
Keesokan harinya setelah selesai dimandikan dan di shalatkan, jenazah Hana langsung dibawa ke tempat pemakaman terdekat.
Rihana yang tidak mengerti apa - apa terus menangis karena Mamanya tidak kunjung bangun.
"Ma.. banun Ma.. janan tiduy teyus" ucap Rihana.
Dini hanya bisa memeluk Rihana dan memberinya penjelasan agar dia mengerti.
"Mama tidak akan bisa bangun sayang" sahut Dini.
"Kenapa Ante?" tanya Rihana.
"Karena Mama akan pergi" jawab Dini.
"Peygi kenana?" tanya Rihana.
"Mama akan pergi ke surga" jawab Dini.
"Suyga itu apa?" tanya Rihana ingin tau.
"Tempat orang - orang baik tidur panjang" jawab Dini.
"Jauh? aku boyeh itut gak?" tanya Rihana.
"Jauh dan Rihana belum bisa ikut karena Rihana harus besar dulu" jawab Dini semakin sulit menjelaskan karena pertanyaan Rihana semakin banyak dari rasa ingin taunya yang cukup besar.
"Oo di suyga dak ada anak - anak?" tanya Rihana.
"Ada tapi karena waktu mereka sudah tepat. Kalau untuk kita belum tiba waktunya" ungkap Dini.
"Kalau Mama peygi aku tinday ama capa?" tanya Rihana.
"Kamu tinggal sama Om dan Tante ya, mau?" tanya Dini balik.
Dengan gemasnya Rihana menganggukkan kepalanya.
"Mau Tante" jawab Rihana.
Saat jenazah hendak di tutup dan dimasukkan ke dalam keranda, Rihana kembali menangis.
"Mama mau diapain Ante.. meyeka jahat tutup wajah Mama" teriak Rihana.
Dini tak bisa menahan teriakan Rihana, tenaganya memberontak dengan keras ingin memeluk keranda. Riko langsung menggendong Rihana.
"Sayang sini Om gendong kamu saja ya" bujuk Riko.
"Mama mau dibawa ke nana Om?" tanya Rihana.
"Mama akan dibawa ke rumah terakhirnya" jawab Riko.
Mereka segera pergi menuju TPU tepat jam sepuluh pagi. Para tetangga dan sahabat Riko semua turut mengantar.
Tangis Rihana kembali histeris saat melihat jenazah Rihana akan dimasukkan ke liang lahat.
"Mama... janaaaan kalian jaaat.. Mama aku mau diapain?" teriak Rihana.
"Sayang.. sayang... udah.. " Dini memeluk tubuh Rihana dengan erat.
"Kata Om Mama mau dibawa ke yumah bayu.. kenapa yumah Mama jeyek?" tanya Rihana.
Dini mengelus lembut kepala Rihana.
"Kalau Rihana mau Mama dapat rumah yang bagus, Rihana harus selalu berdoa. Pinta kepada Allah agar Allah beri Mama rumah yang cantik di sana sayang" jawab Dini.
"Mama... Mama puyang ke yumah kita aja. Yumahnya lebih bagus dayi cini" tangis Rihana lagi.
Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Dengan pemikiran anak - anak yang melihat semua kejadian itu sungguh sangat menyedihkan melihat Mamanya di timbun dengan tanah.
Dini dan Rihana menangis bersama. Membuat semua orang yang melihat kejadian itu ikut menangis.
Setelah selesai dimakamkan Riko dan Dini membawa Rihana pulang kembali je rumah Hana. Riko menggendong tubuh mungil Rihana. Karena terlalu banyak menangia akhirnya Rihana tertidur dalam gendongan Riko.
Sesampainya di mobil Riko meletakkan tubuh Rihana pelan - pelan ke dalam pelukan Dini.
"Kasihan sekali kamu sayang.. kamu pasti kelelahan menangis terus" ucap Dini.
"Aku tidak menyangka dia akan bertanya terus menerus seperti sayang. Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab agar dia bisa mengerti" ucap Riko.
"Iya sayang, aku sampai kewalahan tadi mencari kata - kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rihana" sambut Riko.
Mobil melaju menuju rumah Hana. Para sahabat masih setia menemani Riko dan Dini. Mereka juga masih penasaran dengan Rihana. Apakah benar Rihana itu anak Riko?
Begitu rumah Hana sepi, para pelayat sudah pulang barulah para sahabat Riko bisa bertanya.
"Bro apa kamu sudah mendapatkan jawaban dari Hana? Kamu bilang kemarin Hana menitipkan surat pada kamu? Apa isinya?" tanya Romi.
