Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Enam



"Ehm.. ehm.. " terdengar suara deheman seseorang dari belakang membuat Riko dan Dini terkejut.


"Eh Bapak" sapa Riko kikuk.


"Baru datang Nak Riko?" tanya Papa Dini.


"Iya Pak, tadi habis dari pengajian saya singgah sebentar ke kantor baru mampir ke sini. Belum sempat pulang dan juga belum makan. Maaf Pak jadi makan di sini. Dini nawarin masak makan malam untuk saya" jawab Riko gugup.


"Tidak apa, silahkan saja. Bapak cuma haus pengen ambil air minum" ujar Papa Dini.


"Sini Pak biar Dini ambilkan" sambut Dini yang ikutan gugup karena ketangkap Papanya berduaan dengan Riko di dapur.


Dini segera mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Papanya. Papa Dini duduk tepat di depan Riko dan meminum air yang diberikan Dini.


"Ada yang ketinggalan?" tanya Papa Dini


"Nggak Pak, ada sesuatu yang penting ingin saya diskusikan dengan Dini" jawab Riko.


"Oo.. ya sudah lanjut ya, Bapak mau kembali ke kamar. Selamat makan" ucap Papa Dini ramah.


"Iya Pak, makasih" jawab Riko dengan sungkan.


Papa Dini meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya. Dini dan Riko bisa bernafas lega karena belum terbiasa dengan situasi seperti ini.


Dini melanjutkan aktivitasnya. Makan malam untuk Riko sudah selesai dan siap dihidangkan diatas meja makan di hadapan Riko. Dini menyiapkan piring dan gelas untuk Riko.


"Silahkan makan Mas" ujar Dini.


Riko mulai menyantap hidangan makan malam yang disajikan Dini untuknya.


"Enak sekali makan malam aku malam ini, kalau tiap hari bisa menikmati makanan seperti ini pasti aku akan sangat bahagia" puji Riko.


"Maaas... nanti Bapak dengar lho" pesan Dini.


"Eh Iya ya.. nanti aja deh kalau kita sudah resmi dan hanya berdua di rumah, aku akan gombalin kamu habis - habisan" sambut Riko.


Wajah Dini kini bersemu merah karena malu mendengar perkataan Riko.


"Din, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu" ucap Riko serius.


"Masalah apa Mas? Kok kayaknya serius banget?" tanya Dini.


"Saat ini Refan sedang menyelamatkan Perusahaan mantan mertuanya yang sedang diambang kebangkrutan karena ponakannya yang menyalah gunakan kekuasaannya. Aset yang di wasiatkan untuk Naila akan terancam habis, oleh sebab itu Refan berjuang untuk mengembalikan perusahaan itu seperti semula. Dia butuh orang-orang yang bisa membantunya di Perusahaan itu dan juga orang kepercayaan. Oleh sebab itu Romi menawarkan Ela dan aku memikirkan kamu. Aku tidak ingin kamu stres karena terbiasa bekerja kini tidak punya kegiatan apapun. Aku meminta kepada Refan agar kamu hanya bertugas untuk membantu Ela saja, karena setelah kita menikah aku ingin kamu tidak terlalu lelah. Demi kesehatan kamu" ungkap Riko.


Dini terdiam ketika calon imamnya itu ternyata selalu memikirkan tentang dirinya bahkan sampai sejauh ini.


"Tidak ada yang bersifat pemaksaan, aku hanya menawarkan kepada kamu. Itu artinya kamu bebas menolak atau menerima" sambung Riko.


Dini tersenyum dan menarik nafas dalam.


"Aku bersedia Mas, aku kan juga sedang dalam masa pengobatan juga. InsyaAllah setelah ikhtiar ini setiap kali aku datang bulan tidak lagi sesakit dulu" ujar Dini.


"Syukurlah kalau kamu mau. Aku lebih tenang kalau kamu bekerja dengan orang yang aku kenal. Jadi kalau misalnya terjadi hal yang sama seperti di Bandung aku tidak begitu khawatir lagi karena mereka yang ada di dekat kamu pasti akan memperhatikan kondisi kamu" sambung Riko.


Riko menyantap habis semua makanan yang di masak Dini.


"Jadi kapan ni aku mulai bekerja?" tanya Dini.


"Nanti aku kabari ya, Romi juga mungkin sedang meminta persetujuan Ela. Mudah - mudahan Ela mau jadi kalian bisa kerja bareng secepatnya karena Refan memang benar - benar membutuhkan kalian secepatnya. Dia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya dalam waktu yang lama. Dia juga tidak mungkin menjalankan dua perusahaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan " jawab Riko.


