Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Limapuluh Sembilan



Pagi harinya Riko berangkat menuju kantor pengacaranya. Dia membawa semua berkas - berkas yang dibutuhkan untuk mengadopsi Rihana dan memberikannya kepada Pengacaranya.


Biarlah pengacaranya saja nanti yang mengurus semuanya, dia hanya tinggal terima beres.


Sekitar jam dua belas siang Riko sudah kembali ke apartemen. Dini dan Rihana sudah menunggunya untuk makan siang bersama.


"Oyeeee.. Oom udah dataaaan" teriak Rihana.


"Kamu sudah lapar ya?" tanya Riko sambil mencubit gemas hidung Rihan.


"Udah Om" jawab Rihana cepat.


"Ya sudah yuk kita makan" ajak Riko.


Riko menggenggam tangan Rihana dan mereka berjalan menuju dapur dimana Dini sedang sibuk mempersiapkan makan siang untuk mereka.


"Kamu masak apa yank?" tanya Riko.


"Aku masak sop Mas" jawab Dini.


"Waaah pasti enak" puji Riko.


"Enyak om.. mmm waniiii" sambut Rihana.


"Kamu harus makan yang banyak ya" ucap Riko pada Rihana.


"Oce Om" jawab Rihana cepat.


Dini menyiapkan dan mengisi piring mereka. Dan mereka mulai makan bersama.


"Mas besok aku harus kerja, gak mungkin lama libur, Ela sedang hamil muda Mas" ucap Dini.


"Ya sudah gak masalah. Besok aku antar kamu" sambut Riko.


"Bukan masalah itu, Rihana gimana?" tanya Dini.


"Benar juga ya.. Ya sudah nanti coba aku suruh anak buahku cek tempat penitipan anak yang paling bagus" jawab Riko.


"Jangan Mas.. mending kamu cek tempat penitipan Rihana sebelumnya aja. Bagus atau nggak? Kalau di sana Rihana kan sudah biasa di titip jadi dia tidak perlu adaptasi lagi" potong Dini.


"Benar juga yang kamu bilang. Kalau begitu nanti kita selidiki aja tempat penitipan Rihana biasa" jawab Riko.


"Setelah makan kita ke rumah Oma ya" ucap Dini lembut kepada Rihana


"Oma? apa tu?" tanya Rihana bingung. Dia tidak tau apa artinya. Mungkin karena dia hanya tinggal berdua dengan Hana tanpa keluarga dan Hana tidak punya orang tua. Rihana tidak tau siapa itu Oma.


"Oma itu sebutan untuk Mamanya Tante atau Mamanya om" jelas Dini dengan sabar.


"Ooo begicu ya" sambut Rihana.


"Iiih kamu gemesin aja" Riko mengacak rambut Rihana.


"Sudah selesai makannya?" tanya Dini.


"Udah Ante.. aku dah kenyang" jawab Rihana.


"Anak pintar" puji Dini.


"Kalau begitu kita ganti baju ya sayang.." ajak Dini.


"Oye.. oce" sahut Rihana senang.


Riko hanya tersenyum memandangi interaksi Dini dan Rihana. Dia jadi semangat cepat - cepat pulang ke rumah setiap harinya kalau ada pemandangan seperti ini.


Satu jam kemudian Riko, Dini dan Rihana sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Riko. Tak memakan waktu lama mereka sudah sampai di rumah yang terlihat paling besar bangunannya dari bangunan di sekitarnya.


"Ini yumah Oma Ante?" tanya Rihana takjub.


"Iya" jawab Dini.


"Besar banget ya" sahut Rihana.


"Kamu suka rumah besar seperti ini?" tanya Riko.


Rihana menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gak suka?" tanya Riko penasaran.


"Banyak antuuuu" jawab Rihana dengan mimik wajah takut.


Riko dan Dini sontak tertawa dan semakin gemas melihat tingkah Rihana yang lucu.


"Gak ada hantu sayang.. Asal kamu rajin baca doa" jawab Dini.


"Aku dak bicara" ujar Rihana.


"Nanti Tante ajarin ya" balas Dini.


"Beney ya Ante" desak Rihana


"Iya sayang" jawab Dini.


"Turun yuk" ajak Riko.


"Oce.. Oye.." sambut Rihana senang.


"Assalamu'alaikum Ma" sapa Riko dan Dini bersamaan.


"Wa'alaikumsalam.. Hey kalian datang rupanya" sambut Mama Riko senang.


Riko dan Dini bergantian bersalaman dan berpelukan dengan kedua orang tua Riko.


"Kok gak kasih kabar mau datang ke sini? Eh siapa ini?" tanya Mama Riko terkejut melihat sosok Rihana yang bersembunyi dibalik pakaian Dini.


