Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh



"Mas Edo bukanlah bagian dari masa lalu aku. Tapi dia adalah bagian dari masa lalu Ela" ungkap Bela.


"Apa?" tanya Romi yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Aril dan Bela.


Romi baru saja keluar dari kamar mandi yang tak jauh letaknya dari dapur. Bela dan Aril saling pandang. Mereka melihat wajah Romi terlihat sangat kesal dan marah.


"Bisa kamu jelaskan Bel apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya Romi mendekati Bela dan Aril.


"Ma.. maaf Mas, rasanya tidak etis kalau aku yang bercerita. Lebih baik Mas tanyakan saja sendiri semuanya kepada Ela. Ela lebih berhak menceritakannya Mas dari pada aku" jawab Bela sungkan.


"Bela benar Rom" Aril menarik nafas panjang.


"Haaaah lega aku Rom, ternyata bukan istriku yang punya masa lalu melainkan calon istri kamu. Bersiaplah sobat kamu punya bayang - bayang masa lalu Ela. Walau menurut aku sih tidak bisa dilanjutkan lagi hubungan apapun diantara mereka. Edo sudah menikah dan Ela juga akan menikah dengan kamu sebentar lagi" ucap Aril sambil menepuk bahu Romi pelan.


Romi hanya diam sambil memikirkan sesuatu.


"Tapi tetap aja ada kisah masa lalu diantara mereka yang mungkin bisa saja belum selesai. Nikmatilah kawan cobaan sebelum pernikahan. Setidaknya kan cobaan kamu tidak seberat aku setelah menikah" bisik Aril kepada Romi dengan tujuan ingin menggoda Romi.


"Maaas jangan godain Mas Romi seperti itu donk. Momentnya tidak pas" ucap Bela memperingatkan suaminya untuk tidak iseng saat seperti ini.


"Hahaha... biar gak tegang amat. Lagian ketegangan kamu hanya baru beberapa hari kan? Belum sampai seminggu, lah aku tegangnya sebulan bro... Bisa gak kamu bayangkan bagaimana kamu jadi aku" ujar Aril.


Reflek Bela mencubit pinggang suaminya.


"Aaaaww... sakit yank" pekik Aril.


"Sempruul lo" umpat Romi.


"Hahaha..." tawa Aril pecah.


Dia merasa menang karena sudah berhasil membuat sahabatnya itu kesal. Romi segera meninggalkan Aril dan Bela di dapur.


"Mas kamu nyusul Mas Romi aja deh ke depan, jangan disini. Yang ada juga kamu gangguin aku" ujar Bela.


"Iya deh aku kesana aja, mau temani Romi yang lagi galau" sambut Aril.


Aril kini bernafas lega karena ternyata bukan istrinya yang punya masa lalu, melainkan Ela. Aril berjalan menyusul Romi ke ruang keluarga.


"Lho Ela dan Edo mana?" tanya Romi pada Bimo dan Reni.


"Lagi ngobrol di teras belakang Mas. Mereka kan teman lama, ada yang mau di obrolin kali" sambut Reni.


"Mampu* lo" umpat Aril.


Romi langsung berjalan menuju teras belakang.


"Ada apa sih?" tanya Reni kepada Aril.


"Kata Bela, Edo itu bagian dari masa lalu Ela" jawab Aril.


"Oh ya?" sambut Ela penasaran.


Reni langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana yank?" tanya Bimo.


Bimo menahan tangan Reni.


"Mau nyusul Mas Romi, yuk Mas Aril. Seru nih" jawab Reni semangat.


"Kuy lah... " sambut Aril tak kalah semangat.


"Jangan kenapa Mas?" tanya Reni bingung.


"Iya, asik nih Bim bisa buat hati Romi membara" sambung Aril.


"Kalian ini isengnya kebangetan. Gak lihat apa situasinya lagi serius begini masih juga mau becanda" nasehat Bimo.


Reni kembali duduk disamping Bimo.


"Gagal Mas, nanti bojoku ngambek kalau gak di turutin" ucap Reni pada Aril.


"Kalau dia ngambek jangan kasih jatah sampai lahiran" potong Aril.


"Enak aja... " protes Bimo.


"Aku kan istri solehah. Harus nurut kata suami" jawab Reni.


"Nah itu baru benar" sambut Bimo.


"Dan kasih jatah setiap hari" sambung Reni sambil senyum - senyum. Bimo juga membalasnya dengan senyuman.


