Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Tiga



"Pa.. Paaak Romi... i.. ini semua.. kami tidak pantas untuk menerima ini... " ucap Pak Budi.


"Tidak apa - apa Pak, Bu. Ini hadiah dari saya. Kalian sudah menerima saya dengan baik selama beberapa hari di kota ini. Sudah sepantasnya saya membalas budi baik kalian. Diterima ya karena saya tidak suka penolakan" Romi memberikan nada penekanan di akhir ucapannya.


Pak apa yang kamu lakukan pada keluarga saya.. Kamu sudah sangat baik Pak dengan Bapak Ibu. Akh.. kamu memang orang baik Pak, lelaki baik. Semoga Allah membalas semua kebaikan kamu Pak. Semoga apa yang kamu inginkan dapat terkabul. Aku tidak bisa terus membentengi hatiku seperti ini. Kalau pun saat ini aku sudah mencintaimu, biarlah aku mencintaimu dalam diam karena kau memang tak mungkin untuk aku raih. Batin Ela.


Dia sangat terharu atas apa yang dilakukan Romi kepada keluarganya. Dibawa ke Restoran mewah seperti ini saja rasanya keluarganya sudah sangat senang sekali. Karena mereka memang belum pernah masuk ke Restoran ini.


Ditambah lagi dengan mendapatkan hadiah dari Romi. Ela bisa memastikan kalau Bapak dan Ibunya pasti senang sekali saat ini.


Pak Budi dan Bu Budi melirik Ela dengan senyuman Ela menganggukkan wajahnya. Pak Budi dan istrinya juga saling lirik sesaat untuk memastikan keputusan mereka untuk menerima hadiah dari Bos anak mereka.


"Baiklah Pak Romi kami menerima hadiah ini. Terimakasih banyak Pak, semoga Allah membalas kebaikan Bapak dengan ribuan kebaikan lagi" ujar Pak Budi.


"Aamiin.. Aamiin Pak. Terimakasih atas doanya. Doa kalian memang sangat saya harapkan sekali. Doakan saya ya agar bisa mengejar gadis yang saya cintai dan saya bisa menikahinya" pinta Romi.


"Iya Pak, kami akan mendoakan Bapak semoga secepatnya menikah dengan gadis impiannya" sambut Bu Budi.


Kemudian Romi mengeluarkan bungkusan yang sudah dia bawa dari Jakarta dan memberikannya kepada Ela.


"Dan terakhir ini untuk kamu Cishela" ucap Romi.


"Pak apa artinya ini?" tanya Ela terkejut.


"Kamu sudah bekerja dengan baik selama di sini. Perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dari kerjasama yang kita jalin dengan perusahaan Mr. Stephen semua berkat hitungan - hitungan kamu. Kamu sudah giat bekerja jadi anggap ini adalah bonus untuk kamu" jawab Romi.


Ela membuka bungkusan itu, alangkah terkejutnya dia melihat handphone yang kemarin dia lihat di Jakarta. Handphone yang sejenis dengan punya Reni dan Bela.


Mata Ela langsung berkaca - kaca sangkin terharunya. Dia terus menatap Romi.


Benteng ini sudah roboh Pak. Aku tidak bisa mempertahankannya lagi di hatiku. Bapak sudah masuk terlalu jauh di dalam hatiku. Kalau akhirnya memang aku akan terluka semoga Allah bisa menyembuhkan lukaku karena telah mencintai Bapak.


"Pak... " ucap Ela terbata - bata.


"Jangan katakan kamu mau menolaknya. Ingat saya tidak suka.. " jawab Romi.


"Tidak Pak. Saya tidak akan menolaknya" Ela tersenyum sambil menatap Romi.


"Terimakasih banyak ya Pak. Semoga Bapak bahagia dengan gadis yang sedang Bapak perjuangankan itu" ucap Ela.


Sebenarnya hatinya sangat sakit mendoakan Romi bahagia dengan gadis lain disaat bersamaan dia juga baru mengakui perasaannya sendiri kalau dia mencintai Romi.


Tapi Ela tak mungkin menangis di hadapan Romi dan kedua orang tuanya. Pasti mereka akan bertanya mengapa dia malah menangis bukannya bahagia karena sudah dikasih hadiah.


Romi membalas senyuman Ela dengan senyuman menawan yang paling indah Ela lihat selama ini. Membuat nyeri hati Ela semakin terasa menyusuk.


"Aamiin.. terimakasih atas doa kalian semua" balas Romi.


Akhirnya waktu untuk memberikan hadiah berakhir sudah. Romi dan keluarga Ela kembali ke rumah mereka. Malam itu malam terakhir mereka di Surabaya. Karena besok mereka akan balik ke Jakarta jadi Romi dan Ela langsung istirahat di kamar mereka masing-masing.


