Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Lima Belas



Aril dan Bela shalat maghrib di rumah. Mereka shalat di ruang keluarga dan tentu saja Aril yang menjadi imamnya. Baru kali ini mereka shalat berjamaah berdua.


Ada rasa sejuk di hati mereka berdua. Rasanya sangat tenang, walau di luar suara petir sudah saling bersahutan. Aril dan Bela shalat dengan khusyuk.


Setelah shalat Bela melipat semua peralatan shalatnya. Kemudian dia menyimpannya kembali ke dalam kamar. Di kamar Bela menyempatkan diri untuk merapikan jilbab dan make up nya.


Sudah sering pergi dengan Aril tapi mengapa kali ini dia lebih berdebar - debar. Apa karena suasana yang mencekam, berada berdua di rumah dalam keadaan cuaca tidak bersahabat seperti ini?


Bela kembali turun ke lantai satu. Aril sudah menunggunya sambil duduk di sofa.


"Mas... Mas yakin kita mau pergi?" tanya Bela.


"Dari pada kita berduaan di rumah yang ketiga setan? Kita tidak tau bagaimana dahsyatnya bisikan setan Bel. Aku dan kamu bisa saja melakukan kesalahan. Sebelum itu terjadi lebih baik kita hindari" jawab Aril santai cenderung dingin.


Bela tampak sedang dilema.


"Kenapa, kamu keberatan kalau kita pergi. Kamu mau kita di rumah saja?" Aril balik bertanya.


"Nggak Mas, ya sudah yuk Mas" ajak Bela.


Aril berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Bela mengunci pintu rumah Bimo kemudian menyusul Aril masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Bela.


"Kemana saja yang penting ramai" jawab Aril singkat


Bela jadi bingung mau berkata apa lagi pada Aril. Seperti Aril enggan berlama - lama bicara dengan Bela.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah Cafe yang lagi ramai dikalangan anak muda. Bela melirik ke sekeliling mereka. Banyak sekali pasangan muda sedang bermesraan di sekitar mereka.


Bela tampak jadi salah tingkah dan lebih kepada rasa kecewa sudah melewatkan kesempatan yang baik di depan matanya.


Tak lama pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa daftar menu. Bela dan Aril sibuk memilih makanan yang mereka inginkan. Tiba - tiba datang seorang wanita sedang mengganggu mereka


"Hai Aril ketemu lagi" sapa wanita itu manja.


Bela melirik kepada pemilik suara. Dia melihat wanita dengan pakaian glamor sedang mencoba merayu Aril. Bela ingat dan kenal dengan wanita ini. Beberapa bulan yang lalu mereka pernah bertemu dan saat itu Mas Aril mengenalkan dirinya sebagai pacar Aril. Apakah kali ini juga akan sama?


Cih wanita genit, jelas - jelas Mas Aril duduk bareng aku masih saja mencoba untuk menggodanya.


"Via ngapain kamu disini?" tanya Aril.


"Malam mingguan donk, kamu sendiri?" tanya Via.


"Emangnya cuma kamu saja yang lagi malam mingguan?" tanya Aril.


"Hahaha.. kamu gak usah boong Ril. Aku tau malam ini kamu dan pacar kamu sedang bertengkar kan? Kelihatan banget kalian saling diam dan jaim. Kalau emang udah gak suka lagi putus aja. Aku masih siap nampung kok" goda Via.


"Siapa bilang kami lagi bertengkar. Bela hanya sedang datang tamu bulanan makanya kurang mood. Lebih baik kamu tidak usah mengganggu kami Via. Maaf sayang jangan dengarkan omongannya, dia memang suka mencari perhatian orang lain, terlebih seorang pria" ucap Aril pada Bela.


Bela pura - pura tersenyum manis.


"Iya Mas" Jawab Bela.


"Mas bisa tidak jangan ada pengganggu di meja ini. Buat orang gak selera makan kalau seperti ini" pinta Aril pada pelayan.


"Ba.. Baik Pak. Maaf Nona sebaiknya anda jangan mengganggu Bapak ini. Kalau anda tidak mau pergi juga saya akan memanggil petugas keamanan" ancam pelayan Cafe.


