
Aril dan Bela masuk ke dalam mobil. Mereka diantar oleh supir kantor Aril. Sebelumnya Aril memang sudah menyampaikan rencananya ini kepada Reni sehingga Reni sudah menyiapkan kopernya.
Satu hari sebelum pernikahan mereka juga sudah pamit dengan Bimo dan menyampaikan keinginan mereka untuk berangkat honeymoon begitu ijab kabul selesai.
Bimo memberikan izin dan mengambil tanggung jawab sepenuhnya pada pesta pernikahan Aril dan Bela. Bagaimanapun Bimo pernah merasakan posisi Aril saat ini dan dia sangat mengerti keinginan Aril.
Apalagi Aril memang paling nakal diantara teman - temannya. Untung saja Aril sudah berubah dan tidak menyandang profesi playboy lagi kalau tidak dia tidak akan memberikan restunya kepada Aril untuk menikahi adiknya.
Bela sebenarnya sangat tidak setuju dengan keinginan Aril. Pergi honeymoon begitu saja setelah ijab kabul. Bela takut kedua orang tuanya marah dan yang paling Bela takutkan adalah dia merasa sangat malu pada keluarga dan rekan - rakan kantornya.
Pesta pernikahan tanpa pengantin, karena setelah ijab kabul pengantinnya malah melarikan diri untuk honeymoon. Tapi bukan Aril namanya kalau tidak bisa meyakinkan Bela.
Ditambah lagi dukungan dari Bimo membuat Bela pada akhirnya mengikuti rencana Aril. Dan disinilah mereka saat ini. Di dalam mobil yang sedang menuju Bandara.
Bela tidak tau kemana tujuan mereka honeymoon tapi mobil Aril menuju ke terminal keberangkatan dalam negeri. Itu artinya honeymoon mereka masih di Indonesia.
Aril dan Bela turun dari mobil dan segera masuk ke Bandara untuk check-in. Setelah itu mereka menunggu di ruang tunggu Bandara.
"Mas kita mau kemana sih?" tanya Bela.
Dengan senyuman penuh kemenangan Aril memberikan tiket pesawat mereka kepada Bela. Bela menatap kertas yang ada di hadapannya dan membacanya.
"Sorong, Papua?" tanya Bela tak percaya.
Aril tersenyum penuh kasih sayang.
"Iya sayang... Kita akan honeymoon di Raja Ampat. Kamu tidak suka?" tanya Aril lembut.
"Su.. suka... tapi aku tidak pernah membayangkan akan pergi ke sana. Mengapa Mas memilih kota itu?" tanya Bela pemasaran.
"Selain disana sangat indah letaknya juga jauh dan terpencil. Aku tidak mau honeymoon kita diganggu oleh siapapun" jawab Aril nakal.
Bela sudah mengerti kemana arah pikiran suaminya itu. Pasti tidak akan jauh dari yang namanya tempat tidur.
"Mas kalau hanya ingin lari dari gangguan teman - teman kamu gampang kok. Kamu tinggal matikan saja HP kamu saat kita honeymoon. Ngapain coba harus jauh - jauh" komentar Bela.
"Tapi pemandangan di sana cantik lho yaaaank.. walau memang jauh lebih cantik kamu lagi di mataku" goda Aril.
Wajah Bela mulai memerah karena malu. Ini gombalan Aril pertama setelah mereka menikah. Dan Aril sudah beberapa kali memanggil dirinya dengan panggilan sayang.
"Mas harusnya jawab itu aja sebagai alasannya jangan bilang karena tidak mau di ganggu teman - teman yang lain. Kalau ada hal yang penting, gimana coba mereka mau ngabari kita?" tanya Bela.
Aril menarik nafas panjang, dia tidak mau bertengkar dengan Bela dihari pernikahan mereka.
"Iya.. iya sayang... aku ngaku salah.. Alasan kita honeymoon ke Raja Ampat karena aku ingin honeymoon ke kota yang sangat indah berdua dengan kamu sayangku istriku yang cantik, kekasih hatiku, pujaanku dan bidadari surgaku" gombal Aril lagi.
"Iiih Mas Aril, gombalannya yang biasa aja donk jangan berlebihan begitu. Aku geli mendengarnya" ungkap Bela.
"Hahaha... tapi kamu suka kan sayang. Mulai lah menikmatinya karena mulai hari ini aku akan sering mengatakannya" jawab Aril penuh kemenangan.
Panggilan untuk penumpang pesawat yang akan mereka naiki. Aril dan Bela masuk ke pesawat sambil berpegangan tangan mesra.
"Honeymoon dimulai sayaaaang" bisik Aril di telinga Bela.
Seketika tubuh Bela jadi merinding mendapat perlakuan Aril yang seperti itu.
Dasar playboy. Umpat Bela dalam hati.
Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang akhirnya mereka sampai di Kota Sorong, Papua. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Wasai dengan pesawat terbang yang lain.
Akhirnya mereka sampai di raja ampat malam hari dan disambut oleh para pelayan Hotel yang sudah di booking Aril dari seminggu yang lalu.
"Bapak Aril Ekaputra Wijaya?" tanya Pelayan.
"Iya saya" jawab Aril.
"Silahkan Pak" ucap pelayan itu.
Aril dan Bela mengikuti pelayan untuk berjalan menuju kamar tempat mereka menginap selama di Raja Ampat ini.
"Mas makan malamnya tolong antar ke kamar aja ya" pinta Aril.
"Baik Pak" jawab pelayan.
Aril dan Bela kini sudah berada di kamar mereka. Suasana terasa canggung untuk Bela karena ini adalah pengalaman pertamanya berada dalam satu ruangan dengan seorang cowok yang bukan kakak atau orang tuanya.
Walau Aril saat ini sudah menjadi suaminya tapi belum sehari. Bela belum terbiasa akan hal itu. Bela langsung membuka kopernya dan mengambil pakaiannya.
"Mas aku duluan mandi ya" pinta Bela.
"Oke sayang.. silahkan mandi yang nyaman ya biar kamu segeran" jawab Aril dengan senyuman yang tiada henti.
Bela segera masuk ke kamar mandi. setengah jam kemudian Bela keluar dari kamar mandi, dia sudang menggunakan piyamanya. Kepalanya sudah tidak tertutup jilbab lagi.
Aril terpukau melihat penampilan istrinya yang pertama itu. Ini pertama kalinya Aril melihat wajah Bela tanpa jilbab.
Bela tampak semakin canggung dan hanya diam saat Aril mendekatinya.
"Kamu cantik sekali sayang" puji Aril.
"Maaas... jangan lihatin aku seperti itu donk, aku malu" ucap Bela.
Aril mengerti dengan keadaan Bela saat ini. Dia hanya mengecup puncak kepala Bela yang tercium wangi shampo.
"Sekarang aku yang mandi ya.. Sebentar lagi makan malam kita akan tiba" ujar Aril.
"Iya Mas" jawab Bela.
Tak memakan waktu lama Aril sudah selesai mandi. Dia sudah tidak sabar ingin segera keluar dan menikmati indahnya malam ini bersama bidadari surganya.
"Kita shalat dulu yuk Mas sebelum makan. Sudah wudhu kan?" tanya Bela mengingatkan.
"Belum" jawab Aril.
"Ya sudah wudhu dulu. Biar aku siapkan semuanya" perintah Bela.
Aril mengikuti perintah istrinya, apalagi memang untuk kewajiban. Aril segera mengambil wudhu kemudian setelah itu mereka bergantian wudhu.
Setelag Bela keluar dari kamar mandi, mereka langsung shalat berjamaah. Baru dilanjutkan dengan makan malam romantis.
"Makan yang banyak sayang, kamu butuh kekuatan yang banyak malam ini" ucap Aril genit.
Lagi - lagi bulu kuduk Bela berdiri, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Aril lakukan padanya. Makan malam dengan menu istimewa yang dipesan Aril disantap habis oleh mereka berdua.
Baru setelah itu mereka mengobrol sebentar sebagai basa - basi untuk melonggarkan perut mereka yang baru saja di isi.
Bela kembali ke kamar mandi untuk bersih - bersih dan gosok gigi. Baru kemudian dia mulai naik ke tempat tidur. Sebenarnya ingin sekali Bela segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tapi dia sangat canggung.
Aril segera masuk ke kamar mandi agar Bela bisa menetralkan ketegangan yang sangat terlihat di wajahnya. Aril juga bersih - bersih sebelum tidur. Seperti rutinitasnya setiap hari. Tapi kali ini dia lakukan dengan sangat cepat karena dia sudah tak sabar ingin terbang ke nirwana bersama Bela.
Aril keluar dari kamar mandi dan melihat Bela seperti meringis. Hanya saja dugaan Aril pasti Bela sangat ketakutan saat ini. Aril segera menyusul Bela naik ke atas tempat tidur.
"Sayang apakah aku bisa memulainya?" tanya Aril lembut kepada Bela.
Kini Bela sudah pasrah untuk memberikan cintanya yang utuh kepada Aril. Aril mulai mengambil langkah seribu.
Dia segera membelai lembut wajah Bela dan mengecu*nya lembut. Perlahan - lahan kecupa*nya semakin panas. Hingga Aril merasa Bela sudah siap untuk ke tahap yang lebih lanjut.
Aril sudah melihat Bela pasrah. Dia segera membuka dan menanggalkan satu persatu pakaian Bela. Hingga akhirnya.
"Sa.. sayang.. kamu belum aku apa - apain kok sudah berdarah?" tanya Aril putus asa.
.
.
BERSAMBUNG