
Hari sabtunya Bimo, Bela dan Ela pindah ke rumah Bimo yang baru. Bimo enggan berlama - lama tinggal di rumah keluarga Refan. Oleh sebab itu dengan bantuan Reni dan temannya Gery, Bimo bisa mendapatkan rumah yang dia sukai.
Bimo mengadakan syukuran di rumah barunya dan mengundang para sahabatnya untuk datang ke rumahnya siang hari setelah paginya Bimo memanggil anak - anak panti asuhan untuk berdoa bersama di rumah barunya.
"Selamat ya Bim atas rumah barunya. Semoga dengan adanya rumah baru ini kamu segera mendapatkan pendamping hidup. Sayang rumah baru kalau gak ada nyonya" sindir Aril sambil melirik ke arah Reni.
"Aamiin.. " sahut Bimo.
"Matanya jangan lirak lirik Bro" ledek Refan.
Aril hanya bisa garuk - garuk kepala gak jelas karena niatnya tercium jelas oleh Refan.
Semua mengucapkan selamat kepada Bimo karena sudah memasuki rumah barunya dan mendoakan yang terbaik untuk Bimo.
Setelah itu mereka, Romi, Aril, Bagus, Refan dan Bimo sedang berbincang - bincang di teras belakang rumah Bimo tiba - tiba perhatian mereka teralihkan karena suara gaduh dari dalam rumah.
Ternyata ada tamu yang baru datang, mereka melihat ke arah pintu dan melihat seorang pria muda datang ke rumah ini.
"Rizaaaaal" panggil Ela.
"Akhirnya aku sampai juga ke rumah ini" jawab Rizal.
"Jauh gak ke sini?" tanya Ela.
"Jauh banget, untung Bela kirim lokasinya jadi supir taxinya gak sulit mencarinya" jawab Rizal.
Tak jauh dari mereka..
"Siapa pria itu, apa kamu mengenalnya?" tanya Romi kepada Aril.
"Oh bocah tengil itu, namanya Rizal. Dia teman kuliah Bela dan Ela dari Surabaya" jawab Aril.
"Dekat banget sama Bela dan Ela?" tanya Romi.
"Hahaha... Aril dan Romi siaga satu bro" sindir Bagus.
Tak lama kemudian Riko pun sampai ke rumah Bimo.
"Lho Mas Riko..... " ucap Rizal.
"Kamu? Ngapain kamu ke sini?" tanya Riko terkejut.
"Ini rumah temanku. Aku diundang datang ke sini, Mas sendiri?" Rizal balik bertanya.
"Ini juga rumah temanku" jawab Riko.
"Ka.. kalian kok bisa saling kenal?" tanya Bela.
"Dia kakak sepupuku Bel" Jawab Rezal.
"Kalian saling kenal?" tanya Riko pada Bela.
"Rizal teman kuliahku Mas" jawab Bela.
"Oalaaah dunia ini kecil ya" sambut Bimo.
"Bimo adalah temanku" ucap Riko kepada Rizal.
"Ya ampuun... benar kata Mas Bimo dunia ini sempit. Ternyata gak jauh - jauh" sambut Rizal.
"Mana Bimo?" tanya Riko.
"Tuh Mas di belakang sama Mas Refan dan yang lainnya" jawab Bela.
Riko bergabung dengan Romi, Aril, Refan dan Bagus.
"Ternyata bocah tengil itu sepupu kamu. Bagus deh, aku lebih tenang" ucap Aril pada Riko.
"Emang kenapa?" tanya Riko gak mengerti.
"Dia mau coba - coba nikung aku di tengah jalan. Mau ambil bidadari surgaku" jawab Aril.
"Lantas apa hubungannya dengan aku?" tanya Riko bingung.
"Kalau kamu sepupunya. Aku bisa titip pesan melalui kamu. Suruh dia mundur secara teratur. Bela akan menjadi milikku" ucap Aril.
"Justru karena dia masih muda dia cari aja cewek yang lebih muda dari dia. Biar Bela untukku saja" sambut Aril.
"Cinta gak bisa memilih kepada siapa dia akan berlabuh. Kalau Bela sendiri yang memilih dia gimana donk?" tanya Riko.
