
Sudah seminggu berlalu.
Reni
Bel nanti pulang kerja aku jemput ya...
Bela
Baik kakak ipar
Reni
Lho kamu kok tau?
Bela
Mas Bimo donk biang keroknya. Jangan lupa ceritain ya sukses lamarannya tadi?
Reni
Hahaha.. iya nanti aku cerita. Kabari Ela juga ya biar kita pulang bareng.
Bela
Oke kakak ipar 🤗
Bela segera merapikan meja kerjanya. Hari ini adalah hari bahagia Kakaknya Bimo. Dia sudah berhasil melamar gadis pujaan hatinya yang tak lain adalah sahabat Bela.
Bela, Reni dan Ela akan merayakannya sepulang kantor sebentar lagi. Bela hendak pamit pada Aril karena pulang tepat waktu. Biasanya Bela selalu pulang setelah Aril pulang.
Setelah selesai berbenag Bela berjalan menuju ruang kerja Aril.
Tok.. tok..
"Masuk" jawab Aril dari dalam ruangan.
Bela masuk ke dalam ruangan dan langsung berdiri di hadapan Aril.
"Mas.. aku pamit pulang cepat ya, mau pergi bareng Reni dan Ela" pinta Bela.
Ya sejak sebulan yang lalu Bela sudah menanggil Aril dengan sebutan Mas kalau mereka hanya berdua saja di kantor atau saat sedang pergi meeting di luar.
"Okey.. kalian mau pergi kemana?" tangan Aril ingin tau.
"Rahasia donk, ini kan urusan para cewek" jawab Bela.
"Yah siapa tau aku bisa jalan bareng kalian. Udah lama juga gak jalan bareng cewek - cewek. Kan asik jalan dikelilingi tiga cewek cantik" goda Aril.
"Ya jalan aja sama cewek - cewek Mas yang lain" sambut Bela dengan nada tak suka.
Dasar, katanya sudah tobat masih suka jalan bareng cewek - cewek. Batin Bela.
Aril tersenyum menatap wajah kesal Bela.
Apakah kamu cemburu Bel? tanya Aril dalam hati.
Bela melirik jam tangannya.
"Mas udah waktunya pulang nih sebentar lagi Reni datang jemput aku" ujar Bela.
"Ya sudah pulang sana. Pelit amat, aku mau minta ikut aja gak boleh" jawab Aril pura - pura ngambek.
"Aneh.. udah tua tapi ambekan" ledek Bela.
"Hahaha... " tawa Aril pecah.
Sudah sebulan hubungannya dengan Bela tak lagi seformil dulu. Sejak Bela mau memanggilnya dengan sebutan Mas kalau mereka sedang berdua. Sejak saat itu dia dan Bela sudah sering saling ledek dan ngobrol seperti teman dekat. Seperti sekarang ini.
Tak lama Aril mendengar suara ribut - ribut diluar ruangannya.
Pasti si Setan Kecil udah datang nih membuat onar dikantorku. Batin Aril.
"Lihat ini... aku sudah dilamar" Reni menunjukkan jari manisnya kepada Bela.
"Aaaaw... senangnya" Bela langsung memeluk Reni dengan sangat bahagia.
Aril keluar dari ruangannya karena mendengar suara keributan dari luar ruangannya.
"Aku kira ada apa ribut - ribut. Rupanya si setan kecil yang datang. Ngapain kamu ke sini?" tanya Aril.
"Mau jemput Bela pulang" jawab Reni.
"Tumben kamu yang jemput, Bimo mana?" tanya Aril pura - pura.
"Mas Bimo lahgi ketemuan sama Mas Refan" jawab Reni.
"Ngapain mereka ketemuan berdua aja, gak ajak - ajak aku" tanya Aril makin bingung.
"Mau tau aja" balas Reni.
Aril melihat Reni memegang bungkusan yang bergambarkan ponsel terbaru.
"Hei setan kecil kamu sudah beli handphone terbaru? Kalau begitu ngapain minta lagi padaku?" tanya Aril ingin protes.
"Habis Mas Aril cuma janji - janji mulu tapi gak pernah ditepati. Jangan percaya Bel sama Mas Aril. Dia cuma obral janji" jawab Reni sambil melirik ke arah Bela.
