Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enampuluh Satu



Seminggu berlalu setelah kematian Hana. Kini Dini rutin setiap hari mengantar Rihana ke rumah mertuanya. Dini tampak sigap dengan aktivitas barunya yang benar - benar seorang ibu rumah tangga.


Memasak, mengurus suami dan anak dan juga bekerja. Seminggu ini memang benar - benar melelahkan untuknya karena masih proses adaptasi. Tapi dia jalani dengan hati riang karena dia sangat bahagia dengan kehadiran Rihana dalam rumah tangganya.


Begitu juga dengan Riko. Sekarang dia selalu pulang kerja tepat waktu. Riko meminimalisir lembur di kantor. Dia sangat senang karena di rumah sekarang ada mainan baru.


Mereka berdua tidak kepikiran lagi untuk mempunyai momongan sendiri karena mereka sudah merasa lengkap sekarang.


Di kamar Riko kini harus benar - benar ada tempat tidur kecil. Maklum mereka baru kali ini punya anak dan anaknya langsung besar berumur hampir dua tahun.


Tentu mereka bingung ingin melakukan aktivitas quality time mereka malam hari. Riko sudah pusing karena sudah seminggu tidak bisa main kuda - kudaan sama Dini.


Mereka takut Rihana terbangun. Sedangkan saat lain rasanya semakin tidak mungkin karena Rihana selalu nempel dengan Dini.


Kamar sebelah sudah dijadikan Riko sebagai ruang kerjanya. Akhirnya sesuai dengan keputusan bersama, Rihana akan tidur sendiri di tempat tidur yang terpisah.


"Sayang kamu suka gak kalau Tante belikan tempat tidur princess untuk kamu?" tanya Dini.


"Uka Ante" jawab Rihana.


"Tapi kamu boboknya harus di tempat tidur kamu ya?" tanya Riko.


Rihana mulai berpikir.


"Napa gitu? aku dak boyeh tiduy ama Om dan Ante?" tanya Rihana.


"Kamu sudah besar sayang tempat tidur Om dan Tante gak muat untuk bertiga" jawab Riko.


"Om aja yang bobok cendiyi" ucap Rihana.


Dini dan Riko saling lirik, bingung bagaimana membujuk agar Rihana mau tidur sendiri.


"Gak apa - apa, kita cari dulu tempat tidurnya yuk, nanti kamu pilih yang mana yang kamu suka" bujuk Dini.


"Oce.. " sambut Rihana senang.


Mereka segera bergegas pergi ke toko menjual furnitur. Sesampainya di sana Riko meminta ke pelayan toko untuk memperlihatkan tempat tidur khusus untuk anak - anak.


"Ayo kamu mau yang mana?" tanya Riko.


"Aku mau Elsaaaa" teriak Rihana sambil menunjuk ke arah tempat tidur anak berwarna biru muda.


"Itu? Kamu suka?" tanya Riko.


"Iya uka" jawab Rihana polos.


"Mmmm... beli gak ya?" tanya Dini pura - pura.


"Ada saratnya Tante.. Kalau Rihana mau tempat tidur itu, dia harus tidur di situ setiap malam" jawab Riko.


Rihana terdiam.


"Gimana?" tanya Dini.


Rihana menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Oooom ada bantal frozennya juga gak ya?" tanya Dini pada penjaga toko.


"Ada, ada boneka oliv nya juga lho" jawab pria itu.


"Boleh lihat gak Mas?" tanya Riko.


Karyawan toko langsung pergi ke belakang dan tak lama kemudian membawa bantal dan boneka yang sepaket dengan tempat tidurnya.


"Waaah cantik banget" ucap Dini pura - pura terkejut.


"Iya cantik ya.. Om aja deh nanti yang bobok di sini" sambut Riko.


"Janaaaan.. dak boleh. Itu tempat tiduy Linana" bantah Rihana.


Riko dan Dini tersenyum tipis saling lirik.


"Jadi kamu yang bobok di sini nanti malam?" tanya Riko.


"Iya" jawab Rihana sambil menganggukkan kepalanya.


"Bener? Gak boleh bobok di tempat tidur Om dan Tante lagi ya? Kalau tidak Om nanti yang akan tidur di sini?" ancam Riko.


"Iya" jawab Rihana pelan.


"Ya sudah Mas kami jadi beli tempat tidur ini ya" pinta Riko.


Mereka langsung membayar tempat tidur untuk Rihana dan memberikan alamat apartemen Riko agar pemilik toko mengantar sampai di tempat.


Mereka berjalan berdua sambil mendorong troli yang diatasnya ada Rihana sedang duduk. Berjalan menyisiri lorong supermarket mencari bahan makanan yang akan mereka beli.


