Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enampuluh Tujuh



Bela dan Aril akhirnya pindah ke rumah orang tua Aril. Mereka sekalian berbelanja untuk perlengkapan menyambut kelahiran anak - anak mereka.


Karena sampai tujuh bulan belum diketahui jenis kelamin anak mereka akhirnya Aril dan Bela sepakat membeli semua perlengkapan bayi dengan warna biru muda.


Walau biru muda identik dengan warna anak laki - laki bukan berarti perempuan juga tidak menyukainya. Sedangkan warna pink sangat jelas sekali itu hanya untuk menyambut anak perempuan. Karena pertimbangan itulah makanya mereka memilih warna biru muda.


Aril, Bela dan Mamanya Aril pergi berbelanja ke toko yang menjual perlengkapan bayi. Sedangkan Papa Aril bertugas untuk memantau kamar bayi mereka yang akan dicat, di tata dengan rapi menyambut kelahiran cucunya.


Tentu saja hal ini sangat membahagiakan bagi kedua orang tua Aril. Rumah mereka serasa hidup kembali. Baru dua orang yang datang ke rumah ini sudah begitu banyak perbedaan. Bagaimana lagi nanti kalau datang dua bayi lagi, pasti rumah mereka ramai sekali.


Sejak pindah ke rumah Aril dan perut Bela semakii besar, Bela tidak diizinkan lagi bekerja di kantor. Tugasnya hanya menikmati hidup menjadi menantu di keluarga besar Aril.


Aril mengangkat satu stafnya yang sangat bagus kerjanya sebagai sekretaris pribadinya. Tentu saja bukan wanita karena Papa Aril sangat melarang keras.


Aril juga menambag satu staff lagi sebagai wakil dari asisten pribadinya, sehingga nanti saat kelahiran anak - anaknya dia bisa memantau pekerjaan hanya dari rumah. Semua pekerjaannya di kantor di selesaikan oleh asisten pribadi dan wakilnya.


Mendekati hari H kelahiran bayi kembar mereka Aril sudau mulai jarang sekali datang pagi - pagi ke kantor. Dia dengan setia menemani Bela jalan pagi di rumah terlebih dahulu. Setelah mandi dan sarapan dengan santai baru Aril berangkat ke kantor.


Pagi itu seperti biasa Aril menemani Bela berjalan di taman belakang rumah orang tua Aril. Di taman itu banyak sekali ditanam pepohonan. Seperti mangga, jambi air, jambu biji, jambu monyet dan lain - lagi.


"Maaas tolong ambilkan aku jambu biji itu donk, tiba - tiba aku ingin memakannya" pinta Bela.


"Tapi pohonnya tinggi sayang, nanti kalau suami kamu ini jatuh gimana?" tanya Aril.


"Mas takut ketinggian? Atau gak pinter panjat?" tanya Bela.


"Weis... aku ahli dalam hal panjat memanjat. Buktinya sekali panjat kamu anak kita langsung dua yang tercetak" jawab Aril.


"Selalu saja jawabannya begituan" ujar Bela.


Bela duduk di kursi taman.


"Mau gak Mas? Kalau kamu gak bisa biar aku panggil Mamang aja deh yang ambilkan jambu nya?" tanya Bela.


"Oke.. oke.. aku akan ambilkan" jawab Aril.


Aril berjalan menuju pohon jambu dan mulai memanjat pohonnya.


"Pa.. Papa... ada monyet di taman kita? Tangkap Pa mungkin monyet liar" teriak Mama Aril dari teras belakang rumah.


Papa Aril langsung mengambil senapan angin dan berjalan menuju taman. Dari jauh Papa Aril sengaja menembakkan senjatanya ke udara untuk menakut - nakuti monyet yang mereka lihat dari kejauhan.


Dor....


"Allahu Akbar apa itu?" tanya Aril.


Bela melihat dua mertuanya jalan semakin mendekat. Dia tampak khawatir dengan arah tujuan kedua mertuanya.


"Papa mau kemana? Kenapa Papa bawa senjata?" tanya Bela.


"Mama melihat ada monyet masuk ke taman dan sedang memanjat jambu kita" jawab Papa Aril.


"Ya Allah Pa itu bukan monyet, itu Mas Aril" cegah Bela khawatir.


"Ha.... Aril? Mana Aril?" tanya Papanya.


"Itu Mas Aril sedang manjat pohon jambu karena aku pinta. Aku pengen makan jambu" jawab Bela.


"Oh ya Allah hampir saja aku tembak anakku sendiri. Tapi kok tumben Aril mau manjat, bukannya dia takut manjat ya? Dulu waktu kecil dia pernah jatuh dan kakinya patah. Sejak saat itu dia takut untuk manjat lagi" ungkap Papa Aril.


"Mungkin demi permintaan anak - anaknya kali Pa, Aril mau manjat" sambut Mama Aril.


"Pa.. tolong aku Pa... aku gak bisa turun" teriak Aril dari atas.


