Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Lima



Seminggu kemudian Romi dan Ela berangkat ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarga Ela. Seperti sebelumnya saat mereka ke Surabaya, Pak Budianto orang tuanya Ela sudah menunggu mereka di Bandara.


Ela langsung berlari menghampiri Pak Budianto dan memeluknya erat.


"Paaaak... aku kangen" ucap Ela.


"Bapak juga kangen" balas Pak Budianto.


Setelah itu gantian Romi menjabat erat tangan Pak Budianto dan memeluknya.


"Apa kabar Pak?" tanya Romi ramah.


"Alhamdulillah sehat, Pak Romi gimana kabarnya?" tanya Pak Budianto kembali.


"Alhamdulillah sehat juga" jawab Romi.


"Ayo mari Pak kita langsung ke mobil" ajak Pak Budianto sambil berusaha ingin meraih koper Romi.


"Sudah Pak, biar saya bawa sendiri aja" elak Romi.


Romi tersenyum melirik Ela. Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Kemudian naik ke dalam mobil yang dibawa Pak Budianto, yaitu mobil Hotel tempat dia bekerja.


"Kita langsung ke Hotel?" tanya Pak Budi ramah.


"Tidak usah Pak, kita ke rumah Bapak saja dulu" jawab Romi.


Romi duduk tepat disamping calon mertuanya itu, sedangkan Ela duduk di kursi belakang.


"Baiklah kalau begitu" sambut Pak Budi.


Mobil mulai dinyalakan dan melaju meninggalkan Bandara. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah orang tua Ela.


Romi dan Ela melihat disamping rumah orang tua Ela sudah mulai berjalan proses pembangunan ruko yang nantinya akan dibuat untuk tempat usaha Bapak dan Ibunya Ela sambil menjalani hari tua mereka di kampung.


"Sudah lima puluh persen ya Pak pembangunannya?" tanya Romi.


"Lho Pak Romi tau juga tentang pembangunan ruko ini?" tanya Pak Budi terkejut dan penasaran.


Romi tersenyum ramah.


"Tau Pak, Shela sudah cerita semuanya kepada saya tentang impiannya membangun sebuah ruko dikampung dan membuka usaha untuk Bapak dan Ibu, agar Bapak tidak perlu lagi bekerja di Hotel lagi sebagai supir. Saya sangat mendukung niat baik Shela itu" jawab Romi.


Pak Budi melirik ke arah putrinya, ada sesuatu yang mencurigakan dan membuat Pak Budi penasaran kepada Ela. Tidak seperti biasanya anaknya ini bisa mengatakan isi hatinya kepada orang lain. Apalagi Romi adalah mantan atasannya dulu.


Eh iya.. Ela kan sudah tidak bekerja di Perusahaan Pak Romi lagi, ngapain mereka datang ke Surabaya ini bersama - sama. Apa mereka ada hubungan pekerjaan? Tapi mengapa kerjanya jauh di Surabaya ini? Ah sudahlah, aku tidak mengerti urusan pekerjaan mereka. Batin Pak Budi.


"Yuk kita masuk. Ibu sudah gak sabar menunggu kamu sejak pagi tadi" ajak Pak Budi.


Ela dan Romi mengangkat koper mereka dan berjalan dibelakang Pak Budi, mengikutinya sampai ke rumah orang tua Ela.


"Assalamu'alaikum... " panggil Pak Budi.


Tak lama pintu dibuka dan muncullah Ibunya Ela.


"Wa'alaikumsalam. Eh Elaaa kamu sudah sampai nduuuk" Bu Budi terkejut melihat kemunculan putri bungsunya di rumahnya. Tapi dia segera menyambut kedatangan Ela dan Romi.


"Eh Pak Romi ikut rupanya, silahkan masuk Pak" ucap Ibu Ela.


Romi mencium tangan Bu Budi dengan hormat membuat Bu Budi jadi canggung dengan sikap Romi. Mereka masuk ke dalam rumah.


Romi tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa datang lagi ke rumah ini. Entah mengapa hatinya selalu nyaman dan betah tinggal di sini, walaupun rumah ini sangat sederhana tapi Romi suka.


