Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Delapanpuluh Empat



Malam harinya Romi sudah sampai di rumah Bimo. Dia ingin bertemu dengan Ela dan menjelaskan langsung kejadian tadi siang tentang berita gosip tak beralasan itu yang tiba - tiba saja menyerang kehidupannya yang berakibat pada terganggunya rencana pernikahannya dengan gadis pujaan hatinya.


"Assalamu'alaikum" ucap Romi ketika masuk ke rumah Bimo.


"Wa'alaikumsalam.. " jawab Bimo.


"Eh Rom ketepatan kamu datang. Kami baru aja mau makan. Yuk ikutan aja bareng kami" ajak Bimo.


Bimo dan Romi langsung berjalan menuju meja makan. Dimana Ela dan Reni sedang menyiapkan semua dibantu oleh asisten rumah tangga.


"Lho Mas Romi datang, kok gak kabari aku?" tanya Ela terkejut.


"Sudah tapi kamu gak angkat telepon aku" jawab Romi.


"Eh maaf Mas ponsel aku ketinggalan di kamar" balas Ela.


"Ayo Mas Romi makan bareng kami" ajak Reni.


Mereka duduk di depan meja makan dan mulai menikmati hidangan makan malam yang tersedia.


"Gimana perkembangan berita kamu?" tanya Bimo.


"Aku sudah menghubungi pengacaraku untuk melaporkan dan mengusut siapa yang menyebarkan berita tidak benar itu" jawab Romi.


"Kamu tidak mencurigai seseorang Mas?" tanya Reni.


"Untuk saat ini aku belum ada bayangan. Kalau client aku di Surabaya, semua baik - baik dan hubungan kami juga baik, tidak ada yang mencurigakan" jawab Romi.


"Bisa aja relasi kamu di Jakarta Mas" sambut Reni.


Ela hanya diam dan berusaha menikmati hidangan malam ini walau sebenarnya dia sangat tidak selera makan dengan permasalahan yang sedang mereka hadapi.


"Bisa saja, tapi siapa? Sampai mengikuti aku ke Surabaya?" tanya Romi.


"Orang tua Klara mungkin? Dia sekalian mengikuti dimana keberadaan putri dan cucunya" potong Ela.


Romi menatap wajah Ela. Dia sangat terkejut dengan jawaban Ela. Tapi apa yang Ela katakan bisa saja benar. Mengapa dia tidak memikirkannya sampai kesitu.


Apa benar memang Pak Rahardi yang membuat berita itu? Tapi apa tujuannya? tanya Romi dalam hati.


"A.. aku belum memikirkannya sampai ke situ, lagian apa coba tujuan Pak Rahardi membuat berita itu. Kan mencoreng nama baiknya juga" jawab Romi.


"Itu kan pemikiran kamu Mas. Pak Rahardinya Beda. Dia ingin publik berpikiran kamu memang benar - benar mempunyai hubungan dengan Klara bahkan sampai kalian mempunyai anak. Apalagi masa lalu kamu sangat mendukung itu semua Mas" ungkap El.


"Cishela apakah kamu cemburu? Aku tidak ada hubungan dengan Klara dan dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa laluku" ujar Romi.


"Alasan Ela itu benar Mas Rom. Kami juga berpikiran sama. Apalagi Ela cerita kalau pernikahan Klara dengan suaminya tidak disetujui. Bisa jadi Pak Rahardian berharap kamu lah yang akan menjadi menantunya" sambut Reni.


Deg.. Romi tersadar mendengar penjelasan Ela dan Reni.


Bodoh.. bodoh banget sih aku. Umpat Romi dalam hati.


"Aku akan mencari tau secepatnya siapa penyebar berita itu, dan aku akan menyelidiki tentang Pak Rahardi juga. Apakah dia ada hubungan dengan berita ini" ucap Romi.


"Aku rasa kamu memang perlu menyelidiknya Rom. Karena mungkin saja memang seperti adanya. Papanya Klara tidak ingin publik tau bahwa dia mempunyai menantu yang hanya orang biasa saja. Oleh sebab itu dia lebih dulu bergerak menyebar berita bahwa putrinya menjalin hubungan dengan pengusaha muda yaitu kamu" sambut Bimo.


"Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti Bim" ucap Romi.


