
Mery dan Ela menunggu di luar ruangan Manajer sampai CEO keluar dari ruangan tersebut. Saat Romi keluar dan melintas di hadapannya lagi - lagi Ela bertanya - tanya di dalam hati siapa pria itu.
Mengapa wajahnya seperti tidak asing dan pernah ia lihat tapi dimana dan kapan Ela tidak ingat sama sekali. Padahal Ela tipe orang yang memiliki ingatan yang kuat. Ela jadi semakin gelisah dan penasaran apalagi pria tersebut bekerja di tempat yang sama dengannya.
Apakah pria itu CEO atau asistennya? Tanya Ela dalam hati.
"Yuk El kita masuk ke ruangan Bu Monic" ajak Mery.
"Eh iya Mer" sambut Ela.
Mery dan Ela berjalan menuju ruangan Manajer Keuangan.
Tok.. tok..
"Ya masuk" perintah dari dalam.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang hampir sama luasnya dengan ruangan Pak Agus di lantai sepuluh.
"Ya Mer, silahkan duduk" perintah Monic.
"Terimakasih Bu, saya datang ke sini mengantarkan karyawan baru di departemen Ibu" ucap Mery hormat.
"Iya, tadi Pak Agus pesan kepada saya. Kamu diberi masa percobaan selama sebulan ya.. Kalau kerja kamu bagus baru kami akan ajukan promosi kamu sebagai karyawan tetap" sambut Manajer Keuangan dengan ramah.
Hati Ela merasa lega karena Manajer Keuangannya ternyata tidak galak. Bayangan Ela tadi sudah entah kemana.
Terimakasih ya Allah, KAU beri aku kelancaran dalam mencari rezeki di kota ini. Bapak Ibu doakan aku terus ya.. Doa Ela dalam hati.
"Baik Bu" jawab Ela sambil menunduk hormat.
"Kalau begitu hari ini kamu sudah mulai bisa bekerja temui Susy kamu akan bekerja satu tim dengan Susy. Nanti Susy akan mengajarkan kamu tentang pekerjaan kamu. Ingat setiap minggu kita akan mengadakan laporan tim. Satu bukan sekali laporan departemen dan satu tahun sekali laporan dengan pimpinan. Dan laporan tahunan akan diselenggarakan dua bulan lagi. Jadi kamu harus siap beberapa bulan ini kita akan bekerja ekstra sibuk mempersiapkan semuanya" perintah Bu Monic.
"Baik Bu, saya mengerti" sambut Ela.
"Mery terimakasih sudah mengantarkan Ela ke sini, kamu sudah bisa kembali ke ruangan kamu" perintah Bu Monic.
"Baik Bu, kalau begitu saya pamit" Mery langsung berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Manajer Keuangan.
Bu Monic menekan interkom di ruangannya.
"Susy tolong ke ruangan saya sebentar" perintah Bu Monic.
"Baik Bu" jawab suara balasan.
Tak lama masuk seorang wanita cantik dan masih muda ke dalam ruangan Manajer Keuangan. Wanita itu mempunyai gaya pakaian yang tak berbeda dengan Ela. Dia memakai penutup kepalanya yang disebut dengan jilbab.
"Ya Bu" ucap Susy.
"Sy, ini ada teman baru kamu Ela. Mulai hari ini dia akan bekerja satu tim dengan kamu. Jadi tolong kamu ajari dia cara kerjanya ya" perintah Susy.
"Baik Bu" sambut Susy.
"Silakan Ela, kamu sudah bisa ikut bekerja dengan Susy" ujar Bu Monic.
"Baik Bu, terimakasih" jawab Ela sigap.
Ela berjalan mengikuti Susy ke ruangan kerja mereka. Meja Ela bersebelahan dengan Susy.
"Hai kenalkan aku Susy, mulai hari ini kita akan menjadi rekan kerja dan ini adalah meja kerja kamu" ucap Susy sambil mengulurkan tangan.
"Aku Cishela panggil saja Ela" sambut Ela.
Ela dan Susy saling berjabat tangan. Setelah itu Ela duduk di depan meja kerjanya. Susy mulai menjelaskan cara kerja dan apa saja pekerjaan Ela di kantor.
******
Ela keluar dari pintu utama kantornya dan beberapa karyawan juga hendak pulang ke rumah merek masing - masing. Kembali Ela melihat pria yang tadi lagi keluar dari ruangan Manajer Keuangan.