"Makanya dia jangan sering - sering muncul di hadapan Bela biar Bela gak melirik dia" jawab Aril.
"Hahaha.. teman kita udah hilang rasa percaya dirinya. Sama anak ingusan kalah saing" sindir Romi.
"Kamu juga sama aja" potong Riko.
"Bukan aku gak percaya diri, masalahnya Bela dingin banget padaku di kantor. Walau aku ini bosnya tapi dia kan sudah kenal padaku sebelum dia bekerja di kantorku" ujar Aril.
"Itu namanya dia profesional Ril, harusnya kamu salut dengan Bela. Walau dia kenal sama kamu tapi dia masih menjaga tingkah lakunya di kantor. Gak sembarangan sama kamu. Dia masih sopan dan melayani kamu sebagai atasannya dan Bosnya" sambut Refan.
"Benar itu" sambut Bagus.
"Aril mungkin pengen punya affair dengan sekretaris barunya" sindir Romi.
"Emangnya kamu gak pengen begitu juga dengan karyawan kamu yang baru masuk di bagian keuangan" balas Aril pada Romi.
"Halaaaaah kalian berdua sama aja. Modus banget sama bawahan" ejek Riko.
Aril dan Romi saling lirik dan salah tingkah, malu niat mereka sudah tercium sangat jelas oleh teman - temannya.
Bimo yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut bergabung kembali bersama mereka.
Tak jauh dari mereka terlihat Reni dan Gery juga sudah bergabung bersama Bela, Ela dan Rizal.
"Lihat mereka sudah buat geng baru" ucap Aril kepada teman - temannya.
Aril dan Romi terbakar api cemburu. Mereka masing - masing sibuk memperhatikan target wanita incaran mereka.
Sementara Bela dan Ela tanpa rasa bersalah tertawa riang bersama Gery, Reni dan Rizal.
"Sirik bilang Bos" sindir Bagus.
"Hahaha... ada yang panas" sambut Refan.
"Bukan hanya aku, Bimo juga tuh" Aril gak mau di bully sendirian.
"Lho kok aku diikutkan" ucap Bimo tak mengerti.
"Hahaha kalian bertiga ini lucu. Udah tua tapi selera sama daun muda. Umur kalian seumuran, umur target kalian juga sama" ujar Riko.
"Emangnya kamu nggak? kamu kan selamat karena Dini sekarang bekerja di Bandung, coba kalau dia ada di sini pasti dia juga ikut bergabung bersama Reni, Bela dan Ela" potong Aril.
Gleg.. Riko tak bisa membalas ucapan Aril karena yang diucapkan Aril memang benar adanya.
"Hahahah senjata makan tuan ya Ko" ejek Refan.
"Dasaaaaar.... " umpat Riko.
Refan dan Bagus tertawa melihat keempat teman mereka. Nasibnya memang tak jauh beda. Bedanya hanya Bimo yang berstatus duda, sedangkan yang tiga lainnya berstatus mantan playboy. Keempatnya sama - sama sudah bisa dibilang tidak muda lagi tapi seleranya masih saja daun muda. Yang lebih lucunya lagi masing - masing punya rintangan yang berbeda - beda dalam mendekati target mereka. Walah mereka sudah berpengalaman tapi tetap saja bingung sendiri dengan apa yang mereka hadapi.
Kini baik Romi, Aril dan Bimo sedang menatap gadis impian mereka dari kejauhan sedangkan Riko hanya bisa membayangkan saja kalau seandainya Dini ada disini saat ini pasti harinya akan lebih ceria lagi.
Tapi apalah daya walau Jakarta Bandung jaraknya dekat tapi yang menjadi penghalang mereka bukanlah jarak diantara mereka melainkan terhalang oleh restu orang tua.
Ini yang membuat Refan dan Bagus tertawa melihat wajah mereka satu persatu.
"Lihatlah wajah - wajah kalian ini.. wajah pria tua yang penuh derita hahahah..." tawa Refan dan Bagus saling bersahutan.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers... sudah lama tak menyapa kalian.. Terimakasih sudah mampir ke novel saya ini. Seperti biasanya ya, jangan lupa like, vote, komentar dan klik menu favoritnya ya.
Selamat membaca...