Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Tiga



Pluuuuuk $#&@_#+(


"Aaaaw... sakit Beeel" teriak Aril.


"Mas Ariiil.... " ucap Bela kesal.


Bimo dan Reni tercengang melihat pertengkaran calon pasangan yang ingin segera menikah.


"Kan aku udah bilang sama kamu, iman aku kuat tapi imronnya nggak Bel" ucap Aril serius.


"Hahaha.. rasain makanya dulu jangan jadi buaya Mas. Udah gak sabar ya" goda Reni yang mulai usil.


Aril hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil malu - malu menatap Bimo. Bimo hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah sahabat yang sebentar lagi kan menjadi adik iparnya itu.


"Aku mengerti, aku akan coba bantu nanti bicara pada Bapak dan Ibu" ucap Bimo.


"Alhamdulillah... " sahut Aril lega.


"Eits... tidak bisa... emangnya imron kamu aja yang gak sabar, aku juga sama bro" protes Romi yang tiba - tiba datang bersama Ela.


"Lho kalian datang kok gak ucap salam?" tanya Reni bingung.


"Udah, tapi gak ada yang dengar. Pasti gara - gara imronnya si Aril nih" jawab Romi.


Duh kenapa mereka datang disaat yang tidak tepat sih. Batin Aril.


"Kita bukan keluarga Rom, jadi gak ada ketentuan langkah melangkahi. Pernikahan kalian kan sudah ditetapkan dan disepakati tiga bulan lagi jadi tidak bisa dimajukan waktunya. Nah kalau kami kan masih akan dibicarakan jadi bisa donk disusun rencana sejak awal satu bulan lagi" jawab Aril.


"Maaaas.. katanya kemarin rela kalau mereka yang nikah duluan" potong Ela.


"Naaaah Ela aja dukung kami. Masak kamu mau menjilat ludah sendiri sih. Apa yang sudah di lepeh jangan dijilat lagi bro. Jorok ah" ujar Aril semangat.


Perkataan Ela barusan membuat dia merasa menang karena ternyata Romi dan Ela sudah membahas mengenai pernikahan mereka dan ikhlas kalau harus dilangkahin Aril dan Bela.


"Ya maksud aku gak mau semudah itu juga menyerah pada mereka. Biar Aril berjuang dulu. Kasih pelangkag kek, atau apa lah" ungkap Romi.


"Perjanjian persahabatan kita tidak ada menyusun masalah langkahan pernikahan. Kamu ada - ada aja mau buat peraturan sendiri" protes Aril.


"Emang ada gitu undang - undang persahabatan di antara kalian?" tanya Reni bingung.


"Ada donk, salah satunya dilarang menyukai pacar sahabat. Makanya Riko mati - matian menyembunyikan perasaannya pada Renita dulu karena Renita adalah pacarnya Refan" jawab Aril.


Reni, Bela dan Ela saling pandang.


"Baru kali ini aku tau ada undang - undang persahabatan" ujar Reni.


Bimo tersenyum melihat wajah lucu istrinya dan membelai lembut perut Reni .


"Jadi gimana nih Rom tanggapan kamu?" tanya Bimo.


Romi duduk dan meminum minuman yang ada di hadapan Aril.


"Hei itu minumku" protes Aril.


"Baru minuman aja udah protes, gimana aku yang harus mengalah dilangkahin kamu" ujar Romi kesal.


"Ya sudah nih satu gelas lagi. Anggap ini sebagai pelangkah kami menikah" Aril menyodorkan gelas minuman Bela.


"Murah banget ya pelangkahnya" gumam Reni.


Bimo jadi tertawa melihat tingkah istrinya.


"Sudah sayang kamu jangan pikirin mereka terus. Aku gak mau anak kita jadi mirip mereka. Kamu pandangin aja wajahku biar anak kita sama cakepnya sepet aku" bisik Bimo.


"Eh iya Mas... gak penting juga mereka" sambut Reni.


Romi akhirnya sudah bisa duduk dengan tenang.


"Ya sudah deh aku ngalah. Tapi kalau Bapak dan Ibu Akarsana kasih restu kamu. Kalau nggak, lamaran resmi yang kedua tidak ada hubungannya dengan percepatan pernikahan" Romi menyodorkan tangannya.


Aril langsung menyambut tangan Romi dan mereka saling berjabat tangan.


"Deal.. aku pastikan tidak akan ada yang namanya lamaran resmi ke dua. Kalau untuk lamaran resmi aku pastikan sekali saja pasti akan diterima. Kan Bela ku udah mau aku ajak nikah" sambut Aril.