"Enak aja aku cuma belum sempat untuk membelikannya. Trus siapa yang beliin kamu handphone itu?" tanya Aril penasaran.
"Mas Bimo. Mas Bimo suruh aku minta mentahnya saja sama Mas, Mas Romi dan Mas Riko" jawab Reni.
"Bimo belikan kamu ponsel?" tanya Aril bingung.
"Iya Mas, bukan hanya handphone tapi ini juga" jawab Bela.
Bela mengangkat jari manis Reni yang berisikan cincin lamaran dari Bimo dan menunjukkannya kepada Aril.
"Kamu dikasih cincin juga sama Bimo?" tanya Aril semakin bingung.
"Ren, yuk kita pulang yuk... Bisa lama nih urusannya. Kita kan mau jemput Ela lagi dan mau nagih traktiran kamu" Bela langsung mematikan komputernya dan mengambil tas kerja..
"Hei tunggu dulu jangan pergi. Woii setan kecil kamu kok dibeliin cincin sama Bimo, kamu di lamar?" teriak Aril.
Bela dan Reni sudah masuk ke dalam lift.
Sial.. aku ketinggalan dari Bimo. Dia lebih dulu menikah untuk yang kedua kalinya. Aku sekali aja belum pernah. Enak bener tuh duda. Umpat Aril dalam hati. Aril segera meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk teman - temannya.
Sementara di mobil Reni.
"Kamu udah hubungi Ela kalau kita akan jemput dia ke kantor?" tanya Reni.
"Udah, kata Ela dia lagi siap - siap. Mau pamitan sama Bosnya" jawab Bela.
"Bosnya siapa? Mas Romi?" tanya Reni.
"Iya kali, gak tau juga pastinya" jawab Bela.
"Kalau Mas Romi gampang itu, biar aku yang urusin" jawab Reni.
Reni membawa satu bungkusan yang berisikan kotak jam tangan mewah. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor Ela.
"Mau kemana Mbak?" tanya Satpam.
"Mau ketemu Pak Romi, bilang saja saya Reni si Setan Kecil" jawab Reni penuh percaya diri.
"Tunggu sebentar" jawab Satpam tersebut.
Satpam langsung menggunakan interkom untuk menghubungi seseorang, tak lama kemudian dia menutup teleponnya.
"Silahkan Mbak masuk, di tunggu Pak Romi di ruangannya" ucap Satpam itu.
Reni dan Bela masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai paling atas menuju ruang kerja Romi. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di ruangan Romi.
"Mbak Reni ya.. sudah di tunggu Pak Romi di ruangannya" ucap sekretaris Romi yang tak lain adalah Silva.
"Terimakasih" jawab Reni angkuh pada sekretaris Romi.
Bela menyenggol lengan Reni.
"Kamu kenapa bersikap seperti itu pada orang lain. Gak sopan tauk, aku yang seorang sekretaris merasa tersinggung diperlukan seperti itu pada tamu Bosnya" protes Bela.
"Biarin aja Bel, siluman itu harus diperlakukan seperti itu. Dulu aku pernah main ke sini. Eh habis di damprat sama dia karena aku berpenampilan biasa saja. Tidak semenot make up dan gayanya yang udah kayak wanita malam. Dia nebak aku mau melamar jadi OB, salah alamat kalau mencari CEO. Aku disuruh ke bagian HRD. Untung aja waktu itu Mas Romi datang dan melihatku diperlakukan seperti itu sama wanita genit itu. Mas Romi langsung memarahinya" jawab Reni kesal mengingat kejadian dulu.
"Ooh pantesan sikap kamu gak suka banget lihat wanita itu" sambut Bela.
Reni mengetuk pintu ruang kerja Romi.
"Masuk... " perintah dari dalam.
Reni dan Bela masuk ke ruangan Romi.
"Eh Ren, Bel.. kalian main ke kantor Mas, ada apa nih?" tanya Romi.
"Kami mau pinjam Ela Mas. Jangan dihukum terlalu keras Mas. Kasihan lho sahabat kami itu udah botak ngitungin harta Mas terus. Gak boleh rugi dikit aja trus diancam pecat. Kalau Ela botak kan kasihan suaminya nanti gak bisa belai rambut Ela" ucap Reni usil.
