Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Delapan



Keesokan paginya Bela dan Reni sedang sibuk di kamar Bela. Reni membantu Bela untuk berdandan. Hari ini dia akan magang menjadi sekretaris Aril saat bertemu client pagi ini.


"Gimana penampilanku Ren?" tanya Bela.


"Keren Bel, kamu cantik" jawab Reni.


"Udah cocok jadi seorang sekretaris? Tentunya bukan sekretaris sexy ya. Aku gak mau ah seperti itu. Mending aku cari kerja lain dari pada harus dituntut seperti itu" ujar Bela.


"Selama ini sih setahu aku sekretarisnya Mas Aril sexy - sexy. Yaaah.. you know lah kriteria Mas Aril sebagai seorang playboy. Dia paling pinter nilai cewek yang menarik. Tapi aku yakin kalau soal kamu pasti dia tidak akan keberatan kamu berpenampilan seperti ini. Sejak awal kan dia udah tau kalau kamu memakai jilbab. Gak mungkin dia suruh kamu lepas jilbab. Bisa di gebukin sama Mas Bimo, Mbak Kinan dan Mas Refan dia" sambut Reni tersenyum.


Bela menarik nafas panjang.


"Tapi aku nervous Ren" ucap Bela tak percaya diri.


"Tenang Bel dan tetap percaya diri. Kalau kamu percaya diri kamu akan bisa cepat mengusai situasi. Gak sibuk mikirin penampilan akhirnya jadi jatuh dan malu" ujar Reni memberi semangat.


Bela berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya.


"Sekarang kamu tarik nafas panjang dan baca bismillah. InsyaAllah semuanya lancar" Reni tetap memberikan semangat kepada sahabatnya.


Bela mengikuti intruksi dari Reni.


"Yuk keluar, Ibu dari tadi udah manggil kita untuk sarapan" ajak Reni.


"Kuy lah.. " Bela meraih tasnya dan berjalan keluar mengikuti Reni.


Mereka sampai di meja makan. Aril terpesona dengan penampilan Bela. Sedangkan Reni senyum puas melihat hasil karyanya pagi ini. Sepertinya janji Aril kemarin akan segera dikabulkannya.


"Gimana Pak, Bu penampilanku bagus tidak?" tanya Bela khawatir.


Bu Akarsana tersenyum manis membalas kekhawatiran putrinya.


"Berpenampilan cantik tapi tidak membuat harga diri wanita rendah ya nduk... ingat kamu adalah wanita yang menutup aurat kamu jadi jangan berpakaian yang membentuk lekuk tubuh kamu. Jangan sampai para pria menatap tak berkedip kepada kamu karena akan mengundang dosa" nasehat Bu Akarsana.


"Tuh dengar Mas jangan lupa berkedip, kasihan Bela berdosa karena membuat kamu seperti itu" bisik Reni ke dekat Aril.


Sialan setan kecil ini. Kata - katanya kena banget ke aku. Umpat Aril dalam hati.


"Lebih baik kamu tunjukkan kalau kamu wanita bersahaja pasti para lelaki akan menghormati kamu. Laksanakan tugas kamu dengan baik, dengarkan arahan dari Nak Aril dan bekerjalah dengan baik" pesan Pak Akarsana.


"Baik Pak" jawab Bela.


"Sekarang kamu duduk dan mari kita sarapan dulu" ajak Bu Akarsana.


Mereka sarapan berenam, Bimo menatap adik bungsunya penuh kasih sayang. Ternyata adik kecilnya dulu sudah besar dan sudah jadi gadis yang cantik. Pantas saja pria disampingnya ini menyukai adiknya.


Bimo tersenyum ketika melirik ke arah Ar yang dari tadi bulak balik menelan salivanya.


"Ehm awas tersedak Ril" sindir Bimo.


"Ah iya... " Aril langsung melanjutkan aktivitasnya. Dengan cepat dia menghabiskan sarapan paginya.


Setelah selesai sarapan pagi...


"Kamu sudah siap Bel?" tanya Aril.


"Sudah Mas, kita berangkat sekarang?" Bela balik bertanya.


"Iya, permisi Pak, Bu, Bim.. kami berangkat dulu. Yuk Ren, kami baik - baik di sini ya. Kan ada Bimo yang temani" Aril mengedipkan sebelah matanya dengan nakal ke arah Reni.


"Dasaaar" umpat Reni pelan.


Bela langsung berdiri dan berjalan menyusul Aril menuju mobil. Aril menyalakan mobil dan mereka bergerak menuju tempat pertemuan Aril dengan clientnya.


Sesekali Aril melirik ke arah Bela. Bela terlihat sangat tegang sekali.


"Santai aja Bel. Client aku juga orang yang baik kok. Bukan om - om genit apalagi playboy cap kadal seperti aku dulu. Sekarang aku sudah lebih pilah pilih client. Berbisnis dengan syariat agama, tidak main tebas saja gak peduli halal atau haram" ucap Aril.