Dengan wajah yang kesal dan menahan amarah akhirnya Via pergi meninggalkan mereka berdua.


"Maaf Bel, lagi - lagi aku membawa kamu dalam sandiwaraku" ungkap Aril.


"Tidak apa Mas aku mengerti kok" jawab Bela sambil tersenyum.


Ya Tuhaaan... cantik sekali makluk ciptaanmu ini. Batin Aril.


"Terimakasih Mas sudah membantu kami" ujar Aril pada pelayan.


"Sudah menjadi tugas kami Pak" sambut pelayan.


Bela dan Aril melanjutkan untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Pelayan mencatat semuanya kemudian pamit untuk menyiapkan hidangan mereka.


Aril dan Bela kembali saling diam sedangkan Via terus saja menatap mereka dari mejanya.


"Jadi kita harus bagaimana Mas?" tanya Bela


"Bisa tidak kamu tersenyum manis seperti orang yang sedang jatuh cinta? Kita harus terlihat mesra malam ini" jawab Aril.


Bela tampak bingung bagaimana harus bersikap. Apalagi perintah Aril aneh, dia harus tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta? Bukannya Aril tau kalau dia belum pernah jatuh cinta?


Bela mencoba belajar tersenyum dan mulai merasakan suasana yang berbeda.


"Lebih baik kita membahas masalah kantor karena kita tidak punya bahan untuk membahas masalah pribadi malam ini" jawab Aril.


Huft... Bela tiba - tiba tidak semangat. Biasanya Aril mempunyai banyak bahan cerita saat di rumah.


Aril mengajak Bela berbincang - bincang masalah kantor dengan sangat berat Bela menyambutnya.


Ini namanya meeting kantor Mas. Bedanya cuma kita dua pesertanya. Batin Bela kecewa.


Tak lama pelayan datang membawa menu makanan yang mereka pesan. Bela dan Aril segera menikmati hidangan yang sudah disajikan untuk mereka.


***


Sementara Romi dan Ela sedang berada di toko roti sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Romi.


"Mas cake mana yang disukai oleh orang tua kamu?" tanya Ela sambil menatap kue - kue yang dipasang di etalase toko.


Romi menunjuk ke satu cake.


"Ini" jawab Romi.


"Ya sudah, Mbak tolong di bungkus ya yang ini" pinta Ela.


Pelayan toko langsung membungkus Cake yang mereka pesan kemudian Romi membayarnya. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Romi.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah orang tua Romi. Mobil masuk kedalam pekarangan rumah yang sangat besar. Ela tampak semakin tegang.


Ya Tuhan rumah Bapak dan Ibu di kampung mungkin lebih kecil dari garasi rumah kedua orang tuanya. Batin Ela.


"Yuk masuk" ajak Romi.


Ela tersenyum menanggapi ucapan Romi. Dia menarik nafas panjang dan berdoa di dalam hatinya.


Bismillah.. ucap Ela dalam hati. Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum... " ucap mereka bersamaan.


"Wa'alaikumsalam" sambut Papa Romi.


"Papa... Mama mana?" tanya Romi kepada Papanya.


"Lagi siapin hidangan makan malam untuk kita. Dia sudah gak sabar untuk menunggu kedatangan kamu dari kemarin" jawab Papa Romi.


"Oh iya Pa, kenalkan ini Cishela Budianto" ucap Romi memperkenalkan Ela kepada Papanya.


Tampak Papanya Romi sangat senang sekali menerima kedatangan Ela.


"Hai Cishela senang berkenalan dengan kamu" sambut Papa Romi.


Tiba - tiba datang seorang wanita paruh baya menyapa Romi.


"Hai sayang lama banget datangnya. Padahal Mama sudah menunggu dari tadi" Sambut Mama Romi hangat sambil memeluk putra tunggal.


Tapi ketika wanita itu melirik ke arah Ela tiba - tiba tatapannya begitu berubah.


"Siapa dia?" tanya Mama Romi.


.


.


BERSAMBUNG