
Seminggu setelah resepsi pernikahan Aril dan Bela di Surabaya, Romi dan Ela yang tinggal di Surabaya untuk mengurus pernikahan mereka akhirnya bisa pulang. Sedangkan rombongan lainnya lebih dulu pulang ke Jakarta.
Semua berjalan seperti biasa. Romi dan Ela sudah kembali bekerja di Perusahaan masing - masing. Secara keseluruhan pesta pernikahan mereka yang tidak sampai dua bulan lagi sudah hampir sempurna.
Persiapan pernikahan Riko dan Dini juga sudah hampir rampung. Waktu pernikahan tinggal tiga minggu lagi. Dini semakin sibuk mengurus gaun pernikahannya.
Hari ini Bela, Ela dan Dini janjian bertemu. Karena Ela dan Dini satu kantor akhirnya Bela yang mengalah datang ke kantor mereka.
Kini mereka bertiga sudah berkumpul di ruang kerja Ela.
"Guys... kalian pernah tidak membayangkan tiba - tiba mendapat kabar kalau Mas Aril dan Mas Riko mempunyai anak dari hubungan masa lalu mereka?" tanya Ela.
"Kamu kenapa bertanya seperti itu El, bukannya masalah Mas Romi sudah selesai? Dia kan sudah menjelaskan kalau dia dan wanita yang dia temui di Surabaya itu hanya teman saja. Dan anak yang digendong wanita itu bukanlah anak Mas Romi" tanya Dini.
"Entah lah.. aku memang percaya anak itu bukan anaknya Mas Romi tapi akhir - akhir ini aku sering berpikir bagaimana kalau seandainya ada wanita datang membawa anak yang ternyata anak Mas Romi. Apa yang harus aku lakukan jika hal itu benar - benar terjadi" Ela mengungkapkan kerisauannya.
Bela dan Dini saling pandang.
"Pasangan kita bertiga semuanya mantan playboy. Kemungkinan itu bisa saja terjadi" sambung Ela.
"Kita sangat tau begitu besar dosa berzina apalagi sampai melahirkan seorang anak. Sangat tidak menguntungkan bagi si wanita. Makanya hukumnya sangat ketat untuk para wanita. Jika anak diluar nikah lahir maka dia akan bernasab kepada ibunya. Dia tidak akan mendapatkan nama keluarga bapaknya, tidak mendapatkan hak waris bahkan kalau perempuan tidak bisa dinikahkan oleh Bapaknya. Semua tanggung jawab pria lepas walau itu darah dagingnya sendiri. Oleh sebab itu kita sebagai wanita harus benar - benar menjaga kehormatan kita sebagai wanita karena kelak kita yang akan paling merugi dan kita juga merusak masa depan anak kita. Hanya saja rasanya sangat buruk sekali seorang ayah jika tidak punya perasaan kepada darah dagingnya sendiri walau secara agama dan negara dia memang tidak mempunyai hak atas itu" jelas Dini.
"Saat menerima Mas Riko dia sudah jujur dengan masa lalunya karena itu Papaku tidak memberikan restunya pada kami diawal perkenalan kami. Ketika aku menerima lamaran Mas Riko dengan semua resiko itu. Aku menerima dia apa adanya. Apalagi kalian tau kan penyakit yang aku derita. Aku tidak tau apakah aku bisa memberikan Mas Riko seorang anak" sambung Dini.
"Din.. jangan pesimis" potong Bela.
"Aku bukan pesimis Bel, aku sudah menerima kekuranganku begitu juga Mas Riko. Tapi aku tau dia juga pasti menginginkan keturunan walau dia pernah berkata dia tidak membutuhkan itu semua" ungkap Dini.
Dini menarik nafas panjang.
"Kalau kamu tanya jawabanku tentang pertanyaan kamu tadi. Aku akan menerima anak itu. Mas Riko kan tidak harus menikahi ibunya kan? Dia hanya bertanggung jawab pada anaknya walau itu tidak wajib. Mungkin dengan begitu aku tidak akan merasa bersalah kepada Mas Riko karena tidak bisa memberikan dia anak" jawab Dini.
Ela dan Bela menatap wajah sahabatnya itu.
"Kamu sangat tabah sekali Din" puji Bela.