"Mereka lucu ya Mas kayak anak kecil rebutan mainan" ucap Reni pada Bimo.


Bela dan Ela hanya bisa menggelengkan kepala mereka dan merasa aneh melihat tingkah calon imam mereka.


Esok harinya di kantor Aril.


"Jam berapa Bapak dan Ibu datang Bel?" tanya Aril.


"Jam tiga udah sampai Jakarta Mas" jawab Bela.


"Ya sudah kalau begitu kamu ikut aku aja meeting diluar. Nanti kan selesainya jam dua. Dari sana kita langsung ke Bandara jemput Bapak dan Ibu" ujar Aril.


"Katanya Mas Bimo dan Bela yang mau jemput" sambung Bela.


"Udaaah kamu tinggal kirim pesan aja sama Reni. Bilang kalau kita aja yang jemput Bapak dan Ibu" perintah Aril.


"Jadi kita gak balik ke kantor lagi Mas?" tanya Bela.


"Ngapain, ada yang lebih penting lagi nih untuk masa depan kita" jawab Aril.


"Ya sudah kalau begitu aku siapkan dulu bahan meeting yang akan dibawa nanti, sekalian aku juga mau kirim pesan sama Reni" balas Bela.


"Okey... " ujar Aril.


Semua bahan meeting dengan cepat sudah dipersiapkan Bela. Bela sudah sangat cekatan bekerja sebagai sekretaris Aril. Mungkin karena hati mereka sudah saling terpaut jadi dengan mudahnya Bela sudah mengerti apa yang Aril suka atau pun tidak. Termasuk dalam dunia kerja.


Mereka pergi untuk menghadiri meeting dengan client di luar kantor. Acara berlangsung selama dua jam kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Tepat jam dua sing mereka sudah selesai.


Aril dan Bela bergegas berangkat menuju Bandara untuk menjemput Bapak dan Ibu Akarsana. Untung lokasi meeting Aril dan Bela tak jauh dari Bandara.


Mereka tidak terjebak macetnya Ibukota dan bisa sampai Bandara tepat waktu. Sekitar jam setengah empat Bapak dan Ibu Akarsana keluar dari ruangan kedatangan dalam negeri.


Dari kejauhan mereka sudah melihat Aril dan Bela menunggu mereka. Sebelumnya Bela sudah mengabari orang tuanya kalau dia dan Aril nantinya yang akan menjemput mereka.


"Sudah lama menunggu?" tanya Pak Akarsana.


"Tidak Pak, kami juga baru sampai kok" jawab Aril sambil mencium tangan kedua orang yang sangat penting dalam kelancaran masa depannya nanti bersama Bela.


Aril mengambil alih koper kedua orang tua Bela.


"Udah Nak Aril biar Bapak aja yang bawa" cegah Pak Akarsana.


"Tidak apa Pak, biar saya aja yang bawa" tegas Aril.


Mereka berjalan menuju parkiran mobil lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah.


"Kita mau kemana dulu Pak? Mau langsung ke rumah Refan dan bertemu Salman atau ke rumah Bimo dulu?" tanya Aril.


"Langsung ke rumah Refan aja ya. Ibu ada bawa sesuatu untuk Salman. Takutnya kalau besok - besok lagi sudah tidak enak lagi rasanya" jawab Pak Akarsana.


"Oh baiklah. Toh jarak rumah mereka juga tidak jauh kok" sambut Aril.


Akhirnya mereka tiba di rumah Refan. Tentu saja Salman sudah menunggu kedatangan mereka.


"Eyaaaang.. " teriak Salman.


"Sayang eyang.. udah nunggu ya dari tadi?" tanya Bu Akarsana.


"Iya, eyang lama banget datangnya" protes Salman.


Bu Akarsana memeluk dan mencium cucu pertamanya itu.


"Jakarta - Surabaya itu jauh sayang.. gak bisa donk eyang sampai dengan cepat" ujar Kinan.


"Bisa.. pakai pintu doraemon" jawab Salman.


Semua tertawa mendengar jawaban Salman.


"Om Aril kok ikutan bareng eyang... katanya mau lamar Tante Bela ya?" tanya Salman.


Sontak Bapak dan Ibu Akarsana terkejut mendengar ucapan Salman.


Waduuuh.. gawat nih anak. Aku belum bilang - bilang dia udah bocorin duluan. Nih pasti didikan Tantenya nih, si setan kecil. Ucap Aril dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG