
"Itu karena kamu memang benar - benar mencintainya. Kamu pakai perasaan kamu bukan pakai otak kamu untuk menaklukkan Bela" ujar Sintia.
Aril terdiam...
Benar juga kata Sintia, selama ini aku selalu memakai perasaanku bahkan aku sangat takut kehilangan Bela. Tapi akhirnya memang aku kehilangannya. Dia sudah menolak perasaanku padanya. Tidak ada salahnya kalau aku kembali ke titik nol.
"Jadi sekarang aku harus bagaimana dengannya Sin?" tanya Aril.
"Kamu jangan jauhi dia, tawarkan dia pertemanan tapi jangan berlebihan. Anggap Bela itu juga seperti karyawan kamu yang lain. Ingat, jangan tunjukkan perasaan kamu padanya. Anggap dia hanya te... man" pesan Sintia.
"Aku bisa gitu curhat sama dia?" tanya Aril.
"Bisa donk, dia kan sekretaris kamu. Kamu bisa tanya - tanya penilaiannya sekalian kamu test apakah dia cemburu pada kamu atau tidak. Misalnya nih, aku kan udah datang nih ke kantor kamu. Coba pancing dia untuk memberikan penilaian mengenai aku. Kamu perhatikan mimik wajahnya apakah dia marah, cemburu dan tidak suka padaku atau sikapnya biasa saja" jawab Sintia.
"Kalau sikapnya biasa saja?" tanya Aril.
"Berarti kamu belum beruntung. Bela memang belum mencintai kamu. Ya kamu terus berusaha donk mendekatinya dengan cara yang berbeda. Udah ah.. masak kamu gitu aja harus diajarin" balas Sintia.
Bela tampak berulang kali memandang ke arah ruangan Aril dengan wajah khawatir.
Duh.. mereka kok lama banget ya ngobrolnya? Apa sih yang sedang mereka bicarakan? Selain teman kuliah, apa sih hubungan Mas Aril dengan wanita itu? Apa memang benar hanya teman biasa saja? Tapi kelihatannya mereka sangat dekat? Tanya Bela dalam hati sambil bergantian memandang pintu ruangan Bela dengan jam yang ada di tangannya.
Sudah hampir jam dua belas siang, sebentar lain waktunya istirahat makan siang. Apa Mas Aril mau dipesanin makan siang? Tapi dia kok gak ada perintahkan aku untuk memesan menu makan siang? Batin Bela.
Tak lama kemudian Aril dan Sintia keluar bersamaan dari ruangan Aril. Keduanya tampaknya ingin pergi bersama. Aril dan Sintia berjalan dan menghampiri meja kerja Bela.
Dengan sigap Bela langsung berdiri menyambut kedatangan mereka berdua.
"Bel setelah ini apa jadwalku selanjutnya?" tanya Aril.
Bela segera melihat agenda jadwal pertemuan Aril hari ini.
"Sampai sore jadwal Bapak kosong" jawab Bela.
"Kalau begitu saya pergi dulu ya Bel. Yuk Sin" ajak Aril ramah.
"Baik Pak" jawab Bela dengan hormat.
"Bel, aku pamit dulu ya.. Lain waktu aku mampir lagi ke sini. Dah Belaaa..." sapa Sintia ramah.
Bela menunduk hormat.
"Iya Mbak" jawab Bela.
Aril dan Sintia berjalan masuk ke dalam lift kemudian keluar dari kantor untuk makan siang bersama. Bela menatap kepergian Aril hingga pintu lift tertutup.
Mereka pergi, sepertinya mau kencan. Pasti Mas Aril gak balik lagi ke kantor. Bosan banget gak ada kerjaan di sini. Gak bisa ketemu dan lihat wajah Mas Aril. Huft.. Bela meniup jilbab yang menutup keningnya.
Sementara di dalam mobil Aril.
"Kamu gak perhatiin tadi Bela lihatin aku segitunya?" tanya Sintia.
"Nggak" jawab Aril sambil menjalankan mobil.
"Ish kamu, percuma aja aku tadi udah ajarin kami. Perhatiin wajah Bela setiap kamu bersama aku. Apakah dia cemburu, marah, gak suka atau biasa aja?" tanya Sintia.
"Biasa aja" balas Aril.
"Siapa bilang? Aku ini perempuan Ril. Aku ngerti gimana tadi tatapan Bela padaku. Dia memang tidak menunjukkan wajah gak suka padaku. Tapi sebenarnya dia kesal tau.. mau marah, gak tau mau marah pada siapa" ujar Sintia.
