
"Bisa Fan, aku bisa. Bila perlu selama mereka ada di sini aku ikutan ya nginap di rumah kamu" pinta Aril.
"Enak saja, rumahku sudah penuh. Tidak ada kamar kosong lagi untuk kamu" tolak Refan.
"Ya elaaah pelit amat. Sama sahabat sendiri aja begitu" protes Aril.
"Yang ada tinggal kamar pembokat. Kalau kamu mau biar Bik Mar dan Bik Nah satu kamar, satu kamarnya lagi kosong. Gimana?" tanya Refan menawarkan kepada Aril.
"Yaaah apes donk aku. Malah aku tidur di kamar pembokat" jawab Aril.
"Karma buat kamu karena sudah menebak pekerjaan Bela pembokat" balas Refan.
"Iya deh gak apa - apa. Tidur di kamar pembokat pun aku mau Fan demi surga indah di depan mata" ucap Aril pasrah.
"Sorry Ril aku becanda. Aku hanya ngetes kamu tadi rupanya kamu tanggapi dengan serius. Aku kira kamu akan tolak tadi. Tawaran aku cuma main - main" sambut Refan.
"Maksud kamu boongan Fan?" tanya Aril terkejut.
"Iya bohong. Yang benarnya kamu memang di larang tidur di rumahku. Kamu pulang aja ke apartemen kamu. Besok kalau mereka membutuhkan bantuan kamu baru kamu datang ke sini lagi" jawab Refan
"Yaaaah Reeeeefaaaan tega banget" protes Aril.
"Ya semuakan perjuangan Ril. Aku mau lihat seberapa seriusnya kamu pada Bela. Kalau memang aku merasa kamu serius baru aku sampaikan keinginan hati kamu pada Kinan biar nanti Kinan yang sampaikan niat hati kamu kepada Bela. Itu pun kalau Bela mau terima ya Ril, tapi kalau tidaaaak ya tanggung sendiri sakitnya. Kamu akan patah hati seperti Riko" ujar Refan.
"Sadis amat jadi teman. Malah do'ain seperti itu, bukannya do'ain yang baik - baik" sambut Aril.
"Ya kemungkinan terburuk itu harus kamu fikirkan masak - masak biar kamu gak kecewa. Belajarlah dari pengalaman hidup Riko. Semua bisa saja terjadi, walau kalian itu playboy dan sering menaklukkan hati para wanita tapi kekuatan jodoh itu maha dahsyat. Kalau Allah sudah bilang kamu bukanlah jodoh Bela, sekuat apapun usaha kamu itu tidak akan berhasil Ril" nasehat Refan.
"Yang kamu lakukan itu ja.. hat Faaaan" ucap Aril kesal.
"Hahaha.... " Refan tertawa melihat wajah kesalnya Aril.
"Udah ah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok pagi aku datang lagi ke sini. Bilang sama Kinan sediakan satu kursi di meja makan untukku. Selama bidadariku ada di sini aku akan sarapan pagi bersama kalian" tegas Aril.
"Sompret lo" balas Refan dengan kesal.
"Hahaha.... timbal baliknya Fan. Daaah aku pulang" Aril bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan rumah Refan, kembali ke apartemennya.
*****
Keesokan harinya...
Seperti ucapan Aril kemarin. Pagi - pagi sekali Aril sudah sampai di rumah Refan untuk ikut serta sarapan pagi bersama.
"Selamat pagi semua" sapa Aril penuh semangat. Tak lupa dia melirik ke arah Bela berada.
"Eh Nak Aril sudah datang. Mari duduk sini" ucap Pak Akarsana.
"Hehe iya Pak, terimakasih" jawab Aril.
Aril duduk di dekat tempat duduk Pak Akarsana.
"Yank kamu sudah siapkan alat makan untuk Aril kan?" tanya Refan.
"Sudah Mas. Bik tolong tambahkan alat makan untuk Mas Aril" perintah Kinan pada asisten rumah tangganya.
"Gimana Fan, jam berapa dan dimana ketemuan sama Bimo?" tanya Aril.
"Tadi malam aku sudah kabari Bimo mengenai pertemuan dia dengan Salman hari ini. Nanti ketemuannya jam sebelas di Restoran XXX" jawab Refan.
Aril yang saat itu sedang duduk berdekatan dengan Salman langsung menatap Salman.
"Hai boy... kamu sudah siap bertemu dengan Pakde kamu?" tanya Aril.
"Sudah Om. Kata Mama orang yang mirip dengan Papa Bima itu adalah saudara kembarnya Papa Bima. Namanya Bimo" jawab Salman.
