
"Om Aril kok ikutan bareng eyang... katanya mau lamar Tante Bela ya?" tanya Salman.
"Sayaaaang gak boleh ngomong gitu ah.. Gak sopan" potong Kinan.
Aril langsung kikuk dihadapan calon mertuanya dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ayo semuanya masuk" ajak Refan.
Mereka semua masuk ke dalam rumah Refan. Ternyata Reni dan Bimo juga sudah sampai lebih dulu di rumah kakaknya.
"Bu... " Sambut Reni.
"Nduuuk... gimana kabar kamu dan calon cucu Ibu?" tanya Bu Akarsana penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah semua sehat Bu" jawab Reni.
"Syukurlah" Bu Akarsana memeluk menantunya.
Reni dan Bimo saling berpelukan dengan kedua orang tua Bimo. Mereka saling melepaskan rindu hingga malam hari.
Setelah selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan mereka. Salman dan anak - anak sudah masuk ke kamar mereka masing - masing hanya tinggal para orang dewasa yang berkumpul.
"Mmm.. Pak Bu.. ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian. Sebelumnya saya sudah sampaikan lebih dulu pada Bimo dan Reni niat baik saya yang ingin melamar Bela kepada Bapak Ibu di Surabaya. Tapi kata Bimo Bapak dan Ibu mau datang ke Jakarta. Mungkin ini memang langkah baik. Kalau Bapak dan Ibu izinkan saya ingin membawa kedua orang tua saya untuk bertemu dan berkenalan dengan seluruh keluarga. Tentunya untuk membicarakan pernikahan saya dengan Bela" ungkap Aril dengan serius.
Refan, Kinan, Bimo dan Reni juga terlihat serius menanggapi ucapan Aril kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Bapak dan Ibu akan menyambut baik niat baik Nak Aril. Tapi sebelum kami menjawab permintaan Nak Aril ada baiknya kami bertanya lebih dulu kepada putri kami. Karena sampai saat ini kami memang belum mendapat kabar tentang hal itu" jawab Pak Akarsana.
"Maaf Pak semalam baru kami bicarakan dengan Mas Bimo dan ternyata hari ini Bapak dan Ibu datang jadi aku belum sempat cerita pada kalian. Aku pikir lebih baik kalau aku sampaikan langsung saja dari pada lewat telepon" sambut Bela.
Pak Akarsana tersenyum bijaksana menatap wajah putrinya.
"Kalau begitu sekarang Bapak tanya pada kamu Nduk. Apa benar kamu sudah menerima lamaran Nak Aril?" tanya Pak Akarsana.
Bela mengangguk dan tertunduk malu.
"Apa kamu yakin? Karena sebelumnya kan Nak Aril pernah melamar kamu dan kamu tolak. Apa keputusan kamu kali ini sudah benar - benar kamu pikirkan?" tanya Pak Akarsana lagi.
"InsyaAllah sudah Pak. Aku sudah mengambil keputusan yang berbeda kali ini. Aku menerima lamaran Mas Aril" jawab Bela masih tertunduk malu.
"Alhamdulillah" sambut Bu Akarsana.
"Baiklah.. kalau begitu Bapak dan Ibu akan memberi restu pada kalian. Mudah - mudahan dengan restu kami semua niat baik kalian dilancarkan dan diberi keberkahan dari Allah" ujar Pak Akarsana.
"Aamiin... " sambut yang lain.
"Terimakasih Pak.. Terimakasih Bu.. jadi mumpung Bapak dan Ibu di sini. Kapan orang tua saya bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu?" tanya Aril.
"Mmm... besok malam boleh. Kita kumpul di rumah Bimo saja ya" jawab Pak Akarsana.
"Baik Pak, saya akan segera mengabari kedua orang tua saya" sambut Aril senang.
Alhamdulillah semoga Allah lancarkan semua. Doa Aril dan Bela dalam hati.
*****
Keesokan harinya rumah Bimo sudah ramai dengan kehadiran para sahabat mereka yang turut menyaksikan acara lamaran resmi keluarga Aril kepada keluarga Bela.
Tak lama kemudian rombongan Aril dan kedua orang tuanya sampai setelah itu. Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga Bela.
