Playboy Insaf

Playboy Insaf
Delapanpuluh Delapan



Pak Budi kembali ke rumahnya sekitar jam sembilan malam.


"Lho baru pulang Pak, kata Pak Romi tadi Bapak udah bisa cepat pulang?" tanya Bu Budi ketika menyambut suaminya pulang.


"Kasihan Bu, Pak Romi sendirian di Hotel. Jadi tadi dia ajak Bapak makan malam bareng di suatu tempat. Dulu Bapak pernah bawa beliau kesana jadi dia minta dibawa ke situ lagi" jawab Pak Budi.


Kini Pak Budi, istrinya dan Ela sedang duduk di ruang TV rumah mereka. Sedangkan Ratni dan anaknya sudah pulang.


"Bapak kok bisa akrab banget sih sama Pak Romi? Gimana ceritanya? Jarang - jarang kan Bapak bisa sedekat itu dengan tamu Hotel?" tanya Ela penasaran.


Sejak di Bandara Ela sudah menyimpan pertanyaan besar dalam hatinya tapi karena Romi masih ada di rumahnya sampai tadi sore dia belum ada waktu bertanya pada Bapaknya.


"Dua tahun yang lalu Pak Romi datang ke Surabaya untuk mencari seorang wanita tapi Bapak lupa siapa namanya. Maklum sudah tua, Bapak gak ingat lagi. Tapi sepertinya wanita itu sangat berarti dalam hidup Pak Romi. Jauh - jauh dari Jakarta ke Surabaya hanya untuk mencari wanita itu. Selama seminggu Bapak menemaninya keliling kota Surabaya tapi tidak ketemu juga" ungkap Pak Budi.


"Pak Romi itu banyak pacarnya Pak. Kata Reni dia itu playboy dulunya" sambut Ela.


"Tapi menurut Bapak Pak Romi sangat serius. Tadi Bapak sempat bertanya padanya katanya dia sudah menemukan wanita itu dan sedang berjuang untuk mendapatkannya. Wanita itu banyak membawa perubahan besar dalam hidupnya" ujar Pak Budi.


"Waah sayang ya Pak.. coba kalau kita bisa dapat menantu seperti Pak Romi" potong Bu Budi.


"Si Ibu... kehidupan kita dan Pak Romi itu sangat jauh berbeda. Mana mungkin dia mencari wanita dari keluarga sederhana seperti keluarga kita" jawab Pak Budi.


Ada sesuatu yang menusuk dalam hati Ela. Apakah dia merasa kecewa? Tapi kecewa karena apa? Apakah dia menyukai Pak Romi? Tidak.. tidak.. Pak Romi memang keren, gagah, kaya dan pintar. Tapi benar kata Bapak kehidupan mereka bagaikan langit dan bumi. Ela sudah frustasi duluan. Gak mungkin Pak Romi mau melirik dia, disekeliling Romi ada banyak wanita yang seperti silva cantik dan sexy.


"Yang penting Ela mendapat jodoh, seorang pria yang menyayanginya. Siapapun dia asalkan agamanya baik, bertanggung jawab dan sayang kamu terima saja nduk. Jangan lihat hartanya, tak selamanya harta membawa kebahagiaan walau harta memang salah satu faktor yang membuat orang senang. Uang bukan segalanya yang penting hatinya" ucap Pak Budi.


"Kalau ada seperti Pak Romi itu Pak? Dia baik, Ibu lihat juga rajin shalat dan bertanggungjawab?" tanya Bu Budi.


"Itu berarti bonus untuk Ela Bu, tapi tetap hati - hati. Mungkin si pria bisa menerima tapi keluarganya belum tentu bisa. Apalagi kita orang kampung mereka orang Jakarta. Biasanya mereka akan melihat kita sebelah mata dan takutnya mereka berpikir kita mengincar hartanya" jawab Pak Budi.


Pak Budi menyentuh lembut kepala putrinya.


