Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Lima



Sebelum mata hari terbit mereka sudah sampai di Bromo. Dengan dinginnya udara menjelang pagi itu tidak membuat Aril dan rombongan mengurungkan niat mereka malah membuat mereka tambah semangat.


Aril sesekali melirik ke arah Bela. Wajah alami tanpa polesan yang sangat cantik. Benar - benar membuat Aril terpesona dan jatuh lebih dalam pada perasaan cinta.


"Dingin Bel?" tanya Aril.


"Ya namanya di Bromo Mas. Kalau panas ya Jakarta namanya" jawab Bela.


"Mau aku hangatkan?" Aril menawarkan bantuan.


"Caranya?" tanya Bela penasaran.


"Peluk.... " jawab Aril sambil tersenyum nakal.


"Iiih dasar playboy... bukan muhrim" tolak Bela.


Bela segera menjauhi Aril.


Makin suka.... malu - malu dan jual mahal. Aku semakin tertantang. Batin Aril.


Dengan ditemani secangkir kopi mereka menunggu detik - detik terbitnya mata hari di Bromo.


Akhirnya mata hari sudah terbit dan hari semakin terang. Bela, Reni dan Ela sibuk mengambil foto selfie mereka. Terkadang ada Rizal yang mengambilkan foto mereka.


Aril sesekali diam - diam mengambil foto Bela dari kejauhan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bela sendiri.


Mereka turun dan sampai di tempat shalat. Karena cuaca sangat dingin mereka hanya bertayamum kemudian shalat subuh berjamaah.


Setelah itu mereka turun lagi untuk mencari sarapan pagi. Aktivitas mereka tetap berlanjut, setiap ada tempat yang bagus mereka akan berhenti untuk mengambil foto.


Entah mengapa Aril menikmati perjalanan yang seperti ini. Biasanya dia tidak mau diribetkan dengan urusan para wanita apalagi anak remaja seperti Reni dan teman - temannya.


Tapi karena pujaan hatinya ada di situ dengan sabar dan penuh pengertian Aril dan Bimo mengikuti keempat remaja tersebut.


Kini mereka sedang berhenti di tempat penjual oleh - oleh. Sedangkan Bimo dan Aril menunggu mereka diluar.


"Bagaimana Bim beberapa hari ini berdekatan dengan Reni? Aku lihat kalian semakin lues berinteraksi bahkan terkadang terlihat sangat mesra?" tanya Aril kepada Bimo.


Aril kembali menjalankan misinya untuk mendekatkan Bimo pada Reni, agar nanti dia mendapatkan dukungan ketika mendekati Bela.


"Kamu sepertinya sengaja mendekatkan aku dengan Reni agar jalan kamu mulus mendekati adikku" sindir Bimo.


"Hahaha... ternyata gerak - gerikku bisa kamu baca ya. Seperti yang aku katakan sebelumnya Bim. Saat ini usiaku sudah menuntuk untuk mempunyai keluarga. Sebejat - bejatnya seorang lelaki pasti mendambakan seorang istri yang baik. Karena dari wanita itu nantinya akan lahir keturunan kita. Mungkin aku dan kamu punya keinginan yang sama. Sedang mencari wanita baik - baik yang bisa menjadi calon kuat istri solehah dalam hidup kita. Seperti itulah yang aku pandang dari adik kamu, Bela. Dia wanita baik dan solehah ditambah lagi aku sudah mengenal keluarga kalian dengan cukup baik. Jadi tidak ada lagi celah aku untuk bisa mengelak dari pesonanya " ungkap Aril.


"Tapi kamu harus tetap ingat. Aku ini Kakaknya Bela, hanya tinggal aku saudaranya. Aku tidak akan memaksakan kehendakku, karena aku adalah seorang pemberontak dimasa lalu. Aku suka kebebasan jadi saat ini aku juga akan melakukan hal yang sama. Bela akan aku bebaskan mencari calon suaminya, siapapun itu asalkan dia bahagia. Kalau memang dia memilih kamu ya silahkan saja. Tapi kalau dia berkata tidak, mohon maaf Ril. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk kamu" tegas Bimo.


Aril terdiam dan langsung menelan salivanya dengan sangat berat setelah mendengar perkataan Bimo barusan saja.


Pesan Bimo yang sangat menohok hati Aril sehingga Aril tak bisa berbuat banyak.


"Kamu gak lihat pemuda itu juga mempunyai perasaan tersembunyi pada adikku?" tanya Bimo.


Bimo menunjuk ke arah Rizal temannya Bela.


