
Akhirnya mereka sampai di Labuhan Bajo sekitar jam tujuh malam dan sampai di hotel milik Bima sekitar jam delapan tepat saat Bimo sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan mereka semua.
"Eh ada Mbak Jelita... " sapa Aril kepada Kakak sulungnya Refan dan Reni.
"Airin... senang bertemu kamu.. Rombeng.. Kapur Bagus... daaan Kori.... " sambut Jelita dengan gembira.
"Mbak Lita jangan gitu ah.. kita semua kan sudah besar gak enak kalau dengar nama panggilan kecil" balas Aril.
Semua yang mendengar pembicaraan mereka penasaran dengan perkataan Jelita.
"Iya ya, Setan Kecil aja udah mau nikah Besok sama Bimbim" ujar Jelita.
"Bimbim?" tanya Riko.
"Iya Bimbim, aku sih panggil dia begitu" jawab Jelita.
"Mbak kenal Bemo eh Bimo?" tanya Romi.
"Kenal... Kenal bangeet. Bimbim itu sahabat Mbak waktu kuliah di Bali" jawab Jelita.
"Oh my god dunia sempit amat, dan mengapa ketemunya mereka waktu segede ini coba kalau dulu pulang liburan kuliah Mbak ajak Bimo ikutan liburan ke Jakarta. Bimo kan bisa lihat setan kecil kita waktu dia masih cilik" ungkap Bagus.
"Hahaha... kalau dia ketemu dengan Reni waktu itu bisa ilfeel dia lihat keisengan si Setan Kecil" canda Jelita.
Seluruh keluarga mulai menikmati hidangan makan malam di taman.
"Kalian kok pada belum nikah sih? Si Setan Kecil aja besok mau nikah, kalian bertiga masih setia jadi jomblo. Apa gak capek jadi playboy terus?" tanya Jelita.
"Kami sudah insaf lho Mbak" sahut Aril.
"Insaf? kalian sudah taubat? Gak mungkin, Mbak gak percaya. Apalagi kamu Ril?" tanya Jelita tak percaya.
"Serius Mbak, kami sedang mencari pendamping hidup sekarang" jawab Romi.
"Lho bukannya cewek - cewek yang ada didekat kalian ini calon kalian masing - masing?" tanya Jelita.
"Riko sih iya tapi masih terhalang restu calon mertua. Sedangkan Romi dan Aril masih berjuang" jawab Bagus.
"Huss... aku tinggal sebentar lagi" bisik Romi.
"Oh ya?" sahut Bagus terkejut.
"Ssst tenang dan santai aja bro. Tunggu tanggal mainnya" balas Romi.
"Aseeeek... " ujar Bagus.
"Tuh Mbak sebentar lagi katanya" bisik Refan.
"Siapa calonnya?" tanya Jelita sambil berbisik.
"Nanti Mbak akan tau sendiri" jawab Refan.
"Kalian kenapa sih pada bisik - bisik?" protes Tagor.
"Gak tau yank, aku terbawa mereka. Karena mereka bisik - bisik aku jadi ikutan" jawab Jelita.
"Beo donk kalau suka ikutin apa yang orang katakan" ledek Bimo.
"Enak aja kamu Bim bilang aku beo" protes Jelita.
Akhirnya mereka bisa reuni setelah lama sudah tidak bertemu. Jelita sangat senang sekali bisa bertemu Bimo lagi, sahabat semasa kuliah dan semua teman - teman Refan yang dikenal baik oleh semua keluarga Refan.
Setelah selesai makan malam mereka masuk ke kamar masing - masing. Riko, Romi dan Aril tidur di kamar yang sama sedangkan Bela, Dini dan Ela juga dikamar yang sama dan kamar mereka terletak bersebelahan.
Di dalam kamar Aril mengirim pesan kepada Bela.
Aril
Bel kamu bawa carger ponsel gak?
Bela
Bawa Mas
Aril
Pinjem donk, punyaku kelupaan.
Bela
Lho kan ada Mas Romi dan Mas Riko di situ?
Ari
Mereka juga lagi pakai semua
Bela
Aril
Oke
Tak lama kemudian Aril dan Bela sama - sama keluar kamar.
"Nih Mas carger nya" ujar Bela sambil menyerahkan carger miliknya.
"Bel aku laper lagi, temani makan di Restoran bawah donk" pinta Aril kepada Bela.
Sudah beberapa bulan menjadi sekretaris Aril dan beberapa kali pergi menemani Aril dinas keluar kota membuat Bela semakin tau kebiasaan Aril. Dia memang suka kelaparan malam - malam.
