Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuhpuluh Enam



Romi tersenyum tipis mendengar pesanan Ela. Dia sangat senang melihat raut wajah Ela yang bisa Romi bayangkan perasaan di hati Ela saat ini.


Hahaha... pasti itu hanya alasan saja makanya dia memesan air mineral. Tawa Romi dalam hati.


"Kamu masih tinggal di rumah Bimo?" tanya Romi.


"Ma.. masih Pak" jawab Ela.


"Sebentar lagi mungkin Bimo akan menikah, apakah kamu akan tetap tinggal di sana juga?" tanya Romi.


"Iya Pak, Bela tidak mengizinkan saya ngekos. Mas Bimo juga menahan saya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Katanya biar rame" jawab Ela.


"Sampai kapan kamu akan tinggal disana?" selidik Romi.


"Saya gak tau, mungkin nanti kalau sudah tiba saatnya saya pasti akan keluar dari rumah Mas Bimo" jawab Ela.


"Kamu panggil Refan dengan sebutan Mas, panggil Aril dan Bimo juga sama. Mengapa padaku berbeda? Kamu panggil aku Bapak, seolah - olah umurku sebaya dengan Bapak kamu" sindir Romi.


"Bapak kan atasan saya, Bos saya di kantor" jawab Ela.


"Tapi saat ini kan kita tidak sedang berada di kantor?" desak Romi.


"Tapi Bapak tetaplah atasan saya. Saya harus menghormati Bapak dimana pun Bapak berada" tegas Ela.


"Kalau aku yang meminta sendiri kamu merubah panggilan Bapak menjadi Mas, kamu mau?" tanya Romi.


Ela menggelengkan kepalanya menolak permintaan Romi.


"Kenapa?" tanya Romi lagi.


"Saya tidak mau teman - teman kantor curiga dan menuduh saya tidak sopan kepada Bapak apalagi ada suatu hubungan dengan Bapak. Saya orang susah Pak dari kampung saya masih butuh pekerjaan untuk membantu kehidupan kedua orang tua saya. Saya harus bekerja dengan giat dan baik agar saya tetap bisa bekerja untuk membahagiakan orang tua saya" jawab Ela.


"Tapi saya yang memberi kamu perintah dan kamu menolaknya? Apa kamu lebih memilih kata - kata teman kantor kamu dari pada kata - kata pemilik kantor?" tanya Romi.


"Tidak Pak, saya lebih memilih perkataan Bapak dari pada omongan teman - teman kantor. Tapi Pak saya mohon sekali pengertian dari Bapak, izinkan saya tetap memanggil Bapak dengan sebutan Pak karena saya lebih nyaman begitu" ungkap Ela.


"Baiklah untuk saat ini saya masih bisa menerimanya tapi kalau suatu saat saya merasa risih dengan sebutan kamu itu, kamu harus menggantinya" perintah Romi.


"Baik Pak, saya akan menggantinya nanti" jawab Ela.


Tatapan Romi beralih pada piano yang ada di sudut ruangan.


"Kamu bisa bermain musik?" tanya Romi kepada Ela.


"Tidak Pak, saya hanya bisa karate" jawab Ela.


"Ah iya ya saya lupa keahlian kamu itu" Romi berdiri dan berjalan menuju piano.


Romi membisikkan sesuatu kepada sang pianis. Tak lama pria itu berdiri dan memberikan tempat duduk nya kepada Romi.


Romi duduk tetap di belakang piano kemudian tangannya menyentuh piano. Ela memperhatikan tindakan Romi. Tak lama kemudian Romi memainkan sebuah lagu yang berjudul Endless Love.


Seketika Ela dihipnotis akan permainan piano Romi. Dia terlihat sangat mahir memainkan piano tersebut. Mata Ela tak berkedip melihat aksi Romi tersebut.


Setelah selesai satu lagi Ela langsung bertepuk tangan karena aksi Romi yang sangat luar biasa.


"Prok.. prok.. prok.. waah Bapak hebat sekali memainkan piano itu. Dari dulu aku ingin sekali bisa memainkan salah satu alat musik tapi apa daya mungkin bakatku tidak ke situ" puji Ela tersenyum manis melupakan permasalahannya tentang harga makanan di Restoran ini.


Romi membelas pujian Ela dengan senyum manis. Dia berjalan kembali ke meja semula dan duduk di depan Ela.


"Pantas saja banyak wanita yang rebutan mendapatkan perhatian Bapak, Bapak memang paling bisa membuat wanita terpesona" sambung Ela.


"Termasuk kamu?" tanya Romi.


"Mungkin karena saya sudah tau kisah tentang Bapak jadi saya bisa menjaga perasaan saya. Kalau seandainya saya tidak tau mungkin nasib saya akan sama dengan mereka sebagai pengagum Bapak" jawab Ela.


Taukah kamu hanya kamu wanita yang pernah aku perlakukan seperti tadi. Selain keluargaku tidak ada orang lain yang pernah melihat aku bermain piano seperti tadi. Batin Romi.