Satpam membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan pria itu masuk. Ela terdiam sesaat, otaknya capek berpikir mengingat dimana dia pernah melihat pria itu.
Apakah pria itu punya jabatan yang bagus di perusahaan ini? Sehingga satpam dengan hormatnya membukakan pintu mobilnya. Kalau dia asisten CEO apakah sampai diperlakukan seperti itu juga oleh satpam. Ah sudahlah ngapain aku ngurusin pria itu, lebih baik aku segera pulang sebelum hari gelap. Batin Ela.
Ela menuju pintu keluar kantornya dan menuju halte Bus. Ela berdiri sambil menunggu Bus yang dia tunggu datang. Di depannya jalanan macet karena ini adalah jam pulang kerja.
Mobil Romi baru saja melintasi halte Bus paling dekat dari perusahaannya. Tanpa sengaja dia melihat seorang wanita berjilbab berdiri sambil memegang tasnya.
Semakin diperhatikan Romi jadi teringat seseorang.
Ya.. benar.. dia mirip sekali dengan Cici. Tapi Cicikan gak pakai jilbab dan gayanya tomboy. Apa wanita itu saudaranya Cici? Tanya Romi dalam hati.
Saat Romi hendak menepikan mobilnya tiba - tiba saja gadis itu naik ke dalam bus.
Sial... aku kehilangan jejak lagi. Mengapa aku begitu yakin wanita itu punya hubungan dengan gadis yang aku cari - cari sejak beberapa tahun ini? Aku masih ingat jelas wajahnya, persis mirip sekali dengan wajah gadis itu. Umpat Romi kesal sambil memukul stir mobilnya.
Romi akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor Aril karena minggu ini jadwal pengajian rutin geng mereka di kantor Aril.
Mobil Romi sudah sampai di basement kantor Aril. Romi melihat mobil Riko dan Bimo sudah sampai disana lebih dulu. Romi langsung berjalan masuk menuju ruangan Aril.
"Assalamu'alaikum.. " ucap Aril.
"Wa'alaikumsalam... " jawab yang lain.
"Weish.. panjang umur, baru aja disebut namanya" sambut Aril.
"Apaan?" tanya Romi penasaran.
"Gimana karyawan barunya?" tanya Riko.
"Karyawan baru mana?" tanya Romi bingung.
"Lho temannya Bela dari Surabaya yang hari ini mulai bekerja di perusahaan kamu?" tanya Aril.
"Iya, tadi pagi aku lho yang antar Ela ke kantor kamu" sambut Bimo.
"Ela, teman Bela, karyawan baru di perusahaanku?" tanya Romi semakin bingung.
"Ya ampun Rom secepat itu kamu pikunnya? Bukannya kemarin kamu yang bilang sama Refan agar menyuruh temannya Bela adiknya Bimo datang ke perusahaan kamu untuk menemui bagian HRD?" tanya Riko mengingatkan.
"Oh ya ampun aku lupa.. Padahal tadi pagi aku ke ruangan Manajer Keuangan tapi kok bisa lupa ya. Aku belum bertemu gadis itu dan aku belum kenal wajah dan namanya" jawab Romi cuek.
"Iya juga sih, bagi Romi karyawan biasa seperti itu gak benting banget" sambut Riko.
"Ya bukan gitu tapi ngapain coba aku cari - cari dia. Bisa - bisa dia besar kepala merasa di kantor punya kenalan sehingga dia bisa bekerja sesukanya. Aku tidak suka karyawan seperti itu" jawab Romi.
Aril tersenyum penuh arti.
"Kamu pasti akan terkejut ketika mengetahui siapa gadis itu. Gak boleh gitu Rom. Kalau mau nolong orang itu ya harus ikhlas. Kan gak ada salahnya kamu menyapanya, kamu kan pemilik perusahaan itu jadi wajar kalau kamu ingin mengetahui seluruh data bawahan kamu" sambut Aril.
"Ah nanti aja Ril masih banyak waktu, lagian anak itu masih aku kasih masa percobaan. Kalau dia pintar dan bagus bekerja baru dilanjutkan diangkat jadi karyawan" ujar Romi
"Kamu pasti suka melihatnya selain dia pintar dia juga punya nilai plus untuk berkenalan dengan kamu" sambut Aril.
.
.
BERSAMBUNG