
"Ini pasti ada hubungannya dengan kasus aku. Brengsek.. Pak Rahardian sudah bertindak jauh, dia ingin mencelakakan Shela. Aku tidak akan tinggal diam" umpat Romi marah.
"Maaas" potong Ela.
"Klara sudah menghubungiku, dia mengatakan bahwa Papanya lah dalang dari semua ini. Orang tua brengsek itu ingin memisahkan putrinya dengan suaminya sendiri hanya karena Edo Mahardika orang biasa saja" ujar Romi kesal.
"Edo Mahardika? Suami Klara bernama Edo Mahardika? Dia orang Surabaya kan Mas? Aku seperti mengenal nama itu?" tanya Ela.
"Oh iya aku lupa, Edo kemarin juga sempat mengatakan kalau dia juga mengenal kamu. Kalian dulu satu kampus dan Edo adalah senior kamu" jawab Romi.
"Kamu mengenal suaminya Klara El?" tanya Bimo.
"Kalau benar orang itu adalah teman kuliahku, mudah - mudahan aku mengenalnya Mas" Jawab Ela.
"Kalau begitu kita sedikit punya peluang. Sebaiknya kalian ke Surabaya bertemu SI Edo itu. Mungkin dia menyimpan surat nikah dia dan Klara jadi kalian bisa langsung bongkar kasus ini" ujar Bimo
Romi melirik Ela.
"Kita berangkat ke Surabaya malam ini El, aku tidak ingin semua sampai berlarut - larut. " ucap Romi.
"Baik Mas" jawab Ela.
"Bim titip Pak Supir ya, tadi aku suruh dia masuk ke mobil kamu, biar aku yang menyetir mobil Ela. Kami langsung ke Bandara dan terbang ke Surabaya" ujar Romi.
"Oke Rom, kalian hati - hati. Semoga berhasil" balas Bimo.
Romi dan Ela masuk ke dalam mobil. Romi menjalankan mobil menuju Bandara. Tidak boleh buang - buang waktu lagi. Besok pagi dia harus membuat perlawanan. Setidaknya berita hoax harus dilawan dengan berita sebenarnya tentu saja dengan memperlihatkan bukti - bukti.
Mereka berangkat dengan pesawat terakhir menuju Surabaya dan sampai disana sudah tengah malam. Romi dan Ela langsung menuju rumah orang tua Ela.
Tok.. Tok..
Romi dan Ela mengetuk pintu rumah Pak Budi.
"Lho kalian?" tanya Pak Budi terkejut saat membuka pintu rumah malam - malam begini dan ternyata anak dan calon menantunya yang datang.
"Maaf Pak kami tidak kasih kabar karena waktunya sangat mendesak" ucap Ela.
"Masuk dulu baru kita bicara di dalam" ajak Pak Budi.
"Ela.. Romi.. " ucap Bu Budi begitu melihat Ela dan calon menantunya yang datang.
"Bu, buatkan teh hangat dulu buat mereka" perintah Pak Budi pada istrinya.
"Iya Pak, sebentar ya" jawab Bu Budi.
Romi dan Ela duduk di kursi ruang tamu.
"Tadi sepulang kerja Ela dihadang oleh dua pria tak dikenal Pak dan mereka sepertinya preman yang dibayar untuk menyakiti Ela. Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan berita yang menyerang aku saat ini" ungkap Romi.
"Kamu gak apa - apa Nduk?" tanya Pak Budi penuh ke khawatiran kepada putrinya.
"Alhamdulillah aku baik - baik saja Pak" jawab Ela.
"Jadi gimana Pak keadaan Edo?" tanya Romi.
"Edo sudah diamankan keluarga Pak Akarsana. Dia tinggal dalam lindungan keluarga besar Pak Akarsana. Kata beliau Bimo yang meminta seperti itu" jawab Pak Budi.
"Iya Pak saya meminta bantuan Bimo untuk melindungi Edo. Besok pagi kita harus menemuo Edo untuk menyusun strategi melawan Pak Rahardian" ungkap Romi.
Pak Budi menarik nafas panjang.
"Mungkin mertuanya Nak Edo tipe pemilih ya dan dia melihat seseorang hanya dari harta kekayaan bukannya melihat dari ketulusan Nak Edo mencintai putrinya. Harusnya dia bersyukur Nak Edo itu pria yang baik, menikahi putrinya karena cinta bukan karena melihat hartanya" ujad Pak Budi.
