
Ela dan Romi sudah bersiap - siap untuk berangkat ke kantor. Selama awal kehamilan Ela, Mama Romi sangat ketat menjaga pola hidup dan makan sehat untuk Ela.
Mama Romi juga menjadi satpam dalam urusan ranjang Romi dan Ela. Setiap malamnya tak kenal lelah Mama Romi mengingatkan Romi untuk tidak menganggu Ela di ranjang. Apalagi kalau sampai mengajaknya melakukan anu - anuan.
Ancaman pisah kamar tetap berlaku dan semua itu di dukung oleh Papa Romi. Membuat Romi tidak bisa melakukan apapun kepada Ela dan dengan pasrah nya berpuasa lagi.
Pagi ini hari pertama Ela ke kantor setelah Ela dinyatakan hamil oleh dokter. Seperti pesan Mama Romi, Romi harus antar jemput istrinya ke kantor.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil Romi menuju kantor Ela.
"Yank" panggil Romi yang sedang menyetir mobil dengan serius.
"Ya Mas" sahut Ela.
"Mmm sebaiknya kamu rahasiakan dulu kehamilan kamu dari Dini ya.. Soalnya Dini kan sedang program hamil. Nanti takutnya kalau dia tau kamu duluan hamil dari dia, dia kecewa dan sedih. Riko takut Dini stres dan berpengaruh pada program kehamilan mereka" pinta Romi.
"Aku juga sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari ini Mas. Aku takut Dini bersedih dan berkecil hati saat tau aku lebih dulu hamil dari dia" sambut Ela .
"Kemarin waktu pengajian terakhir dengan teman - teman. Mas sempat berbicara dengan Riko. Dia mengkhawatirkan perasaan Dini. Sebenarnya Riko tidak memaksa Dini untuk melakukan program kehamilan. Dini sendiri yang meminta Riko untuk memeriksakan kandungannya ke dokter sekaligus program hamil. Riko tidak mau Dini merasa terbebani dengan keinginannya untuk segera hamil" ungkap Romi.
"Mas semua wanita yang mengalami hal yang sama dengan Dini juga aku rasa akan melakukan hal yang sama sepet yang Dini lakukan. Kalau aku jadi Dini aku juga akan melakukan hal yang sama. Hamil bagi seorang wanita yang sudah menikah merupakan sebuah impian Mas. Apalagi Mas dan Mas Riko sama - sama anak tunggal. Dini merasa ada beban dan keharusan untuk dia hamil secepatnya. Memang mungkin Mas Riko tidak mempermasalahkannya tapi bagaimana dengan orang tuanya. Mas lihat sendiri kan bagaimana bahagianya Mama dan Papa saat mendengar aku hamil. Mungkin hal itu juga yang dinantikan oleh Mama dan Papa nya Mas Riko" ucap Ela.
Romi terdiam begitu mendengar penjelasan Ela.
"Makanya sayang sebisa mungkin kamu rahasiakan dulu ya kehamilan kamu. Setelah program kehamilan Dini dan Riko membuahkan hasil baru kamu sampaikan berita bahagia kita" sambung Romi.
"Iya Mas, aku akan merahasiakannya dari Dini" jawab Ela.
"Kamu sudah bawa semua obat dan vitamin yang harus kamu makan?" tanya Romi.
"Sudah Mas, sudah aku simpan di tas" jawab Ela.
"Jangan lupa diminum ya obatnya. Makannya juga jangan telat" pesan Romi.
"Iya Mas" sambut Ela.
Mobil Romi sudah memasuki area kantor Ela. Ela mencium tangan suaminya untuk berpamitan, kemudian Romi dengan mesranya mencium kening Ela.
"Love you sayang" ucap Romi lembut.
"Love you too Mas" jawab Ela sambil tersenyum manis.
Ela turun dari mobil Romi. Bersamaan dengan itu Dini juga keluar dari mobilnya dan bertemu Ela.
"Din aku pamit ya, titip istriku" ucap Romi kepada Dini sebelum mobilnya berlalu.
"Oke Mas" jawab Dini sambil tersenyum.
Dini dan Ela berjalan bersama memasuki kantor mereka.
"Tumben diantar, biasanya nyetir sendiri?" tanya Dini.
"Mas Romi ketepatan ada kerjaan dekat sini, jadi sekalian aja. Nanti juga akan dijemput sama dia pulangnya" jawab Ela.
"Ooo.. " sahut Dini.
Mereka masuk ke ruangan kerja mereka masing - masing. Sampai siang harinya.