"Itu sih emang mau kamu setan keciiil" ujar Aril kesal, Reni gak mau diajak bekerja sama malah mengalah pada suaminya.


"Iri bilang Bos" ejek Reni.


"Ngapain iri, aku juga bisa tiap hari sekarang" jawab Aril.


Aril kini duduk di sofa bergabung dengan Bimo dan Reni. Sedangkan Romi masih mencoba mendengarkan pembicaraan Ela dengan Edo.


"Lama tidak bertemu kami lagi El, kamu sangat berbeda sekarang. Tambah cantik" puji Edo.


"Ah Mas Edo bisa saja. Apa kegiatan Mas Edo sekarang?" tanya Ela.


"Dulu aku karyawan Bank di Jakarta ini El. Disinilah aku bertemu Klara. Saat itu dia mengurus ATM nya yang hilang karena jambret. Sejak saat itu kami sering bertemu dan saling jatuh cinta. Tapi ternyata orang tua Klara tidak merestui hubungan kami. Klara nekat dan mengajak aku pulang ke Surabaya. Aku resign dari Bank dan pulang ke Surabaya bersama Klara. Kami menikah disana dan memulai membangun usaha. Aku banyak belajar bisnis dari Klara, mungkin karena didikan orang tuanya sehingga dia banyak sekali mengajariku cara berbisnis. Usaha kami mulai maju tapi ternyata orang tua Klara mengetahui keberadaan kami. Dia membawa Klara kembali ke Jakarta, saat itu Klara sedang hamil anak pertama kami. Aku tidak bisa memperjuangkan istriku. Papa Klara mempunyai kekuasaan yang sangat kuat. Aku yang hanya orang biasa ini tidak mempunyai kekuatan apapun. Aku tidak sanggup melawan mereka. Aku patah hati dan akhirnya usaha yang aku bangun bersama Klara gulung tikar. Aku tinggal berpindah - pindah. Hingga akhirnya Romi datang bersama Klara. Dan Klara sudah melahirkan anak kami. Kami berkumpul kembali dan berencana akan membangun usaha kembali. Tapi belum saja kami mulai ternyata orang tua Klara sudah mengetahui keberadaan kami. Bahkan tersebar berita serta foto - foto Klara bersama Romi saat sedang mencari rumah kontrakanku. Awalnya Klara yakin Romi bisa menyelesaikan semuanya tapi beberapa hari yang lalu kami mulai merasa diikuti oleh seseorang. Hingga akhirnya Klara tau bahwa Papanya lah dalang dari semua ini. Papa Klara ingin memisahkan aku dengan Klara lalu menjodohkannya dengan Romi" ungkap Edo.


"Yang sabar ya Mas, semua pasti berlalu. Yakinlah Mas dan Mbak Klara pasti akan bersatu kembali" hibur Ela.


"Iya El semoga seperti itu" Edo menarik nafas panjang lalu melirik ke arah Ela.


"Kamu bagaimana ceritanya bisa bertemu Romi di Jakarta ini?" selidik Edo.


Ela tersenyum saat mengingat kenangan dulu dia bertemu Romi pertama kali.


"Ceritanya lucu Mas.. Sekitar tiga tahun yang lalu aku pernah ke Jakarta dan tanpa sengaja bertemu Mas Romi. Tapi saat itu ada kesalah pahaman diantara kami. Aku kembali ke Surabaya tapi ternyata Mas Romi sampai mencari aku ke Surabaya. Yang lebih lucu lagi dia bertemu Bapak untuk mencariku tapi tidak ketemu. Hingga akhirnya dua tahun berlalu. Aku ikut Bela ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kakaknya Bela, Mas Bimo adalah sahabatnya Mas Romi dan Mas Aril. Atas bantuan mereka aku bekerja di perusahaan Mas Romi. Dan semua terbongkar, aku dan Mas Romi bertemu lagi setelah dua tahun lamanya" ungkap Ela.


"Jadi kamu satu kantor sama Romi?" tanya Edo penasaran.


"Tidak, sekarang sudah nggak lagi. Kakaknya Reni, Mas Refan membutuhkan seseorang untuk memimpin perusahaan mantan mertuanya. Dia meminta aku yang mengurus perusahaan itu. Jadi sekarang aku kerja di Perusahaan lain" jawab Ela.


"Wah hebat kamu El, dari dulu kamu memang wanita yang pintar dan hebat. Makanya dulu aku suka sama kamu" puji Edo.


Deg... jantung Romi bergemuruh mendengar pengakuan Edo barusan.


.


.


BERSAMBUNG