
Pagi hari sebelum berangkat kerja.
"Mas Reni mau melahirkan" ucap Dini pada Riko.
"Oh ya, dimana dia sekarang dan bagaimana keadaannya?" tanya Riko terkejut.
"Sudah dibawa ke Rumah Sakit XXX. Sekarang Bela dan Ela juga sedang menuju ke sana. Kita gak pergi Mas?" tanya Dini.
Riko melirik jam tangannya.
Tak apalah toh pesawat kami juga berangkat sore. Batin Riko.
"Ayo kalau begitu" sambut Riko.
Dini dan Riko segera bergegas menuju Rumah Sakit tempat Reni dibawa. Ternyata di sana sudah berkumpul semua teman - temannya dan para sahabat suaminya.
Sesampainya di rumah sakit ternyata anak Reni dan Bimo sudah lahir. Bimo sangat panik sehingga tidak sempat mengabari Bela saat Reni dibawa ke Rumah Sakit.
Sehingga saat mereka tiba Reni dan bayinya sudah ada di kamar rawat inap mereka.
"Alhamdulillah bayinya laki - laki dan akan aku beri nama Putra Akarsana" ucap Bimo penuh bahagia.
"Selamat Bim atas kelahiran putra pertama kalian. Semoga menjadi anak soleh" sambut Refan.
"Mana bayinya Mas?" tanya Bela.
"Didalam lagi belajar nyusu sama Mamanya" jawab Bimo.
Mereka beramai - ramai berjalan masuk ke kamar rawat inap Renk. Hati Dini sedikit tercubit melihat kebahagiaan sahabatnya yang kini sudah memiliki anak.
Ya Allah berilah aku kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Doa Dini dalam hati.
Mereka bergantian menggendong anak Reni dan Bimo.
"Duh ganteng banget ponakanku" puji Bela.
"Iya donk siapa dulu suami Tantenya" sahut Aril.
Bela hanya melirik sekilas ke arah Aril. Dia masih kesal dengan sikap Aril yang ngeselin saat dikantor tadi hanya karena sarapan pagi.
Jadi ceritanya pagi tadi Aril merengek ngajak Bela sarapan pagi di kantor. Karena itu Bela gak masak sarapan di apartemen mereka. Eeh saat di kantor Aril malah minta Bela yang masak di pantry kantor.
Bela kesal mengapa gak di rumah aja tadi mintanya. Tapi karena Aril berwajah murung dan ingat mungkin suaminya lagi ngidam akhirnya dengan berat hati Bela tetap masak sarapan. Tapi cuma ceplok telur aja karena tidak ada bahan makanan lengkap di pantry kantor mereka.
"Assalamu'alaikum sayang... " sapa Bela sambil mencium kedua pipi Putra
"Udah pas banget" sindir Aril.
Bela melirik ke arah Aril dengan tatapan yang marah. Kejadian di kantor tadi siang masih membuatnya kesal kepada Aril.
Gak ada yang nanya. Balas Bela dalam hati.
Aril hanya tersenyum penuh arti. Gadis pujaan hatinya itu sedang ngambek karena tadi pagi baru dia kerjain habis - habisan.
"Gitu aja ngambek" gumam Aril pelan di samping Bela.
"Biarin.. " sahut Bela.
Setelah puas melihat dan menjenguk Reni dan putranya mereka semua bubar ke kantor masing - masing.
Dini hendak berangkat ke kantor bersama Ela yang diantar Romi ke kantor. Tapi Romi langsung mencegahnya.
"Hari ini aku antar ya kamu" ucap Riko.
"Tumben, Mas gak sibuk? Kantor kita beda arah lho. Nanti Mas telat lagi ke kantor?" tanya Dini.
"Tidak apa, aku tidak sibuk kok. Sekali - sekali aku ingin antar istriku" jawab Riko.
"Baiklah dengan senang hati suamiku" balas Dini.
Mereka turun ke basement dan masuk ke dalam mobil Riko. Riko mulai melajukan mobilnya menuju bandara.
"Lho Mas kenapa kita ke arah sini? Ini bukan arah ke kantor Mas tapi Bandara?" tanya Dini bingung.
"Aku kan tidak bilang tadi mau antar kamu ke kantor. Hari ini aku mau antar istriku ke Bandara" ujar Riko sambil tersenyum cerah.