"Sakit memang, pasti sakit. Istri manapun pasti sangat berat menerimanya. Tapi sejak awal saat kita akan menikah dengan pasangan kita, kita sudah mengetahui masa lalunya. Aku merasa tidak dibohongi. Kecuali dia berbuat itu semua setelah menikah denganku. Aku tidak mau dimadu dan aku membenci pengkhianatan. Mungkin aku akan mundur dan minta cerai. Atau kalau aku belum menikah, aku akan membatalkan rencana pernikahan ini" ungkap Dini.
"Aku juga pernah bertanya seperti itu Mas Aril. Dia berkata, jika anak itu bisa dibuktikan secara medis benar - benar putranya maka dia akan bertanggungjawab dan membatalkan pernikahan kami. Itu aku tanyakan sebelum kami menikah. Tapi dia benar - benar meyakinkanku kalau hal itu tidak akan pernah terjadi. Seperti yang pernah Mas Aril katakan, mereka bertaubat sudah lebih satu tahun. Aku rasa Mas Riko dan Mas Romi juga sama. Sementara anak wanita itu kalian bilang masih sangat kecil. Berarti perkiraannya di hitung dari kehamilan wanita itu mungkin sekitar satu tahun bahkan mungkin tidak sampai satu tahun. Kamu jangan khawatir El, aku yakin itu bukan anak Mas Romi" ucap Bela memberikan semangat kepada Ela.
Ela menarik nafas dalam.
"Sebenarnya aku yakin, tapi terkadang sisi lain hatiku meragukannya" ungkap Ela jujur.
Dini menepuk lembut bahu Ela.
"Jangan dipikirkan hal yang belum tentu terjadi El. Yakinlah anak itu pasti bukan anaknya Mas Romi" ucap Dini.
"Sudah.. sudah.. jangan kusut seperti itu. Cobaan pra nikah itu sangat banyak, kalau sudah yakin memilih Mas Romi jangan pernah meragukannya lagi. Harusnya kalian saling menguatkan bukan saling mencurigai" sambut Bela.
Ela kembali menarik nafas panjang. Rasanya sangat berat dan dia hampir gila memikirkan ini setiap malam.
"Kamu sudah shalat istikharah kan saat menerima lamaran Mas Romi dulu?" tanya Dini.
Ela menganggukkan kepalanya.
Tiba - tiba ponsel Bela berdering mengejutkan mereka bertiga.
"Huuuh terkejut banget aku" ujar Bela.
Bela meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Mas Aril, ngapain dia menghubungiku?" tanya Bela.
"Kangen kalo" jawab Dini.
"Cih belum juga satu jam aku pergi. Mas Aril itu memang suka lebay" ujar Bela.
Dini tertawa mendengar jawaban Bela. Sedangkan Ela hanya terdiam dan masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bela menjawab teleponnya.
"Assalamu'alaikum Mas" sapa Bela.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kamu sudah sampai dikantor Ela dan Dini?" tanya Aril.
"Sudah Mas, sudah dari tadi lho. Kamu gak baca pesan aku" jawab Bela bingung.
"Sorry.. sorry.. aku belum membacanya. Berarti saat ini kamu sedang bersama Ela dan Dini donk?" tanya Aril lagi.
"Ya iya donk Mas masak aku bersama satpam kantor mereka. Kamu ini ada - ada aja deh Mas" jawab Bela kesal.
"Yank saat ini bagaimana keadaan Ela?" tanya Aril.
"Baik, Ela baik. Tumben kamu tanya kabar Ela bukannya tanya kabar istri kamu?" Tanya Bela balik. Dia merasa bingung dengan sikap suaminya ini.
"Yank.. coba deh kamu lihat kabar yang lagi viral di webst Bisnis Jakarta. Kamu diam - diam aja dulu ya, jangan kasih tau Ela" perintah Aril.
"Kenapa sih Mas kamu aneh gini, emangnya ada apa? Kenapa Ela gak boleh tau apa berita viral saat ini?" tanya Ela penasaran.
"Kamu buka aja dulu dan baca" tegas Aril.
"Baik, aku cari dulu ya" sambut Bela.
Bela segera membuka berita tentang dunia Bisnis Jakarta.
Pengusaha muda yang sukses berinisial R ternyata mempunyai hubungan terlarang dengan seorang wanita bahkan telah mempunyai anak dari hubungannya tersebut.
Bela melihat foto dibawah judul berita tersebut.
"Astaghfirullah ya Allah.. Mas Romi.... "
.
.
BERSAMBUNG