"Senang sekali Om. Aku sangat senang bisa melihat wajah Papa Bima lagi, walau kata Mama dia bukan Papa Bima" balas Salman.
Aril mengacak gemas rambut Salman. Pak Akarsana memperhatikan sikap Aril yang kelihatannya sangat dekat dan suka dengan anak - anak.
"Nak Aril sudah menikah?" tanya Pak Akarsana.
Weiss.. ada apa nih Bapak Calon mertua tanya - tanya soal itu. Mau jodohin aku sama anak gadis kamu? tanya Aril dalam hati.
"Saya belum menikah Pak, masih single. Lebih tepatnya sedang mencari pendamping hidup yang serius mau menikah" jawab Aril panjang.
"Ehm.. gak sejelas itu juga jawabnya" sindir Refan.
"Namanya usaha ya kan Pak, siapa tau Bapak punya calon yang bisa dikenalkan dengan saya dan siapa tau juga cocok dan berjodoh" sambut Aril semangat.
"Hahaha.. benar kamu Nak Aril. Nanti Bapak akan carikan calon buat kamu" jawab Pak Akarsana.
Mendengar jawaban Pak Akarsana, Aril merasa sangat senang dan bersemangat.
Sesekali dia juga melirik ke arah Bela yang sedang asik menikmati sarapan paginya.
"Jadi jam berapa berangkatnya?" tanya Pak Ardianto.
"Jam sembilan Pak, setelah selesai sarapan kita pergi. Masih bisa santai sedikit" jawab Refan.
"Baiklah" sambut Pak Akarsana.
"Jadi nanti Bapak sama Ibu dan Bela bisa berangkat bareng Aril ya, naik mobilnya. Nanti saya, Kinan dan Salman satu mobil. Rencananya aku, Kinan dan Salman turun duluan dan lebih dulu bertemu dengan Bimo. Bapak dan Ibu tunggu di mobil saja dulu setelah kira - kira setengah jam kami bertemu Bimo baru Bapak dan Ibu turun" ujar Refan.
"Sebaiknya kamu menunggu di mobil saja dulu Bel, nanti lihat kondisi. Kalau memang hasilnya baik baru kamu dan Nak Aril turun tapi kalau tidak kamu bisa menjaga Salman dan Kinan di mobil. Biar kami para lelaki di tambah Ibu kamu yang bertemu Bimo" sambut Pak Akarsana.
"Iya Pak" jawab Bela.
Yeees... aku punya kesempatan berduaan dengan Bela walau suasananya lagi genting. Batin Aril bersorak.
Mereka akhirnya selesai makan dan bersiap - siap hendak pergi. Sesuai rencana semula di mobil pertama ada Refan, Kinan dan Salman. Sedangkan mobil kedua ada Aril, Bapak, Ibu Akarsana dan Bela.
Mobil berjalan tidak beriringan melainkan berjarak. Refan sengaja memberi aba - aba agar Aril bisa menjaga jarak mobilnya dengan mobil Refan.
Setelah sampai di Restoran XXX Aril, Bapak, Ibu Akarsana dan Bela tetap di mobil menunggu intruksi dari Refan.
Tak lama kemudian ponsel Aril berbunyi dan Aril langsung menerima telepon.
"Ril Bimo sudah sampai di Restoran. Coba kamu perhatikan dia keluar dari mobil yang mana" perintah Refan.
"Baik, aku akan lihat sekeliling. Apakah ada pria yang baru keluar dari mobil yang mirip dengan Bima" jawab Aril.
Tak begitu lama ada mobil masuk dan parkir tepat disamping mobil Aril. Ternyata orang yang keluar dari mobil tersebut adalah Bimo. Orang yang memang sedang memang mereka tunggu.
Bapak dan Ibu Akarsana dan Bela sangat terkejut melihat pria yang baru saja keluar dari mobil.
"Bimo... " ucap Bu Akarsana.
Aril segera mengirim pesan kepada Refan bahwa pria yang keluar dari mobil disamping mereka adalah Bimo dan saat ini sedang berjalan masuk ke dalam Restoran.
Aril dari kaca spion Bela meneteskan air mata melihat sosok Kakak yang sudah lama tidak bertemu. Rasanya Aril ingin segera menghibur gadis itu tapi tak mungkin. Di mobil ada Bapak dan Ibu Bela, tak mungkin Aril melakukannya. Akhirnya Aril hanya bisa pasrah melihat Bela yang menangis.
Seandainya saja aku bisa menghapus air mata kamu saat ini. Batin Aril.
.
.
BERSAMBUNG