
Riko
Alhamdulillah Papa dan Mama merestui hubungan kita. Tolong tanya Papa dan Mama kamu, kapan Papa dan Mama aku bisa datang ke rumah untuk melamar kamu.
Bidadari Surga
Benarkah Mas?
Riko
Iya, makanya Mas kirim pesan begitu selesai ngobrol dengan Mama dan Papa. Tanyakan sama keluarga kamu, kapan keluarga Mas bisa datang
Bidadari Surga
Alhamdulillah.. Iya Mas besok aku akan bicarakan hal ini pada kedua orang tuaku.
Riko
Ya sudah kita istirahat ya sudah malam. Kamu kan besok harus kerja Selamat tidur bidadari surgaku
Bidadari Surga
Selamat malam calon imam. Assalamu'alaikum..
Riko
Wa'alaikumsalam.
Riko meletakkan ponselnya diatas nakas kamar tidurnya setelah itu dia pun mulai memejamkan matanya.
******
Sementara Aril di suatu tempat.
"Hai Ril, makan sendiri?" sapa seorang wanita.
Aril melihat ke arah suara, dia melihat seorang wanita yang bergaya sangat modis seperti wanita karier tapi memakai jilbab. Aril sempat bertanya siapa wanita itu, tapi setelah melihat senyumnya Aril jadi ingat. Wanita ini adalah Sintia teman kuliahnya dulu.
"Sintia? Kamu sengat berbeda sekarang? Aku sampai tak mengenali kamu tadi" jawab Aril.
"Yah.. seperti yang kamu lihat. Kalau begitu boleh bergabung? Makan sendiri rasanya sangat tak enak" pinta wanita itu.
Aril tak enak menolak permintaan wanita yang bernama Sintia itu
"Silahkan" jawab Aril.
Sintia duduk tepat di depan Aril.
"Lama tidak bertemu, kamu terlihat sangat berbeda sekarang?" tanya Aril.
"Yaaah berubah susuai dengan bertambahnya usia Ril. Kamu juga terlihat lebih dewasa" puji wanita itu.
"Tapi tambah ganteng kan?" potong Aril sambil tersenyum.
"Hahaha.. kamu gak pernah berubah ya.. Masih percaya diri banget" balas Sintia.
"Harus donk Sin, kalau tidak bisa - bisa aku gak laku - laku nanti" ujar Aril.
"Lho kamu belum menikah?" tanya Sintia.
"Seperti yang kamu lihat, aku makan di sini sendirian" jawab Aril.
Sintia tersenyum mendengar jawaban Aril.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aril.
"Mau makan" jawab Sintia.
"Sendirian?" selidik Aril.
"Ya sendirian donk. Kalau aku udah punya pasangan pasti pasangan aku marah karena lihat aku duduk satu meja dengan kamu di sini" balas Sintia.
"Hahaha.. bener kamu. Ayo pesan makan. Karena kita sama - sama sendiri lebih baik kita makan bersama malam ini. Seperti yang kamu katakan tadi, makan sendiri rasanya sangat tidak enak" ujar Aril.
Sintia kembali tersenyum. Aril memanggil pelayan.
"Ayo Sin pesan makanan kamu" perintah Aril.
Sintia memesan makanan yang dia inginkan. Setelah pelayan mencatatnya, pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu dimana sekarang?" tanya Sintia.
"Di sini" jawab Aril
Sintia tersenyum lebar, lucu mendengar jawaban Aril.
"Maksud aku dimana kerjanya sekarang?" tanya Sintia.
"Oh aku bekerja di Perusahaan Eka Putra Corp" jawab Aril.
"Pasti Bosnya kan?" tebak Sintia.
"Ah nggak kok, aku cuma supir di sana" balas Aril.
"Hahaha... mana mungkin supir gayanya seperti kamu. Makan di sini lagi, ah kamu pura - pura merendah untuk menaikkan mutu" ledek Sintia.
Sintia ikut tertawa bersama Aril.
"Kamu tinggal di Jakarta?" tanya Aril.
"Iya" jawab Sintia.
"Tapi terkahir aku dengar kamu tinggal di Singapura?" tanya Aril.
"Iya tapi baru pulang. Aku sudah tinggal di sini dan akan menetap disini selamanya" jawab Sintia.
"Oooo" bibir Aril membuat.
