Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Empatpuluh Lima



Malamnya Riko mengajak Dini bicara sebelum mereka tidur.


"Yank besok rencananya aku akan cari Hana. Aku akan mengajaknya untuk tea DNA memastikan apakah anaknya itu memang benar anak kandungku" ucap Riko.


Dini menatap wajah Riko, tatapannya sangat sulit untuk diartikan Riko saat ini.


"Kamu setuju yank?" tanya Riko.


"Aku setuju Mas" jawab Dini.


"Tadi aku sudah bicarakan hal ini sama teman - teman. Mereka menyuruh aku memastikan kebenarannya. Takut musibah di kemudian hari. Kalau nanti kita punya anak terus berhubungan dengan anak itu bisa kawin sodara sayang" ungkap Riko.


Seketika Dini tegang saat Riko mengatakan kalau kelak mereka punya anak. Sungguh Dini ingin sekali hal itu terjadi.


"Bagaimana dengan keluarga kamu sayang? Apakah kita harus mengatakan semua ini kepada Papa dan Mama kamu?" tanya Riko..


"Lebih baik tidak usah Mas. Nanti kalau hasilnya sudah keluar baru kita kabari mereka. Belum tentu juga kan kalau anak Mbak Hana itu anaknya kamu" jawab Dini.


"Kamu benar sayang.. Ya sudah aku akan menyuruh seseorang untuk mencari tau tentang kehidupan Hana. Dimana dia tinggal dan juga bagaimana kehidupannya selama ini. Aku tidak mau dia punya rencana lain. Merusak rumah tangga kita dan masa depan kita juga" ujar Riko.


"Iya Mas, lakukanlah yang terbaik. Aku percaya sama kamu" balas Dini.


Riko meraih wajah Dini dan mengecup lembut kening Dini.


*******


Keesokan harinya Riko mengutus seseorang untuk melacak rumah Hana. Kini Riko sudah mendapatkan alamatnya dan dia segera berkunjung ke rumah Hana.


Ting.. Tong...


Riko mengetuk pintu rumah Hana. Tak lama Hana keluar dengan wajah acak - acakan.


"Ka.. kamu... Tu.. tunggu sebentar aku bersiap dulu" ucap Hana terkejut saat melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya pagi - pagi sekali.


Tak lama kemudian Hana kembali membuka pintu. Kini tampilan Hana sudah rapi. Dia sudah bermake up dan berganti pakaian.


"Silahkan masuk" ucap Hana mempersilahkan Riko masuk.


Riko masuk ke dalam rumah Hana. Rumah yang kecil, sederhana, rapi dan cukup nyaman. Sepertinya kehidupan Hana tertata dengan baik.


"Duduk Ko, Rihana masih tidur" ujar Hana.


"Aku bukan ingin bertemu anak itu. Aku ingin bertemu kamu dan membicarakan semuanya. Aku sudah bepikir keras sejak pertemuan kita kemarin. Kamu tau aku bukan pria yang brengsek. Aku ingin mengetahui jelas apakah anak itu memang anakku. Oleh sebab itu aku ingin meminta alat bantu untuk melakukan tes DNA. Bisakah kamu memberikan sisir atau sikat gigi anak kamu. Aku ingin memeriksakannya secepatnya. Aku tidak ingin ini menjadi boomerang dalam rumah tanggaku. Aku sudah menikah Han, aku sudah lama meninggalkan kehidupan dulu. Aku sudah jauh berubah karena istriku. Aku harap kamu tidak menuntut banyak dariku. Aku hanya ingin membuktikan apakah benar anak itu anakku, kalau memang terbukti dia anakku aku akan tanggung jawab sebagai orang tuanya. Tapi selebihnya jika kamu inginkan lebih mohon maaf aku tidak bisa" Riko mengungkapkan tujuan utama dia menemui Hana.


"Aku juga tak butuh yang lain Ko. Aku hanya ingin pengakuan kamu saja dan tanggung jawab kamu. Masalah masa depan Rihana bisa kita bicarakan bersama. Aku juga punya kehidupan sendiri, aku tidak ingin merusak rumah tangga kamu. Kamu jangan takut" sambut Hana.


Kali ini entah mengapa Riko merasa Hana lebih bersahabat. Dia lebih tenang dan tidak menuntut banyak padanya. Hal ini membuat Riko merasa sedikit lega. Setidaknya dia dan Hana sudah mendapatkan kesepakatan.