Reni mendengar cerita dari Aril kalau sebenarnya Romi udah lama mencari - cari Ela karena kesalah pahaman beberapa tahun yang lalu. Dari sikap Romi, Reni tau kalau Romi naksir sama Ela. Kalau tidak ngapain coba Romi sampai bela - belain cariin Ela sampai ke Surabaya beberapa tahun yang lalu.
Tapi Reni tidak mau memberi tahu Ela kalau Romi itu naksir dirinya. Begitu juga dengan Bela. Reni juga tidak kasih tau Bela kalau Aril menyukainya. Malah Reni dengan usilnya mengatakan kepada mereka kalau Aril dan Romi itu seorang playboy. Biar dua mantan playboy itu berjuang untuk mendapatkan gadis impiannya.
Tidak seperti ini gadis - gadis yang selama ini mereka kencani. Dengan mudahnya mereka bisa gonta - ganti pacar seperti ganti pakaian saja. Menurut Reni kalau mereka sulit untuk mendapatkan Bela dan Ela pasti Aril dan Romi akan semakin penasaran dan benar - benar jatuh hati pada mereka.
Dengan begitu baik Aril atau pun Romi tidak akan sembarangan mempermainkan dua sahabat baru Reni ini. Reni juga sebenarnya sangat bahagia kalau Aril dan Romi bisa mendapatkan dua gadis baik hati dan cantik itu karena Reni sudah menganggap para sahabat Refan seperti kakaknya sendiri.
Walau mereka suka bertengkar dan saling usil tapi sebenarnya mereka saling menyayangi. Reni sering diperlakukan istimewa oleh para sahabat Refan. Terlabih Romi, Riko dan Aril yang sampai sekarang masih berstatus single.
Reni bebas meminta apa saja pada mereka dan pasti akan mereka penuhi. Sebenarnya mereka adalah orang - orang yang baik tapi sayangnya dulu suka jajan sembarangan.
"Ela botak beneran?" tanya Romi terkejut.
"Iya, setiap sisiran pasti rambutnya banyak banget yang rontok. Ya kan Bel?" Reni mengedipkan sebelah matanya kepada Bela.
"I.. Iya Mas" jawab Bela sigap.
Duh kalau Ela botak betul juga kata Reni. Nanti mana bisa aku belai rambutnya. Wong kepala Ela botak. Iiih serem juga ya punya istri botak kayak tuyul. Batin Romi.
"Ya sudah kalau begitu sana kalian pergi bawa Ela jalan - jalan biar dia gak stres dan botak" perintah Romi.
"Mentahnya mana?" Reni mengangkat tangannya.
"Mentah apanya?" tanya Romi bingung.
"Mas Romi kan janji mau beliin aku jam tangan yang seharga handphone terbaru. Nih aku udah dibeliin Mas Bimk jam tangan baru. Jadi aku mau minta mentahnya saja untuk modal terakhir teman - temanku ini" jawab Reni.
"Dasar setan kecil" Umpat Romi.
Romi membuka lacinya dan menyerahkan kepada Reni seikat uang merah. Mata Bela langsung membesar dan bulat melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Wah gampang banget Reni dapat duit dari Mas Romi. Batin Bela.
"Makasih Mas, semoga makin banyak rezekinya serta diperlancar langkahnya untuk menggaet sang pujaan hati sampai akhirnya duduk berdua diatas pelaminan" ucap Reni mendoakan Romi dengan tulus.
"Aamiin... " sambut Romi segera.
Doa Reni memang selalu makbul. Biar deh rugi dikit asal di do'ain Reni jadian sama Ela. Batin Romi.
"Kalau begitu kami pamit ya Mas, mau singgah ke lantai delapan jemput Ela. Sekali lagi makasih Mas Romi" ucap Reni dan mengajak Bela keluar dari ruangan Romi.
Tiba - tiba Romi teringat pesan yang tadi dikirim Aril.
"Eh Hei... setan keciil... katanya kamu di lamar Bemo.. eh Bimo ya.... " teriak Romi dengan kencang.
.
.
BERSAMBUNG