"Apakah kisah masa lalu seseorang yang buruk harus merusak masa depannya?" tanya Romi dengan wajah tampak sedih.


"Tidak Pak" jawab Ela.


"Ma.. maksud Bapak?" tanya Ela bingung.


"Riko di tolak orang tua Dini karena masa lalunya, barusan kamu juga singgung tentang masa lalu saya. Aril juga sering curhat, katanya Bela suka singgung tentang masa lalu Aril seorang playboy. Makanya karena itu aku bertanya, apakah setiap orang yang kami temui akan melihat masa lalu kami yang kelam?" tanya Romi.


Ela terdiam mendengar pertanyaan Romi. Pertanyaan Romi memang benar, dia merasa malu karena sudah termasuk menjadi orang yang menghakimi Romi seperti itu.


"Ma.. maaf Pak, aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Ela menyesal.


Aku hanya mencoba membentengi hatiku Pak agar tidak jatuh cinta kepada kamu. Aku sangat tau diri, tidak mungkin pria seperti kamu menyukai gadis kampung seperti aku. Sementara aku terus baper setiap kamu memperlakukan aku dengan manis. Tadi permainan piano Bapak sangat manis sekali. Setiap wanita pasti akan langsung jatuh hati melihat aksi Bapak tadi. Apalagi lagu yang Bapak mainkan, lagu Endless Love. Aku merasa menjadi wanita yang spesial saat ini diperlakukan dengan sangat romantis oleh Bapak. Kalau aku tidak membentengi hatiku aku pasti akan langsung jatuh hati kepada Bapak. Apalagi semakin lama aku mengenal Bapak, Bapak tidak seperti yang teman - teman kantor katakan. Bapak tidak galak ataupun seram walau jujur aku memang sering merasa takut saat bersama dengan Bapak. Maaf ya Pak kalau aku bersikap seperti ini. Batin Ela.


"Sudahlah El.. aku sudah mengerti. Mungkin itulah hukuman sosial untuk kami. Bagaimana pun upaya kami untuk berubah orang - orang pasti akan tetap melihat masa lalu kami" sambung Romi.


"Bukan seperti itu Pak, contohnya Dini. Dia bisa menerima masa lalu Mas Riko dengan tulus dan ikhlas" ujar Ela.


"Kalau kamu diposisi Dini, apakah kamu bisa menerima masa lalu saya seperti itu?" tanya Romi.


"A.. aku belum bisa menjawabnya Pak. Hal itu tidak pernah aku pikirkan sama sekali" ungkap Ela jujur.


Tak lama pelayan datang membawa makanan mereka dan menyajikannya tepat di hadapan Ela dan Romi.


"Mari kita makan dulu dan lupakan apa yang tadi kita bicarakan" ajak Romi.


"Baik Pak" jawab Ela.


Mereka mulai menikmati hidangan makan siang dengan saling diam. Tapi dalam diam Romi tetap sesekali melirik ke arah Ela.


"Gimana makanan di sini, enak?" tanya Romi.


"E.. enak Pak" jawab Ela.


Dengan harga segitu ya pasti enak Pak. Kalau gak enak kelewatan itu namanya. Batin Ela.


Tak lama kemudian Romi dan Ela selesai menikmati makan siang mereka. Romi memanggil pelayan untuk meminta bill. Ela langsung panas dingin menunggu bill datang.


Pelayan datang membawa tagihan yang harus mereka bayar.


"Berapa?" tanya Romi.


"Semuanya sembilan ratus delapan puluh ribu Pak" jawab pelayan itu.


Ela langsung terkejut mendengar angka tagihan makan siang mereka.


Gila makan segitu aja harganya sudah hampir satu juta. Padahal cuma sepiring mie dan sepiring potongan daging yang aku yakin timbangannya tak sampai satu kilo daging. Batin Ela.


Ela meraih tas kerjanya dan mengambil dompetnya. Kemudian Ela mengeluarkan kartu debit nya kepada pelayan.


"Untuk apa itu?" tanya Romi.


"Untuk bayar makanan kita Pak" jawab Ela.


Romi tersenyum menatap ke arah Ela.


"Kamu menjatuhkan harga diri saya Cishela, saya tidak pernah di traktir wanita. Kamu lupa saat pertama kali kita bertemu. Kamu juga ingin membayar tagihan makan kita tapi aku menolaknya" ungkap Romi.


"Tapi kan siang ini saya sudah janji untuk traktir Bapak makan" ujar Ela.


"Itu cuma alasan saya agar bisa makan di luar bersama kamu. Kalau tidak karena alasan itu kamu pasti tidak mau aku ajak makan di luar" balas Romi.


Ela menatap wajah Romi tak percaya. Romi tersenyum manis membalas tatapan Ela. Romi mengeluarkan kartu ATMnya dan memberikannya kepada pelayan.


"Pakai kartu ini saja" perintah Romi.


.


.


BERSAMBUNG