Dia terlihat malu - malu.


"Sayaaang salim Oma dan Opa" suruh Dini.


Rihana mengikuti perintah Dini dengan hormat mencium tangan kedua orang tua Riko.


"Cantik sekali kamu, siapa namanya?" tanya Mama Riko gemas.


"Linana Oma" jawab Rihana.


"Linana?" tanya Mama Riko bingung.


"Rihana Ma" sambut Dini membenahi.


"Oooo Rihana.. Ayo duduk.. duduk.. " sambut Mama Riko ramah.


"Anak siapa dia Ko?" tanya Mama Dini menyelidiki. Papa Riko hanya diam saja memperhatikan gerak gerik Rihana.


"Anak teman Ma. Mamanya baru meninggal dua hari yang lalu. Saat ini dia tinggal bersama kami" jawab Riko.


"Maksudnya?" tanya Mama Riko bingung.


"Dia tidak punya orang tua dan keluarga lagi Ma. Mamanya menitipkan dia kepada kami. Aku dan Dini sepakat untuk mengadopsinya dan aku sudah mengurus surat - suratnya" jawab Riko menjelaskan.


"Tidak bisa... kalian tidak bisa memutuskan sendiri masalah ini. Dia akan masuk dalam keluarga Wardhana. Harusnya kalian bertanya padaku lebih dulu" tolak Papa Riko.


Sontak Riko dan Dini terkejut. Rihana mendadak menangis karena terkejut ketakutan


"Haaaaaaaaaa.... hiks.. hiks.. " tangis Rihana pecah.


"Pa... " panggil Riko.


"Maaaas" Dini menyentuh tangan Riko untuk menahan emosi Riko.


"Kamu bawa dia ke teras belakang Din, kasih dia makanan apa saja yang ada di dapur" ucap Mama Riko.


"Iya Ma" jawab Dini sigap.


Dini langsung menggendong Rihana dan membawanya ke teras belakang.


Papa Riko berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Riko


Tiba - tiba. .


Plak.. plak..


Papa Riko menampar Riko dua kali.


"Papa" cegah Mama Riko.


"Katakan yang sejujurnya. Dia anak kamu dari hubungan terlarang kamu dulu kan? Dari namanya Papa sudah tau. Rihana - Riko dan Hana" ungkap Papa Riko.


"Paa... ba.. bagaimana Papa bisa mengetahui masalah ini?" tanya Riko


"Ko.. Mama sangat senang mempunyai cucu Ko. Tapi hasil hubungan halal, bukan hubungan dosa yang kamu lakukan. Bagaimana keluarga Dini menerima ini?" tanya Mama Riko mulai terisak.


"Dari mana Papa tau masalah ini? Papa masih memata - mataiku? Aku sudah dewasa Pa.. Aku sudah tau mana yang salah dan benar?" tanya Riko dengan nada tinggi.


Dini yang berada di belakang bisa mendengar suaminya sedang bertengkar dengan orang tuanya. Dini terus mengumandangkan doa- doanya.


"Kamu anak Papa. Berapapun usia kamu, kamu tetap anak Papa. Sudah sepantasnya Papa terus memantau kamu" jawab Papa Riko.


"Tapi tidak seperti ini caranya Pa" protes Riko tak suka.


"Minggu lalu kami ke apartemen kamu tapi kamu tidak ada. Saat kami diloby bertemu pengurus apartemen kamu, dia bilang kamu dan Dini pergi bersama anak kecil. Kami kira anak itu adalah Yoga ponakan Dini tapi ternyata anak perempuan yang mereka katakan" potong Mama Riko.


"Papa sudah menyelidikinya. Hana itu wanita kamu dari masa lalu. Anak itu pasti anak kamu" tuduh Papa Riko.


"Papa salah.. dia bukan anakku" bantah Riko.


"Lantas apa ini?" tanya Papa Riko sambil menunjukkan hasil tes DNA yang dibuat Hana.


"Itu palsu Pa, Hana berbohong. Dia sakit keras makanya dia melakukan segala cara agar Rihana itu terbukti anakku. Tapi dua hari yang lalu dia meninggal Pa dan dia memberikan pesan terakhir melalui suratnya. Silahkan Papa baca surat dari Rihana" Riko menyerahkan surat Rihana yang memang sudah dia persiapkan untuk jaga - jaga kalau - kalau Papa Dini curiga. Ternyata malah Papa nya sendiri yang mencurigainya.


Papa dan Mama Riko membaca surat dari Hana.


"Alhamdulillah ya Allah.... " ucap mereka bersamaan.


.


.


BERSAMBUNG