
Aril dan Agus pegawai KUA kembali ke mobil. Wajah Aril tampak sangat menakutkan bagi Agus. Pegawai KUA itu hanya bisa diam disamping Aril.
"Bagaimana kerja kamu? Masak kamu tidak tau kalau ada delegasi jabatan dalam keadaan seperti ini?" tanya Aril kesal.
"Ma.. maaf Pak, saat mengetahui pimpinan saya cuti, saya sangat panik. Takut mengecewakan Bapak, jadi saya buru - buru menghubungi Bapak tadi. Bapak juga ikutan panik seperti saya" ungkap Pria itu.
"Ya jelas saya panik. Di sini masa depan saya yang dipertaruhkan. Kamu tau, kalau seminggu ini surat nikah saya tidak selesai pernikahan ini akan ditunda dua bulan lagi. Bagi kamu itu mungkin tidak masalah karena kamu belum menikah dan mungkin belum punya calon. Tapi bagi saya ini sangat berat. Kamu tau betapa beratnya perjuangan saya sampai pada keputusan pernikahan ini. Saya tidak mau diperlama lagi" sambut Aril.
"I.. iya Pak, saya mengerti. Dan sekali lagi maaf" ujar pria itu.
"Ya sudah pastikan surat nikah saya selesai hari Kamis. Jumat depan saya akan menikah. Kalau sampai hari yang saya tentukan tidak selesai juga, jangan menyesal kamu kalau saya bertindak kasar. Banyak yang saya korbankan untuk mengurus masalah ini" ancam Aril.
"Si.. siap Pak, saya bisa pastikan hari Kamis surat nikah sudah siap dan nanti hari Jumat akan dibawa langsung oleh kadi nikah dihari pernikahan Bapak" janji Agus.
Aril menarik nafas panjang. Tak lama kemudian Aril kembali mengantarkan pegawai KUA ke kantornya. Karena waktu sudah sore Aril langsung pergi menuju kantor Refan karena hari ini jadwal pengajian rutin mereka.
Dan setiap hari itu Bela pasti pulang sendiri. Sehingga kali ini Aril tidak perlu balik lagi ke kantor untuk menjemput Bela. Dengan perasaan campur aduk antara lega dan kesal Aril melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Aril tiba di kantor Refan saat semua teman - temannya sudah berkumpul. Tak lama kemudian Ustadz datang bersama Galuh. Pengajian segera dilaksanakan. Hingga adzan Maghrib setelah itu mereka melaksanakan shalat Magrib bersama di Mushola yang ada di gedung perkantoran milik Refan.
Setelah itu Galuh dan Ustadz pamit pulang. Kini hanya tinggal Refan dan para sahabatnya sedangkan Bimo pamit tidak hadir hari ini karena menemani Reni jadwal kontrol ke dokter kandungan.
Aril tampak tidak bersemangat dan lebih banyak diam. Membuat teman - temannya bertanya apa yang terjadi dengan Aril saat ini.
"Kamu kenapa bro, kok lemas banget?" tanya Romi.
"Aku stres banget hari ini" ungkap Aril.
"Stress kenapa? Ada masalah di kantor kamu?" tanya Refan penasaran.
"Bukan masalah kantor. Tapi masalah di KUA" jawab Aril.
"KUA, masalah apa? Surat nikah kamu?" tanya Riko.
"Paling surat nikahnya gak bisa siap dalam waktu satu minggu" sambar Romi.
"Waaaah siap - siap bro ditunda dua bulan lagi. Atau gimana kalau kita nikahnya barengan aja" goda Riko.
"Enak aja, emangnya aku gak punya modal apa. Nikahnya numpang sama kamu. Jelek amat, nama baikku tercemar" tolak Aril.
"Hahaha.. " membuat teman - temannya tertawa.
"Jadi apa masalahnya?" tanya Refan.
"Kesal banget lihat pegawai KUA. Aku sudah menemui salah satu pegawai KUA untuk mengurus surat pernikahanku dan aku sudah membayar mahal untuk itu. Tiba - tiba tadi siang dia bilang surat nikahku terancam gak siap karena pimpinannya cuti umroh selama dua minggu" ungkap Aril masih kesal mengingat kejadian tadi siang.
"Lho kalau pimpinan cuti kan ada penggantinya Ril" sambut Bagus.
