Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enampuluh Empat



Begitu keluar dari ruang praktek dokter, Riko dan Dini pamitan dengan teman - temannya.


"Gimana Din?" tanya Bela penasaran.


"Alhamdulillah semuanya baik" jawab Dini sambil tersenyum bahagia.


"Sekali lagi selamat ya Din" ucap Ela.


"Duh gimana ini perusahaan kalian? CEO dan wakilnya sedang hamil?" tanya Bela.


"Kan masih ada sekretaris pribadi kami yang bisa bantuin" jawab.


"Iya, yang penting kalian jangan terlalu capek. Jaga kesehatan, makan dan pikiran juga" pesan Riko.


"Betul itu dan jangan sering lembur. Sebisa mungkin kurangi meeting di luar" sambut Romi.


"Iya Maaaas" jawab Ela.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya" ujar Riko.


"Lho cepat banget? Pulang bareng aja yuk.. biar sekalian mampir dimana gitu sambil makan. Kan di sini bukan mereka aja yang hamil. Kita juga ikutan ngidam" sambut Romi.


"Betuuuuuul" sambut Aril.


"Aku dak mau peygi ama Om itu" potong Rihana.


"Siapa juga yang mau ajak kamu" ledek Aril.


"Maaaas.. digangguin teruuuus.. aku ngerasa Mas jadi seumuran Rihana deh" protes Bela.


"Sorry guys kami rencananya mau singgah ke rumah orang tua Dini dulu. Mau kasih tau kabar gembira ini. Mereka belum tau kalau Dini hamil" ucap Riko.


"Oooh baiklah kalau begitu" ucap Romi.


"Kita mau ke yumah Opa Pa? Ketemu Kakak Yoga donk?" tanya Rihana.


"Eh Linana tadi kamu ngatain om genit, kamu juga genit. Masih anak kecil udah cari - cari Yoga. Genit kamu" ujar Aril.


"Biayin weeeek" ejek Rihana.


"Udah yuk Mas kita pergi, nanti kemalaman" ajak Dini.


"Dah semua" sambut Riko.


Riko, Dini dan Rihana meninggalkan para sahabat mereka dan langsung menuju rumah keluarga Dini.


"Assalamu'alaikum" ucap Dini masuk ke rumah orang tuanya sambil menggandeng Rihana.


"Wa'alaikumsalam sayang, kok datang gak kasih kabar. Dari mana? sepertinya kalian baru pulang dari suatu tempat?" tanya Mama Dini.


Dini mencium dan memeluk Mamanya kemudian bergantian dengan Papanya. Rihana juga mengikutinya.


"Kami baru pulang dari Dokter Ma" jawab Dini.


"Siapa yang sakit? Rihana?" tanya Mama Dini.


"Butan Oma.. Mama yang satit. Kata Doktey Mama mau punya adek" jawab Rihana cepat.


"Maksdunya? Siapa Mamanya Rihana dan adeknya?" tanya Mama Dini bingung.


"Rihana sudah resmi jadi anak kami Ma sekarang. Dia sudah sah secara negara kami adopsi. Jadi sekarang dia memanggil aku dan Mas Riko dengan sebutan Mama dan Papa" jawab Dini.


"Trus adeknya?" tanya Papa Dini.


"Ya Allah.. kamu hamil Din?" tanya Mama Dini terkejut.


Dini tersenyum penuh bahagia.


"Iya Ma, Alhamdulillah aku hamil" jawab Dini.


"Alhamdulillah ya Allah.. Selamat sayang kamu sebentar lagi akan jadi orang tua" sambut Mama Dini.


"Emang udah jadi orang tua Ma, kan Rihana sudah jadi anak kami" potong Riko.


Riko yang baru masuk ikut mencium tangan kedua mertuanya.


"Selamat ya, Papa senang mendengar berita ini. Jadi hari ini kami langsung dapat dua cucu?" sambut Papa Dini.


"Yah begitulah Pa. Rihana dan calon anak kami" jawab Riko.


"Bagaimana keadaan kamu sayang? Apa kamu baik - baik saja selama hamil?" tanya Mama Dini.


"Ya Allah kok bisa pingsan?" tanya Mama Dini sedih.


"Aku pusing Ma dan mual. Aku gak diizinkan ke kantor. Malam ini juga kami gak boleh pulang sama Mama. Di suruh nginap di sana" ungkap Dini.


"Iya benar itu, kamu jangan capek - capek sayang. Di awal kehamilan itu sangat rentan" pesan Mama Dini khawatir.