"Aku lihat, sangat terlihat jelas perasaan pemuda itu kepada Bela. Tapi kamu tenang saja dia tidak akan berani berkutik lagi karena aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku adalah calon suaminya Bela" jawab Aril.


"Hahahaha... Ternyata kamu sangat percaya diri sekali ya Ril" sindir Bimo.


"Itu sebuah trik Bi., agar pria itu tidak sembarangan lagi mengganggu Bela" ungkap Aril.


"Pengalaman yang mengajarkan kamu harus seperti itu ya" sindir Bimo.


"Yaaah bisa dibilang seperti itu. Aku sudah lama belajar untuk saat ini Bim. Jadi aku harap di saat hatiku berkata, dialah wanita yang tepat menjadi istriku. Aku bisa mengerahkan semua kekuatan, tenaga dan keahlianku yang selama ini sudah aku latih" ujar Aril.


"Apakah ini sebuah rayuan untukku agar aku mau merestui dan memberi izin kepada kamu agar kamu bisa bebas mendekati adikku?" tanya Bimo.


"Ini bukan rayuan Bim. Ini adalah sebuah kenyataan bahwa hatiku sudah memutuskan dan menjatuhkan pilihannya. Aku harap dan aku terus berdoa agar permintaanku dikabulkan" jawab Aril.


Bimo tersenyum tipis mendengar jawaban Aril.


"Kamu nih yang belum terbuka. Kamu sudah mulai menyukai Reni kan? Ayo... jujur saja padaku. Aku bisa membantu kamu untuk mendapatkan dukungan dari Refan" bujuk Aril.


Bimo menarik nafas panjang sambil menatap tiga dara yang sedang bersenang-senang berbelanja.


"Jujur aku memang sudah merasa nyaman di dekatnya bahkan aku merasa seperti kembali muda seperti anak remaja seumuran mereka. Padahal usia kita dengan mereka sangat terpaut jauh" ungkap Bimo.


"Apakah itu artinya kamu sedang jatuh cinta lagi seperti anak remaja seumuran mereka?" desak Aril.


"Aku memang mulai tertarik pada Reni Ril, seperti yang sudah sering kita bicarakan. Aku dan kamu juga punya kriteria wanita yang baik dan solehah untuk menjadi pasangan hidup selanjutnya. Dan aku melihat itu pada diri Reni. Tapi... peluang aku berbeda dengan kamu. Kamu bisa langsung action sedangkan aku harus menyelesaikan terlebih dahulu permasalahan masa laluku Ril. Aku tak mau terlalu cepat menjatuhkan hati dan pilihanku kepada Reni. Aku tidak mau mencelakakan dia. Apalagi kalau hatiku sudah sangat yakin kalau dia lagi wanita yang aku cari dan hatiku telah jatuh kepadanya. Aku tidak mau membahayakan nyawa wanita yang aku cintai. Aku takut kehilangan lagi wanita yang sangat aku sayang. Itu yang membuat aku harus berhati - hati dan bersabar Ril. Masa depan Reni masih panjang jangan sampai rusak karena aku menyukainya" ungkap Bimo sedih.


Aril menepuk bahu Bimo memberi semangat.


"Kamu jangan khawatir Bim, ikuti saja apa kata hatimu. Reni itu wanita yang kuat, bahkan rada gila karena ke usulannya. Dia wanita pemberani, kamu bayangin aja dia gadis cilik yang baru duduk di bangku sekolah dasar berani ngeprank aku dan teman - temanku yang sudah kuliah? walau dia anak bungsu tapi dia bukan gadis manja. Percaya deh padaku" ucap Aril meyakinkan.


"Sama dengan adikku Ril, walau dia anak bungsu dan perempuan satu - satunya di rumahku tapi dia juga tidak dimanja oleh Bapak dan Ibuku. Dia wanita yang kuat tapi tetap saja dia seorang wanita butuh perlindungan. Terlebih hanya tinggal aku kakak satu - satunya. Aku tidak akan membiarkan siapapun pria yang akan menyakitinya" ungkap Bimo tegas.


"Percayalah jika dia memang jodohku kelak, aku tidak akan menyakiti ataupun menyia - nyiakannya. Aku sudah berubah Bim, bukan Aril yang dulu lagi yang suka hidup bebas dan gonta - ganti pacar. Aku ingin menata hidupku dengan benar. Aku butuh wanita yang kuat seperti adik kamu untuk mendukungku dari belakang" tegas Aril.


"Silahkan kamu menangkan hati adikku dengan cara jantan. Aku tidak akan menghalanginya. Jika kamulah yang dipilih Bela, aku akan memberikan restuku" jawab Bimo.


"Terimakasih Bim... " sambut Aril bahagia.


.


.


BERSAMBUNG