Gak apa - apa, kamu kan udah jadi istriku" jawab Riko.


"Jangan mendekat Maas.. Aku gak tahan cium wangi durian. Aku langsung mual" ungkap Dini


Riko berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.


"Se.. sejak kapan kamu mual mencium wangi durian?" tanya Riko.


"Sejak dulu, sejak aku kecil aku sudah seperti ini" jawab Dini.


Dini membersihkan wajahnya dan juga kamar mandi. Setelah itu dia keluar dan menjaga jarak dari Riko.


"Kenapa aku baru tau sekarang?" tanya Riko bingung.


"Mas gak pernah tanya. Lagian apa Mas lupa waktu honeymoon nya Reni dan Mas Bimo. Mbak Jelita kan bawa Puncake durian dari Medan. Aku kan mual - mual Mas" ungkap Dini.


"Aku kira kamu mual saat itu karena mabuk laut dan saat itu kamu juga lagi datang bulan kan?" tanya Riko.


"Iya tapi aku mual karena wangi durian, bukan karena mabuk laut atau nyeri haid" jawab Dini.


Ya Tuhan gimana mau mesra - mesraan malam ini, kalau begini kejadiannya. Sial si Aril brengse* ngapain juga tadi dia ajak aku makan durian. Umpat Riko.


"Tapi aku sudah gosok gigi lho yank" ujar Riko mulai putus asa.


"Tapi tetap kecium baunya Mas. Maaf ya Mas aku muaaal" jawab Dini merasa bersalah.


Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya sudah kalau begitu kita tidur saja" ujar Riko pasrah.


Riko kembali ke kamar mandi dan menggosok giginya lagi.


Gagal deh malam pertamaku. Batin Riko merana.


Dengan langkah gontai dia berjalan menuju tempat tidur setelah selesai gosok gigi untuk yang kedua kali malam ini.


Kini Riko dan Dini kini kembali berbarinh di atas tempat tidur. Walau malam pertama mereka gagal tapi setidaknya masih bisa saling berpelukan.


Riko mendekatkan tubuhnya kedekat Dini. Kemudian memeluk tubuh Dini erat.


"Kita pelukan saja ya yank malam ini" ucap Riko.


"Ueeeeek... ueeeeek.. " Dini kembali mual dan lari kekamar mandi.


Sial nih si Aril.. gara - gara dia hancur malam pertamaku. Dia pasti lagi enak - enakan nih di kamarnya malam ini. Umpat Riko dalam hati.


Di kamar Aril.


Seketika tubuh Aril menggigil. Dia segera merapatkan tubuhnya dan memeluk Bela erat.


"Kamu hangat sekali sayang" bisik Aril ditelinga Bela yang sudah tidur dengan nyenyak.


Kenapa tiba - tiba bulu kuduk ku berdiri ya? Apa ada yang sedang mengumpatku? Ah pasti Riko nih marah - marah karena malam pertamanya gagal. Hahaha... rasakan, emang enak puasa? Syukur kamu puasanya cuma satu malam, lah aku satu bulan. Gumam Aril dalam hati.


****


Riko kembali berjalan ke kamar mandi dan menunggu Dini.


"Yank kamu kok mual lagi sih, aku kan sudah gosok gigi lagi tadi?" tanya Riko.


"Masih kecium Mas aromanya" jawab Dini serba salah. Dia juga sudah lemas karena sudah lebih dua kali muntah. Wajahnya juga pucat.


"Maaf kan aku yank, kalau saja aku tau kamu alergi aroma durian aku tidak akan makan durian tadi. Gara - gara Aril. nih dia yang ajakin aku tadi makan durian" ungkap Riko.


Dini memegang perutnya dan mencuci mulutnya. Kemudian dengan langkah lemas dia keluar kamar mandi.


"Jadi gimana nih Mas, aku sepertinya gak bisa tidur dekat kamu malam ini?" tanya Dini.


"Ya sudah deh yank, aku yang ngalah karena memang aku yang salah. Kasihan kamu harus muntah - muntah terus karena mencium wangi durian dari mulutku. Kamu tidur di tempat tidur biar aku tidur di sofa aja" usul Riko.


