
Aril tersenyum ketika misinya untuk mengganggu malam pertama Reni dan Bimo berhasil. Dengan tanpa merasa bersalah Aril bergabung bersama teman - temannya.
Tiba - tiba Jeta keluar dari kamar Reni dan Bimo dengan wajah cemberut.
"Kamu kenapa Jet?" tanya Aril.
"Aku gak dibolehin Tante dan Uncle tidur di kamar mereka. Katanya gak ada wangi durian di sana. Tapi kalau aku bisa menemukan wangi durian baru aku dibolehin masuk lagi" jawab Jeta.
"Kamu sih, kenapa gak minta bawain Papa dan Mama kamu makanan yang ada wangi duriannya? Biasanya kan Mama kamu selalu bawa oleh - oleh Dodol rasa durian dan puncake durian" sambut Aril.
"Puncake durian? Om Aril benar... " Jeta langsung berlari menuju kamar Mamanya.
"Mama... Mama" teriak Jeta.
"Apa yang sedang kamu rencanakan Ril?" tanya Romi.
"Tenang saja, aku sedang menjalankan misi untuk gangguin duren belah duren" jawab Aril.
"Maksudnya?" tanya Romi penasaran.
"Bimo, duda keren malam ini mau belah duren.. enak banget godainnya. Pasti dia udah panas dingin karena kesal di gangguin Jeta" jawab Aril dengan wajah nakalnya.
"Dasar kamu" umpat Romi.
Tak lama kemudian Jeta keluar dari kamar dengan membawa satu kotak makanan.
"Apa tuh Jet?" tanya Refan.
"Puncake duren Om. Mama lupa kalau kemarin bawa puncake" jawab Jeta.
"Waaah makanan enak gini kok bisa dilupakan" sambut Refan.
Mereka segera membuka kotak tersebut dan membagi - bagikan isinya kepada semuanya.
"Waaaah enak sekali" ujar Bela.
"Iya enak ya" sambut Ela.
Aril kembali menghampiri Jeta dan berbisik di telinga Jeta.
"Jet udah ada nih duriannya. Kamu bawa aja beberapa bungkus kecil dan kasih ke Uncle Bimo sana. Pasti kamu boleh tidur sama Tante Reni malam ini" usul Aril.
"Om Aril pinter banget. Aku mau bawa ini ah ke kamar Tante Reni" sambut Jeta.
Jeta pergi ke kamar Reni dengan membawa beberapa bungkus kecil puncake durian.
Tok.. tok.. tok..
Aril dan Romi tersenyum nakal ketika melihat Jeta mulai mengganggu pengantin baru. Tak lama kemudian Jelita keluar dari kamarnya dengan wajah kesalnya.
"Hei Rombeng lihat Jeta gak?" tanya Jelita.
"Sepertinya tadi ke kamar Reni mau kasih puncake katanya" jawab Romi.
Jelita langsung berjalan menuju kamar pengantin.
"Gila kamu bro" ujar Romi.
"Ssst... tunggu sebentar" sambut Aril.
Tak lama kemudian Jelita keluar dari kamar pengantin bersama Jeta.
"Jeta... kenapa kamu gangguin Tante dan Uncle?" tanya Jelita.
"Aku ingin tidur di kamar Tante Reni Ma" jawab Jeta.
"Gak boleh sayang.. Kamu gak boleh gangguin mereka. Sekarang Tante Reni sudah menikah dan tidurnya harus bareng sama Uncle Bimo. Kamu tidak bisa lagi tidur bareng Tante dan Uncle" ujar Jelita menjelaskan.
"Tapi Uncle jahat Mama.. Kata Om Aril Om Bimo mau belah duren tapi aku gak diajak" jawab Jeta.
"Ya ampun Naaaak... jadi yang racuni pikiran kamu Om Aril" Jelita langsung melirik ke arah Aril.
Aril mengangkat kedua bahunya memberi isyarat kalau dia tidak tau apa - apa.
"Airin.. apa yang kamu katakan pada putraku?" tanya Jelita..
"Aku gak ada bilang apapun Jelatong" jawab Aril.
"Bohong.. Om Aril suruh aku bawa puncake ke kamar Tante Reni dan Uncle Bimo biar aku boleh tidur di kamar Tante Reni" Jeta membela diri
"Tuh dengar apa yang dibilang anakku. Anak kecil belum bisa bohong Airiiiin... " protes Jelita.
"Niat aku kan baik Mbak Jelita.. Aku ingin mereka kebagian puncake duren makanya aku suruh Jeta yang antar ke kamar mereka. Sudah itu saja kok" jawab Aril.
"Dasar kamu, awas nanti saat kamu nikah aku akan rencanakan balasan untuk kamu" ancam Jelita.
"Emangnya Mbak Jelita diundang saat aku nikah" balas Aril cuek.
"Ih sadis amat do'anya" protes Aril.
