Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Sebelas



Setelah selesai makan malam bersama para lelaki duduk santai di teras belakang rumah Bimo. Sedangkan para wanita duduk di ruang keluarga.


"Ril tumben kamu mau pisah sama Bela? Kalian kan baru dua bulan nikah dan sebulan kamu puasa dan harus jauh dari Bela saat kamu di Singapura kemarin?" tanya Bagus.


"Iya betul tuh. Aku gak percaya Aril bisa pisah sama Bela" sambut Romi.


"Aku gak tahan kalau dekat - dekat dia" ujar Aril.


"Haa... Kenapa? Kamu malah lebih nyaman dekat Riko dari pada dekat Bela?" tanya Refan.


"Secepat itu kau bosan pada adikku?" tanya Bimo.


"Bukan begitu Bim. Aku gak tahan dekat Bela. Pengen nerkam dia tiap malam sementara dia masih hamil muda. Kehamilannya bisa beresiko apalagi dia hamil anak kembar" ungkap Aril dengan wajah sendu.


"Jadi kamu disuruh dokter puasa lagi?" tanya Refan.


"Hahaha.. itu balasan karena kamu suka gangguin malam pertama orang" ejek Riko.


"Apes banget nasib gue" ujar Aril sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Nikmati aja Ril" ujar Bimo.


"Kalian dulu waktu Kinan dan Setan Kecil hamil muda berapa lama bisa begituan?" tanya Aril.


"Kalau aku sih gak ada larangan dokter. Mungkin karena Kinan hamil anak ke dua kali ya. Yang penting slow motion bro mainnya" jawab Refan.


"Kalau aku juga gak ada larangan dari dokter tapi di awal hamil aku memang menjaga hal - hal yang tidak diinginkan. Maklum aku sudah dua kali menikah, usia juga tidak sedikit lagi dan aku sangat mengharapkan hadirnya buah hati kami. Makanya aku harus bertindak hati - hati" ungkap Bimo.


"Nah itu dia tapi aku gak kuat dekat - dekat Bela terus. Sedangkan Bela maunya kalau tidur mepet terus. Imron aku gak kuat bro" adu Aril.


"Hahahaha kasihan banget nasib kamu" ledek Romi.


"Huus.. jangan ngejek. Kamu juga gak tau nanti gimana nasibnya" potong Bagus.


"Bener tuh. Aku juga honeymoon dua minggu ada puasanya juga. Karena saat imroh kan ada waktu - waktunya kita gak boleh begituan. Anggap semua itu memang ujian agar kita lebih bersabar. Kami santai aja Ril, semua orang bisa melewati dan menyelesaikan masalahnya masing-masing. Yakin lah kamu juga pasti bisa. Dan terus bersyukur untung kamu cuma ngidam kalau sampai kamu seperti Refan dulu apa kamu kuat? Dia yang mual - mual dan muntah" ujar Riko.


"Iya sih.. " jawab Aril.


"Jadi kalian sudah periksa jenis kelamin anak yang ada di dalam kandungan Reni?" tanya Refan pada Bimo.


"Sudah, alhamdulillah kata dokter InsyaAllah laki - laki" jawab Bimo.


"Wah hebat kamu Bim" sahut Aril.


"Lebih hebat kamu, bisa dapat kembar. Padahal aku yang punya saudara kembar saja gak punya anak kembar" balas Bimo.


"Itu lah rezeki Bim. Tapi secara garis keturunan keluarga kalian kan memang ada keturunan kembar. Makanya Bela dan Aril mendapatkan anak kembar" sahut Refan.


"Iya, tapi dikasih keturunan saja aku sudah sangat bersyukur karena aku sudah lama menginginkannya" sambut Bimo.


Tiba - tiba Bela datang menghampiri Aril.


"Mas pulang yuk, aku sudah ngantuk banget nih" ajak Bela.


Aril menatap Bela dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu masih mual?" tanya Aril dengan lembut.


"Nggak, alhamdulillah aku bisa makan banyak malam ini" jawab Bela.


"Syukurlah, kalau begitu kita pamit yuk sama yang lain. Guys kami pulang duluan ya. Dan kamu Riko jangan coba - coba besok lari dari aku ya" Aril menunjuk ke arah Riko.


"Mampu* lo Ko" umpat Romi sedang.


Sedangkan Refan bisa menarik nafas lega.