Dini membeli beberapa botol kirant* untuk persediaannya saat datang bulan.


"Kamu lagi datang bulan?" tanya Riko.


"Belum Mas" jawab Dini.


"Lho sudah lebih sebulan lho yank?" tanya Riko.


Riko ingat sejak honeymoon mereka Dini belum pernah datang bulan.


"Siklus haid ku kan emang gak teratur Mas. Bisa sampai dua bulan" jawab Dini.


Oh iya aku lupa, duh apa Dini sedih ya kalau tadi aku tanya begitu? Nanti dia kira aku berharap dia hamil? Aku kan sudah janji untuk ikhlas dengan apa yang terjadi dengan dia. Batin Riko.


"Maaf aku lupa yank. Ya sudah beli aja beberapa untuk stok di rumah" ujar Riko.


Mereka melanjutkan belanja setelah lengkap baru mereka pulang ke apartemen. Saat Dini dan Rihana sedang sibuk menyusun semua belanjaan di dapur tiba - tiba tempat tidur Rihana sudah sampai.


Dengan semangatnya Rihana langsung berlari menyambutnya. Riko dan Dini mengatur posisi tempat tidur Rihana agar muat diletak di kamar.


"Nanti malam kita main kuda - kudaan ya" bisik Riko ke telinga Dini.


Dini hanya membalasnya dengan senyuman. Dia kasihan melihat suaminya sudah puasa selama seminggu lebih.


Malam harinya Rihana akhirnya memenuhi janjinya pada Riko dan Dini. Sambil memeluk bonek oliv dan tidur diatas bantal frozen. Akhirnya dia langsung terlelap.


"Anak baik budi dan dewasa. Tidak banyak drama langsung tau diri" ucap Riko.


"Mas iiiih.. " sambut Dini.


"Lho aku kan muji dia yank? Yuk kita mulai aksi kita. Aku udah kangen banget sama kamu" balas Riko dengan senyuman nakal.


Akhirnya malam itu Riko dan Dini berhasil main kuda - kudaan bebas tanpa hambatan.


Keesokan harinya seperti biasa Dini memasak sarapan untuk mereka bersama. Sesekali Dini tampak meringis. Perut bagian bawahnya seperti kram. Tapi masih bisa dia tahan.


Tanda - tanda datang bulan sepertinya akan datang. Setelah sarapan pagi bersama Dini mengambil stok Kirant*nya dan memasukkannya ke tas.


"Kenapa yank?" tanya Riko.


"Sepertinya aku akan datang bulan Mas. Perutku sudah mulai kram" jawab Dini.


"Yaaah baru tadi malam bisa main kuda - kudaan harus puasa lagi yank" ucap Riko kecewa.


Dini hanya tersenyum simpul melihat wajah kecewa suaminya. Mereka berpisah di basement. Rihana dan Dini masuk ke mobil Dini sedangkan Riko masuk ke mobilnya.


Seperti biasa Dini singgah terlebih dahulu ke rumah mertuanya untuk menitipkan Rihana. Kepalanya terasa pusing tubuhnya berkeringat dingin tapi Dini mencoba menahannya.


Setibanya di rumah mertuanya Dini langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Wajahnya tampak pucat.


"Kamu kenapa Din?" tanya Mama Riko.


"Kepalaku pusing Ma dan mual" jawab Dini setelah keluar dari kamar mandi.


"Kalau begitu jangan ke kantor. Wajah kamu juga pucat" cegah Mama Riko.


"Gak apa - apa Ma, udah lega setelah muntah. Aku cuma masuk angin aja ini. Dikantor lagi banyak kerjaan Ma, kasihan Ela sendiri dia lagi hamil muda" ucap Dini.


"Kalau tidak diantar supir ya ke kantor. Jangan menyetir dalam keadaan seperti itu? Kamu minum obat gih" perintah Mama Riko.


"Udah Ma, aku udah bawa obat kok tadi. Sepertinya aku juga akan datang bulan makanya badanku gak enak begini. Aku udah bawa Kirant* dan obat penghilang rasa sakit" jawab Dini.


"Ya sudah tunggu di depan aja, biar kamu diantar supir" balas Mama Riko.


Rihana, Dini dan Mama Riko berdiri di teras depan rumah ingin mengantar kepergian Dini. Tiba - tiba Dini merasa sangat pusing.


Pluuuk.... Dini jatuh ke lantai. Rihana dan Mama Riko terkejut melihatnya.


"Anteeeeee" teriak Rihana.


"Dini.... Papa toloooong Dini pingsan Paaa.. " teriak Mama Riko.


.


.


BERSAMBUNG