"Sudah Jeta kamu masuk ke kamar Oma bareng Salman. Tidur ya jangan main - main lagi sama Salman di kamar" perintah Jelita.
"Emang Mamanya mau kemana?" jebak Aril.
"Honeymoon" jawab Jelita cuek. Dia langsung menggiring Jeta sampai ke kamar Mamanya setelah itu baru dia berjalan menuju kamarnya.
Tak lama kemudian para jomblo masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk beristirahat dan tidur.
Keesokan harinya mereka semua sudah kumpul di meja makan menunggu waktu sarapan pagi tiba.
"Lho mana Reni dan Bimo?" tanya Bu Suci.
"Masih tidur Tante, kecapekan baru belah duren" jawab Aril.
"Tuh kaaan Oma... Tante Reni sama Uncle Bimo beneran makan durian" sambut Jeta.
"Ariiiill.. " tegur Bu Suci.
Aril hanya senyum nakal.
"Mama aja deh yang panggil mereka. Pasti mereka akan segera keluar" usul Refan kepada Mamanya.
Bu Suci bergerak dari kursinya dan berjalan menuju kamar pengantin baru. Tak lama kemudian Bu Suci kembali ke meja makan.
"Udah bangun Ma?" tanya Jelita.
"Bimo udah tapi Reni belum, masih tidur katanya. Dasar tuh anak" umpat Bu Suci.
"Jelas bro habis dibantai" bisik Aril pada Romi yang duduk disampingnya.
"Kamu Ril karena belum ngerasain bagaimana rasanya menikah makanya iri. Makanya kamu cepetan nikah" sindir Bagus.
Tak lama sepasang pengantin baru keluar dari kamar mereka. Mereka berjalan menuju ruang makan dan bertemu dengan seluruh keluarga.
"Cieee... yang udah belah dureeen" sindir Aril.
"Om Aril bohong... dikamar Uncle gak ada durian" protes Jeta yang merasa dibohongi Aril.
"Airin.. hati - hati kalau ngomong di depan anak kecil. Anakku jadi korban omongan kamu tuh tadi malam" ujar Jelita.
"Korban gimana Mbak?" tanya Aril penasaran.
"Jeta itu sangat suka durian, gara - gara kamu bilang mereka mau belah duren, Jeta berpikiran kalau di kamar mereka ada durian. Tadi malam Jeta bulak balik keluar kamar mereka karena penasaran pengen makan durian" jawab Jelita.
"Hahahaha..... gagal donk belah durennya" tawa Aril pecah.
Sedangkan Romi, Riko dan yang lainnya senyum - senyum mendengarkan penjelasan Jelita.
"Oh tentu tidak.. nanti saat kamu menikah kamu pasti akan merasakannya. Bagaimana malam yang panjang akan menjadi semakin panjang. Tiga puluh menit saja bisa jadi panjang kalau sudah jadi pengantin baru" ungkap Jelita.
"Mbaaaaak.... " protes Reni malu.
"Tenang sayang.. Mbak ada di pihak kamu. Si Airin ini kan iri karena dia belum menikah. Biar aja dia panas mendengar nya" bela Jelita.
"Ah Mbak bisa aja" balas Aril.
"Makanya buruan nikah dan bawa kami juga ya bulan madu rame - rame seperti ini" ujar Jelita.
"Sudah.. sudah.. jangan bertengkar di depan makanan. Ayo kita makan, keburu dingin" potong Bu Suci.
Mereka semua mulai menikmati hidangan sarapan pagi bersama. Setelah selesai sarapan pagi para anak muda dan pasangan muda akan bersiap ingin melakukan diving dibawah laut. Sedangkan anak - anak di titip kepada para orangtua.
Ada 8 pasang plus satu pasangan sejenis ikut turun ke laut. Mereka dipimpin oleh instruktur untuk diving dengan benar. Masing - masing sudah memakai pakaian diving mereka dan bersiap untuk berenang.
"Sudah siap?" tanya instruktur.
"Siaap" jawab mereka kompak.
Refan dan kawan - kawan akhirnya melakukan wisata bawah laut. Dengan menggunakan alat menyelam yang lengkap mereka perlahan - lahan turun ke dasar laut untuk melihat keindahan di dalamnya.
Refan, Bimo dan yang lainnya sengaja membawa kamera yang bisa untuk merekam keindahan bawah laut. Sambil saling berpegangan mereka berenang di bawah laut.
Mereka juga tak lupa untuk mengambil foto - foto mesra setiap pasangan. Tentu saja Aril, Riko dan Romi tidak melewatkan kesempatan ini untuk bisa berfoto dengan pujaan hati mereka.
Romi memberikan intruksi kepada instruktur diving mereka. Tiba - tiba dua orang instruktur membuka sebuah spanduk di bawah laut. Didalam spanduk tersebut terlihat tulisan.
"Will you marry me Cishela Budianto"
.
.
BERSAMBUNG