"Eh iya Mas, maaf namanya baru pertama ini Mas kerjanya" sambut Bela.


Bela tampak meremas kedua tangannya untuk mengatasi nervousnya.


"Anggap aja temani aku ketemu teman lama. Biar kamu gak terbebani. Nanti aku juga cuma ngobrol - ngobrol doank" ujar Aril.


"Baik.. Eh nanti aku harus panggil Mas apa? Mas atau Bapak?" tanya Bela.


"Terserah kamu aja" jawab Aril.


"Aku panggil Pak aja ya Mas. Gak enak kalau panggil Mas di depan client Mas. Mana ada sekretaris panggil Mas sama Bosnya" ujar Bela.


"Senyamannya kamu saja" ucap Aril berusaha untuk meredakan ketegangan Bela.


"Ba.. baik Mas eh Pak" balas Bela.


Aril tersenyum melirik ke arah Bela. Tak lama kemudian mereka sampai ke tempat tujuan.


Bela menarik nafas panjang.


"Bismillahirrahmanirrahim.... " ucap Bela pelan.


Aril tersenyum melihat reaksi Bela.


Kamu memang wanita solehah Bel. Puji Aril dalam hati.


Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah perusahaan. Bela mengikuti Aril dari belakang.


"Selamat siang Pak Wawan" ucap Aril sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat siang Aril" sambut pria yang ada di hadapan mereka.


Ternyata client Aril adalah seorang pengusaha yang sudah berumur. Mungkin beberapa tahun dibawah usia Bapaknya Bela.


Bela maju dan juga berjabat tangan dengan pria tersebut.


"Kenalkan Pak ini Bela sekretaris saya" ucap Aril memperkenalkan Bela kepada Pak Wawan.


Pak Wawan tersenyum menatap Bela.


"Silahkan duduk" perintah Pak Wawan.


Aril dan Bela duduk di sofa ruang kerja Pak Wawan.


"Sudah lama sampai di Surabaya?" tanya Pak Wawan.


"Sudah beberapa hari. Sabtu lalu Bela wisuda jadi saya datang bersama sahabat saya lebih cepat. Bela ini adalah adik dari sahabat saya, karena sekretaris saya di Jakarta akan resign karena mau melahirkan jadi Bela saya pinta bekerja di perusahaan saya menggantikan sekretaris yang lama" ungkap Aril, berjaga - jaga agar tidak ada salah paham kalau seandainya Bela salah sebut memanggilnya Mas di hadapan Pak Wawan.


"Oh begitu ceritanya. Jadi kamu tinggal dimana di kota ini?" tanya Pak Wawan ramah.


"Di rumah Bela Pak, orang tua Bela melarang saya menginap di tempat lain" jawab Aril.


"Hahaha iya.. benar itu. Kalau sahabat anak saya datang saya juga akan melakukan hal yang sama" balas Pak Wawan.


Bela hanya ikut tersenyum menanggapi perbincangan antara Pak Wawan dengan Aril.


"Jadi bagaimana dengan kerjasama yang saya tawarkan kemarin kepada Nak Aril?" tanya Pak Wawan.


Bela langsung mempersiapkan agenda dan pulpen untuk mencatat beberapa point - point yang penting dalam obrolan antara Pak Wawan dan Aril.


Aril dan Pak Wawan berbincang - bincang tentang rencana kerjasama perusahaan mereka. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius tapi tetap santai bahkan sesekali bercanda dan tertawa.


Pak Wawan memperhatikan Aril beberapa kali sempat memberikan perhatian kepada Bela yang tampak masih tegang dan tidak nyaman.


Saat Bela permisi kepada mereka untuk pamit ke toilet. Pak Wawan mendekati Aril dan berkata pelan kepada Aril.


"Kamu menyukai gadis itu kan?" tanya Pak Wawan.


Sontak Aril terkajut mendengar ucapan Pak Wawan. Karena apa yang dia katakan memang benar adanya.


"Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya?" tanya Aril.


"Aku juga laki - laki Ril. Aku bisa mengerti dari setiap gerak - gerika kamu, dari tatapan kamu. Terlihat jelas kalau kamu menyukainya. Kalau tidak mana mungkin kamu memakai orang yang tidak berpengalaman sebagai sekretaris kamu. Pasti kamu akan lebih memilih karyawan dengan segudang pengalaman" jawab Pak Wawan.


"Ah Bapak bisa saja... " balas Aril.


"Tapi dia memang gadis yang cantik dan pintar. Aku rasa dalam waktu yang cepat dia akan bisa segera mengimbangi cara kerja kamu" puji Pak Wawan


Aril tersenyum begitu mendengar pujian dari Pak Wawan.


"Semoga saja begitu Pak" balas Aril bangga.


.


.


BERSAMBUNG