
Dua hari Rihana kembali tinggal bersama Riko dan Dini. Mereka kembali menikmati waktu - waktu bersama dengan ceria.
Rihana semakin akrab dan dekat dengan Riko dan Dini. Dia kini tidak sungkan lagi meminta sesuatu kepada Riko dan Dini.
"Om.. Ante.. beyi es kyim dan peymen donk" pinta Rihana.
"Kamu mau es krim dan permen?" tanya Riko.
Rihana menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu Om akan membelinya di supermarket bawah ya.. Kamu di sini saja ya sama Tante" ucap Riko.
"Oce Om" jawab Rihana riang.
Riko segera turun ke bawah dan singgah ke supermarket membeli cemilan untuk Rihana. Setelah itu dia kembali ke apartemen.
"Waah sepertinya Om Riko sudah tau kedatangan kita sayang. Lihat dia membeli banyak makanan anak - anak" ucap Anita yang menyapanya dari belakang.
Ternyata Anita datang bersama Yoga anaknya.
"Iya Ma.. Om Riko beli es krim yang banyak" sambut Yoga.
"Bukan untuk kamu semuanya Yog, di atas Om punya tamu kecil" jawab Riko.
"Tamu kecil, siapa Om?" tanya Yoga penasaran.
"Lihat saja nanti, kamu pasti senang dapat teman baru" jawab Riko.
Riko, Anita dan Yoga masuk ke lift yang menuju Apartemen Riko dan Dini. Sesampainya di apartemen Riko, Anita tampak terkejut melihat Dini sedang bermain dengan gadis kecil.
"Anak siapa itu?" tanya Anita.
Sontak Dini terkejut melihat kehadiran Kakaknya. Dini dan Riko saling pandang.
"Anak temanku Nit. Mamanya sedang keluar kota jadi dia menitipkan anaknya kepada kami" jawab Riko.
Riko sengaja masih merahasiakan identitas Riana karena dia belum yakin kalau Rihana memang anaknya. Dia masih harus menunggu satu minggu lagi hasil tes DNA nya keluar.
"Ooh.. siapa nama kamu sayang?" tanya Anita ramah.
"Linana" jawab Rihana.
"Siapa?" tanya Anita kepada Dini.
"Rihana Mbak" jawab Dini sambil mencium tangan Kakaknya.
"Salim sayang" perintah Dini pada Rihana.
Rihana mencium tangan Anita dengan hormat setelah itu tangan Yoga.
"Hai adik kecil, namaku Yoga. Kamu harus memanggilku Kakak karena kamu masih kecil" sapa Yoga.
"Kak Yoga" sambut Rihana.
"Eh iya lupa, nih makan es krim nya. Kalian berbagi ya. Om tadi beli yang banyak kok jangan bertengkar" ucap Riko sambil menyerahkan plastik kresek kepada Rihana dan Yoga.
"Aciiik" teriak Rihana senang. Begitu juga dengan Yoga.
Namanya anak - anak mereka cepat sekali beradaptasi. Seketika dua - duanya langsung kompak menikmati jajanan yang dibelikan Riko.
"Sudah sering dia disini?" selidik Anita.
"Baru dua kali Mbak.." jawab Dini.
Dini dan Riko kembali saling bertatapan membuat Anita merasa curiga dengan mereka.
"Ada apa Mbak ke sini?" tanya Dini.
"Sudah hampir sebulan kamu tidak mampir ke rumah Papa, dia nyariin kamu, kangen katanya. Ketepatan Mbak lewat sini jadi sekalian saja Mbak mampir" jawab Anita.
"Iya Mbak, nanti setelah kami memulangkan Rihana kami akan mampir ke rumah Papa" jawab Dini.
Setelah es krim Rihana dan Yoga habis, Anita pamit dari apartemen Riko dan Dini.
"Yoga makannya sudah selesai sayang? Kita mau ke rumah Opa lho" ajak Anita.
"Udah Mama" jawab Yoga.
"Yuk salim dulu Tante sama Omnya.. pamit juga sama adek Rihana" perintah Anita.
"Oke" sambut Yoga.
"Adek cantik, aku pergi dulu ya.. lain kali kita main bareng ya" ucap Yoga pamit.
"Iya bener juga kamu.. nanti kalau Rihana main kesini lagi Om akan bawa kalian main" sambut Riko.
"Beney Om?" tanya Rihana.
"Bener donk, masak boong" jawab Riko.
"Yeeeeaaay... " teriak Yoga dan Rihana senang.
"Nanti kamu datang yagi ya" ucap Rihana.
"Panggil aku Kakak. Aku kan lebih besar dari kamu" pesan Yoga.
"Baik akak" sambut Rihana.
"Nah gitu donk" Yoga menyodorkan tanggannya kepada Rihana. Dengan polosnya Rihana menyambutnya dan mencium tangan Yoga.
Riko, Dini dan Anita tersenyum melihat interaksi Yoga dengan Rihana. Mereka sangat gemas melihat tingkah dua anak itu.
"Om Tante aku pergi ya" ucap Yoga sambil mencium tangan Riko dan Dini.
"Iya Kakaaak... cieee... yang udah punya adek" goda Dini.
