
"Jadi kapan aku bisa membawa kedua orang tuaku ke rumah kamu?" tanya Aril.
Bela tertunduk malu.
"A.. aku tanya Bapak dan Ibu dulu ya Mas. Kan aku belum cerita pada mereka" jawab Bela.
"Kamu emang yakin mau ikut antrian?" tanya Aril.
"Maksud Mas?" tanya Bela bingung.
"Nunggu Riko menikah dulu, baru Romi dan terakhir kita" jawab Aril.
"Ya iya donk Mas, kan gak enak ngelangkahi mereka semua. Lagian mana mungkin mempersiapkan acara begituan secepat mungkin" sambut Bela.
"Apa yang tidak mungkin kalau kita berdua sama - sama mau. Kita tinggal cari WO, gedung dan makan ada Bimo yang aku yakin pasti bersedia membantu. Bimo kan kakak kamu, pasti dia mau membantu kita" bujuk Aril.
Bela melirik ke arah Ela yang sedang berjalan santai di pinggir pantai bersama Romi.
"Aku gak enak pada Dini dan Ela Mas" jawab Bela.
"Mau nikah mana ada enak gak enaknya. Lagian kan mereka bukan keluarga inti Bel. Gak ada peraturan yang mengatur kita harus antri dan gak boleh mendahului mereka" Aril masih mencoba membujuk Bela.
Aku sudah gak sabar Bel... Walau Romi lebih dulu menemukan Ela beberapa tahun yang lalu, dan Riko juga lebih dulu menemukan bidadari surganya ketimbang aku tapi aku ingin jadi pemenang diantara mereka. Secara kan aku guru mereka saat menyandang julukan Casanova. Masak iya guru kalah sama anak muridnya. Batin Aril tak terima.
"Sebaiknya dibicarakan dengan keluarga dulu Mas. Jangan terburu - buru. Sesuatu yang buru - buru itu tidak baik" ujar Bela.
Aril menarik nafas panjang, sepertinya dia gagal membujuk bidadarinya malam ini.
Tidak apa besok akan aku coba lagi. Pantang menyerah pastinya aku.. Tegas Aril dalam hati.
"Kalau begitu nanti begitu kita sampai di Jakarta aku akan segera menemui Bimo dan meminta restunya. Setelah itu aku akan minta petunjuknya untuk melamar kamu secara resmi kepada kedua orang tua kamu. Dan kita juga persiapkan semuanya secepatnya. Aku akan cari perancang busana terbaik yang bisa membuat gaun pernikahan kita dengan cepat. Aku juga punya kenalan yang bisa membuat cincin pernikahan dengan cepat sesuai dengan permintaan kita. Aku sangat yakin semua bisa dipersiapkan dengan secepat mungkin Bel. Pernikahan Riko masih dua bulan lagi. Bimo dan Reni saja bisa menikah dalam waktu sebulan kok, mengapa kita tidak" ungkap Aril dengan sangat yakin.
Bela tak tau harus berkata apa lagi. Dia sangat paham sifat Aril yang pantang menyerah. Buktinya walau sudah pernah di tolak lamarannya satu kali, Aril tetap tidak putus semangat.
Semua cara dia coba, untung saja Aril sekarang sudah berubah. Pastinya Aril tidak mengambil jalan pintas dia tetap berjalan sesuai aturan agama.
"Kalau kamu tidak enak hati dengan Dini dan Ela, kamu cukup diam saja. Biar nanti aku yang kasih pengertian pada Riko dan Romi. Aku yakin mereka pasti akan mau mengalah. Lagian ini bukan sebuah perlombaan" ujar Aril.
Jujur sebenarnya Bela juga ingin segera menikah karena jauh di dalam hatinya Bela sangat takut terjerumus dalam dosa. Bela tau bagaimana sifat Aril. Walau Aril sudah banyak berubah tapi Aril tetaplah Aril. Diantara Romi dan Riko, Aril yang lebih nakal, genit dan iseng. Walau semua itu hanya Aril tunjukkan dihadapan Bela dan teman - temannya.
Bela tidak mau aja Aril kelepasan. Buktinya tadi saat melamarnya Aril sudah ingin memeluknya. Bisa bahaya kan?
