Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Duapuluh Empat



Seminggu sudah berlalu honeymoon panas Romi - Ela, Aril - Bela. Panas bukan karena suasana honeymoon pengantin baru dan pengantin lama. Tapi panas karena pertengkaran Romi dan Aril.


Ada saja persoalan yang bisa menjadi masalah bagi mereka. Baik itu tentang makanan, jalan - jalan atau hal kecil seperti pakaian, sepatu dan masih banyak lainnya.


Hampir seminggu ini Bela dan Ela pusing melihat tingkah suami mereka. Kini tiba saatnya mereka pulang ke Jakarta. Mereka sudah sampai di Bandara dan sedang menunggu pesawat terbang ke Jakarta.


Entah mengapa tempat duduk mereka juga berdekatan. Bela dan Ela meminta pada suami mereka masing-masing untuk duduk berdekatan. Mereka ingin lepas sejenak dari dua pria yang suka buat ribut.


Akhirnya Aril dan Romi yang duduk bersebelahan.


"Rom aku dipinggir ya dekat jendela" pinta Aril.


Romi yang lebih dulu duduk di dekat jendela tentu saja keberatan.


"Gak bisa Ril, aku yang lebih dulu duduk disini" tolak Romi.


"Tolong donk Rom aku pengen banget duduk di pinggir. Aku lagi pusing dan mual. Kalau aku bisa lihat pemandangan diluar pesawat mungkin bisa mengurangi rasa pusing ku" pinta Aril.


"Gak bisa, kamu jangan pura - pura. Aku tau itu cuma alasan kamu saja" elak Romi.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Maaf Bapak - Bapak apa ada yang bisa saya bantu? Sebentar lagi kita akan terbang silahkan duduk dan pakai sabuk pengamannya" sapa pramugari dengan ramah.


"Rom please doooonk" pinta Aril.


"Gak mau" tolak Romi langsung.


Bela dan Ela yang pasti mengetahui apa yang terjadi karena mereka mendengar percakapan para suami mereka akhirnya mengalah.


"Maaas biar aku aja deh yang pindah. Mas duduk dekat Bela aja" ujar Ela pada Aril.


"Tuh gara - gara kamu nih Ela yang mengalah" ujar Aril kesal kepada Romi.


"Itu lebih baik, aku mau duduk dekat istriku dari pada duduk dekat kamu" jawab Romi.


"Huuh dasaaar" umpat Aril.


Akhirnya mereka kembali ke tempat duduk semula. Aril duduk dekat Bela sedangkan Ela bersama Romi.


"Maaaas kenapa sih harus bertengkar terus. Gak malu apa sama semua penumpang pesawat ini? kalian benar - benar seperti anak - anak" ucap Bela kesal.


"Romi tuh yank, aku padahal sudah minta secara halus tapi dia tidak mau" ujar Aril membela diri.


"Lagian kenapa kamu juga harus duduk dekat jendela. Bagi kamu naik pesawat itu bukan hal yang istimewa lagi Mas. Aku yakin dimanapun tempat duduk kamu pasti tidak masalah bagi kamu" ujar Bela.


Wajah Aril langsung tampak murung seperti anak kecil yang sedang dimarahin Ibunya. Bela langsung tersadar.


Apa Mas Aril masih terkena kehamilan simpatik ya? Aku kira sudah sembuh, kan dia udah bisa lepas dari Mas Riko. Batin Bela.


Bela menarik nafas panjang, dia lupa kalau suaminya sedang menggantikan tugasnya sebagai calon Ibu yaitu ngidam.


"Mas sudah.. sudah.. sekarang kan Mas sudah duduk di dekat jendela. Tuh lihat sebentar lagi kita akan lepas landas. Mas boleh deh lihat awan sepuasnya" bujuk Bela.


Wajah Aril perlahan kembali cerah dan mulai bersemangat. Persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.


Tak lama kemudian pesawat pun mulai terbang menuju Jakarta. Setelah lelah melihat - lihat awan dari balik jendela akhirnya Aril merasa mengantuk dan dia tertidur bersandar di bahu Bela.


Bela membelai lembut perutnya sambil berbicara di dalam hati.


"Sayang - sayang Mama nanti kalau kalian sudah lahir jadi anak yang baik budi ya.. Semoga kalian menjadi anak yang soleh dan solehah. Doa Bela dalam hati.