Riko meneguk minumannya sampai habis kemudian melirik jam di tangannya.


"Sudah malam banget, aku pulang ya. Gak enak sama Bapak. Entar dikira ambil kesempatan mentang - mentang udah dapat restu" ujar Riko sambil tersenyum lembut.


"Iya Mas, hati - hati ya pulangnya" sambut Dini.


Dini mengantarkan Riko sampai ke depan rumah, sampai Riko masuk ke dalam mobilnya.


"Langsung pulang ya Mas, jangan singgah kemana-mana lagi" pesan Dini.


"Iya bidadari surgaku" jawab Riko lembut.


Wajah Dini kembali bersemu merah.


"Aku pulang ya.. Assalamu'alaikum" ucap Riko.


"Wa'alaikumsalam" jawab Dini.


Riko menyalakan mobilnya dan pulang kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartement Riko langsung bersih - bersih kemudian naik ke atas tempat tidur untuk istirahat. Sebelum memejamkan matanya Riko menyempatkan untuk mengirimkan pesan kepada Refan.


Riko


Fan, Dini bersedia bekerja di Perusahaan Om Reno.


Romi


Ela juga Fan


Refan


Riko


Terserah kamu, kapan saja Dini sudah siap kok


Romi


Ela mungkin beberapa hari lagi, karena dia harus menyiapkan pekerjaannya di kantorku dan mungkin butuh waktu untuk berpamitan dengan teman - temannya di kantor.


Refan


Baiklah, aku tunggu kabar dari kalian. Kapan saja, aku sangat membutuhkan bantuan mereka.


Riko


Oke


Romi


Santai bro...


Refan


Udah malam, lanjut besok ya.. aku mau kelonan, hilangin stres. Yang jomblo jangan iri ya 😄😄


Romi


Dasar


Riko


Asem lo 😠


****


Keesokan harinya di Perusahaan Romi.


"Bu Monic, saya mau pamitan" ucap Ela.


"Wah kamu pergi juga ya El, padahal saya sangat senang melihat kerja kamu. Tapi demi karir dan masa depan kamu saya tidak bisa menahan kamu di Perusahaan ini" sambut Bu Monic atasan Ela


"Terimakasih atas bimbingan Ibu selama ini" ujar Ela.


"Semoga kamu sukses di kantor ya baru ya El" balas Bu Monic.


"Saya ke ruangan CEO dulu Bu, mau pamit dengan Pak Romi" ujar Ela.


Bu Monic yang akhirnya tau kalau Ela masuk ke Perusahaan ini atas rekomendasi dari CEO mereka memaklumi sikap Ela. Dia tidak benci atau iri kepada Ela karena memang Ela anak yang pintar dan kerjanya juga sangat bagus.


Ela menjabat tangan atasannya untuk yang terakhir kalinya dan langsung bergegas ke ruangan CEO di lantai paling atas.


"Mau kemana kamu?" tahan Silva.


"Aku mau ke ruangan Pak Romi" Jawab Ela ramah.


"Pak Romi tidak bisa di ganggu" sambut Silva dengan sombong.


"Aku sudah janjian dengan Pak Romi" balas Ela.


Tak lama telepon di meja Silva berdering dan dia mengangkatnya.


"Halo" ucap Silva.


"Silva suruh Ela masuk segera" perintah Romi.


Romi sudah melihat dari dalam ruangannya Ela sudah datang, dia memang sudah menunggu kedatangan Ela sejak tadi, apalagi Romi sudah memantau gerak - gerik Ela dari CCTV.


Hari ini adalah hari terakhir Ela di perusahaannya, itu artinya dia tidak akan bertemu dengan Ela lagi setiap harinya seperti biasa. Dia juga tidak bisa memantau Ela dari layar komputernya. Berat sekali rasanya, tapi dia tidak mau egois. Semua demi masa depan Ela dan juga masa depan mereka berdua.


Romi sedang menyusun sesuatu untuk Ela yang berhubungan dengan masa depan mereka kelak.


"Baik Pak" jawab Silva.


Silva melirik Ela dengan tatapan tidak suka.


"Kamu di suruh masuk" perintah Silva.


"Terimakasih Mbak Silva, bandel sih dibilangin juga dari tadi kalau saya sudah janjian sama Pak Romi. Masih juga gak percaya, kena marah kan? Makanya kalau mau judes lihat - lihat donk orangnya. Gak semua orang lho bisa kamu perlakukan seperti itu" Ela merasa puas di hari terakhir dia bekerja di perusahaan ini akhirnya bisa membalas sikap sombong Silva.


Ela berjalan masuk keruang kerja Romi.


.


.


BERSAMBUNG