Sebentar saja dua keluarga itu bisa cepat berbaur dan terlihat sangat akrab. Ternyata Papa Aril sama ramahnya seperti Aril tetapi tentu saja usilnya tidak ikut serta.
"Jadi Mas sebaiknya kita membicarakan tentang rencana dan tanggal pernikahan putra - putri kita. Niat baik sebaiknya disegerakan. Maklum mengingat history anak kami yang bukan lagi sedikit tapi benar - benar nakal sebelumnya. Kami sangat bersyukur kalau Bela bisa menerima Aril apa adanya" ungkap Papa Aril.
"Kami tidak memandang masa lalu Nak Aril yang penting Nak Aril serius berubah dan tidak mengulanginya lagi" sambut Pak Akarsana bijak.
"Kalau begitu kita tinggal menerapkan tanggal pernikahan mereka. Bagaimana kalau bulan depan saja kita laksanakan acara pernikahan mereka. Saya takut kalau anak saya ini akan bertindak ceroboh dan berujung dosa" pinta Papa Aril.
"Paaaa.... " potong istrinya.
"Kita akan menjadi keluarga Ma, tidak ada yang perlu di tutupi lagi" jawab Papa Aril.
Aril hanya bisa pasrah dan tertunduk malu karena kali ini kenakalannya benar - benar di kupas di depan semua orang.
Gak apa deh yang penting aku bisa nikah secepatnya. Batin Aril pasrah.
"Bulan depan? Aduuuh tidak bisa dek... bulan depan anak adek saya di Surabaya juga menikah. Sepupunya Bela" tolak Pak Akarsana.
Sontak Bela dan Aril saling pandang.
Gagal nih menikah bulan depan? Tangis Aril dalam hati.
"Jadi gimana donk Mas?" tanya Papa Aril.
Papa Aril melirik ke arah Aril. Tampak Aril kecewa dengan keputusan itu.
Flash Back On
"Pa tolong donk minta pada keluarga Bela kalau tanggal pernikahannya dilaksanakan bulan depan aja" pinta Aril saat datang ke rumah orang tuanya untuk menyampaikan kabar gembira bahwa mereka akan melamar Bela di rumah Kakaknya besok malam.
Sepulang dari rumah Refan, Aril langsung menuju rumah orang tuanya. Walau sudah larut malam tapi Aril tak perduli. Padahal Papa dan Mamanya terlihat sangat mengantuk saat Aril sampai di rumah.
"Cepat banget Ril, mana mungkin dalam satu bulan semua bisa disiapkan?" tanya Papa Aril terkejut.
"Udah yang penting tugas Papa hanya meminta tanggal pernikahannya bulan depan, selebihnya biar aku yang atur. Semua pasti bisa aku susun sesuai dengan keinginan kita semua" jawab Aril.
Kedua orang tua Aril saling tatap. Mereka tau bagaimana dulu Aril patah hati karen penolakan Bela yang pertama. Kali ini Bela sudah menerima hatinya. Mereka tidak ingin anak semata wayang mereka mengalami kekecewaan dan patah hati untuk yang kedua kalinya.
Mereka sangat takut Aril akan kembali ke jalan yang salah lagi. Jalan yang dulu dia pernah terjebat lama di dalamnya. Mereka sangat bersyukur saat ini Aril sudah banyak berubah.
"Baiklah akan Papa coba" jawab Papa Aril.
Flashback Off
"Mmm... bagaimana kalau pernikahan mereka kita laksanakan saja minggu depan. Mumpung kami masih disini jadi langsung saja kita laksanakan secepatnya. Mengenai resepsinya kan bisa menyusul. Saya rasa itu lebih baik jadi kalau mereka pulang bulan depan ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan sepupunya Bela. Nak Aril dan Bela sudah berstatus suami istri. Kita sudah tidak takut mereka berbuat dosa. Tapi dengan satu syarat. Apa Nak Aril bisa urus surat - surat pernikahan selama satu minggu? Kalau tidak bisa sebaiknya kita tunda sampai dua bulan lagi" ucap Pak Akarsana.
"Bisa Pak.. saya bisa mengurusnya" jawab Aril cepat.
.
.
BERSAMBUNG