"Masalahnya si Agus pegawai KUA itu menghubungiku dengan sangat panik, spontan aku jadi ikutan panik. Aku langsung berangkat ke KUA menjemputnya dan menyusul Bosnya ke Bandara" ujar Aril.
"Hahaha... Riiiil... Riiiil... bisa - bisanya kamu panik sampai seperti itu" ledek Riko sambil menggelengkan kepalanya, merasa heran melihat tingkah Aril.
"Untung gak nyusul sampai ke Mekah" goda Romi.
"Hampir... aku udah niat, kalau Bosnya si Agus gak ketemu aku akan pesan tiket pesawat dan terbang ke Mekah menyusulnya" jawab Aril kesal.
"Perjuanganmu Ril menuju kelami*an eh pelaminan" sambar Romi.
"Ya ketemu donk, kalau gak ketemu pasti kalian sudah mendapat kabar dariku bahwa saat ini aku sedang dalam pesawat menuju Mekah" jawab Aril.
"Lantas kenapa kamu tidak semangat, kan masalahnya sudah selesai?" tanya Bagus. Mereka masih lucu mendengar cerita Aril.
"Aku capek, jantungku hampir copot tadi karena panik. Belum lagi aku ngebut dari kantor menuju KUA terus lanjut Bandara. Rasanya tenagaku terkuras habis" ungkap Aril.
"Hahaha... " tawa mereka melihat Aril lemas bersandar di sofa ruang kerja Refan.
"Tapi perjuangan kamu hebat Ril. Benar kan nasehat para orang tua, kalau menjelang pernikahan akan banyak rintangannya" ujar Riko.
"Si Refan nggak tuh, begitu Kinan bersedia langsung deh malamnya mereka nikah" potong Aril.
"Ya adalah Ril, cobaanku saat itu kan Naila sakit" bantah Refan.
"Mana coba lebih berat dengan cobaan Bagus nikah?" goda Riko.
"Beratan Bagus donk, beberapa hari mau menikah panta*nya malah bisulan" sambar Aril.
"Hahaha... itu masa - masa berat bro. Zaman susah masih merintis dari bawah. Masih kurang vitamin" jawab Bagus.
"Gak kebayang ya Gus malam pertama kamu. Nyeri - nyeri enak" ledek Aril.
"Hahahaha.... kebanyakan makan telur tuh" ejek Romi.
Romi dengan penuh kasih sayang memijat bahu Aril.
"Calon pengantin jangan stress - stress. Sebentar lagi kan mau malam pertama" hibur Romi.
"Duh enak banget Rom pijitan kamu" sambut Aril.
"Kamu emang benar - benar pejuang cinta ya Ril. Salut aku.. kamu ahli banget di bidang percepatan pernikahan" ujar Riko.
"Bener tuh predikat itu untuk Aril. Target menikah satu bulan bisa berubah jadi satu minggu. Kamu memang juaraaaa" sambung Romi.
"Hahahaha" sambut yang lainnya.
"Udah yuk kita makan, aku laper banget. Tenagaku rasanya sudah habis" ajak Aril.
"Kamu teraktir ya.. sedekah sama sahabat, syukuran karena masalah surat nikah kamu selesai juga akhirnya" sambut Romi
"Iya.. iya aku yang bayar. Gitu aja kok repot, sampai kamu duduk kekenyangan juga aku sanggup bayar" balas Aril.
"Iya tauuuu... worang kaaaayaaaah.. sebentar lagi jadi adik ipar pengusaha hotel dan menantunya Bapak Akarsana yang punya sawah yang lebar di Surabaya" sambut Romi.
"Hahahaha..." mereka kembali tertawa melihat candaan dia sahabatnya itu. Padahal Aril juga tak kalah kayanya dengan Kakak iparnya.
Refan dan Bagus segera menghubungi istri mereka untuk memberi kabar kalau malam ini mereka tidak makan malam di rumah melainkan makan malam bersama para sahabatnya.
Lagian sudah lama mereka tidak berkumpul dan bercanda lepas seperti ini. Sekaligus mereka berbincang-bincang ringan. Refan dan Bagus juga sekalian memberikan kata - kata nasehat pernikahan untuk ketiga sahabat mereka yang sebentar lagi akan menikah.
.
.
BERSAMBUNG