"Aku hanya bisa menawarkan persahabatan pada kamu. Selama ini juga hubungan kita baik, aku hargai itu. Jadi aku mohon jangan rusak penilaian aku pada kamu" pinta Riko.


Selama ini menurut penilaian Riko Hana adalah wanita yang baik dan asik. Makanya Riko memakainya lebih dari satu kali. Tapi Riko tidak mencintainya sehingga Hana hanyalah di anggap sebagai teman saja.


Riko menarik nafas panjang.


"Tunggu sebentar ya Ko" ucap Hana.


Hana segera berjalan ke arah belakang rumahnya. Tak lama kemudian Hana kembali dengan membawa secangkit teh hangat dan sepirinh roti.


"Silahkan di nikmati Ko. Aku akan siapkan apa yang kamu inginkan" ucap Hana kepada Riko.


"Baik Han, terimakasih" Sambut Riko.


Riko mencicipi hidangan yang diberikan Hana. Hana kembali ke belakang untuk mengambil barang - barang yang diminta Riko.


Hana membawa sikat gigi Rihana dan memberikannya kepada Riko.


"Ini yang kamu pinta" ujar Hana sambil menyerahkan benda yang Riko inginkan.


"Terimakasih Han, maaf kalau kata - kataku kemarin kasar. Karena aku sangat terkejut mendengar ucapkan kamu" ucap Riko merasa bersalah.


"Tidak apa, aku bisa mengerti. Sebenarnya dua tahun ini aku mengalami perang batin Ko. Awalnya aku tidak ingin berbagi Rihana pada kamu. Aku merasa aku sanggup mengurus Rihana sendiri. Tapi lama kelamay biaya hidup semakin berat dan aku butuh teman berbagi mengurua Rihana. Aku juga punya pekerjaan, kalau aku hanya full mengurusnya aku tidak akan bisa bekerja dan pasti aku tidak punya uang untuk biaya hidup kami. Makanya aku putuskan untuk mencari kamu. Disamping itu Rihana juga berhak tau siapa Papa kandungnya dan aku ingin dia juga mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya" ungkap Hana.


"Aku mengerti keadaan kamu yang menjadi single mom. Tapi sebelum aku mendapatkan hasilnya aku tidak bisa melakukan apapun Han. Aku harap kamu bisa memaklumi semua tindakanku. Aku tidak bisa bertindak sendiri aku harus berdiskusi dengan istriku" sambut Riko.


"Sepertinya istri kamu wanita yang baik ya Ko. Beda denganku dan wanita - wanita yang dulu selalu berada di samping kamu" ujar Hana.


"Dia memang wanita yang spesial Han. Yang Allah tunjuk untuk menemani hidupku. Dia bisa menerima semua kekuranganku. Oleh sebab itu siapapun yang ingin merusak hubungan kami aku tidak akan segan - segan melawannya" tegas Riko.


Riko sengaja berkata seperti itu kepada Hana agar kalau Hana punya niat lain, dia bisa segera mengubur niat itu sejak awal.


Hana menanggapi ucapan Riko dengan senyuman. Membuat Riko merasa curiga mengapa Hana bisa setenang ini. Apakah Hana memanh tulus tidak ingin merusak rumah tangga nya atau Hana tipe sikopat yang lebih membahayakan.


Tenang di luar tapi mengerikan di dalam. Riko harus tetap waspada walau sambutan Hana kali ini memang sangat baik.


Riko berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah Han kalau begitu aku pamit pulang. Kalau hasilnya sudah aku dapatkan aku akan menemui kamu lagi" ucap Riko.


"Baik Ko, aku tunggu. Sebenarnya aku tidak perlu menunggu hal itu karena Rihana memang anak kamu. Tapi kalau memang itu syarat dari kamu aku terima. Aku akan menunggu kabar dari kamu" sambut Hana.


"Aku pamit Han, Assalamu'alaikum" ucap Riko.


"Wa.. wa'alaikumsalam" jawab Hana terbata karena terkejut dengan sikap Riko yang sangat berbeda sekarang.


Riko segera berjalan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan rumah Hana. Sementara Hana hanya bisa memandangi punggung Riko dari rumahnya hingga bayangan tubuh Riko hilang dari pandangannya.


.


.


BERSAMBUNG