Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empat Puluh



"Maaaaas Bi.. mooooo" panggil Bela dengan mata yang berkaca - kaca menahan haru.


"Be.. Bela" sambut Bimo.


Bimo segera bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri adik bungsunya.


"Mas Bimo... " Bela langsung memeluk Bimo dan menangis.


"Bela.. " balas Bimo. Bimo juga membalas pelukan Bela.


"Mas kok lama banget sih pulangnya, aku kan kangen banget sama Mas Bimo. Di rumah sangat sepi sekali tanpa adanya Mas Bimo" ucap Bela sambil menangis terisak.


"Maafkan Mas Bimo deeek.. Mas Bimo sangat terlambat untuk pulang. Maafkan Mas yang gak bisa menjadi contoh yang baik bagi kalian adik - adiknya Mas. Mas Bimo juga gak bisa menjaga kamu dan Bima hingga.. hingga.. Bima harus meninggal gara - gara Mas" Bimo juga kembali menangis setiap mengingat tentang kematian Bima.


"Aku kangen Mas Bimo.. aku kira.. aku kira.. aku hanya tinggal sendirian setelah kepergian Mas Bimo dan Mas Bima hiks.. hiks.. " ucap Bela masih terisak.


"Cup.. cup.. adek Mas sayang jangan nangis lagi donk. Mas kan sekarang udah ada di sini dan akan selalu ada buat kamu. Kamu tidak sendirian lagi, ada Mas sekarang yang akan menjaga kamu" sambut Bimo.


Bapak dan Ibu Akarsana kembali menangis haru melihat pertemuan dua anak - anak mereka yang sudah berpisah sangat lama. Akhirnya keluarga mereka berkumpul kembali.


Aril melihat hubungan kedua saudara itu sebenarnya sangat kuat, mereka terlihat saling melepas rindu. Entah mengapa Aril merasa haru melihat kasih sayang kedua bersaudara itu.


Bimo melirik ke arah Aril.


"Dia siapa dek? Suami kamu? Kamu sudah menikah?" tanya Bimo penasaran.


Pertanyaan Bimo sontak membuat hati Aril berbunga - bunga. Aril langsung tersenyum ke arah Bimo.


"Bu.. bukan Mas.. Dia Mas Aril sahabatnya Mas Refan. Tadi dia temani aku dulu ke suatu tempat" jawab Bela serba salah.


Duh kenapa kamu gak jawab kalau aku calok suami kamu Bela. Batin Aril berharap.


Aril menyodorkan tangannya ke arah Bimo.


"Kenalkan saya Aril" ucap Aril.


"Bimo" sambut Bimo.


"Ayo semua duduk bersama. Kita makan bersama dan kumpul keluarga saat ini" ajak Refan.


"Ayo Nak Aril ikut bersama kami" sambut Pak Akarsana.


"Iya Pak, terimakasih" jawab Aril hormat.


Bimo duduk kembali diantara Bapak dan Ibunya sedangkan Bela mengambil tempat di samping Bapaknya dan Aril duduk di depan Bela tepat di samping Refan.


Refan memanggil pelayanan dan meminta pelayan tersebut menambah menu makanan untuk Aril dan Bela yang baru datang.


Aril saat ini masih menjadi orang lain diantara keluarga ini. Dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Yang dia tau saat ini keluarga ini sedang berkumpul kembali setelah beberapa tahun terpisah.


Aril dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga ini. Tiba - tiba Aril juga merindukan kedua orang tuanya.


Keluarga besar ini sedang bernostalgia bercerita tentang masa lalu dan masa - masa yang telah mereka lewatkan tanpa kebersamaan.


Tak lama kemudian Pelayan datang membawa makanan Aril dan Bela. Mereka ikut makan bersama dengan yang lainnya. Aril menyantap makanannya dalam keadaan diam dan hanya bisa menyimak pembicaraan Bela dengan Kakak dan orang tuanya.


Aril melihat binar kebahagiaan dari mata Bela. Bela terlihat semakin cantik dan beberapa kali Bela tersenyum manis. Membuat Aril semakin terpesona pada gadis itu.


Walau dia seperti terasing tapi Aril tidak perduli, dia menikmati keindahan wajah Bela tanpa perhatian dari keluarga ini. Aril terkadanh ikut tersenyum saat Bela juga tersenyum.


Sepertinya dia semakin tertarik dengan gadis ini. Ingin menjadi seseorang yang spesial baginya dan istimewa dalam hidupnya.


Akhirnya selesai juga makan siang bersama. Kakak Bela kembali berpamitan dengan keluarganya. Aril dan keluarga sahabatnya Refan juga kembali ke rumahnya.


Sesuai dengan kesepakatan Aril dengan Refan, saat keluarga Bapak Akarsana ada di Jakarta dia akan dengan setia menemani mereka kemanapun pergi. Hitung - hitung pendekatan dengan calon mertuanya kalau nanti dia berjodoh dengan Bela.


Seperti esok harinya Aril ikut menemani Refan, Pak Akarsana dan Bimo untuk bertemu pengacara dan kekantor polisi untuk membuat laporan.


Semua urusan mereka akhirnya selesai sampai sore hari, setelah itu mereka kembali ke rumah Refan. Sesampainya di rumah Refan mereka di sambut dengan makanan ringan yang dihidangkan Bela dan Reni adiknya Refan.