Mendengar teriakan Aril sontak Papa, Mama Aril dan Bela melirik ke atas pohon jambu. Gaya Aril yang memegang erat pohon jambu membuat mereka sontak tertawa.


"Hahahaha bisa naik tapi gak bisa turun" ledek Papa Aril.


"Malah diketawain bukannya dibantu. Nanti kalau anaknya yang ganteng ini jatuh gimana? bisa hilang ketampanan ku" protes Aril.


"Maaaang... tolong bawain tangga Mang ke sini" teriak Papa Aril.


Orang yang dipanggil tak lama datang sambil membawa tangga. Akhirnya Aril. bisa turun juga.


"Nih jambu yang kamu minta nak, semoga keusilan kalian hanya saat di dalam perut saja ya. Nanti kalau kalian sudah keluar jadilah anak yang baik budi" ucap Aril sambil menyerahkan dua buah jambu kepada Bela.


"Iya Papa, terimakasih" sambut Bela senang.


Sangkin semangatnya Bela langsung menggigit jambunya dan memakannya.


"Lho sayang kok langsung di makan, gak di cuci dulu?" tanya Aril.


"Eh iya.. aku udah gak sabar Mas. Aduh aku mau pipis" ucap Bela sambil berjalan kencang menuju ke rumah.


Aril, Papa dan Mamanya melihat daster Bela bagian bawah sudag basaha.


"Ariiiil.. istri kamu bukan ngompol. Tapi itu.. itu.. ketuban Bela udah pecah Pa" sambut Mama Aril histeris.


Bela langsung berhenti dan merasa perutnya tiba - tiba sakit.


"Maaas tolooong perutku sakit banget" panggil Bela.


"Ril bantuin istri kamu, dia sudah mau lahiran" teriak Mama Aril.


"Maaang siapkan mobil" perintah Papa Aril.


"Iya Pak" jawab supir.


Aril dengan sigap langsung menggendong Bela dan membawanya ke arah garasi mobil.


"Ril bentar Mama ambil koper Bela dulu" teriak Mama Aril.


Dengan semangat empat lima mereka bergerak tanpa dikomando, seolah - olah semua sudah tau tugas mereka masing - masing.


"Ayo Ma cepetaaan.. Bela udah kesakitan ini" teriak Papa Aril.


"Iya iya aku udah siap" jawab Mama Aril.


Dua koper punya Bela dan para bayi sudah masik ke bagasi mobil. Bela dan Mama Aril duduk di belakang. Sedangkan di depan Aril dan Papa nya.


"Tarik nafas panjang Bel dan terus baca doa ya" pesan Mama Aril.


"Iya Ma" jawab Bela.


"Kamu bisa bawa mobilnya? Kalau kamu panik biar Papa saja" tanya Papa Aril.


"Bisa Pa, aku harus bawa istri dan anak - anakku sampai Rumah Sakit dengan selamat" jawab Aril.


Mobil melaju menuju Rumah Sakit yang sudah mereka tentukan untuk tempat Bela melahirkan. Untung saja lokasinya tak jauh dari rumah orang tua Aril.


Sesampainya di Rumah Sakit Bela langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Setelah dokter memeriksa Bela langsung dibawa ke ruangan bersalin karena pembukaan sudah mendekati sempurna.


"Sayang kamu yang kuat ya, ada aku yang selalu berada di samping kamu" ucap Aril memberi semangat.


"I.. ya.. Maaaaas.. Oh ya Allaaaaah" ucap Bela menahan sakit.


"Pa tolong hubungi Bimo dan mertuaku Pa. Aku dan Bela akan masuk ke ruangan bersalin" pesan Aril.


"Iya Ril. Bel kamu yang kuat ya Nak. Papa dan Mama menunggu di luar" jawab Papa Aril.


"Baca doa terus ya sayang" sambut Mama Aril.


"Iya Ma do'ain aku" jawab Bela.


Bela dan Aril masuk ke ruangan bersalin


"Doook perutku sakit sekali aku sudah tidak kuat" teriak Bela.


"Sudah bukaan sempurna Dok" ucap Perawat.


"Baik Bu, tarik nafas panjang kemudian ngeden ya" perintah Dokter.


Bela mengikuti apa yang di intruksi kan dokter. Tak lama kemudian.


"Oeeeek.... oeeeek.... " terdengar suara tangisan anak bayi.


Dokter langsung menyambutnya dan mengangkat bayi itu.


"Alhamdulillah anak Bapak dan Ibu perempuan.


" Alhamdulillah ya Allah" ucap Aril haru.


"Dooook aku mules lagi" teriak Bela.


"Baik Bu ikutin intruksi saya seperti tadi ya... " sambut Dokter.


Bela mulai menarik nafas panjang dan kembali mengeden.


"Oeeeeek... oeeeek... " terdengar kembali suara tangisan bayi lagi.


"Waaaaah selamat Pak Bu... anak kedua kalian laki - laki" sambut Dokter.


"Oh Ya Allah... Alhamdulillah.... " ucap Bela.


.


.


BERSAMBUNG