Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Enam



Aril mulai sibuk mempersiapkan semua kelengkapan pernikahannya. Waktu yang diberikan oleh calon mertuanya adalah satu minggu, jika semua tidak siap dia harus menunggu selama dua bulan.


Tentu saja Aril tidak mau hal itu terjadi. Untung saja setiap dia keluar negeri Aril selalu membeli sesuatu untuk Bela yang dia simpan rapi di apartementnya.


Perasaan memang tidak bisa dibohongi.. Walau dulu dia sempat patah hati karena penolakan Bela yang pertama tapi Aril tetap tidak bisa menahan keinginannya untuk membelikan sesuatu buat Bela yang dia anggap bagus dan lucu.


Cincin pernikahan sudah dia beli di Singapore saat dia ada meeting di sana. Tas, jam tangan, sepatu, bahkan gaun untuk Bela juga sudah dia beli tanpa sengaja.


Akhirnya semua itu sangat berguna untuk membantu Aril disaat - saat seperti ini. Allah sepertinya memang sudah menggerakkan hati Aril lebih dulu, sehingga saat seperti ini Aril tidak terlalu sibuk akan hal itu.


Aril hanya perlu benar - benar mengurus surat nikah selama satu minggu. Walau dia harus membayar mahal dan pergi langsung ke KUA setempat untuk mengurus pernikahannya, dia tidak perduli. Yang penting dia bisa menikah minggu depan.


"Bel aku pergi dulu ya urus surat nikah kita" ucap Aril saat menghampiri meja kerja Bela sebelum dia pergi.


"Lho tumben Mas pergi sendiri, biasanya Mas kasih tugas ke Dedi?" tanya Bela.


"Untuk pernikahan kita aku ingin mengurusnya sendiri. Bukan aku tidak percaya pada Dedi tapi aku ingin memastikan surat nikah kita akan selesai dalam waktu seminggu. Lagian aku juga ingin berjuang demi menikah dengan kamu" ungkap Aril serius.


Ouuww... Mas Aril so sweet banget. Batin Bela.


"Oke Mas tapi jangan lupa ya nanti sore kita mau ke Butik buat cari gaun nikah sekalian pesan gaun untuk resepsi" sambut Bela.


"Iya aku akan kembali ke kantor sebelum jam kerja selesai. Aku jemput kamu dan kita pergi mencari gaun pernikahan kita ya" jawab Aril.


Bela tersenyum lembut kepada Aril.


"Ya sudah aku pamit ya.. Do'ain semoga semuanya lancar. Assalamu'alaikum.. " ujar Aril.


"Aamiin.. Wa'alaikumsalam" jawab Bela.


Aril segera berlalu dari hadapan Bela. Dia mengendari sendiri mobilnya dan langsung menuju KUA untuk mengurus surat nikahnya.


Sore harinya sekitar jam empat sore, Aril sudah kembali ke kantor.


"Bel sudah siap?" tanya Aril.


"Lho Mas gak mau istirahat dulu, kan baru sampai?" tanya Bela.


"Tidak biar semuanya cepat beres" jawab Aril.


"Ya sudah kita pergi sekarang" ajak Bela.


Mereka pergi bersama menuju Butik langganan keluarga Aril. Aril dan Bela menyampaikan keinginan mereka untuk mencari gaun pernikahan.


Setelah mendengar semua keinginan Aril dan Bela akhirnya pemilik Butik memilihkan gaun yang tepat untuk Aril dan Bela pakai nanti di hari pernikahan mereka.


Gaun resepsi juga sudah dirancang, Aril dan Bela sudah mengukur badan mereka.


"Alhamdulillah dua hal penting dalam pernikahan kita sudah selesai" ucap Aril lega.


"Kita tidak mencari cincin nikah Mas?" tanya Bela.


"Aku sudah memilikinya. Saat di Singapore aku melihat ada cincin yang bagus untuk kamu jadi aku membelinya" jawab Aril.


"Mas kok gak pernah cerita padaku?" tanya Bela penasaran.


"Waktu itu kamu kan sudah menolak lamaranku dan kamu belum mencintaiku. Mana mungkin aku cerita kalau aku sudah membeli cincin nikah. Bisa - bisa kamu takut lagi aku akan memaksa kamu untuk menikah denganku" jawab Aril.


