
"Bel dimana file Perusahaan Permata kamu buat?" tanya Aril lewat telepon di hari ke dua Bela cuti.
"Lho sudah aku kasih sama Mas Dedi Mas semuanya" jawab Bela terkejut.
"Dedi kerjanya lambat banget, aku udah gak sabar. Kamu kapan sih pulangnya?" tanya Aril yang sudah merasa sangat rindu.
"Lho aku baru dua hari lho Mas cutinya. Masih ada lima hari lagi aku di Surabaya" balas Bela.
"Ih masih lama banget" gumam Aril kesal.
"Mas mau cari apa, biar aku informasikan sama Mas Dedi?" tanya Bela penasaran.
Kamu memang membutuhkan aku karena berkas itu atau kamu kehilangan aku Mas? Tanya Bela dalam hati.
"Sudah gak perlu, biar aku tanya langsung aja sama Dedi" jawab Aril.
"Ooh ya sudah kalau begitu" sambut Bela.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Aril melepas rindu.
"Aku lagi beresin dapur. Tadi baru sarapan sama Bapak dan Ibu" jawab Bela.
"Bapak Ibu sehat?" tanya Aril lagi.
"Alhamdulillah sehat. Bapak lagi pergi, mau ketemu temannya. Sedangkan Ibu baru aja ke rumah Tante Leli" jawab Bela.
"Salam buat mereka ya" pesan Aril.
"InsyaAllah nanti aku sampaikan salam dari Mas" sambut Bela.
"Kamu gak bantuin urusan si Ela?" selidik Aril.
"Bantuin donk Mas, sebentar lagi kami mau janjian cari barang - barang seserahan buat lamaran" ungkap Bela.
"Ngapain cari di Surabaya. Di Jakarta banyak dan mudah di cari. Kok repot - repot sih beli di sana?" protes Aril.
"Mana aku tau, itu kan urusan mereka Mas. Ya biarin aja ngapain kamu protes, Mas Romi aja yang mau lamaran santai. Kok malah Mas yang keberatah?" ujar Bela.
"Aku kan cuma komentar Bel, kok malah kamu ikutan sewot" protes Aril.
Kalau kita nanti jauh - jauh hari aku sudah siapin semuanya untuk kamu Bel. Batin Aril.
Mas Aril... Mas Aril... Kamu kan tau kalau di Jakarta Ela sibuk terus, lagian ngapain diurusin sih lamaran orang, mending kamu urusin tuh gebetan baru kamu, mbak Sintia. Umpat Bela dalam hati.
"Masalah berkas PT. Permata udah beres kan Mas? Mas bukannya mau meeting sebentar lagi? Kok malah asik urusin lamaran Ela dan Mas Romi sih?" tanya Bela kesal.
"Eh iya, gara - gara kamu nih aku jadi lupa. Ya sudah ya, aku tutup teleponnya" pamit Aril.
Padahal aku masih ingin dengar suara kamu Bel... gumam Aril dalam hati.
"Iya Mas, aku juga mau siap - siap nih, sebentar lagi Mas Romi dan Ela pasti datang mau jemput aku" balas Bela.
"Waah kasihan kamu Bel, nanti akan jadi setan di antara Ela dan Romi" komentar Aril.
"Biar aja deh Mas, kok malah Mas yang keberatan. Mas Aril ini aneh, wong sahabatnya yang mau lamaran menuju hari bahagia mereka kok kamu banyak protes. Harusnya kamu sebagai sahabat ikut membantu mereka" oceh Bela.
"Tapi aku kan gak bisa bantuin mereka. aku di Jakarta saat ini dan kalian di Surabaya" jawab Aril.
"Nah itu sadar... makanya jangan komen aja dari tadi. Pusing aku jadinya" ujar Bela.
Yah aku kan maksudnya pengen nemani kamu juga Bel, biar kamu gak kesepian. Tapi kerjaan lagi padat - padatnya dan sialnya aku sudah terbiasa bersama kamu di sini. Baru dua hari kepergian kamu saja aku sudah sangat kehilangan, gimana kalau kamu pergi selamanya dari hidupku? Oh ya Allah, jangan KAU berikan cobaan seperti itu karena aku tak sanggup. Jerit hati Aril.
"Udah dulu ya Mas, aku mau siap - siap ke rumah Ela. Selamat bekerja Mas, semoga meetingnya lancar" ujar Ela menutup teleponnya. Padahal hatinya berat banget jauh dari Aril.
"Ya sudah deh Bel. Selamat bersenang - senang di kampung halaman kamu" balas Aril tak senang.