"Iya Ma" sambut Dini.


"Kamu ingin sesuatu? Biar Mama buatin?" tanya Mama Dini


"Mmmm.. gak ada Ma" sahut Dini.


"Kalau ingin sesuatu bilang sama Mama ya, biar Mama buatin" tegas Mama Dini.


Rihana melirik ke sekeliling rumah mencari sesuatu. Membuat mata Riko terusik.


"Kamu cari siapa sayang?" tanya Riko.


"Kak Yoga Pa" jawab Rihana.


"Oh Kak Yoga sudah pulang ke rumahnya. Nanti kalau hari libur kamu ajak Papa dan Mama kamu datang ke sini lagi ya. Biar ketemu sama Kak Yoga" jawab Papa Dini.


"Baik Opa" jawab Rihana mengerti.


Setelah berbincang - bincang hampir satu jam. Dini melirik mata Rihana sudah mulai mengantuk akhirnya Dini mengajak Riko pulang.


"Mas pulang yuk, Rihana sudah ngantuk" ajak Dini.


"Iya, yuk kita pulang. Pa.. Ma.. kami pamit pulang ya. Nanti lain kali kami datang lagi" ucap Riko pada kedua mertuanya.


"Iya hati - hati ya.. Jaga istri kamu, jangan sampai terjadi sesuatu dengannya dan calon bayi kalian" sambut Papa Dini.


"Baik Pa" jawab Riko.


Riko, Dini dan Rihana kembali ke rumah orang tua Dini.


"Sudah diperiksa tadi? Gimana hasilnya?" tanya Mama Riko tak sabar.


"Alhamdulillah Dini memang positif hamil dan kondisinya dan calon anak kami sehat" jawab Riko.


"Maaf Ma, aku bawa Rihana ke kamar dulu ya.. Dia udah ngantuk" Dini pamit.


"Iya sayang tapi setelah itu kamu balik lagi ya.. ada yang mau Papa dan Mama sampaikan" sambut Mama Riko.


"Iya Ma" sahut Dini.


Dini pergi ke kamar bersama Rihana. Setelah bersih - bersih dan ganti pakaian. Rihana minum susu dan tidur. Setelah itu Dini kembali menemui mertua dan suaminya di ruang keluarga.


"Sini sayang" panggil Riko.


Dini duduk tepat disamping Riko dan berhadapan dengan kedua mertuanya.


"Tadi Papa dan Mama sudah berdiskusi. Mengingat kamu sedang hamil muda, rasanya berat kalau harus mengurus Rihana sendiri. Antar dan jemput Rihana kemari. Jadi kami berpikir bagaimana kalau kalian tinggal di rumah ini saja. Biar kita sama - sama urus Rihana. Kamu gak perlu capek - capek lagi kan kesana kemari?" tanya Mama Riko.


Dini dan Riko saling pandang.


"Papa juga berpikiran seperti itu juga. Disamping itu kami juga sudah tua, terlalu sepi rumah sebesar ini kalau hanya penghuninya kami saja dan para asisten rumah tangga. Dengan adanya kalian, Rihana, kami merasa rumah ini ramai kembali. Ada tawa dan teriakan anak kecil. Dini juga sedang hamil muda. Lebih baik tinggal di sini dari pada di apartemen harus bulak balik naik lift" sambut Papa Riko.


"Sebenarnya aku sudah berencana untuk mencari rumah Pa" sambut Riko.


"Ngapain kamu cari rumah? Hanya kamu anak kami. Kalau kami tiada rumah ini secara otomatis jadi rumah kamu. Tak perlu tunggu kami mati kan baru kalian tinggal di sini?" tanya Papa Riko.


Dini melirik suaminya.


"Aku terserah Mas Riko aja Pa, Ma.. Aku akan ikut kemana suami pergi" sahut Dini.


"Nah Ko, Dini sudah setuju. Jawaban Dini tadi itu artinya dia tidak masalah kalau tinggal di sini" ujar Mama Riko.


Riko menatap wajah istrinya.


"Kamu sudah terlalu lama hidup berpisah dengan kami. Sudah waktunya kamu kembali ke rumah ini Nak. Rumah ini sangat besar, kamu tinggal renovasi sesuai keinginan kamu, kamar untuk kamu dan anak - anak kalian nanti" ujar Papa Riko.


"Baiklah Pa, kami akan tinggal di sini" jawab Riko.


.


.


BERSAMBUNG