Pagi harinya setelah sarapan pagi yang disiapkan oleh Bu Budi Ela dan Romi berpamitan kepada Bapak dan Ibu Budi.


Ela memeluk tubuh kedua orang tuanya secara bergantian dengan penuh haru.


"Pak, Bu aku balik ke Jakarta ya. Bapak dan Ibu baik - baik di sini" ujar Ela.


"Iya Nduk.. kamu juga baik - baik disana ya. Tinggal di rumah orang harus pinter bawa diri" pesan Bu Budi.


"Iya Bu" jawab Ela.


"Kamu juga kerja yang giat, lihat Pak Romi sudah sangat baik padamu" pesan Pak Budi.


"Iya Pak" jawab Ela.


"Saya pamit ya Pak, Bu.. Kalau nanti main ke Jakarta jangan lupa ajak Ela untuk ketemu saya. Nanti Bapak dan Ibu saya ajak jalan - jalan keliling Jakarta" ujar Romi.


"Iya Pak Romi. Terimakasih" jawab Bapak dan Ibu Budi.


Romi dan Ela masuk ke dalam mobil dan Pak Budi langsung mengantar mereka ke Bandara. Sesuai rencana tepat jam sepuluh pagi pesawat mereka terbang menuju Jakarta.


Di dalam pesawat Ela semakin sungkan duduk disamping Romi karena perasaannya yang terasa sakit mencintai tapi hanya bisa dalam diam.


Sementara Romi sendiri sangat senang bisa sedekat ini lagi dengan Ela. Romi merasa beberapa hari perjuangannya di Surabaya sangat membuat kemajuan. Dia yakin kalau seandainya dia utarakan perasaannya dan Ela menerima. Dia tidak akan mendapatkan halangan seperti sahabatnya Riko.


Karena Romi sangat yakin Bapak dan Ibu Budi sangat baik dan sudah mengenalnya dirinya juga dengan baik. Mereka pasti akan menerimanya sebagai menantu mereka.


Kini hanya tinggal memenangkan hati Ela. Dan kalau Romi sudah yakin, dia akan segera melamar Ela secepatnya.


"Cishela.. " panggil Romi.


"Ya Pak" jawab Ela.


"Kamu sudah pernah jatuh cinta?" tanya Romi.


Seeer... jantung Ela berdetak kencang.


"Mmmm... cinta yang bagaimana Pak?" tanya Ela bingung. Ya.. dia bingung harus bagaimana menjawabnya. Gak mungkin dia akan menjawab, sudah Pak dan pria itu adalah Bapak.


"Cinta ya cinta.. kamu ingin menikah membangun masa depan bersamanya" tanya Romi.


Ela terdiam mencoba menyusun kata - kata yang akan dia rangkai untuk menjawab pertanyaan Romi.


"Pernah Pak tapi pria itu mencintai wanita lain" jawab Ela akhirnya.


Romi menatap kemanik mata Ela ada kesedihan disana.


"Trus kamu masih sering bertemu dengan pria itu?" tanya Romi.


"Sering hampir setiap hari" jawab Ela.


"Boleh aku tebak?" tanya Romi.


Jantung Ela berdetak semakin kencang. Ela menganggukkan kepalanya.


"Kamu menyukai Bimo?" tanya Romi.


"Mas Bimo? Oh bukan Pak, bukan dia. Mas Bimo sudah aku anggap sebagai Kakakku sendiri" jawab Ela.


"Ya soalnya kan dia yang kamu temui setiap hari" ujar Romi.


Ela kembali terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Trus karena pria itu menyukai wanita lain kamu menyerah dan melepaskannya begitu saja?" tanya Romi kembali.


"Prinsipku sebagai seorang wanita Pak, lebih baik dicintai dari pada mencintai. Hati pria dan wanita berbeda. Kalau pria kebanyakan akan tetap mengejar wanita yang dia cintai dan meninggalkan wanita yang tidak dia cintai, walau wanita yang dia cintai itu sudah mencintai orang lain. Karena cinta seorang wanita itu tergantung dari perjuangan si pria. Kalau pria itu terlihat benar-benar mencintai dan terus mengejar cintanya maka lama kelamaan hati wanita akan luluh. Dia juga akan mencintai sang pria yang mengejarnya" jawab Ela.


"Ooo begitu ya.. terimakasih penjelasannya Cishela. Kamu membuat aku yakin untuk mengejar cintaku. Karena wanita yang aku cintai juga ternyata sudah mencintai pria lain. Aku akan mengikuti saran kamu. Aku akan terus mengejar cinta wanita itu dan memperjuangkannya. Aku yakin nanti dia akan mencintaiku" ungkap Romi dengan penuh keyakinan.


.


.


BERSAMBUNG