
"Ya Allah Hana.. mengapa jadi begini" ucap Riko.
Riko duduk lemas di lantai bersandar ke dinding. Surat yang dia baca masih dia pegang. Matanya lurus tertuju pada jasad Hana yang terbujur kaku.
"Aku maafkan Han.. aku maafkan semua kesalahan kamu. Aku mengerti mengapa kamu berbuat seperti itu.. " ucap Riko masih menangis.
Dini segera menghampiri Riko dan menyentuh lembut bahu Riko
"Ada apa Mas?" tanya Dini.
Riko hanya bisa menyerahkan surat yang ditulis Hana. Dini meraihnya dan membacanya. Dini duduk disamping Riko menghadap ke jasad Hana.
Assalamu'alaikum Riko dan Mbak Dini..
Melalui surat ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah melakukan kebohongan besar pada kalian. Tapi semua ini aku lakukan hanya untuk Rihana anakku. Enam bulan yang lalu aku didiagnosa dokter mengidap penyakit kanker serviks stadium empat dan hanya punya waktu beberapa bulan saja. Sejak saat itu aku berjuang untuk tetap hidup dan mencari Papa kandung Rihana untuk bertanggung jawab kelak pada hidup Rihana setelah aku tiada. Tapi alangkah malangnya nasih anakku. Papa kandung Rihana tidak mau mengakui keberadaan Rihana. Dia hanya memberikan aku uang sebesar seratus juta sebagai belas kasihnya pada aku dan Rihana. Rihana bukan anak kamu Ko.. Nama Papa kandungnya Ricky Prasetya.
Sejak saat itu dengan perasaan hampa aku menjalani proses pengobatanku dan berharap mendapatkan jalan keluar untuk Rihana. Hingga sampai pada malam itu aku melihat kamu dan Mbak Dini. Dari kejauhan aku sudah tau kalau Mbak Dini itu istri kamu. Melihat penampilannya aku tau dia wanita yang baik. Dan aku juga melihat perubahan sikap kamu pada saat itu. Aku melihat kamu juga sudah jauh berubah jadi pria yang lebih baik. Tiba - tiba saja aku mendapatkan ide untuk membuat cerita palsu tentang orang tua kandung Rihana. Aku pikir inilah kesempatan dan jalan satu - satunya yang Allah beri kepadaku dan Rihana.
Rihana anak yang tidak berdosa Ko.. dia hanya korban nafs manusia. Kehidupan masa laluku yang sangat buruk yang mengakibatkan aku mengidap penyakit buruk ini**.
Mungkin kamu bertanya mengapa hasil tes DNA ku hasilnya kamu adalah Papa kandungnya Rihana. Itu karena aku meminta bantuan Dokter Mutya melalui kenalannya di RS. XXX. Aku pertaruhkan semua uang yang diberikan Papa Rihana untuk masa depan Rihana agar lebih baik, bagaimanapun caranya aku tidak perduli karena waktuku hanya tinggal sedikit lagi. Rihana harus memiliki keluarga yang sempurna. Orang tua yang baik dan menyayanginya. Ternyata keputusanku tidak salah, aku tidak salah memilih. Dari cerita Rihana kalian sangat baik kepadanya. Aku juga melihat bagaimana kasih sayang kalian yang tulus kepada Rihana.
Sekali lagi aku mohon maaf ya Ko dan Mbak Dini .. aku telah berbohong kepada kalian.
Saat kalian membaca surat ini pasti aku sudah tiada lagi di dunia ini. Melalui surat ini aku meminta tolong kepada kalian, aku titipkan putri kecilku yang tidak berdosa. Tolong didik dan asuh dia dengan baik. Agar dia tidak mengikuti jejak orang tuanya. Aku percaya kalian bisa melakukan semuanya. Aku mohon dengan sangat kalian terima permintaan terakhirku ini agar aku bisa tenang menghadap Allah mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan dosa - dosa aku dulu.
Jangan kalian cari siapa Papa kandung Rihana karena dia adalah pria paling brengsek yang pernah aku temui. Aku tidak sudi Rihana di asuh olehnya karena itu akan sama saja hasilnya. Rihana akan hidup seperti aku dulu. Aku tidak mau. Hanya Rihana yang bisa menolong dan meringankan siksaku di akhirat. Tolong.. tolong didiklah dia dengan baik. Aku mohoooon***.....
