
"Alhamdulillah ya Allah.... " ucap mereka bersamaan.
Papa dan Mama Riko bisa bernafas dengan lega.
"Tapi Ko ada baiknya kamu tetap cari tau siapa Papa kandungnya, seperti Refan. Agar kelak mencegah kawin sedarah. Dia anak perempuan" pesan Papa Riko.
"Tapi Hana melarangnya Pa" sambut Riko.
"Kamu hanya selidiki siapa Papanya bukan ingin mengembalikan dia" jawab Papa Riko.
Riko menarik nafas panjang.
"Baiklah Pa, kalau itu yang Papa mau. Aku akan melakukannya" sambut Riko.
Mama Riko berjalan ke arah belakang.
"Dini.. sini sayang bawa gadis kecil itu" perintah Mama Riko.
"I.. Iya Ma" jawab Dini dengan jantung yang berdebar kencang. Dia takut pertengkaran suaminya dengan kedua orang tuanya belum selesai.
Dini membawa Rihana berjalan pelan - pelan dan langsung disambut oleh Mama Riko.
"Sini sayang sama Oma" ajak Mama Riko.
Dini langsung menatap mata suaminya dan Riko membalasnya dengan anggukan. Baru Dini menyerahkan Rihana kepada mertuanya.
Mama Riko membaw Rihana duduk di tengah - tengah dia dan suaminya. Rihana tampak ketakutan.
"Jangan takut ya. Gimana enak makanannya?" tanya Mama Riko.
"Enyak Oma" jawab Rihana malu - malu.
"Oma gak tau kalau kamu mau datang, lain kali suruh Papa kamu kabari Oma kalau mau datang ke sini. Biar Oma beli es krim yang banyak" sambut Mama Riko.
"Papa? Siapa Papaku?" tanya Rihana.
"Om Ma, Rihana masih memanggilku Om. Aku baru tadi mengurus surat izin adopsi, setelah keluar baru Rihana akan merubah panggilannya pada kami. Karena saat ini kamilah Mama dan Papanya" jawab Riko
"Oh iya sayang, suruh Om Riko kabari Oma kalau kalian mau datang" ralat Mama Riko.
"Iya Oma" jawab Rihana.
"Kasihan kamu nak, masih kecil udah kehilangan Mama dan gak punya keluarga" gumam Mama Riko.
"Kalau kalian bekerja gimana dia, siapa yang jaga?" tanya Papa Riko.
"Sebelumnya almarhumah Mamanya menitipkannya di tempat penitipan anak Pa. Kami berencana akan terus menitipkan Rihana di sana" jawab Dini.
"Jangan.. jangan.. ngapain dititip - titip lagi di sana. Bawa ke sini saja, kantor Dini kan searah sama rumah ini. Jadi sebelum pergi ke kantor titipin sama Mama aja" cegah Mama Riko.
"Iya Papa dan Mama juga kesepian di rumah. Kalau ada anak ini pasti rumah akan ramai" sambut Papa Riko.
Dini dan Riko saling tatap.
"Kamu mau kan sayang ke rumah Oma setiap Tante Dini dan Om Riko kerja? Nanti Oma akan belikan kamu es krim" bujuk Mama Riko.
Dengan patuhnya Rihana mengangguk tanda setuju.
"Nah Rihana mau Ko" ucap Papa Riko.
"Baiklah Pa" jawab Riko.
Setelah itu mereka ngobrol panjang hingga senja. Selesai shalat maghrib dan makan malam Riko dan Dini langsung pamitan. Mereka akan berkunjung ke rumah orang tua Dini.
Sesampainya di rumah orang tua Dini.
"Eh ada Rihanaaaaa" teriak Yoga ketika melihat Rihana datang bersama Riko dan Dini.
"Lho anak ini masih tinggal bareng kalian?" tanya Anita yang ternyata sedang berada di rumah orang tuanya.
"Rihana tidak punya siapa - siapa lagi Mbak setelah Mamanya meninggal" jawab Dini.
"Ya Allah.. Papanya?" tanya Anita.
"Kami tidak tau dimana Papanya. Selama ini Rihana hanya tinggal berdua bersama Mamanya" jawab Dini.
"Kami berencana ingin mengadopsi Rihana menjadi anak kami" ucap Riko.
Papa dan Mama Dini saling tatap.
"Kalian serius?" tanya Papa Dini.
"Nggak apa - apa Pa, buat pancingan. Teman Mama dulu ada yang seperti itu. Setelah angkat anak dia langsung hamil. Siapa tau setelah ini Dini hamil" sambut Mama Dini.
"Aamiin" jawab Dini, Riko dan Anita.