"Itulah Pak masih banyak diluar sana manusia yang mempunyai sifat seperti Pak Rahardian. Hanya memikirkan dunia dan bagaimana cara mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan halal dan haramnya. Bahkan dia memaksakan kehendak dan mengorbankan kebahagian orang lain terlebih anak kandungnya sendiri" sambut Romi.
"Di minum dulu biar hangat badan kalian" perintah Bu Budi
"Iya Bu" jawab Ela dan Romi berbarengan.
"Kenapa tiba - tiba datangnya tanpa kabari Ibu dan Bapak" tanya Bu Budi.
"Bu sudah dulu biarin mereka istirahat. Besok pagi bari kita lanjutkan pembicaraan mereka. Kasihan mereka tadi begitu pulang kerja langsung berangkat ke sini" cegah Pak Budi.
"Oh baiklah Pak, sebentar Ibu siapkan kamar untuk Nak Romi ya" ujar Bu Budi.
"Gak perlu repot Bu, aku kan bukan tamu lagi. Sebentar lagi juga aku akan jadi anak Ibu" sambut Romi.
"Tidak apa kok, Ibu mau siapkan selimut untuk kamu" balas Budi.
Setelah ruko disamping rumah orang tua Ela selesai, giliran rumah tua mereka yang di renovasi. Sekarang semuanya sudah selesai. Rumah Pak Budi kini sudah diperbesar dan berdempetan dengan ruko.
Sehingga dari rumah bisa langsung tembus ke ruko. Membuat mereka tidak kesulitan berjualan dan istirahat di rumah.
Rumah tersebut juga sudah difasilitasi dengan peralatan modern. Tiap - tiap kamar sudah ada kamar mandinya sendiri dan pendingin ruangan sudah terpasang di setiap kamar.
Jumlah kamar juga sudah ditambah agar saat anak - anak dan cucu - cucu mereka berkumpul bisa muat semuanya.
"Sudah.. kalian langsung saja ke kamar ya istirahat, besok kita lanjut lagi" perintah Pak Budi.
"Baik Pal" jawab Romi.
"El antarkan Nak Romi ke kamarnya" ujar Pak Budi.
"Iya Pak, yuk Mas" ajak Ela.
Romi dan Ela berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan Bu Budi untuk Romi sebelumnya. Mereka semua kemudian istirahat tidur karena hari memang sudah larut malam.
Esok paginya Bu Budi sudah menyiapkan sarapan pagi yang sudah sangat dirindukan Romi. Setiap dia menginap di rumah Ela hal ini lah salah satu yang sangat dia tunggu - tunggu. Nasi goreng kampung buatan calon mertuanya.
"Ayo kita makan" ajak Pak Budi.
Mereka menyantap makanan dengan lahap setelah itu baru Pak Budi, Romi dan Ela berangkat menuju rumah Pak Akarsana.
Ela juga sudah membelikan mobil untuk orang tuanya. Sekarang Pak Budi sudah tidak bekerja di Hotel lagi melainkan mengelola usaha toko sembako yang Ela buatkan untuk hari tua Pak Budi dan istrinya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Pak Akarsana. Sebelumnya Bimo sudah memberi kabar kepada Pak Akarsana bahwa Romi dan Ela sudah di Surabaya dan ingin bertemu dengan Edo. Sehingga Pak Akarsana tidak terkejut lagi dengan kedatangan Ela dan Romi.
"Jadi dimana Edo tinggal Pak?" tanya Romi.
"Di rumah belakang, rumah ith cukup aman karena dikelilingi rumah keluarga besar Bapak. Orang asing tidak akan mungkin bisa masuk" jawab Pak Akarsana.
Romi menganggukkan kepala yang artinya dia mengerti.
"Bu panggil Nak Edo ke sini" perintah Pak Akarsana pada istrinya.
"Sudah Pak, tadi aku sudah suruh bibik untuk memanggil Nak Edo" jawab Bu Akarsana.
Tak lama kemudian Edo keluar dari pintu belakang rumah Pak Akarsana dan berjalan mendekati Ela, Romi dan lainnya.
Saat melihat wajah Edo, Ela sangar terkejut. Ternyata apa yang dia pikirkan selama ini benar.
"M.. Mas Edoooo" ucap Ela.
.
.
BERSAMBUNG