Semua mencoba makanan yang dimasak Bela dan Reni.


"Enak nih Bel donatnya" puji Aril.


"Hati - hati Bel, rayuan pulau kelapa" sindir Reni.


"Bener kok Ren enak" ulang Aril.


"Terus kenapa bilangnya ke Bela?" tanya Reni.


"Ya kan tadi kamu bilang kamu buat makanan ini bareng Bela" jawab Aril.


"Kamu mah gak perlu di puji udah pede banget dari sononya" jawab Aril.


"Kalian ini kalau udah ketemu pasti berantem" sindir Refan.


"Jangan mau tergoda bujuk rayu dia Bel" ujar Reni.


"Aku gak ngerayu kok Bel, semua ini fakta" sambut Aril.


"Dia playboy" ejek Reni.


"Udah tobat kaleeee" balas Aril.


"Mantan donk" ledek Reni.


"Iya gak apa - apa kan mantan dari pada gak tobat - tobat" jawab Aril.


"Reeeen, Ariiiillll kalau udah berantem ngalahin Salman yang masih umur empat tahun" ucap Bu Suci menengahi.


"Eh iya Mas sekalian mumpung lagi ngumpul. Sebentar lagi Bela wisuda, katanya dia mau kerja di sini dan minta cariin kerja. Di kantor ada yang kosong gak?" tanya Reni kepada Refan.


"Nanti Mas tanya bagian HRD ya. Kapan Bela wisuda?" tanya Refan.


"Satu bulan lagi Mas" jawab Bela.


"Di kantor aku ada Fan, sekretaris aku mau ngundurin diri karena lagi hamil besar. Katanya setelah melahirkan dia mau berhenti bekerja dan fokus ngurusin anaknya" sambut Aril.


"Modus" sindir Reni.


"Beneran Ren, Mas gak lagi modus ataupun main - main. Masak Bela mau dimainin" ujar Aril serius.


"Gimana Bel?" tanya Refan.


"Boleh deh Mas, aku malah gak enak sama Mas Aril. Aku belum punya pengalaman kerja sama sekali" jawab Bela.


"Gak masalah. Jadi sekretaris itu yang penting ingatannya kuat, gak lupa apa aja tugas atasannya" ujar Aril.


"Kalau soal itu aku sih bisa Mas. Alhamdulillah aku punya ingatan yang kuat. Bahkan ada seseorang yang mengira aku pembokat aja sampai sekarang aku masih ingat" jawab Bela.


"Apa? Kamu di kira pembokat? Siapa yang mengira kamu seperti itu Bel? Tega banget tuh orang, wong manis gini dikira pembokat?" tanya Reni.


Bela tersenyum sambil sesekali melirik Aril yang wajahnya sudah memerah karena malu.


"Adalah seorang cowok. Waktu itu dia datang ke rumah di Surabaya. Aku hidangin teh ke dia saat dia bertamu di rumah nah gara - gara itu aku dikira pembokat" ungkap Bela.


"Habis waktu itu mungkin wajah kamu kucel sih dek? Kamu kan kalau di rumah gak mau dandan makanya tamu itu mengira kamu pembokat" ujar Bimo.


"Iya benar itu, kalau di rumah luar biasa malesnya. Mandi aja harus diingatin" sambut Bu Akarsana.


"Ibuuuuu jangan buka aib orang ah... di depan orang ramai" ujar Bela malu.


Hahaha... ternyata kamu punya rahasia.. Entah mengapa aku senang sekali mendengarnya. Batin Aril.


"Bisa - bisa di kantor Aril nanti kamu dikira OB dek, karena kan tampang kamu emang pas" ejek Bimo.


"Iiiiiih Mas Bimo ikutin ledekin aku. Paaaak tolong aku, aku di bully... " teriak Bela manja kepada Pak Akarsana.


"Hahaha... makanya kamu juga harus berubah. Kalau nanti sudah bekerja harus bisa menyesuaikan. Jangan buat malu nak Aril nanti di kantornya" pesan Pak Akarsana.


"Nah tu Bel, udah enak kan setelah wisuda langsung dapat kerja" ujar Kinan.


"Tapi harus tetap hati - hati ya Bel.. dari awal aku udah ingatkan kalau Mas Aril itu playboy. Siap - siap aja kamu setiap hari akan punya banyak tamu wanita yang datang ke ruangannya" pesan Reni.


"Gak ada Ren, Mas gak pernah bawa - bawa urusan pribadi ke kantor. Lagian itu sudah masa lalu, Mas sudah tobat" sambut Aril.


"Aku gak percaya" balas Reni.


"Reeeen... jangan begitu sama Aril" ucap Bu Suci mengingatkan putrinya.


"Aah.. lega, aku bisa langsung bekerja setelah wisuda. Di tunggu ya Mas janjinya. Begitu aku wisuda aku bisa langsung kerja di kantornya Mas Aril" desak Bela.


"Iya Mas janji. Begitu kamu wisuda langsung antar aja lamaran ke kantor Mas. Nanti Mas akan bilang ke bagian HRD" jawab Aril sambil berjuang bersikap biasa saja padahal dalam hati sudah bersorak - sorak kesenangan.


Akhirnya setiap hari dia akan melihat surga. Ehm... mudah - mudahan awal yang baik.


.


.


BERSAMBUNG