"El makan yuk" ajak Dini yang baru masuk ke ruangan Ela.
"Boleh... mmm makan pecal yuk. Aku kok tiba - tiba pengen makan pecal ya" pinta Ela.
"Kamu kayak orang ngidam aja tiba - tiba pengen makan ini dan itu" celetuk Dini.
Seketika Ela terkejut mendengar ucapan Dini.
"Lagi pengen aja Din" jawab Ela.
Mereka akhirnya pergi keluar kantor mencari pecal yang Ela inginkan. Akhirnya mereka menemukan menu makanan itu di restoran yang tak jauh dari kantor mereka.
Dini dan Ela memesan pesanan mereka kemudian menyantapnya. Setelah selesai makan Ela pamit ke kamar mandi.
Dini berusaha mengutip barang - barang yang keluar dari tas Ela. Dia melihat banyak obat di tas Ela dan Dini mengetahui itu obat apa karena ada beberapa obat yang sama seperti yang dia minum.
Ela hamil, mengapa dia tidak mengatakannya padaku dan malah merahasiakannya? tanya Dini dalam hati.
Tak lama kemudian Ela datang.
"Kamu hamil?" tanya Dini.
Ela bingung harus menjawab apa, tapi tak mungkin dia berbohong kepada Dini. Ela menganggukkan kepalanya.
"Iya Din" jawab Ela.
"Sudah berapa minggu?" tanya Dini.
"Sudah lima minggu, aku baru tau beberapa hari lalu saat aku telat datang bulan dan aku membeli tes pack dan hasilnya positif. Malamnya aku dan Mas Romi langsung ke dokter dan hasilnya aku memang hamil" jawab Ela jujur.
"Selamat ya El atas kehamilan kamu" ucap Dini tulus.
Tapi Ela bisa mengetahui kesedihan yang Dini rasakan.
"Terimakasih ya Din, semoga kamu juga secepatnya menyusul" sambut Ela.
"Aamiin" jawab Dini.
"Kita pulang yuk" ajak Ela.
"Ayuk... " balas Dini.
Mereka kembali ke mobil Dini.
"Pantasan Mas Romi antar jemput kamu, dia pasti sangat menjaga sekali kehamilan kamu ya El" ucap Dini.
"Gak juga Din, emang Mas Romi lagi ada kerjaan aja di dekat kantor kita" Ela terpaksa berbohong agar Dini tidak semakin merasa bersedih.
"Pastinya Mas Romi senang banget kan. Orang tua Mas Romi juga pasti sangat senang" sambung Dini.
Ela menatap lembut ke wajah Dini.
"Din.. kamu jangan bersedih ya.. Aku yakin kamu juga sebentar lagi akan merasakan apa yang aku alami saat ini. Jangan kecewa ya Din. Mungkin saat ini memang Reni, Bela dan aku yang lebih dahulu hamil dari kamu tapi setelah itu pasti akan ada kabar gembira untuk kamu dan Mas Riko setelah ini" hibur Ela
"Aamiin aku harap kabar itu segera menyamperi kami ya El. Aku sudah tidak sabar merasakan hal yang sama seperti kalian semua" sambut Dini penuh harapan.
"Aamiin" jawab Ela.
Malam harinya di kamar Dini dan Riko. Setelah selesai makan malam mereka langsung istirahat di kamar. Riko merasa hari ini Dini lebih pendiam dan tidak banyak bicara.
Riko merasa penasaran apa yang sedang terjadi dengan Dini hari ini. Riko mendekati istrinya yang sedang merapikan lemari pakaian mereka. Kemudian Riko memeluk Dini dari belakang.
"Kamu kenapa hari ini sayang?" tanya Riko lemah lembut.
"Aku? Gak kenapa - kenapa" jawab Dini berusaha ceria.
"Aku merasa hari ini kamu berbeda. Apa ada yang sedang kamu pikirkan? Cerita donk padaku?" tanya Riko.
"Tidak ada Mas" bantah Dini.
Riko menarik lembut tangan Dini dan membawa istrinya duduk di pinggir tempat tidur.
"Sekarang cerita ya padaku, apa yang membuat istriku hari ini jadi murung?" bujuk Riko sambil menggenggam tangan Dini.
Dini menatap Riko dengan mata yang berkaca - kaca.
"Mas Ela sudah hamil. Sekarang semua teman - temanku sudah hamil. Hanya aku saja yang belum hamil" ucap Dini sedih. Akhirnya air matanya jatuh juga ke pipi.
.
.
BERSAMBUNG