"Kamu kok gak cerita El datang sama Pak Romi? Bapak juga gak ada cerita? Tadi katanya mau jemput Ela aja ke Bandara?" tanya Bu Budi.


"Tunggu sebentar ya, Ibu buatin minum dulu" ucap Bu Budi.


"Gak usah repot - repot Bu" sambut Romi.


"Tidak apa Pak Romi, cuma teh aja kok" balas Bu Budi.


Bu Budi langsung beranjak menuju dapur.


"Mas aku kebelakang ya bantuin Ibu" ucap Ela kepada Romi.


Romi membalasnya dengan senyuman. Sikap mereka berdua tak lepas dari pandangan Pak Budi. Pak Budi sangat terkejut dan semakin penasaran dengan hubungan anaknya dan Romi.


Mengapa sekarang Ela memanggil Mas? Bukannya dulu panggil Bapak? Aku semakin curiga dengan mereka? tanya Pak Budi dalam hati.


"Ehm.. berapa hari Pak Romi di Surabaya?" tanya Pak Budi.


"Belum tau Pak, tergantung urusan di sini sudah selesai atau belum" jawab Romi.


"Proyek baru Pak Romi?" tanya Pak Budi.


"Iya Pak, proyek masa depan" jawab Romi tersenyum.


Pak Budi langsung tersentak ketika mengerti maksud pembicaraan Romi.


"Sudah ketemu wanita yang selama ini Pak Romi cari?" tanya Pak Budi.


Romi kembali tersenyum menatap wajah calon mertuanya.


"Alhamdulillah sudah Pak, gadis itu sudah saya temukan. Dia juga sudah saya bawa menemui orang tua saya dan alhamdulillah kedua orang tua saya menyetujui hubungan kami. Sekarang tinggal meminta restu orang tua gadis itu" jawab Romi.


Pak Budi bernafas lega turut senang akhirnya penantian Romi berakhir indah. Walau istrinya kemarin sempat berangan - angan punya menantu seperti Romi. Tapi Pak Budi sadar diri, angan - angan istrinya terlalu tinggi. Tak mungkin Pak Romi akan melirik putrinya yang hanya berasal dari keluarga sederhana.


"Syukurlah, saya turut senang. Akhirnya Pak Romi menemukan apa yang selama ini Pak Romi perjuangkan. Saya doakan semoga berhasil mendapatkan restu dari kedua orang tua gadis itu dan semoga hubungan Pak Romi diberi kelancaran sampai pernikahan" doa Pak Budi.


"Aamin.. makasih Doanya Pak" sambut Romi.


Romi menarik nafas panjang.


"Pak bisa gak mulai saat ini Bapak tidak usah panggil Bapak lagi pada saya? Umur saya sangat jauh di bawah Bapak dan saya juga bukan lagi atasan Ela. Ela kan sudah pindah kerja ke Perusahaan lain dan sudah menjadi pimpinan di Perusahaan itu. Bapak tidak perlu merendah lagi karena posisi anak Bapak sama seperti saya. Kami sama - sama sudah menjadi pemimpin sebuah perusahaan" pinta Romi.


"Ah Pak Romi saya gak bisa. Apalagi Pak Romi kan tamu saya di Hotel" tolak Pak Budi.


"Tapi sebentar lagi kan Pak Budi juga tidak bekerja lagi di Hotel. Begitu pembangunan ruko ini selesai kata Shela langsung akan diisi dan dibukakan usaha. Saya sangat mendukung niat Shela membahagiakan orang tuanya. Karena saya juga sudah mengenal keluarga Pak Budi dengan baik dan sudah menganggap kalian sebagai orang tua saya juga" ucap Romi.


"Tapi Pak... " Pak Budi masih berat menerimanya.


"Sudah Pak, tidak apa - apa. Panggil saja nama saya Romi atau Nak Romi juga boleh. Anggap saja saya ini anaknya Pak Budi juga" sambung Romi.


Pak Budi menatap wajah Romi dan berpikir sejenak. Kemudian Pak Budi menarik nafas panjang.


"Baiklah Nak Romi" ucap Pak Budi memanggil Romi.


Romi tersenyum senang mendengar Pak Budi sudah mau merubah panggilannya kepada Romi.


.


.


BERSAMBUNG