"Tapi ini sudah malam Mas. Besok harus cepat bangun" tolek Bela dengan halus.
"Please temani donk Bel, kalau laper aku gak bisa tidur" pinta Aril memohon.
"Mmm... baiklah kalau begitu. Aku ambil jaket sebentar ya" ucap Bela.
Tak lama kemudian Bela keluar dan membawa jaketnya. Mereka berjalan berdua menuju Restoran yang terletak di bagian bawah di Hotel tersebut.
"Maaf ya Bel... aku jadi ganggu waktu istirahat kamu. Padahal kan saat ini kita sedang tidak dalam dinas kantor" ujar Aril merasa bersalah.
"Gak apa - apa Mas" jawab Bela.
Aril memang sengaja sering minta ditemani Bela makan di Restoran. Padahal dia pesan room service antar makanan ke kamar bisa tapi tidak dia lakukan. Makan sambil memandang wajah Bela belakangan ini membuat nafsu makannya bertambah.
Mereka kini sudah sampai di Restoran Hotel. Pelayan datang untuk menawarkan makanan. Aril memesan makanan ringan. Sebenarnya dia tidak begitu lapar malam ini. Aril hanya ingin bertemu dan makan ditemani Bela berduaan saja.
"Katanya laper Mas kok cuma pesan itu?" tanya Bela
"Tiba - tiba saja aku merasa kenyang setelah melihat wajah kamu. Aku rasa wajah kami pakai pengembang" goda Aril.
"Pengembang gimana Mas?" tanya Bela bingung.
Kamu membuat hatiku jadi berkembang untuk mencintai kamu. Aseeek... ucap Aril dalam hati.
Aku ingin sekali mengeluarkan kata - kata itu Bel, tapi aku takut kamu malah menjauhi aku dan menjaga jarak di antara kita. Aku sepertinya sudah sulit untuk hidup tanpa kamu karena aku sudah terbiasa dengan kehadiran kamu setiap harinya. Sambung Aril dalam hati.
"Ah aku cuma becanda saja Bel. Wajah kamu bisa membuat perutku kenyang, berarti kamu memakai pengembang" jawab Aril.
Bela bingung dengan jawaban Aril.
"Kamu gak makan?" tanya Aril.
"Udah malam Mas" jawab Bela.
"Makan sekali aja tidak akan membuat pakaian kamu besok gak muat. Aku yakin pasti besok masih muat baju kamu" bujuk Aril.
"Ya udah deh aku juga mau. Tapi kentang goreng aja" pinta Bela.
"Mas kentang goreng 1, minumnya apa?" tanya Aril.
"Mmm teh hangat aja" jawab Bela.
"Baik Mas, Mbak tunggu sebentar" jawab Pelayan.
Pelayan pergi meninggalkan mereka.
"Bel selama bekerja denganku beberapa bulan ini gimana pendapat kamu tentang aku?" tanya Aril.
Wajahnya tampak serius sehingga Bela juga harus menjawab dengan serius. Malam ini Bela melihat Aril tak seperti biasanya. Biasanya Aril suka bercanda dan bergurau.
"Kenapa Mas bertanya begitu?" tanya Bela.
"Apakah kamu masih menganggap aku sebagai pria palyboy?" tanya Aril.
Bela menatap wajah Aril dengan teliti. Mencoba mencari jawaban yang tepat.
"Aku tidak melihat Mas seperti pria itu lagi. Aku tidak pernah melihat Mas dekat dengan para wanita. Yah setidaknya di depan mataku. Aku gak tau kalau dibelakangku Mas masih melakukannya" jawab Bela.
"Tidak Bel, aku tidak pernah melakukannya lagi dimanapun dan kapanpun. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk hidup lebih serius dan lebih baik lagi ke depannya" ungkap Aril.
"Lantas mengapa Mas bertanya padaku?" tanya Bela penasaran.
"Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada seorang wanita. Sebelum aku mengatakan kepadanya, aku ingin meminta pendapat kamu terlebih dahulu. Siapa tau kamu juga masih berpendapat aku sebagai pria palyboy pasti wanita yang ingin aku tembak itu juga berpikiran sama" jawab Aril.
Bela sedikit bernafas lega.
Berarti bukan aku wanita itu. Aku bingung kalau sampai malam ini Mas Aril mengatakan perasaannya kepadaku aku harus menjawab apa? Tak mungkin aku menerimanya. Tapi menolaknya akan membuat hubungan kami selama ini jadi canggung. Untung saja bukan aku. Batin Bela.
.
.
BERSAMBUNG