Playboy Insaf

Playboy Insaf
Delapanpuluh Tiga



Romi sudah sampai lebih dulu di Bandara. Dia melihat sekeliling tapi tidak melihat sosok Ela.


Apakah dia tersesat? tanya Romi dalam hati.


Romi meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Ela.


Romi


Cishela aku sudah sampai di Terminal A


Bidadari Surga


Iya Pak tunggu sebentar. Sebentar lagi saya akan sampai.


Romi duduk di ruang tunggu dan menunggu kedatangan Ela. Tak lama tampak Ela sedang berlari ke arah Romi.


Dengan nafas yang masih menderu dan jantung yang berdetak kencang Ela menatap Romi.


"Ma.. Maaf Pak saya telat" ucap Ela sambil menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Kamu ternyata jam karet juga ya" sindir Romi.


"Ma.. maaf, ban taxi saya tadi bocor Pak. Mau ganti taxi kasihan si Bapak baik banget" jawab Ela.


"Untung belum terlambat, kalau tidak kamu nyusul ke Surabaya beli tiket sendiri" ujar Romi.


"Maaf.. maaf.. " ulang Ela.


Ela duduk tepat disamping Romi sambil mengatur nafasnya yang masih sesak karena baru berlari - lari. Romi melirik barang bawaan Ela, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.


Pasti di koper kamu isinya semua barang - barang yang kamu beli kemarin. Batin Romi.


Ela tampak sudah mulai tenang bernafas, Romi memberikan botol minuman kepada Ela.


"Nih minum, sepertinya kamu haus tuh" ucap Romi.


"Eh Bapak tau aja" Ela menerima botol minuman yang diberikan Romi, membuka dan meminumnya sampai kandas.


"Hei... pelan - pelan donk, kamu ini perempuan apa nggak sih. Minum sekali teguk langsung habis?" protes Romi.


"Aku haus banget Pak" jawab Ela.


Romi hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya, melihat tingkah Ela barusan. Tak lama kemudian panggilan untuk mereka masuk ke dalam pesawat.


Ela dan Romi segera berjalan masuk ke dalam pesawat. Mereka duduk bersebelahan. Romi mempersilahkan Ela duduk di bagian pinggir dekat jendela.


Kini mereka sudah berada di pesawat. Ela terlihat salah tingkah dan hanya melihat ke arah jendela.


"Gak pegel lehernya lihat ke kanan saja?" sindir Romi.


"Ha? Eh nggak Pak, cuma lagi pengen lihat langit. Hari ini cerah banget" jawab Ela salah tingkah.


"Secerah hati kita kan?" tanya Romi.


"Maksud Bapak?" Ela balik bertanya.


"Ya kamu pasti saat ini sangat senang sekali karena akan bertemu dengan keluarga kamu. Saya juga senang karena akan menjalin kerjasama yang menguntungkan untuk perusahaan saya" jawab Romi.


Aku senang karena bisa bersama kamu terus beberapa hari ini, berdua saja. Batin Romi.


"Iya Pak, saya sangat senang karena sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan keluarga saya" ungkap Ela.


"Tapi kamu gak keberatan kan kalau kita nginapnya di hotel?" tanya Romi.


"Di.. dihotel Pak?" tanya Ela terkejut.


"Ya iyalah, kita kan sedang tugas kantor bukan piknik atau liburan" jawab Romi.


"Mmm.. maaf Pak boleh tidak kalau saya tidur di rumah orang tua saya? Nanti kalau jam kerja saya akan datang Pak kemanapun Bapak perintahkan?" pinta Ela.


"Trus kalau malam masih ada yang mau saya bahas sama kamu gimana? Kan susah?" tanya Romi.


Romi tampak sedang berpikir. Ingin rasanya dia menjadi pria egois, demi keinginan hatinya untuk bisa selalu dekat dengan Ela dia bisa melarang Ela pulang ke rumah orang tuanya.


Tapi Romi tau Ela sangat merindukan keluarganya. Masih terbayang dalam ingatan Romi wajah Ela yang begitu bahagia ketika membelika oleh - oleh untuk keluarganya kemarin.


Seketika Romi tak tega apalagi saat ini wajah Ela sangat memohon agar Romi memberikan izin kepadanya. Romi menarik nafas panjang.