Yoga jadi tersipu malu karena di goda Dini.
Yoga dan Anita hendak pergi dari apartemen Riko tiba - tiba Rihana memanggil.
"Ya" sahut Yoga.
"Ini peymen untuk akaak. Kata Mama aku dak boyeh makan peymen banyak nanti akit gigi" ucap Rihana sambil memberikan beberapa permen untuk Yoga.
"Terimakasih" sambut Yoga.
"Daaah akaaak.. anti atang yagi ya" ucap Rihana.
Yoga hanya menjawabnya dengan senyuman. Anita dan Yoga akhirnya keluar dari rumah Riko.
Suasana rumah jadi sepi lagi, hanya tinggal Riko, Dini dan Rihana.
"Om bantuin donk mam peymen nya" ajak Rihana.
"Om gak suka permen Rihana" tolak Riko.
"Kenapa?" tanya Rihana ingin tau.
"Manis.. gak suka yang manis - manis" jawab Riko.
"Es kyim kan manis juga, Om kok suka?" tanya Rihana.
Riko melirik Dini, Dini membalasnya dengan senyuman.
"Hati - hati Mas kasih jawaban, dia anak yang pintar" ucap Dini mengingatkan Riko.
Tiba - tiba ponsel Riko bergetar tanda pesan masuk. Riko meraih dan membukanya.
Hana
Ko maaf ya, aku gak bisa pulang hari ini. Aku titip Rihana satu hari lagi ya.. Besok kalau kamu dan Mbak Dini kerja tolong antarkan saja dia ke tempat penitipannya di jalan XXX.
Riko
Kenapa bisa mendadak seperti ini Hana. Kamu pergi kemana sih?
Riko merasa aneh mengingat laporan dari orang suruhannya kemarin Hana mengunjungi Rumah Sakit di Bandung.
Hana
Aku ada urusan di Bandung Ko dan gak bisa pulang hari ini. Masih ada yang harus aku kerjakan di sini.
Riko menarik nafas panjang. Lalu melanjutkan membalas pesan Hana.
Riko
Baiklah.. besok akan kami antar Rihana ke penitipan anak.
Hana
Terimakasih Ko
Tak lama kemudian ponsel Riko berdering. Tertera nama orang yang disuruh Riko menyelidiki kehidupan Hana.
Riko segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Pak" ucap Pria dari seberang.
"Ya.. apa yang kamu dapatkan?" tanya Riko to the point.
"Kami sudah mendapatkan informasi tentang Bu Hana Pak" jawab pria itu.
"Katakan cepat" perintah Riko tak sabar.
"Ibu Hana sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit itu. Tapi data - datanya sangat rahasia sehingga kami tidak bisa mendapatkannya. Yang jelas saat ini dia sedang menjalani perawatan di sana. Dan ini sudah berlangsung selama enam bulan ini Pak" lapor pria itu.
Jadi Hana sakit? Sakit apa dia? tanya Riko dalam hati.
Ingatan Riko kembali berputar pada cerita Dini kalau Rihana melihat Mamanya memakai rambut palsu. Kemudian kemarin Dini juga bilang kalau wajah Hana pucat.
Apakah Hana sakit yang serius? Mengapa dia menyembunyikannya? tanya Riko dalam hati.
"Kamu cari lagi informasi yang detail, saya tidak mau mendapat informasi setengah - setengah seperti ini" perintah Riko.
"Baik Pak" sahut pria itu cepat.
Telepon terputus tapi tak lama kemudian ponsel Riko kembali berdering. Tapi dari nomor yang tidak dikenal. Entah kenapa Riko menerimanya kali ini. Biasanya dia tidak suka mengangkat telepon dari nomor yang tidak dia kenal.
"Halo" ucap Riko.
"Halo.. maaf benar saya bicara dengan Bapak Riko Whardana?" tanya seorang wanita.
"Ya benar" jawab Riko.
"Maaf ya Pak saya meminta waktu sebentar. Saya Anggraini salah satu perawat di RS. XXX. Kami mendapatkan nomor Bapak dari catatan salah satu nama keluarga dekat dari pasien kami yang bernama Hana Pertiwi. Saat ini pasien kami yang bernama Hana Pertiwi sedang menjalani perawatan di RS. XXX dan keadaannya sedang krisis. Apakah Bapak bisa datang ke sini segera?" tanya perawat itu.
"Hana Pertiwi? Kamu bohong kan? Barusan dia mengirim pesan kepada saya. Mana mungkin saya bisa percaya dengan semua ucapan kami" ucap Riko.
"Pasien baru saja kritis Pak, makanya kami menghubungi nomor salah satu keluarga. Kami takut tidak ada waktu lagi Pak. Karena keadaannya sangat gawat" jawab Perawat.
"Saya akan cek dulu. Terimakasih atas informasinya" tutup Riko.
Riko segera menghubungi orang suruhannya.
"Dimana kamu sekarang?" tanya Riko langsung.
"Pak Ibu Hana sedang kritis Pak. Baru saja dia dilarikan ke ruang ICU" jawab pria itu.
Praaang.. ponsel Riko jatuh ke lantai.
.
.
BERSAMBUNG