"Jangan Mas, aku jadi istri durhaka" cegah Dini.


"Aku yang berdosa yank kalau biarin kamu tidur di sofa mana kamu juga pasti lemas banget udah muntah beberapa kali" potong Riko.


"Maafin aku ya Mas" ucap Dini dengan nada sungkan.


"Aku yang harusnya minta maaf pada kamu yank. Ya sudah kita tidur ya, besok kan kita mau honeymoon. Kamu istirahat yang cukup biar besok kita bisa menikmati honeymoon kita. Besok aku pastikan kamu tidak akan mencium aroma durian lagi dari tubuhku" janji Riko.


"Iya Mas, aku tidur ya Mas" sambut Dini.


"Good night sayang, mimpiin aku. Jangan lupa baca doa ya sebelum tidur" pesan Riko.


"Iya Mas" jawab Dini.


Dini naik ke tempat tidur sedangkan Riko berjalan menuju sofa.


Awas kamu ya Ril, lihat aja besok. Malam ini kamu bukan saja menggagalkan malam pertamaku tapi gara - gara kamu aku tidak bisa tidur berpelukan dengan istriku. Geram Riko di dalam hati.


Karena hari memang sudah malam akhirnya Riko dan Dini kembali tidur hingga pagi menjelang. Terdengar bunyi alarm dari ponsel Dini yang membuat Dini tersadar.


Dini segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap shalat subuh. Dini mendekati Riko yang sedang tidur dengan nyenyaknya.


Dipandanginya wajah tampan pria yang sudah menjadi suaminya selama sehari. Ada rasa bangga akhirnya bisa menjadi istri seorang Riko Hidayat.


Pria yang dia kenal satu tahun yang lalu. Walau awal perkenalkan mereka lucu tapi itu akan menjadi kenangan yang indah seumur hidup mereka. Bisa - bisanya Riko jatuh cinta pada pandangan pertama dan anehnya Riko malah menduga kalau dia sudah menikah dan punya seorang anak.


Dini kembali tersenyum mengingat kenangan lalu. Tanpa sadar tangan Dini kini sudah membelai lembut kepala Riko hingga Riko terbangun.


Riko langsung cepat tanggap, tidak mau membuka mulutnya dia hanya memberi kode agar Dini segera menjauh darinya. Dini mengikuti isyarat dari Riko.


"Kenapa Mas?" tanya Dini bingung.


"Aku takut kalau aku membuka mulutku kamu akan mencium aroma durian" jawab Riko.


Owh.. manisnya suamiku ini. Puji Dini dalam hati.


Dini tersenyum sambil menatap wajah Riko. Riko langsung duduk dan bersandar di sofa.


"Jam berapa ini?" tanya Riko.


"Sudah jam empat Mas. Mas mau shalat subuh di Mesjid atau...?" tanya Dini.


"Di kamar aja" potong Riko.


Biar deh jadi pria solehah dari pada aku dikerjain Aril lagi pagi ini. Batin Riko.


"Oh ya sudah mandi dulu gih, pakaian Mas sudah aku siapkan" perintah Dini.


Riko berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tak lupa dia kembali menggosok giginya untuk menghilangkan aroma durian dari mulutnya.


Setelah itu mereka shalat subuh berjamaah di kamar. Usai shalat Riko kembali duduk di sofa.


"Yank aku masih ngantuk, bangunkan aku lagi jam tujuh ya. Kita sarapan pagi dulu baru berangkat ke Bandara. Kalau Aril atau Bela mengganggu kita lagi, biarin saja. Aku gak mau ketemu Aril saat ini" pinta Riko.


"Iya Mas" Dini tersenyum lucu melihat tingkah suaminya itu.


Pasti saat ini suaminya sedang kesal dengan sahabatnya tapi Dini percaya Riko dan Aril akan tetap berteman baik. Bercanda seperti ini adalah hal yang bisa mereka maklumi karena mereka sudah berteman lama sejak di bangku kuliah.


.


.


BERSAMBUNG