
Sesuai dengan janji Aril tadi di rumah. Bela diturunkan tak jauh dari kantor Aril karena Bela bersikeras gak mau ketahuan berangkat bareng dengan Aril.
"Beneran kamu hanya sampai di sini saja?" tanya Aril.
"Benar Mas, gak apa - apa. Aku turunkan di sini saja. Kan sudah dekat sekali" jawab Bela.
"Ya sudah sampai kantor nanti langsung bilang sama resepsionis kalau kamu ingin bertemu dengan Silvi, sudah janji" perintah Aril
"Baik Mas" jawab Bela.
Bela langsung keluar dari mobil Aril dan menunduk hormat
"Terimakasih ya Mas" ucap Bela.
Aril kemudian melajukan mobilnya menuju kantornya yang tak jauh lagi.
Bela... Bela.. hanya kamu yang tak mau pergi bareng aku. Selama ini gadis - gadis selalu bangga jalan atau kenal dekat denganku. Apalagi kerja di kantor karena rekomendasi dariku. Tapi kamu berbeda.. perbedaan kamu itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta. Batin Aril.
Aril segera naik ke lantai paling atas tempat ruangannya berada. Sesampainya di ruangannya Aril langsung memanggil sekretarisnya Silvi melalui interkom untuk masuk ke ruangannya.
"Silvi ke ruangan saya" perintah Aril.
"Baik Pak" jawab Silvi
Tak lama kemudian Silvi masuk ke dalam ruangan Aril. Silvi memang tampak semakin kewalahan bergerak karena perutnya yang semakin membesar sesuai dengan usia kehamilannya.
"Ya Pak" ucap Silvi.
"Sebentar lagi adik sahabat saya akan datang ke kantor ini mencari kamu. Namanya Bela, dia yang nantinya akan menggantikan kamu sebagai sekretaris saya. Secepatnya kamu ajari dia, agar kamu juga bisa segera istirahat. Aku tak tega melihat kamu masih terus bekerja dengan perut besar seperti itu. Aku tidak mau orang - orang mengira aku memaksa ibu hamil untuk terus bekerja denganku " perintah Aril.
"Baik Pak, akan segera saya kerjakan" jawab Silvi tegas.
"Ya sudah kamu kembali ke meja kamu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai" ujar Aril.
"Siap Pak" balas Bela.
Bela segera berbalik badan dan keluar dari ruangan Aril.
Benar apa yang dikatakan Aril, tak lama kemudian ada seorang gadis yang diantar satpam untuk bertemu dengannya.
"Bu Silvi ada tamu yang mencari Anda. Katanya sudah janji bertemu" ucap satpam.
"Ah iya, suruh masuk Pak" jawab Silvi.
Tak lama kemudian muncullah gadis cantik tapi penampilannya sangat berbeda sekali dengan selera Aril. Silvi sampai tak percaya Aril akan menerima gadis seperti ini untuk menjadi sekretaris.
Silvi ingat saat pertama kali dia melamar ke perusahaan ini. Aril selalu memberi peringatan kalau dia tidak suka sekretarisnya berpenampilan biasa saja harus menarik.
Silvi juga pernah melihat beberapa kali Aril membawa pacar atau teman kencannya ke kantor mereka selalu berpenampilan sexy dan glamor.
Bukan gadis seperti ini. Cantik sih cantik tapi gadis ini terlalu sederhana untuk Aril. Silvi heran apa yang sedang dipikirkan Bosnya itu sampai - sampai dia mau menerima gadis seperti ini menjadi sekretarisnya.
Apa karena gadis ini adik dari sahabatnya? Tapi seingat Silvi para sahabat Aril juga punya selera yang sama dengan Aril. Mana mungkin mereka mempunyai adik seperti ini gayanya.
Ah tapi sudahlah.. yang penting Silvi harus bisa mengajari gadis ini dengan baik agar dia bisa secepatnya resign dari perusahaan ini karena memang dia sudah semakin kesulitan untuk bergerak akibat perutnya yang semakin besar.
"Selamat pagi Mbak, eh maaf Bu.. " ucap Bela sopan.
"Panggil saja Mbak, saya masih muda kok. Perkenalkan nama saya Silvi. Saya sekretaris Pak Aril Ekaputra" sambut Silvi ramah.
"Eh iya Mbak, saya Bela Akarsana. Saya di perintah Pak Aril untuk bertemu dengan Mbak" ujar Bela.
Bela menyerahkan surat lamarannya yang sudah dia susun di dalam amplop coklat. Dan Silvi segera meraihnya.
"Iya, Pak Aril juga barusan bilang kepada saya. Ayo silahkan duduk" perintah Silvi.
Mereka saling berjabat tangan dan setelah itu Bela duduk tepat di depan meja Silvi.