Dini membalas senyuman Riko dengan tatapan bingung.
"Mas aku sedang tidak mau pergi ke luar kota. Aku mau ke kantor Mas, kasihan Ela sendirian ngurusin kantor. Dia kan lagi hamil muda. Gak boleh capek dan banyak kerja" ucap Dini.
"Aku sudah izin Ela kok dan dia kasih kamu cuti satu minggu. Kamu temani aku ke luar kota ya" ajak Riko.
"Kemana Mas dan ngapain?" tanya Dini bingung.
"Kamu tenang aja, ini akan jadi kejutan dan kita di sana hanya untuk berduaan saja. Anggaplah ini honeymoon kita kedua sayang" jawab Riko.
"A.. apa? Tapi kita gak bawa apa - apa Mas? Gak ada persiapan?" tanya Dini.
"Tenang sayang, aku sudah atur semua" balas Riko dengan senyuman misteriusnya.
Tiba - tiba ponsel Dini berdering tanda pesan masuk. Rupanya itu telepon dari Kakaknya. Dini langsung mengangkat telepon dari Anita.
"Assalamu'alaikum Mbak" ucap Dini memulai pembicaraannya.
"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah sampai Bandara?" tanya Anita.
"Lho Mbak kok tau? Aku dan Mas Riko lagi dalam perjalanan menuju Bandara" jawab Dini bingung.
"Kemarin Riko sudah izin pada kami semua. Dia akan membawa kamu jalan - jalan ke luar kota untuk honeymoon ke dua. Dia sudah cerita semua tentang perubahan sikap kamu setelah mengetahui kalau semua teman - teman kamu sudah hamil. Kamu beruntung punya suami seperti Riko yang bisa terima kamu apa adanya, yang sangat mencintai kamu. Fokus pada kebahagian rumah tangga kalian. Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan semata - mata adalah anak. Banyak lainnya lagi yang bisa membuat kalian bahagia. Bicarakan berdua dari hati ke hati apa tujuan pernikahan kalian ke depan. Jangan terbebani dengan pikiran kamu yang sebenarnya tidak pernah sekalipun Riko berikan kepada kamu. Nikmati honeymoon kalian berdua jangan pikirkan apapun, fokus saja pada kebahagian kalian" pesan Anita.
"Iya Mbak, aku akan ingat pesan Mbak. Terimakasih ya Mbak" sahut Dini terharu.
Ternyata suaminya benar - benar sudah mempersiapkan semuanya. Dini melirik Riko yang dari tadi sidang tersenyum - senyum sambil mengemudikan mobil.
"Mas kamu benar - benar sudah merencanakan semuanya?" tanya Dini tak percaya.
"Iya sayang" jawab Riko.
"Ya Allah Mas... kamu gak perlu... " ucap Dini sungkan.
"Sayang.. aku tau kamu sedih karena Ela hamil, tadi juga saat melihat anak Reni aku bisa melihat kesedihan kamu. Aku ingin menghibur kamu dan sesaat melupakan kesedihan kamu. Nanti disana kita bicarakan lagi ya tentang masa depan rumah tangga kita. Aku ingin semua masalah selesai disana. Kamu tinggalkan kesedihan kamu di sana dan mari kita pulang dengan harapan baru, okey?" ajak Riko.
Mata Dini berkaca - kaca, dia tidak menyangka suaminya seperhatian itu kepadanya.
Dini langsung memeluk Riko dari samping.
"Maaaas maafkan aku... aku belum bisa membahagiakan kamu" ucap Dini sambil menangis.
"Sayaaaang kehadiran kamu setiap harinya di sisiku sudah membuat aku sangat bahagia. Aku beruntung mendapatkan kamu" balas Riko.
"Terimakasih kamu sudah tulus menyayangi aku, menerima aku apa adanya. A.. aku tidak mau berpisah dari kamu Mas. Aku tidak tau bagaimana hidupku jika kamu tidak ada" ungkap Dini.
Riko membelai lembut kepala Dini dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih tetap memegang setiur mobil.
"Mari kita berjanji untuk bahagia di masa depan. Jangan ada lagi yang memberati hati kamu. Karena aku tidak akan pernah memberikan beban apapun yang tidak bisa kamu penuhi sayang. Percayalah padaku" ucap Riko tulus.
"Iya Mas... terimakasih" balas Dini.
.
.
BERSAMBUNG