Sementara Romi dan Ela sedang berjalan di pinggir pantai sambil berbincang santai.
"Aah lega sekali rasanya Mas, akhirnya Bela dan Mas Aril bisa bersatu" ujar Ela.
"Iya ribet banget kisah cinta si Aril. Mana harus pakai sandiwara lagi" sambut Romi.
"Gak apa - apa deh Mas. Yang penting sekarang perasaan mereka sudah tersambungkan. Bela gak perlu menahan perasaannya sampai sesak begitu. Tadi sebenarnya aku udah gak tega banget ngerjain dia. Sejak kita kembali dari Tanah Lot di kamar Bela udah nangis putus asa Mas. Dia kira Mas Aril beneran mau ngelamar Mbak Sintia" ujar Ela.
"Hahaha... kalau tidak begitu Bela tidak akan jujur pada hatinya. Selama ini kita sudah mencoba memancing perasaannya tapi tetap aja dia mengelak. Udah dapat saingan baru takut kehilangan" sambung Romi.
"Bela sahabat aku terdekat Mas. Dia dan keluarganya banyak banget membantu aku sejak aku kuliah dan mengenal Bela. Mereka keluarga yang baik, tanpa Bela aku gak yakin aku bisa menyelesaikan kuliahku" ungkap Ela.
Ela berhenti dan menatap ke arah lautan.
"Keluarga aku keluarga yang pas - pasan. Aku kuliah dengan beasiswa yang hanya membebaskan uang kuliah tapi tidak untuk yang lainnya. Uang buku, tugas - tugas kuliahku bahkan uang jajan aku sering dibantu Bela. Keluarga Bela sudah seperti keluarga kedua bagiku. Keluarganya dengan tangan terbuka menerima aku begitu saja dan sudah menganggap aku seperti keluarga sendiri. Seandainya Bela meminta untuk menikah lebih dahulu dari kita aku akan ikhlas Mas. Biar saja mereka yang duluan, bagitu tidak mengapa. Aku sangat bahagia jika melihat Bela lebih dulu bahagia" sambung Ela.
Romi menatap dalam ke wajah bidadari hatinya. Dan menarik nafas dalam.
"Aku akui Aril memang pria usil dan pemberani. Kalau sudah punya satu tujuan dia tidak akan mudah menyerah. Kamu lihat sendirikan cintanya kepada Bela. Walau sudah pernah di tolak dia tidak mudah menyerah. Aril adalah sahabat yang paling humoris diantara kami semua. Bahkan terkesan gokil, banyak ide - ide gilanya dulu yang dengan mudahnya bisa mempengaruhi aku dan Romi. Tapi Aril bukan tipe pemaksa. Dia tidak pernah memaksa kami untuk berbuat buruk seperti dirinya. Kami yang dengan suka rela mengikuti jejaknya sebagai seorang pria playboy. Saat melihat dia serius mencintai seorang wanita aku sangat yakin kalau wanita itulah kelak yang akan menjadi jodohnya. Apalagi aku melihat Bela wanita yang baik, tentu dengan senang hati aku mendoakan kebahagian mereka. Jika kamu berkata akan mengikhlaskan mereka duluan menikah dari kita, aku juga akan setuju. Aril juga sudah seperti keluargaku. Aku, dia dan Riko adalah anak tunggal. Jadi kami semua sudah seperti saudara. Aku juga rela jika mereka lebih dulu menikah dari kita" sambut Romi.
Kini mereka berdua melirik ke arah meja tempat Aril dan Bela duduk. Aril dan Bela terlihat tertawa bahagia sambil berbincang - bincang. Entah apa yang mereka bicarakan yang pasti Romi dan Ela sangat yakin, mereka pasti sedang membicarakan masa depan mereka berdua.
Ternyata seperti ini rasanya bahagia melihat kebahagiaan orang lain. Tidak ada terbesit rasa iri ataupun kalah melihat kebahagiaan Aril dan Bela malam ini.
Mereka yakin semua manusia pasti bisa bahagia dengan cara mereka masing - masing. Seperti itulah kebahagiaan yang Romi - Ela dan Aril - Bela rasakan malam ini.
.
.
BERSAMBUNG