"Yoga ajak adek Rihana nya main sayang" perintah Anita.
Yoga dan Rihana bermain bersama.
"Kami tidak bisa lama - lama Pa, Ma. Kedatangan kami ke sini ingin mengenalkan Rihana pada kalian. Tadi aku sudah mengurus surat - surat adopsi" ungkap Riko.
"Siapa yang jaga dia kalau kalian bekerja?" tanya Mama Dini.
"Kami akan titipkan di rumah Mama Mas Riko Ma. Tadi sebelum ke sini kami lebih dulu mengenalkan Rihana ke orang tua Mas Riko. Mama sendiri yang meminta Rihana di titip di sana. Biar rumah ramai ada anak kecil" jawab Dini
"Ya sudah kalau orang tua kamu setuju Ko" sambut Papa Dini.
Dini dan Riko saling tatap dan bisa bernafas lega. Ternyata bertemu keluarga Dini tidak seberat ketemu Papa Riko tadi. Padahal Riko sudah mempersiapkan dirinya.
Papanya tadi saja sudah menamparnya, gimana Papa Dini. Untung saja apa yang mereka pikirkan saat dalam perjalanan ke sini tadi tidak seperti yang terjadi. Ternyata ketakutan - ketakutan tak beralasan yang mereka rasakan sejak pulang dari rumah orang tua Riko.
"Kalau begitu kami pamit pulang ya Pa.. Sudah dua hari kami libur kantor karena mengurus pemakanan orang tua Rihana" ungkap Riko.
"Sebenarnya orang tua Rihana itu siapa kamu?" tanya Papa Dini.
Deg.. jantung Riko dan Dini langsung berdetak kencang.
"Teman kuliah Mas Riko Pa" potong Dini langsung.
"Iya Pa, dia teman kuliahku. Dan baru bertemu lagi baru - baru ini. Dia sakit dan beberapa kali menitipkan anaknya pada kami karena dia ingin pergi berobat. Dia tau kalau Dini sangat suka dengan anak - anak, makanya dia tenang meninggalkan Rihana bersama kami" sambut Riko.
Ya Allah ampunilah kami yang sudah berbohong. Batin Riko dan Dini berdoa.
"Lagian niat kalian kan memang baik, ingin membantu Mamanya dan mengurus anak ini dengan baik. Allah pasti akan balas dengan kebaikan juga. Kita tidak tau rencana Allah yang penting harus ikhlas" pesan Papa Dini.
"Iya Pa. Sudah malam kami pamit ya Pa" ucap Riko.
"Baiklah.. hati - hati di jalan" sambut Papa Riko.
"Rihana salim Oma, Opa dan Bude sayang" perintah Dini.
Rihana berlari mendekat Dini dan Riko kemudian menjalankan perintah Dini tadi. Dia mencium tangan Papa dan Mama Dini juga Anita.
"Anak yang malang" gumam Mama Dini.
"Nanti main ke sini lagi ya Rihana" ucap Yoga.
"Iya Kak" jawab Rihana.
"Kalian sudah kompak ya" ucap Dini sambil mengelus lembut rambut Rihana.
Semua tersenyum melihat keakraban Yoga dan Rihana. Itulah dunia anak - anak, mereka sangat mudah menerima pertemanan dengan teman sebayanya. Langsung akrab tanpa menunggu lama.
Riko, Dini dan Rihana keluar rumah orang tua Dini dan masuk ke dalam mobil. Mereka pulang menuju apartemen dengan hati yang lega.
"Akhirnya selesai juga ya yank" ucap Riko lega.
Rihana sudah tidur di pangkuan Dini.
"Aku udah tegang banget tadi Mas waktu Papa tanya siapa Mama Rihana. Terpaksa berbohong. Aku takut Papa marah sama Mas seperti Papa kamu tadi. Padahal hanya salah sangka saja" ucap Dini.
"Semoga Allah ampuni dosa kita ya" sambut Riko.
Riko meraih tangan Dini dan menariknya lalu menciumnya.
"Tahap selanjutnya sudah selesai. Kita juga dapatkan solusi, Rihana di titipkan pada orang yang tepat dan sangat kita percaya" ucap Riko.
"Aku juga sangat lega, nanti Rihana aku antar jemput ke rumah Mama. Kan emang dekat dari kantor" ungkap Dini.
"Allah Maha Baik, memberi solusi padahal kita baru saja ingin menyelidiki tempat penitipan Rihana tapi sudah dapat solusi lain" sambut Riko.
"Alhamdulillah sudah teratasi semua" balas Dini.
.
.
BERSAMBUNG