"Huft... akhirnya bisa juga lepas dari Aril" ujar Refan.


Bimo hanya bisa tersenyum melihat reaksi teman - temannya gara - gara tingkah adik iparnya yang aneh tapi nyata.


Setelah berpamitan pada semua teman - temannya. Aril dan Bela pasangan pertama yang pamit pulang. Refan dan teman - temannya masih melanjutkan pembicaraan mereka.


"Jadi apa nih trik kalian untuk menghadapi Aril selama seminggu ini?" tanya Riko.


Riko masih geli kalau membayangkan Aril akan selalu nempel padanya karena ngidam anehnya itu.


"Ya kamu harus sabar. Selama ini sih kami hanya mendengarkan rengekannya karena tidak bisa menghubungi kamu. Gak tau kalau dengan kamu. Mungkin dia mau terus berada di dekat kamu dan peluk - peluk kamu kali" jawab Bagus.


"Ih ya Allah.. amit - amit deh si Aril. Geli banget aku bayanginnya" sambut Riko.


"Hahahah.. kan aku sudah bilang. Dinikmati aja bro.. Siapa tau dia ingin berbuka puasa dengan kamu. Soalnya sama Bela kan belum boleh" goda Romi.


"Astaghfirullah.. Rom gak usah ngomong kayak gitu. Aku jadi makin merinding. Selama ini Aril normal kok masih doyan perempuan" jawab Riko.


"Udah nggak tuh. Kan udah lama dia pensiun dari seorang Casanova. Sekarang dia hanya setia pada Bela. Nah saat sama Bela gak bisa yang paling tidak beresiko adalah pada sesama" ucap Romi masih berusaha memprovokasi Riko.


"Kurang asem lu" umpat Riko.


"Hahahaha.. " Romu, Bagus, Refan dan Bimo tertawa mendengar umpatan Riko.


Tak lama kemudian Salman berlari dari arah dalam rumah Bimo dan menghampiri mereka .


"Papa yuk pulang, kata Mama adek kembar sudah mulai ngantuk" ajak Salman.


"Baik sayang, yuk pamit pada semuanya" sambut Refan penuh kasih sayang.


"Iya kita juga bubar yuk. Aku mau istirahat. Besok sudah mulai bekerja kembali. Waktu cuti sudah habis" sambut Riko.


"Mau istirahat apa mau anget - angetan" goda Romi.


"Nanti kamu juga akan ngerasainnya kok bro. Jangan iri" jawab Riko.


Refan dan teman - temannya saling berpamitan. Mereka pulang ke rumah masing - masing.


Riko dan Dini kini sudah berada di dalam mobil mereka dan berjalan menuju apartemen. Tak memakan waktu lama mereka sudah sampai di tempat tinggal mereka saat ini.


Dini dan Riko sudah membersihkan tubuh mereka masing - masing dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur Riko mengajak Dini berbincang - bincang, ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan pada Dini.


"Jadi kamu yang blokir nomor Aril dari hpku?" tanya Riko.


"Iya Mas, atas dasar permintaan Bela. Awalnya aku gak tau apa alasannya Bela meminta seperti itu. Aku kira Bela hanya tidak mau kamu di gangguin Mas Aril saat kita umroh tapi ternyata Mas Aril ngidam parah. Setelah aku dengar cerita mereka baru aku mengerti dengan permintaan Bela" jawab Dini.


Riko mengelus lembut perut Dini.


"Kalau Allah menitipkan anak kita di perut kamu semoga aku tidak mengalami hal yang sama seperti Aril ya.. Biar aja aku ngidamnya seperti Refan. Mual - mual dan muntah, aku ikhlas. Dari pada seperti Aril, iiiih... masih geli aku yank" ungkap Riko.


Dini tersenyum penuh kasih sayang..


"Aamiin ya Mas.. tapi ngidam itu kan gak bisa request Mas. Sudahlah ngapain kita mikirin ngidam, di isi juga belum" ujar Dini.


Sontak mata Riko bersinar nakal.


"Waaah kalau begitu bagaimana kalau kita isi malam ini" ajak Riko.


"Kamu memang cari - cari alasan" tawa Dini akhirnya pecah.


Tangan Riko sudah bergerilya kemana dia suka. Malam itu lagi - lagi mereka melakukan ibadah dalam rumah tangga.


.


.


BERSAMBUNG