Ciiit... Aril menginjak rem mobilnya.
"Benarkah?" tanya Aril terkejut.
"Hahaha... maunya aku foto wajah kamu saat ini. Kamu kelihatan banget begoknya... Aril sang mantan Casanova lupa ingatan gimana sikap wanita yang sedang jatuh cinta. Lucu banget kamu Ril, kok bisa kamu seperti ini sih" tawa Sintia.
Aril tersadar kalau saat ini dirinya memang terlihat sangat bodoh.
"Aku memang sedang bingung Sin" Aril kembali melajukan mobilnya menuju Restoran tempat mereka akan makan siang.
"Eh aku ingat sesuatu. Aku kabari yang lain ya, kita makan siang bareng" ujar Aril.
"Boleh" jawab Sintia.
"Tapi ada Refan. Kamu gak masalah?" tanya Aril.
"Ya nggaklah.. dulu kan cuma kisah lama. Lagian cintaku tak begitu dalam, mungkin bisa dibilang hanya naksir karena sejak awal aku tau Refan tak akan bisa dimiliki karena selalu ada Renita di sampingnya" jawab Sintia.
"Baik, tunggu sebentar ya... " Aril menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Kemudian Aril meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada teman - temannya.
Aril
Guys... ketemu makan siang di Restoran XXX ya, ada seseorang mau ketemu sama kalian semua 😉
Romi
Bagus
Curiga aku?
Refan
Kamu mau kenalkan Bidadari Surga yang baru?
Riko
Secepat itukah? 😯
Bimo
Aku boleh kabari Bela tentang hal ini?
Aril
Kalian belum ketemu orangnya udah nuduh yang macem - macem. Kalian lihat dulu siapa orangnya setelah itu baru komentar. Ngapain juga aku kenalin Bidadari Surga pada kalian terlebih dahulu. Mending aku kenalin sama Papa dan Mamaku dulu biar dapat restu
Bimo
Syukurlah 😞
Riko
Aku kira secepat itu kamu melupakan Bela.
Romi
Aku kira kamu udah kembali ke jalan yang dulu
Bagus
Tenang guys.. Aril tidak akan semudah itu bisa melupakan Bela
Aril
Udah gak usah bacot. Aku tunggu kedatangan kalian semua.
Aril kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku dan menyalakan mobilnya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Restoran yang akan mereka tuju.
Tak lama kemudian Aril dan Sintia sudah tiba di Restoran, mereka memilih meja private agar nanti tidak ribut dan mengganggu pengunjung yang lain.
"Gimana yang lainnya? Apa mereka jadi datang?" tanya Sintia.
"Katanya sih begitu. Aku yakin mereka akan datang, mereka pasti penasaran siapa yang akan mereka temui. Karena tadi aku bilang pada mereka ada yang mau bertemu dengan mereka" jawab Aril.
"Ah kamu Ril, bisa saja" sambut Sintia malu.
Tak lama pelayan datang membawakan daftar menu. Aril dan Sintia memesan makanan yang mereka inginkan. Setelah di catat oleh pelayan, kini mereka kembali menunggu.
Tiba - tiba pintu ruangan private terbuka dan muncullah Bagus, Romi dan Riko.
"Assalamu'alaikum.. " sapa Bagus ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aril dan Sintia.
Sintia terkejut melihat perubahan pergaulan Aril dan teman - temannya. Mereka saling mengucapkan salam. Padahal dulu yang Sintia ingat lima sahabat itu adalah kumpulan pria yang menganut pergaulan bebas. Tapi kini mereka benar - benar telah berubah.
"Tuh benarkan kecurigaan aku, dia datang bersama seorang wanita" komentar Bagus begitu melihat Aril dan Sintia.
"Dasar piktor.. su'udzhon kamu. Coba kalian perhatikan lebih teliti. Siapa wanita ini?" sambut Aril.
Bagus, Romi dan Riko memperhatikan dengan seksama wajah Sintia.
"Aku seperti mengenalnya? Tapi aku lupa siapa namanya" ujar Riko.
Sintia tersenyum manis menatap Riko.
"Aku ingaaat.. Sin.. Tia kan?" tebak Romi.
"Ahaaa.. iya Rom, kamu benar. Ini Sintia.." sambut Bagus.
.
.
BERSAMBUNG