Sesuai permintaan kedua orang tua Romi sebelum mereka menikah. Nanti setelah Romi dan Ela menikah, Papa dan Mama Romi meminta mereka tinggal bersama.


Mereka tidak mau lagi kesepian dihari tua, mengingat mereka hanya memiliki anak tunggal. Berharap setelah Romi menikah mereka akan mendapatkan banyak cucu untuk menghibur hari tua mereka dengan sangat ramai.


Papa dan Mama Romi sudah menunggu kedatangan anak dan menantu mereka.


"Assalamu'alaikum" ucap Romi dan Ela saat masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam salam sayang... akhirnya kalian pulang juga. Mama sudah gak sabar menunggu kedatangan kalian" sambut Mama Romi.


Mereka saling berpelukan untuk melepaskan rindu.


"Bagai honeymoon kalian?" tanya Papa Romi.


"Kurang asik Pa karena ada biang kerok" jawab Romi masih kesal mengingat peristiwa di pesawat tadi saat dia dan Aril bertengkar hanya karena tempat duduk.


"Aril?" tanya Papa Romi.


"Iya siapa lagi" jawab Romi masih kesal.


"Hahaha... kalian ini dari dulu selalu bertengkar padahal diantara semua sahabat kamu Romi lah yang paling dekat dengan kamu. Bukannya kamu juga dulu paling suka nempel sama Aril. Sampai hobby kalian juga sama jadi seorang playboy" ujar Papa Romi.


"Tapi dia sudah buat gagal malam pertamaku" lapor Romi.


Seketika mata Ela mendelik ke arah Romi. Dia tidak menyangka suaminya dengan santainya akan bicara seperti itu kepada mertuanya.


"Oh ya, kok bisa?" tanya Papa Romi penasaran sambil tersenyum.


"Si Aril pingsan karena makan sate gurita. Ternyata dia alergi sama gurita. Dan aku harus menginap di rumah sakit menemani dia yang sedang di rawat" jawab Romi.


"Hahahaha.. anak itu memang ada - ada saja tingkahnya. Pergi honeymoon meninggalkan pesta pernikahan tanpa pengantin, gagal malam pertama sebulan dan ngidam aneh. Benar - benar kocak dan memang biang kerok" ucap Papa Romi sambil tertawa karena merasa lucu.


"Sudah Pa biarin mereka berberes dan bersih - bersih dulu. Nanti kita shalat maghrib bareng ya setelah itu kita makan. Mama sudah siapain makan malam spesial untuk menyambut kedatangan kalian" perintah Mama Romi.


"Terimakasih ya Ma. Mama udah repot - repot begini" sambut Ela.


"Gak apa - apa, Mama sangat senang kalian tinggal di sini. Mama dan Papa pasti tidak akan kesepian lagi cuma berdua di rumah ditemani para asisten rumah tangga" jawab Mama Romi.


"Ya sudah kalian langsung saja ke kamar. Kamar kamu juga sudah di renovasi ulang sama Mama kamu. Semoga kalian suka" ucap Papa Romi.


"Kalau begitu kami ke kamar dulu ya Ma, yuk yank" sambut Romi.


Romi dan Ela berjalan menuju kamar Romi. Sesampainya di dalam kamar Romi melihat suasana kamarnya memang berubah total. Sebelumnya kamarnya sangat maskulin tapi sekarang Mamanya sudah merubahnya menjadi kamar yang sangat nyaman dan hangat untuknya dan istrinya tercinta.


"Gimana yank kamarku, kamu suka?" tanya Romi.


"Suka Mas, suka sekali. Selera Mama emang bagus banget. Kita harus berterimakasih kepada Mama sudah menyambut kita di rumah ini seperti ini. Aku sangat senang sekali" jawab Ela.


"Iya, nanti kita bilang sama Mama ya sekalian kasih oleh - oleh buat Mama dan Papa. Mereka pasti suka dengan oleh - oleh yang kita bawa" sambut Romi.


Mereka berdua kemudian mandi dan membersihkan tubuh setelah itu bersiap - siap untuk shalat maghrib berjama'ah dengan kedua orang tua Romi.


.


.


BERSAMBUNG