"Kita tidak menuduh hanya mencurigai. Tidak ada salahnya kan diselidiki" jawab Bimo.


"Kalau kamu butuh pengacara lagi, kamu bisa menghubungi pengacaraku dan Refan yang dulu berhasil memenangkan tuntutan kami atas kematian Bima" ucap Bimo memberikan tawaran.


"Iya Bim, terimakasih atas bantuan kamu" balas Romi.


Setelah selesai makan malam Bimo dan Reni pamit kepada Romi dan Ela. Mereka langsung ke kamar karena Reni sudah ingin segera istirahat mengingat dia semakin gampang letih seiring dengan bertambahnya usia kehamilannya.


Kini hanya tinggal Romi dan Ela duduk di ruang keluarga Bimo.


"Cishela apakah kamu sudah menghubungi orang tua kamu?" tanya Romi.


"Belum Mas, aku belum ada waktu menghubungi mereka. Tadi dikantor aku sangat sibuk. Sampai rumah juga sudah hampir senja. Kalau aku hubungi sekarang mereka pasti sudah istirahat disana" jawab Ela.


"Ya sudah kalau begitu besok aja El saat kamu ada waktu luang. Tapi please.. jangan kelamaan juga sampaikan kepada mereka. Takutnya mereka udah memikirkan yang macam - macam" ucap Romi.


"Iya Mas" jawab Ela.


"Shela.. kamu percaya padaku kan?" tanya Romi sambil menatap kedalam mata Ela.


Romi bisa merasakan kesedihan dari mata Ela. Romi sangat merasa bersalah kepada Ela karena sudah membuat Ela bersedih dan menghadapi ini semua.


"Aku percaya Mas tapi aku hanya takut kamu benar - benar dijebak. Kalau kami tidak bisa membela diri bagaimana Mas? Trus ka.. kamu dipaksa... " ucap Ela.


"Tidak mungkin El.. Klara punya suami" potong Romi.


"Ya kalau suaminya ditekan, kita tidak bisa memastikan semuanya sebelum jelas Mas. Bisa saja kan Mas mereka dipaksa bercerai agar bisa menikah dengan kamu" ucap Ela.


"Shela... kamu jangan kejauhan mikirnya sampai kesitu. Itu semakin mengarah pada tuduhan tanpa alasan Shelaaaa" sambut Romi.


"Aku hanya mengkhawatirkan kamu Mas" jawab Ela dengan wajah sedih.


"Iya aku tau kamu sangat mengkhawatirkan aku. Tapi aku bisa Bela diri. Aku yakin Klara dan suaminya saling mencintai dan mereka tidak akan bisa dipisahkan dengan cara apapun. Aku juga yakin mereka akan mau bekerja sama dengan aku. Besok aku akan segera menghubungi mereka" tegas Romi.


"Hati - hati Mas, dalam masalah ini bukan hidup kamu saja yang dipertaruhkan tapi juga hubungan kita. Ini bukan masalah mudah" ujar Ela mengingatkan Romi.


"Iya Shela aku akan lebih berhati - hati. Kalau begitu aku pulang ya. Kita berdua sama - sama butuh istirahat agar bisa berpikir jernih esok hari. Yakinlah Shel... aku sangat mencintai kamu, aku akan berjuang untuk pernikahan kita nanti" tegas Romi.


"Semoga saja semua bisa secepatnya selesai Mas" sambut Ela.


"Aku pulang ya.. Jaga diri kamu baik - baik. Kamu juga harus hati - hati. Aku takut orang yang membuat berita itu sudah mengetahui rencana pernikahan kita. Aku sangat tau kamu menjadi sasarannya karena kamu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku" ungkap Romi.


"Kamu tidak perlu khawatir Mas. Aku bisa jaga diri, aku kan bisa beladiri" jawab Ela.


"Walau kamu bisa jaga diri tapi aku sangat takut kamu kenapa - kenapa Shela" ujar Romi.


"Iya Mas... aku akan lebih jaga diri" potong Ela.


"Baiklah.. aku pulang ya Shel.. jaga diri kamu. Assalamu'alaikum" pamit Romi.


"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Ela.


Romi pergi dari rumah Bimo dan kembali ke apartemennya.


.


.


BERSAMBUNG