Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Delapanpuluh Enam



"Apa? bisa kamu ulangi Kla. Suara kamu tidak jelas, terputus - putus" ucap Romi.


"Sorry Rom, aku dan suami sedang dalam perjalanan. Kami sedang dikejar - kejar oleh orang suruhan Papa" sambut Klara.


"Kamu hati - hati jalannya sama suami kamu. Jangan sampai kalian kenapa - kenapa" pesan Romi.


"Iya Rom, tolong bantu kami Rom. Aku butuh bantuan kamu sekali lagi" pinta Klara.


"Oke share lock posisi kamu sekarang. Aku akan mengabari keluargaku di sana untuk menyelamatkan kamu" ujar Romi.


"Baik Rom, akan aku kirim lokasi kami saat ini pada kamu" jawab Klara.


Tak lama kemudian Romi mendapat pesan dari Klara berisikan posisi Klara saat ini.


"Bim bisa minta tolong keluarga kamu untuk menyelamatkan Klara dan suaminya? Mereka sedang dikejar oleh suruhan Papa Klara" pinta Romi pada Bimo.


"Oke Rom bisa.. kirimkan padaku nomor Klara dan dimana posisi mereka saat ini" sambut Bimo.


Romi segera mengirimkan apa yang Bimo pinta. Setelah itu Bimo segera menghubungi kedua orang tuanya dan meminta bantuan keluarga besarnya untuk menyelamatkan Klara.


Romi juga menghubungi calon mertuanya.


"Assalamu'alaikum Pak" ucap Romi.


"Wa'alikumsalam.. Nak Romi bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Budi khawatir.


"Alhamdulillah aku baik Pak. Bapak dan Ibu bagaiamana keadaannya?" tanya Romi.


"Alhamdulillah kami juga baik. Nak Romi tadi pagi Ela sudah mengabari kami tentang permasalahan yang sedang kamu hadapi. Saya sudah mengenal kamu jauh sebelum kamu melamar Ela. Saya percaya kepada kamu Nak Romi dan saya yakin kamu tidak akan berbuat seperti itu" ujar Pak Budi.


"Terimakasih Pak atas kepercayaan Bapak dan Ibu" ujar Romi tulus.


"Iya Nak, sebentar lagi kan kita akan menjadi keluarga. Sudah sepantasnya kita harus saling percaya dan dukungan jangan malah terpecah belah. Yakinlah ini hanya cobaan untuk kalian sebelum kalian menikah" sambung Pak Budi.


"Pak saya boleh minta tolong" ucap Romi.


"Boleh.. Kamu mau minta tolong apa?" tanya Pak Budi.


"Wanita yang ada dalam berita hoax itu namanya Klara. Saat ini dia sedang dalam pelarian bersama suaminya dari kejaran Papanya yang ingin memisahkan mereka. Tolong bantu mereka Pak dan tolong beri mereka perlindungan yang aman sementara waktu sampai saya bisa menyelesaikan masalah ini" pinta Romi.


"Bisa Nak, Bapak akan segera membantu mereka. Bisa kamu kirimkan dimana alamat mereka sekarang dan juga nomor ponselnya? Agar Bapak bisa menghubungi mereka dan bertanya dimana mereka berada?" pinta Pak Budi.


"Baik Pak saya akan mengirimkannya sekarang. Terimakasih Pak" jawab Romi.


Romi kembali mengirimkan lokasi Klara saat ini. Semakin banyak yang membantu Klara maka keselamatan Klara dan suaminya semakin terjaga.


Jika Klara dan suaminya selamat maka hubungannya dengan Ela juga akan selamat. Pernikahan mereka tidak akan terganggu dan terancam batal.


Romi mondar mandir di ruangan pengacarnya menunggu kabar dari Klara. Tiba - tiba ponsel Romi berdering. Dia melihat nama calon mertuanya tertera di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum Pak" jawab Romi dengan cepat.


"Wa'alikumsalam Nak Romi. Nak Romi kami tidak bisa mengamankan Klara. Saat Bapak dan Pak Akarsana tiba di lokasi yang kamu informasikan Klara sudah berhasil dibawa oleh orang suruhan Papanya. Hanya ada Suaminya Klara dengan kondisi babak belur. Sepertinya dia berkelahi dengan para perampok itu saat mempertahankan Klara tapi dia kalah menjaga anak dan istrinya" Lapor Pak Budi.


