Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Empat



Pagi harinya Riko dan Dini segera mandi sebelum subuh dan langsung shalat subuh di Masjidil Haram. Setelah itu mereka kembali ke Hotel.


Riko dan Dini kembali berbaring di tempat tidur untuk bersantai.


"Maaas.. jam berapa kita mulai umroh?" tanya Dini.


"Dua jam lagi, nanti pihak travel akan memanggil kita untuk berkumpul dan bersama - sama melaksanakan ibadah umroh" jawab Riko.


"Mas sudah belajar tidak tentang tata cara umroh?" tanya Dini.


"Sudah, begitu aku tau kamu ingin sekali umroh aku langsung memesan travel dan mulai belajar. Kamu?" tanya Riko.


"Aku tau karena aku sering belajar. Aku sangat ingin sekali ke sini Mas, jadi setiap belajar tentang umroh dan haji aku selalu semangat. Mas... " panggil Dini.


"Ya sayang" jawab Riko.


"Kalau begitu Mas tau kan kapan waktu yang tidak diperbolehkan untuuuuk?" tanya Dini.


"Untuk apa?" goda Riko.


Riko mulai merapatkan tubuhnya kedekat Dini.


"Mm.. kita ke sini kan untuk honeymoon tapi kita juga ibadah umroh. Ada waktu - waktu kita tidak diperbolehkan untuk itu tu.. " ungkap Dini malu - malu.


"Itu tu gimana?" tangan Riko mulai bergerilya.


"Se.. seperti apa yang Mas lakukan saat ini? Kalau kita sudah mulai ber umroh kita tidak boleh" ujar Dini.


"Makanya sebelum kita mulai umroh bolehkan aku minta satu kali lagi?" potong Riko.


Blush... wajah Dini kembali merona. Perlahan - lahan Dini menganggukkan kepalanya malu.


"Aku akan melakukannya dengan santai dan rileks sayang agar kamu tidak kecapekan nanti saat kita umroh" bisik Riko.


Mereka kembali melakukan ibadah indah yang sudah mereka mulai tadi malam. Tentu saja dengan doa meminta dianugerahi anak - anak yang soleh dan solehah.


Dua jam berlalu mereka sudah berkumpul di lantai dasar hotel. Pihak travel membawa satu ustadz untuk menuntun mereka melakukan ibadah umroh.


Dini dan Riko mulai memasang niat untuk melakukan ibadah umroh sebagai langkah awal pernikahan mereka.


Setelah beberapa hari mereka khusuk melakukan ibadah umroh dan diakhiri dengan tahalul. Syarat tahalul adalah mencukur minimal tiga helai rambut tapi bagi para laki - laki disunahkan untuk mencukur semua rambutnya.


"Yank gak apa - apa kan aku cukur rambut?" tanya Riko.


Dini tersenyum lembut menatap suaminya.


"Lebih baik untuk laki - laki Mas. Katanya mau cari amalan yang lebih banyak?" goda Dini.


"Iya, aku sih gak masalah tapi kamu keberatan gak kalau aku cukuran? Nanti kamunya malah takut lihat aku?" tanya Riko.


"Aku sudah melihat kamu yang sekarang, gak ada salahnya aku melihat kamu yang botak. Mungkin lebih tampan Mas?" jawab Dini.


"Baiklah kalau begitu" sambut Riko.


Riko mencukur semua rambutnya. Setelah kepalaku botak dia langsung menemui Dini.


"Gimana yank?" tanya Riko.


"Mas tetap tampan kok" jawab Dini lembut.


"Ringan banget yank kepalaku tapi nanti beli topi ya untuk menutupi kepalaku kalau harinya panas" ujar Riko.


"Iya Mas" sambut Riko.


Tahalul adalah rangkaian terakhir melakukan ibadah umroh. Setelah Riko mencukur rambutnya itu artinya umroh mereka sudah selesai. Usai tahalul Riko langsung memboyong istrinya ke kamar hotel.


"Yank cepetan" ujar Riko.


"Iya Mas, kenapa sih buru - buru?" tanya Dini bingung.


"Lho kapan kamu puasanya Mas?" tanya Dini semakin bingung.


Mereka sudah sampai di kamar.


"Sejak umroh dimulai. Aku kan mulai berpuasa untuk tidak menyicipi kamu. Sekarang saatnya kita untuk berbuka puasa. Aku akan berbuka dengan yank manis" Riko langsung mengangkat tubuh Dini dan mereka masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mereka melakukan pemanasan di kamar mandi dengan saling membantu membasuh tubuh pasangan kemudian saling mengeringkan badan barulah mereka melakukan ibadah intinya.


Riko kembali mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur dan memberikan sentuhan - sentuhan dahsyat yang dijamin membuat Dini terbang melayang ke langit yang ketujuh.


Keesokan harinya Dini dan Riko melanjutkan perjalanan mereka wisata mereka. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Jabal Rahmah. Tempat bertemunya Nabi Adam dengan istrinya Siti Hawa pertama kali setelah turun dari surga.


Disana Dini dan Riko meminta doa agar mereka segera diberi keturunan. Meminta rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.


Setelah itu mereka mengunjungi tempat - tempat wisata lainnya setelah umroh seperti Gunung Uhud, Mesjid Quba, Gua Hira, Jabal Tsur, Mesjid Nabawi, Makam Baqi, Mesjid Jawatha dan Jabal Magnet.


Terakhir mereka berkunjung di Pasar Zakfariyah untuk berbelanja oleh - oleh. Tak lupa mereka mencatat semua oleh - oleh yang akan mereka bagikan untuk keluarga dan para sahabat, tidak ada yang ketinggalan satupun.


Hari terakhir Riko dan Dini di Mekah mereka memilih untuk istirahat dan santai di kamar. Dini menyusun semua barang - barang mereka agar besok saat mereka pulang tidak perlu repot lagi.


"Yank sudahlah.. nanti saja dilanjutkan. Aku ingin bermanja - manja dengan kamu di sini" panggil Riko yang sudah berbaring di atas tempat tidur.


Perintah suami adalah ibadah untuk istri oleh sebab itu Dini meninggalkan semua pekerjaannya dan berjalan menghampiri Riko.


Dini ikut berbaring disamping Riko. Dengan senang hati Riko langsung memeluk istrinya dengan penuh kelembutan.


"Yank.. nanti kalau usaha kita di sini berhasil berarti anak kita akan berwajah ke arab - araban donk" ujar Riko sambil mengelus lembut perut Dini.


"Maaaas mana mungkin coba wajahnya seperti orang Arab. Wong Bapaknya orang Indonesia dan Ibunya juga. Gen kita gak ada yang seperti orang Arab. Pasti anak kita juga akan berwajah seperti orang Indonesia pada umumnya" ucap Riko.


"Katanya tempat produksi juga mempengaruhi lho yank?" sambut Riko.


"Hahaha.. Mas ini ada - ada aja. Justru aku takut kalau anak kita seperti orang Arab. Entar aku di bilang selingkuh lagi sama orang Arab" jawab Dini sambil cemberut.


"Ya nggak lah, siapa yang bilang begitu. Sini aku hajar" ujar Riko.


Riko semakin mempererat pelukannya ditubuh Dini.


"Gak apa - apa ya anak kita seperti kita saja. Justru aku inginnya anak kita mirip kamu saja, tampan, gagah dan macho" puji Dini.


"Oh Ya?" tanya Riko menggoda.


Riko dan Dini saling tatap. Dini menganggukkan kepalanya kepada Riko.


"Kalau perempuan aku inginnya seperti kamu, cantik. Anak kita nanti secantik Mamanya" ujar Riko.


"Aaamiin... " sambut Dini tersenyum.


"Kalau begitu mari kita produksi anak - anak soleh dan solehah itu saat ini" Riko langsung menyuruk ke leher Dini dan mengecupnya lembut.


Membuat bulu kuduk Dini langsung berdiri.


"Maaaas.. selalu aja ya modus" jawab Dini dengan suara yang sudah mulai bergemuruh.


Menambah sesuatu yang sudah dirasakan Riko dari tadi semakin membara mendet suara Dini yang mulai mendesah dan nafasnya juga mulai memburu.


Riko mulai menjalankan aksinya karena dia sudah berhasil membangkitkan gaira* istrinya itu.


"Mari kita lakukan ibadah terakhir kita di sini sayaaang" bisik Riko di telinga Dini yang terdengar sangat seksi oleh Dini.


Seketika auranya jadi lebih panas dan mereka pun terbakar oleh aura tersebut hingga keduanya berakhir tidur saling berpelukan karena baru saja melakukan pertarungan panjang.


.


.


BERSAMBUNG