"Baiklah.. kamu boleh menginap di rumah keluarga kamu selama kita berada di Surabaya" jawab Romi.


"Terimakasih Pak, terimakasih" tanpa sadar sangkin senangnya Ela menggenggam tangan Romi dengan kencang.


Membuat Romi terperanjat karena terkejut. Ela langsung sadar dan melepaskan tangan Romi.


"Ma.. maaf Pak saya terlalu bahagia" ungkap Ela.


Gak apa - apa bahagia aja terus, lebih dari genggaman tangan aku juga mau. Batin Romi bersorak senang.


Seketika suasana diantar mereka kembali kaku. Ela diam dan kembali melihat ke arah langit. Tiba - tiba bahu Romi terasa berat dan saat Romi melirik ke kanan kepala Ela sudah bersandar di bahunya.


Pantas saja berat ternyata kamu sudah tertidur di bahuku. Hemmm... wangi sekali kamu, padahal tadi udah lari - lari keringatan. Mungkin karena kamu bidadari surga kali ya hehehe... alangkah indahnya kalau kita sudah halal seperti ini. Aku akan langsung meraih kamu dalam dekapanku dan memberi kehangatan dalam tidurmu. Bagaimana cara aku ungkapin perasaan aku pada kamu? Padahal aku sudah mencoba mendekati kamu tapi kamu menganggap kalau itu adalah perlakuan atasan dan bawahan. Kamu tau? Aku tidak pernah seperti ini dengan bawahanku. Kamu wanita spesial di hatiku. Ku harap perjalanan kita di sini bisa membuat kita semakin dekat. Batin Romi.


Romi membetulkan letak kepala Ela yang hampir jatuh dari bahunya karena goncangan di pesawat. Ela tidak terganggu sama sekali.


Sepertinya kamu ngantuk sekali. Apa tadi malam kamu gak bisa tidur karena terlalu senang akan bertemu dengan keluarga kamu? Sama.. aku juga sulit tidur karena terlalu senang akan pergi bersama kamu. Apa benar kata orang ya.. rasa kantuk bisa menular, mungkin karena aku merasa nyaman berada di dekat kamu. Mending kita sama - sama tidur.


Romi memejamkan matanya dan tak lama kemudian mereka pun tertidur bersama.


"Pak.. Bu.. maaf sebentar lagi kita akan sampai" ucap seorang pramugari membangunkan Romi dan Ela.


Seketika mereka terbangun, Ela tampak salah tingkah karena malu ternyata dia tidur bersandar pada Romi.


"Ah iya, terimakasih" Romi membalas ucapan pramugari


"Maaf Pak saya tertidur dan tidak sengaja" ucap Ela setelah pramugari pergi dari hadapan mereka.


"Tidak apa - apa, saya juga gak sadar tadi sedang tidur juga" jawab Romi.


Mereka mulai bersiap - siap hendak turun. Lima menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Juanda.


Akhirnya pesawat sudah mendarat dan mereka bersiap untuk turun dari pesawat untuk barang bawaan mereka hanya sedikit jadi bisa dibawa ke atas pesawat. Mereka tidak perlu menunggu barang mereka lagi di Bandara.


Romi berjalan menuju pintu keluar Bandara disusul Ela disampingnya.


"Bapak menginap di hotel mana Pak?" tanya Ela.


"Ini saya lagi menunggu jemputan dari pihak hotel" jawab Romi.


Romi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo.. Pak saya sudah mendarat dan keluar dari pintu keluar. Bapak dimana posisinya?" tanya Romi.


"Oh baiklah kalau begitu akan saya tunggu" Romi memutuskan panggilan teleponnya.


"Sudah sampai Pak dari pihak Hotel?" tanya Ela.


"Sudah, dia sedang berjalan menuju ke sini" jawab Romi.


Tak lama sebuah mobil sedang berhenti di depan Romi dan Ela. Seorang pria yang sudah bisa dikatakan berumur keluar dari mobil tersebut menyambut Romi.


"Maaf Pak lama menunggu" ucap pria itu kepada Romi.


"Tak apa Pak, kami juga baru sampai kok" jawab Romi dengan ramah.


"Ba... pak?"....


.


.


BERSAMBUNG