"Doa Bapak semoga kamu mendapat suami yang menyayangi kamu. Bukan hanya suami kamu saja Nak, tapi orang tuanya juga. Kalau keluarganya bisa menerima kamu dengan terbuka maka rumah tangga kamu nanti akan damai. Apalagi untuk seorang menantu wanita, kalau mertua tidak suka akan berat sekali perjuangannya. Jangan sampai ada kata pilih mama atau istri dari mertua kamu. Kalau suami kamu pilih kamu dia akan jadi anak durhaka, sementara kalau dia pilih mamanya kamu akan disia - siakan. Bapak selalu berdoa pada kalian dua putri Bapak semoga kalian menikah di sayang mertua" ungkap Pak Budi.


"Aamiin... seperti Ibu Nduk.. eyang kamu dulu sayang banget sama Ibu. Waktu kamu lahir saja Ibu diurus sama eyang, karena orang tua Ibu sudah tiada" sambut Bu Budi.


Ela menarik nafas panjang.


Pak Budi kembali mengelus lembut kepala putrinya.


"Jangan terlalu memikirkan Bapak dan Ibu Nak, pikirkan juga masa depan kamu. Kami akan bahagia kalau kalian semua anak - anak Bapak juga bahagia. InsyaAllah kalau Allah berkehendak semua bisa tercapai" ujar Pak Budi.


"Ya sudah kamu tidur gih.. besok kamu kan mau bekerja. Tadi juga masih capek kan perjalanan jauh Jakarta - Surabaya" ucap Bu Budi.


"Iya Bu. Bapak dan Ibu juga istirahat Besok Bapak kan mau tugas sama dengan Ela. Alhamdulillah senang banget Ela dikasih Allah kesempatan kerja bareng Bapak" Ela memeluk lengan Bapaknya dengan mesra.


"Hahaha.. iya Bapak juga gak nyangka kalau tamu Hotel Bapak ternyata putri Bapak sendiri dan Bosnya" ucap Pak Budi sambil tertawa.


Ela berjalan menuju kamarnya dan beristirahat. Sebelum menutup matanya Ela mengingat kembali perkataan Bapaknya tadi.


"Ternyata Pak Romi sudah mempunyai kekasih. Tapi setiap ngumpul dengan teman - temannya yang lain kenapa dia gak pernah membawanya ya. Dan para sahabatnya juga gak pernah membahasnya? Apa benar kata Bapak dia masih berjuang untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya? Duh.. aku kok jadi mikirin Pak Romi ya.. udah ah aku tidur aja" Gumam Ela.


***


Sementara di kamar Hotel tempat Romi menginap. Romi sedang berbaring sambil menatap langit - langit kamarnya.


Mengapa kamar ini terasa sepi ya.. walau sangat besar dan nyaman tapi gak ada teman untuk ngobrol. Aku juga merindukan Cishela. Tadi saat dirumahnya aku selalu melihat senyum bahagianya. Dia tampak sangat bahagia bertemu dengan keluarganya. Batin Romi.


Romi tiba - tiba teringat sesuatu. Dia berdiri dan mengambil benda itu dari kopernya.


"Bagaimana aku memberikan ponsel ini pada Cishela? Kalau aku kasih begitu saja dia pasti curiga dan gak mau menerimanya. Dia bukan wanita matre yang biasa aku temui. Dikasih barang mewah begini langsung terima dengan senang hati. Cishela berbeda, dia pasti curiga aku akan meminta imbalan dari pemberianku ini. Walaupun sebenarnya memang iya. Aku ingin meminta hatinya dan menyerahkannya dengan utuh hanya untukku" Romi tertawa sendiri dengan apa yang dia pikirkan.


"Belum genap satu malam aku tidur di sini tapi aku sudah bosan dan gak betah. Sepi sekali disini. Di rumah Pak Budi lebih nyaman dan hangat. Gimana caranya aku bisa kembali ke rumah mereka? A.. haaaa... aku punya ide. Hahaha... Aku memang pinta.. ya.. ya.. ya.. besok aku akan membuat Ela sibuk" Romi tertawa lagi.


Romi kembali berbaring di tempat tidur dengan telentang dan meletakkan kedua tangganya dibawah kepalanya.


"Lihat lah Ela.. besok aku pastikan aku akan tidur di rumah kamu hahaha.... " Romi tertawa menang. Dia yakin rencananya besok pasti akan berhasil.


.


.


BERSAMBUNG