Riko menarik nafas panjang.
"Rihana bukan anakku. Nama Papa kandungnya Ricky Prasetya" jawab Riko.
"Pantas namanya Rihana, Ricky - Hana. Bukan Riko - Hana" sahut Aril.
"Dimana Papa kandungnya berada?" tanya Refan.
"Aku tidak tau dan Hana tidak mau kami mencarinya karena dia pria brengsek yang tidak mau bertanggungjawab. Dia hanya memberikan sejumlah uang kemudian menyuruh Hana pergi jauh" ungkap Riko.
"Pria kurang ajar.. " umpat Romi kesal.
"Kalau begitu bagaimana dengan Rihana? Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Bimo penasaran.
"Dia akan tinggal bersama kami. Itu permintaan terakhir Hana dan yang paling penting Dini menerimanya dengan sangat gembira. Aku dan Dini sudah terlanjur jatuh cinta pada anak itu. Kami akan segera mengadopsinya" ungkap Riko.
"Semoga pembuka jalan rezeki buat rumah tangga kalian ya Ko. Siapa tau setelah mengangkat Rihana sebagai anak kalian, Dini bisa langsung hamil" sambut Bagus.
"Aamiin.. aku berharap seperti itu. Rasanya kebahagiaan ku sempurna sudah. Punya anak secantik Rihana dan juga aku akan mendapatkan anak dari Dini" ujar Riko.
"Akhirnya masalah Hana selesai. Apakah kamu tetap ingin menunggu hasil tes DNA?" tanya Refan.
"Tidak perlu karena dalam surat Hana dia juga sudah menjelaskan siapa Papa kandunh Rihana yang sebenarnya" jawab Riko.
"Menurut kami hasil tes nya tetap kamu simpan saja Ko, siapa tau nanti penting. Lagian sayang kan kamu udah lakukan tes kalau hasil nya gak diambil" ucap Bimo.
Riko kembali bernafas lega.
"Baiklah kalau begitu nanti aku akan tetap mengambil hasil tesnya" sambut Riko.
"Jadi bagaimana bisa hasil tes Hana kemarin kamu terbukti Papa kandungnya Rihana?" tanya Aril.
"Hana memanipulasi hasil tesnya. Dia meminta bantuan dari Dokter yang merawatnya. Dokter tersebut mempunyai kenalan di Rumah Sakit tempat Hana melakukan tes DNA. Hana menggunakan uang yang diberi oleh pria brengsek Papa kandungnya Rihana" jawab Riko.
"Pantas saja bisa seperti itu hasilnya" sahut Bagus.
"Kapan kamu akan membawa Rihana pergi dari rumah ini?" tanya Bimo.
"Hari ini juga setelah semua urusan Almarhumah Hana selesai. Aku harus pamit sama para tetangga. Aku juga harus menyelesaikan dan menyerahkan rumah ini kembali pada pemiliknya" ungkap Riko.
"Semoga Allah memberikan kamu rezeki yang berlimpah juga jalan kehidupan yang lancar karena kamu sudah memperlancar hidup orang lain" ucap Bimo.
"Aamiin" sambut Riko dan teman - temannya yang lain.
"Bagaimana dengan keluarga kamu dan Dini Ko?" tanya Aril.
"Aku akan cerita ke Papa soal niat aku dan Dini untuk mengadopsi Rihana. Begitu juga dengan keluarga Dini. Aku rasa mereka pasti mau menerima Rihana dengan baik" jawab Riko.
"Iya kasihan anak itu sudah tidak punya siapa - siapa lagi" sahut Refan.
"Tapi kalau kamu dan Dini berniat mengadopsi anak, menurutku kalian tidak cocok lagi tinggal di apartemen. Setelah ini cari lah rumah Ko. Walau kecil tapi lebih hangat untuk sebuah keluarga" pesan Bimo.
"Benar" sahut Refan.
"Aku akan memikirkannya setelah ini. Yang penting rencana pertamaku setelah ini. Kami akan membawa Rihana untuk tinggal bersama setelah itu baru aku dan Dini akan mengenalkan Rihana pada keluarga kami. Baru setelah itu aku akan mengurus surat - surat kelengkapan untuk mengadopsi Rihana. Setelah itu barulah aku memikirkan masalah rumah" ungkap Riko.
"Semoga semuanya lancar bro. Kami mendukung kamu" sambut Romi.
"Terimakasih untuk kalian semua" balas Riko.
.
.
BERSAMBUNG