"Brengse* .... " umpat Romi kesal. Dia bahkan memukul sofa yang berada di sampingnya.


"Ada apa Rom?" tanya Refan penasaran.


"Klara berhasil dibawa oleh orang suruhan Papanya. Di tempat kejadian hanya ada suaminya Klara" jawab Bimo yang juga baru mendapat kabar dari keluarganya.


Romi menarik rambutnya karena kesal.


"Pasti Klara dibawa ke Jakarta, sial... " umpat Romi marah.


"Sebaiknya kita pulang Rom" ajak Refan.


"Benar, sembari para Bapak pengacara menyelidiki kasus ini kita juga fikirkan jalan keluar lainnya" sambut Bimo.


"Baiklah kalau begitu aku ikut kamu aja Bim balik ke rumah. Aku ingin bertemu Cishela dan menceritakan semua kejadian ini. Dia harus tau apa yang terjadi, aku tidak mau ada lagi yang ditutup - tutupi agar besok kalau muncul berita baru Ela tidak akan terkejut lagi" pinta Romi.


"Ya sudah ke rumahku saja" sambut Bimo.


Refan pulang ke rumahnya sedangkan Bimo dan Romi kembali ke rumah Bimo. Waktu susah menunjukkan pukul setengah lima sore.


Romi dan Bimo sedang dalam perjalanan pulang. Begitu juga dengan Ela yang pulang diantar oleh supir kantor.


Kira - kira lewat kawasan perumahan rumah Refan, Romi dan Bimo melihat seorang wanita sedang berkelahi dengan dua orang pria berbadan tegap. Semakin dekat mereka semakin mengenali siapa wanita itu.


"Bim.. itu Cishela Bim.. Buruan cepat Bim" perintah Romi yang duduk dikursi samping supir.


Bimo langsung mendekatkan mobilnya tepat di belakang mobil kantor Ela. Mereka berdua keluar dari mobil dan membantu Ela melawan dua pria tegap tersebut.


"El biar kami saja yang hadapi mereka, kamu masuk ke mobil" perintah Bimo.


"Aku gak bisa beladiri Bim" potong Romi.


"Udah Mas aku tidak apa - apa. Aku masih sanggup" jawab Ela.


Sebenarnya dia sedikit kewalahan melawan dua pria asing itu karena sekarang dia memang tidak pernah latihan beladiri lagi. Tapi karena hanya Bimo yang bisa beladiri sedangkan Romi tidak, Ela tetap bertahan dan melawan.


Romi mundur dan segera menghampiri supir yang sudah babak belur tergeletak di aspal.


"Ayo Pak saya bantu berdiri" ucap Romi.


Romi mengantarkan supir ke dalam mobil dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi polisi.


"Halo kantor polisi? Saya mau melaporkan ada penyerangan terhadap seorang wanita oleh dua orang pria yang tidak dikenal di sekitar jalan XXX Pak. Tolong bantuannya segera Pak" ucap Romi.


Suara Romi terdengar oleh dua orang penyerang.


"Sial, sebentar lagi polisi datang. Ayo cabut" ucap seorang pria penyerang kepada temannya.


Mereka segera mundur dan masuk ke dalam mobil lalu pergi begitu saja meninggalkan Ela, Romi dan Bimo.


Romi segera menghampiri Ela dan memeriksa keadaan Ela.


"Kamu tidak apa - apa Shel? Apakah ada yang cidera?" tanya Romi khawatir.


"Tidak Mas, aku baik - baik saja" jawab Ela.


"Apa kamu mengenal dua pria tadi El?" selidik Bimo.


"Tidak Mas, aku tidak mengenal mereka. Tiba - tiba saja mobil mereka menghadang mobil kami dan memaksa Pak supir keluar. Kemudian mereka memukuli Pak Supir. Melihat itu aku langsung keluar dan menghajar mereka untuk menyelamatkan Pak Supir" ungkap Ela.


Romi mengepal tangannya geram..


"Ini pasti ada hubungannya dengan kasus aku. Brengsek.. Pak Rahardian sudah bertindak jauh, dia ingin mencelakakan Shela. Aku tidak akan tinggal diam" umpat Romi marah.


.


.


BERSAMBUNG