"Assalamu'alaikum Mas" ujar Bela.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aril.
Aril menarik nafas panjang, lama sekali rasanya waktu berlalu. Masih lama lagi cuti Bela, lima hari lagi harus Aril lalui tanpa Bela.
"Huuuuh.... aku kangen kamu Bel" gumam Aril.
Setelah itu Bela beranjak ke kamar untuk bersiap - siap ke rumah Ela. Setelah selesai berdandan dia segera berangkat ke rumah Ela dengan mengendarai sepeda motornya.
Tiga puluh menit kemudian Bela sudah sampai di rumah Ela.
"Assalamu'alaikum Pak, Bu" ucap Bela sambil mencium tangan Bapak dan Ibu Ela.
"Wa'alaikumsalam.. Eh Nak Bela sudah datang. Mari masuk" ajak Bu Budi.
Bela menatap ruko yang sudah selesai terletak tepat disamping rumah orang tua Ela.
"Wah cantik ya Pak rukonya. Akhirnya impian Ela tercapai juga" ujar Bela.
"Iya Alhamdulillah.. " sambut Pak Budi.
"Kapan mulai di isi rukonya?" tanya Bela.
"InsyaAllah setelah selesai acara lamaran Ela" jawab Pak Budi.
"Bu panggil Ela, nih Nak Bela sudah datang" perintah Pak Budi pada istrinya.
"Iya Pak. Sebentar ya Bel, kamu duduk aja dulu" sambut Bu Budi.
"Saya duduk di depan aja ya Bu, di bawah pohon" jawab Bela.
"Oh ya sudah silahkan" balas Bu Budi.
Bela duduk di bangku depan rumah Ela yang berada tepat di bawah pohon rindang. Tak lama Romi sampai ke rumah Ela dengan mengendarai mobilnya.
Bela melihat Romi, tapi pikirannya melayang kepada Aril.
Mas, coba kalau kamu yang datang ke rumahku seperti itu, pasti aku akan sangat senang sekali. Batin Bela sedih.
Romi mencium tangan kedua orang tua Ela. Setelah itu menyusul Bela duduk di bawah pohon sambil menunggu Ela bersiap.
"Sudah lama sampai Bel?" tanya Romi.
"Belum Mas" jawab Bela.
"Naik apa ke sini?" tanya Romi lagi.
"Tuh naik sepeda motor" Bela menunjuk ke arah sepada motornya.
"Duh kamu ke sini naik sepeda motor? Kalau Aril tau bisa dimarahin aku Bel" ucap Romi.
"Kenapa Mas? Ngapain Mas Aril marah sama Mas?" tanya Bela bingung.
"Ya.. ya karena aku setega itu membiarkan sekretarisnya ke sini dengan sepeda motor mana harinya panas banget lagi" jawab Romi.
Duh hampir aja mulutku keceplosan. Aril kan lagi dalam mode membuat Bela cemburu dengan pura - pura menjalin hubungan dengan Sintia. Kalau sampai Bela tau Aril masih menyukainya, bisa - bisa gagal rencana Aril. Kasihan juga dia kalau terus - terusan di tolak Bela. Batin Romi.
"Ah Mas Romi terlalu berlebihan. Aku kan cuma sekretaris doank Mas. Ngapain Mas Aril marah sama Mas. Gak ada juga seorang Bos sampai segitunya ngurusin sekretarisnya" jawab Bela.
Kecuali kalau keberadaanku istimewa di hati Mas Aril. Huh.... Bela membuang nafasnya dengan kasar.
"Kamu kenapa Bel? Kok segitunya tarik nafasnya? Seperti punya beban yang besar? Kamu punya masalah dengan Aril atau urusan kantor?" tanya Romi penasaran.
"A.. aku Mas? ah gak ada, biasa aja kok. Ngapain juga mikirin pekerjaan. Aku kan lagi cuti Mas, ya dinikmati donk" jawab Bela segera.
Tapi sejujurnya aku merasa sepi Mas dan selalu terbayang wajah Mas Aril. Sedangkan Mas Aril belum tentu mikirin aku. Apalagi sekarang ada Mbak Sintia. Batin Bela kecewa.
Romi tersenyum melirik wajah galaunya Bela.
Ril... sepertinya rencana kamu sebentar lagi akan berhasil. Feeling aku mengatakan ada yang berbeda dengan Bela saat ini, dia tidak sedang menikmati cuti. Mungkin pikirannya masih ada di kamu. Batin Romi.
.
.
BERSAMBUNG