"Papaku sekarang sakit - sakitan Ril, jadi aku harus menggantikan beliau untuk mengurus Perusahaan di sini. Makanya aku tinggalkan semua kegiatan aku di Singapura" ungkap Sintia.
"Itu keputusan yang tepat Sin, selagi orang tua kita masih lengkap sebisa mungkin kita bahagiakan mereka" sambut Aril.
"Yaaah memang merekalah harta yang paling berharga. Makanya aku rela meninggalkan semua demi mereka" balas Sintia.
Tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa semua makanan yang mereka pesan. Setelah makanan dihidangkan Aril dan Sintia makan sambil berbincang - bincang. Sesekali mereka terlihat tertawa karena ada hal yang lucu.
Mereka tampak sangat dekat dan akrab sekali.
Tanpa sepengetahuan mereka di meja yang tak jauh dari mereka duduk ada tiga pasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Bel lihat, itu bukannya Mas Aril?" tanya Ela.
"Mana?" Bela balik bertanya.
"Kamu lihat arah jam lima" balas Ela memberi kode.
Sontak Bela dan Reni mengikuti perintah Eka. Mereka melihat Aril sedang berbincang dengan seorang wanita. Mereka terlihat sangat serasi sekali.
Hati Bela terasa sangat sakit. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan kalau dia sangat tidak suka melihat Aril berduaan dengan wanita lain. Tapi Bela berusaha menutupinya.
Reni sangat tau kalau Bela merasa cemburu tapi Bela sendiri tidak menyadari apa yang sedang dia rasakan.
"Wah Mas Aril sedang makan dengan wanita lain, cantik lagi tuh cewek" sambut Reni.
Bela langsung menelan salivanya untuk menutupi grogi.
Reni langsung menarik tangan Bela.
"Kita samperin yuk, hitung - hitung makan gratis" ajak Reni.
"Jangan Reeen... mereka lagi asik masak mau di ganggu" cegah Bela.
"Kamu gak marah Ren melihat Mas Aril seperti itu?" tanya Ela.
"Mengapa aku harus marah. Itukan hak Mas Aril" jawab Bela.
"Kamu gak takut Mas Aril nikah sama orang lain?" tanya Reni.
Bela menaikkan bahunya memberi isyarat kalau dia tidak takut. Sebenarnya lebih tepatnya Bela tidak tau bagaimana perasaannya pada Aril.
"Ngapain aku takut? Mas Aril kan bukan siapa - siapa aku secara pribadi. Wajar donk kalau Mas Aril janjian untuk dengan siapa saja terlebih wanita.
"Kenapa aku yang merasa panas ya? Yuk kita samperin saja mereka" ajak Reni.
Reni hendak berdiri dari tempat duduknya tapi langsung melamar dicegah oleh Bela.
"Ren... jangan" cegah Bela.
"Kenapa gak boleh. Aku kan mau menyapa Mas Aril?" tanya Reni.
"Ngapain di sapa Reniii.. yang ada nanti dia terganggu. Gak lihat apa mereka terlihat sangat bahagia" jawab Bela
"Ah masa bodoh, anakku pengen menyapa Mas Aril" Reni mengelus perutnya penuh kasih sayang.
Reni akhirnya berdiri dan berjalan meninggalkan mejanya. Bela dan Ela terlambat mencegahnya. Reni kini sudah menghampiri Aril . Bela dan Ela mengikutinya dari belakang.
Kini tibalah mereka berada di depan meja Aril dan Sintia.
"Benarkan Mas Aril. Kalian Ig ngapain di sini?" tanya Reni.
"Kaliaaan... ngapain ada di sini?" tanya Aril terkejut.
"Kami sedang makan" jawab Reni.
"Bertiga? Ren kamu jangan jalan - jalan sembarangan tanpa Bimo. Bisa bahaya, kalau ada apa - apa kamu akan langsung dicari Bimo" ujar Aril.
"Aku kan bawa dua sahabatku" balas Reni.
Aril melirik ke arah Bela yang terlihat sangat cemburu. Tetapi Aril berusaha bersikap biasa saja.
.
BERSAMBUNG
Hai guys.. maaf ya kalau novelnya beberapa hari ini telat update karena aku ada kesibukan lain. Mudah - mudahan kalian masih betah membaca novelku.
Terimakasih