Wassalam
Hana Pertiwi
Setelah membaca surat Hana, Dini langsung memeluk Riko dengan erat. Mereka berdua sama - sama menangis.
Terlalu kejam kalau saat ini mereka dikatakan sedang menangis bahagia di hadapan jasad Hana. Tangisan mereka adalah tangisan lega karena permasalahan yang selama satu bulan ini sungguh sangat membuat bomerang dalam rumah tangga mereka kini akhirnya selesai dengan jelas dan melegakan.
"Alhamdulillah ya Allah Mas.. Rihana bukan anak kandung kamu. Tapi bolehkan aku meminta dia menjadi anak kita?" tanya Dini.
Riko terdiam dan menatap wajah Dini. Sesaat mereka hanya berinteraksi melalui tatapan mata. Ada ketulusan dan keinginan yang kuat dalam mata Dini.
"Kamu mau sayang menerima permintaan Hana?" tanya Riko.
"Mau Mas.. aku mau.. aku sudah terlanjur menyayangi Rihana. Apalagi saat ini Rihana hanya tinggal seorang diri. Dia sudah kehilangan Mamanya dan tidak tau dimana keberadaan Papanya. Dia tidak punya keluarga lagi, kalau bukan kita siapa lagi Mas yang akan menjaganya. Dia masih terlalu kecil. Aku tak tega kalau dia harus tinggal di panti asuhan. Rihana anak yang cerdas, pintar dan baik hati. Aku menyayanginya Mas.." ungkap Dini.
"Kalau kamu mau aku akan mengabulkannya sayang. Apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan. Sejujurnya aku juga sudah jatuh cinta pada anak itu. Dia sangat pintar mencuri hati kita. Kasihan kalau dia harus tinggal di panti asuhan" sambut Riko.
"Iya Mas, terimakasih.. terimakasih kamu sudah mau mengabulkan permintaanku" ujar Dini.
"Besok setelah pemakaman Hana, kita akan bawa semua barang - barang Rihana ke apartemen. Setelah itu baru kita urus surat - surat adopsi Rihana. Kita akan jalani masa depan bersama - sama dengan Rihana sayang. Kita akan kenalkan dia pada keluargaku juga keluarga kamu. Mudah - mudahan keluarga kita juga mau menerima keberadaan Rihana di tengah - tengah kita" ungkap Riko.
"Aku yakin mereka pasti akan menerima Rihana dengan baik Mas. Karena Rihana gadis kecil yang manis, semua orang pasti langsung menyukainya pada pandangan pertama" sahut Dini.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita istirahat sayang, besok baru kita siapkan semuanya" ajak Riko.
"Iya Mas. Aku akan ke kamar Mbak Hana untuk mencari selimut untuk Rihana. Kasihan dia tidur seperti itu Mas" ucap Dini.
"Iya sayang, siapkan semuanya dengan baik" balas Riko.
Dini menyeka air matanya dan bangkit kemudian berjalan menuju kamar Rihana. Dini mengambil selimut yang ada diatas tempat tidur.
"Mbak Hana mungkin wangi tubuh kamu masih ada diselimut ini. Aku harap hangatnya selimut ini sama dengan hangatnya pelukan kamu. Membuat Rihana bisa tidur dengan nyaman di dalamnya" gumam Dini sambil mengambil selimut Hana.
Dini membawanya kembali ke depan dan memasangkannya di atas tubuh Rihana sehingga semua tubuh Rihana tertutup selimut.
Dengan penuh kasih sayang Dini mengelus lembut kepala Rihana.
"Kamu tidak kehilangan Mama sayang.. Mama akan selalu ada di hati kamu. Tante janji akan terus membuat kamu ingat siapa Mama terbaik kamu yang mempunyai perjuangan berat untuk hidup kamu" ucap Dini sambil meneteskan air mata.
Dini menatap jasad Hana.
"Mbak Hana istirahat lah dengan tenang. Allah akan menerima taubat hambanya. Kami akan mendidik Rihana dengan baik. Kamu beruntung sekali Mbak mempunyai anak secantik, sepintar dan semanis Rihana" ucap Dini pelan.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers... gimana.. gimana? udah lega kan? Ayo mana yang kemarin janji mau kasih kembang kopi, like dan votenya hahahaha.. maksa amat ya.
Terimakasih sudah menjadi oembaca setiaku dan dukung terus ya.. agar aku lebih semangat menghasilkan karya terbaikku.
Love You All...