"Kamu kenapa sedih? Kamu mau milih cincin nikah sendiri? Kalau kamu tidak suka kita bisa cari sekarang" ucap Aril merasa bersalah.


"Tidak Mas, aku hanya terharu dalam hati. Ternyata sampai segitunya perjuangan kamu untuk menikah denganku" potong Bela dengan mata berkaca - kaca.


"Aku benar - benar mencintai kamu Bel, aku tidak pernah menginginkan wanita lain. Sehingga jika aku melihat barang - barang wanita yang cantik dan lucu - lucu aku langsung teringat kamu. Aku harap kamu jangan pernah meragukan cintaku ya baik sekarang atau dimasa yang akan datang. Biarlah keburukan aku yang masa lalu hanya menjadi masa lalu. Aku benar - benar sudah berubah dan ingin hidup yang lebih baik lagi kedepannya. Tolong bantu aku dan ingatkan aku kelak jika aku lupa niat aku saat ini dan temani aku untuk menjadi imam yang baik buat kamu dan anak - anak kita nanti" ungkap Aril serius.


Air mata haru Bela mulai menetes.


"Maaaas.... " panggil Bela.


"Kalau kata - kata aku yang selama ini sedikit vulgar, aku harap kamu bisa memaklumi nya ya karena terkadang tanpa sadar semua itu keluar begitu saja. Bukan aku bangga terhadap predikat masa laluku sang mantan Casanova. Tapi bertahun - tahun menjalani kehidy seperti itu jujur masih tertinggal sedikit lagi jiwa - jiwa playboy dalam diriku. Tapi aku lakukan hanya untuk kamu Bel, tidak kepada wanita lain" sambung Aril.


"Aku mengerti Mas... aku mengerti karena itu adalah kamu. Semua yang ada di dalam diri Mas Aril InsyaAllah aku sudah siap menerimanya. Tapi janji ya hanya untuk aku. Kalau tidak aku tidak main - main pada Mas" ancam Bela.


"Emangnya kamu akan melakukan apa Bel jika aku melanggarnya?" tanya Aril penasaran.


"Aku akan sunat Mas sekali lagi sampai kandas hingga tak bersisa untuk yang lain. Jika aku bukan menjadi yang utama bagimu tidak akan ada lagi yang kedua" tegas Bela.


"Waduuuh... sadis kamu Bel. Ternyata calon istriku galak ya" goda Aril.


"Iya donk, aku tidak main - main akan hal itu" ancam Bela.


"Aku juga tidak main - main mencintai kamu. Semua akan aku lakukan untuk kamu" janji Aril.


Aril menghentikan mobil di parkiran sebuah Cafe yang sedang ramai. Sepertinya tempat ini favorit para anak muda, terlihat banyak sekali pasangan muda - mudi.


Bela dan Aril mengambil tempat duduk yang mereka inginkan. Sambil menunggu pesanan mereka datang Bela memandang sekeliling Cafe yang begitu ramai.


"Mas" panggil Bela.


"Heeem... " sahut Aril.


"Jika diantara tamu yang ada di sini salah satu dari masa lalu kamu dan meminta pertanggungjawaban kamu gimana?" tanya Bela.


Entah mengapa tiba - tiba Bela memikirkan hal itu. Mengingat masa lalu Aril yang dulunya memang suka dengan pergaulan bebas.


"Kenapa kamu bertanya itu Bel?" tanya Aril bingung.


"Ya bisa saja kan Mas. Semua itu bisa saja terjadi, soalnya Mas kan emang suka ganti pacar dulu dan hidup bebas. Siapa tau ada yang kelepasan?" tanya Bela.


"Ya kalau ternyata memang dia membawa anakku yang bisa dipastikan secara medis. Aku akan bertanggung jawab dan menikahinya" jawab Aril.


"Terus kita bagimana?" tanya Bela terkejut.


Bela seperti menggali kuburannya sendiri. Baru dia menyesal sudah bertanya begitu kepada Aril.


"Rencana pernikahan kita batal. Kan kita belum menikah dan belum ada ikatan apapun" jawab Aril.


"Maaaaas" seketika wajah Bela berubah sendu.


.


.


BERSAMBUNG