"Well.... Pak Aril memberikan saya perintah untuk segera mengajarkan kamu menjadi pengganti saya secepatnya. Seperti yang kamu lihat sendiri, perut saya sudah sangat besar, saya harus segera resign untuk mempersiapkan persalinan saya" ujar Silvi.
"Semoga persalinan Mbak lancar ya dan anaknya lahir dengan sehat dan selamat" doa Bela tulus.
"Aamiin... terimakasih Bela" jawab Silvi ramah.
Silvi membuka amplop coklat berisikan surat lamaran dan biodata Bela. Kemudian Silvi membacanya.
Waah ternyata gadis ini gadis yang pintar tamatan universitas bergengsi di Surabaya. Ooo. anak daerah toh, pantas saja gayanya masih lugu begini. Tapi Bela ini adik siapa ya? Apa adinnya Pak Refan, Pak Bagus, Pak Romi atau Pak Riko ya...? Seperti mereka semua orang Jakarta deh bukan orang Surabaya? tanya Silvi dalam hati.
"Baiklah Bela saya sudah membaca biodata kamu. Semuanya bagus, nilai - nilai kamu juga bagus. Semoga kerja kamu juga tidak mengecewakan. Intinya sebagai seorang sekretaris harus mempunyai ingatan yang luar biasa Segala sesuatu sampai hal sedetail mungkin harus kamu perhatikan. Setiap pagi Pak Aril biasanya harus disediakan secangkit kopi di atas meja kerjanya. Dia tidak mau dibuatkan oleh OB. Harus sekretaris yang buat. Apa kamu bisa membuat kopi?" tanya Silvi.
"InsyaAllah bisa Mbak" jawab Bela sopan.
Saya sudah lulus Mbak membuat kopi untuk Mas Aril. Batin Bela.
Bela segera mengeluarkan agendanya dan mencatat hal - hal yang penting dalam kerjanya.
"Nah setelah dia datang kamu harus bacakan jadwal kerja dia hari itu. Kalau ada meeting kamu harus siapkan data dan berkasnya. Kamu bisa meminta dari bagian - bagian yang berhubungan dengan bidangnya. Kalau siang hari kamu harus tanya apakah dia mau makan siang di luar atau di kantor saja. Kalau dia makan di kantor kamu harus tanya dia mau makan apa dan pesan dimana? Setelah itu kamu harus memesankannya. Sore harinya kamu harus ingatkan dia sebelum pulang jadwal dia esok harinya. kamu juga harus siapkan data untuk jadwal besoknya. Sampai di sini apakah kamu mengerti?" tanya Silvi.
Bela sudah zelet mencatat bagian - bagian penting.
"Mengerti Mbak" jawab Bela sigap.
"Ayo mari kita ke ruangan Pak Aril untuk berkenalan secara resmi. Walau kamu adalah adik dari sepupunya Pak Aril tapi hal ini harus kamu lakukan" ajak Silvi.
"Baik Mbak" balas Bela.
Silvi dan Bela keluar dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan Aril.
Tok.. tok..
"Ya masuk" perintah Aril dari dalam.
Silvi dan Bela masuk bersama - sama. Tampak Aril menatap ke arah Bela. Ingin dia tersenyum ramah tapi mengingat Bela tidak ingin diperlakukan istimewa saat di kantor Aril jadi mengurungkan niatnya.
"Ya Sil?" tanya Aril.
"Ini Pak, Bela sekretaris baru yang akan menggantikan saya sudah datang. Walau mungkin Bapak sudah mengenalnya tapi saya ingin mengajaknya berkenalan resmi dengan Bapak" jawab Silvi.
"Ah iya baiklah" Aril berdiri dari tempat duduknya.
Bela langsung mendekat ke meja kerja Aril dan menyodorkan tangannya tepat di depan Aril. Mereka hanya terpisah jarah meja kerja Aril saja.
"Perkenalkan Pak, saya Bela Akarsana" ucap Bela tegas namun tetap sopan.
Aril tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Bela.
"Aril Ekaputra" jawab Aril.
Kalau diingat - ingat hari ini memang perkenalan kita secara resmi Bel. Sejak awal aku mengenal kamu aku sudah salah menebak siapa kamu dan akhirnya kita tidak pernah berkenalan secara resmi.
Aku harap berkat perkenalan kita ini kita juga akan memulai kehidupan kita yang baru. Semoga kamu bisa menerima aku di masa depan kamu.
"Selamat bergabung di perusahaan ini saya harap kamu bisa bekerjasama yang baik dengan saya. Bisa membantu saya mengerjakan semua pekerjaan saya setiap harinya" pesan Aril.
"Baik Pak, saya akan melaksanakan tugas saya dengan sebaik - baiknya" jawab Bela tegas.
.
.
BERSAMBUNG