Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Delapan



Pagi harinya setelah sarapan pagi Aril segera berangkat ke kantor. Untuk sementara Bela tidak diizinkan Aril bekerja di kantor. Biar Dedi saja yang membantu Aril di kantor sebagai pengganti Bela.


Tapi Aril butuh sesuatu untuk pelepasan. Dia bingung harus kemana untuk menceritakan penderiataan hidupnya. Disatu sisi Aril tak kuat kalau harus berpuasa berolah raga dengan Bela. Di sisi yang lain dia dilanda kerinduan yang sangat kepada Riko sahabatnya.


Aril segera mengarahkan mobilnya menuju kantor Romi. Hanya Romi satu - satunya tempat dia untuk mengadukan semua penderitaan hidupnya ini.


Sesampainya di kantor Romi, Aril langsung berjalan menuju ruangan CEO. Tanpa mengetuk pintu Aril langsung masuk ke ruangan Romi.


Untung saja saat itu Romi sedang tidak ada tamu dan ketepatan sekretaris Romi memang sudah mengenal Aril, sahabat Bosnya.


"Lho Ril tumben kamu datang pagi - pagi begini? Mana gak kasih kabar lagi?" tanya Romi bingung.


"Rom teleponin Riko donk" pinta Aril.


"Kamu ke sini hanya untuk menyuruhku menghubungi Riko? Emangnya kamu gak bisa menghubunginya sendiri?" tanya Romi tak mengerti.


"Aku gak bisa menghubungi Riko, gak tau kenapa? Apa Riko sengaja memblokir nomorku karena marah aku sudah menggagalkan malam pertamanya? " ungkap Aril.


"Apa? Kamu mengganggu malam pertama Riko? Tega banget kamu Riiiil... Ril" sambut Romi sambil menggeleng - gelengkan kepala tak percaya melihat tingkah sahabatnya itu.


Wajah Aril tampak sedih, membuat Romi merasa kalau sahabatnya itu terlihat sangat aneh saat ini.


"Awalnya aku iseng Rom, karena dulu malam pertamaku gagal. Aku ingin Riko mengalami hal yang sama. Tapi kini aku sangat menyesal dan sangat merindukan Riko. Aku ingin bicara dengannya Rom, ingin meminta maaf" ucap Aril sedih.


Romi menatap Aril dengan tatapan tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Romi seperti melihat sosok lain dari tubuh Aril. Aril yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.


Seketika bulu kuduk Romi berdiri dan dia merinding.


"Kamu kesurupan ya.. Setan mana yang gangguin kamu?" tanya Romi.


"Aku gak kesurupan Rom, aku hanya ingin bicara dengan Romi. Coba kalau Bela tidak sedang hamil, pasti aku sudah menyusulnya ke sana" jawab Aril.


"A.. apa? Bela hamil? Kok bisa?" Romi masih shock dengan sikap Aril sehingga pikirannya jadi sempit.


"Ya bisalah wong tiap malam aku selalu mengajaknya bercocok tanam. Dengan cara dan gaya menggarap sawah yang berbeda - beda" potong Aril.


"Benar - benar petani sejati. Sekali nanam langsung panen" puji Romi.


"Bibit unggul bro.. anakku kembar. Bukan hanya Refan saja yang punya anak kembar, tapi aku juga punya" jawab Aril bangga.


"Gilaaa.. Selamat ya Ril atas keberhasilan kamu menghamili Bela. Semoga aku segera menyusul keberhasilan kalian" ujar Romi.


"Huuus.. sabar bro, kamu masih sebulan lagi nikahnya. Sekarang kamu bantuin aku saja saat ini. Tolong hubungi Riko please... aku kangen banget sama dia" pinta Aril memelas.


Wajah Aril kembali sendu membuat Romi kembali merinding.


"Kamu punya kepribadian ganda ya.. Sesaat tadi kamu terlihat macho saat membicarakan tentang hebatnya diri kamu yang sudah berhasil membuat Bela hamil. Sekarang kamu bersikap cengeng seperti ini Ril. Udah kayak ditingal pacar aja ngomong kangen banget. Mual aku Ril" sambung Romi.


"Aku gak tau Rom apa yang sedang terjadi dengan aku saat ini. Kata dokter tadi malam, aku saat ini menggantikan tugas Bela, ngidam. Aku jadi cengeng dan sensitif seperti wanita hamil. Dan yang aku rasakan saat ini aku kangen banget sama Riko, gak tau kenapa tapi perasaan ini nggak bisa. Aku kangen Riko Rooom" tangis Aril mulai pecah.


Dia benar - benar tidak bisa berpikir rasional saat ini dan tidak percaya dengan apa yang saat ini Aril alami.


"Tolong hubungi Riko Rom" pinta Aril.


"Riko itu sedang umroh Ril, dia sedang beribadah mana mungkin kita ganggu. Apalagi saat ini disana mungkin masih subuh. Bisa saja dia sedang shalat subuh atau mungkin masih istirahat tidur" jawab Romi mencoba menenangkan Aril.


"Aaah kamu gak bisa diharap, padahal jarang - jarang aku minta bantuan kamu. Sudahlah kalau begitu lebih baik aku pergi. Tidak ada gunanya aku datang ke sini" ujar Aril kesal karena setelah di memelas kepada Romi tapi Romi tetap tidak mau menuruti keinginannya.


Aril segera meninggalkan kantor Romi dengan kesal dan kembali ke kantornya. Setelah kepergian Aril, Romi segera menghubungi Bela.


"Assalamu'alaikum Mas Romi" sapa Bela saat menerima telepon Romi


"Wa'alaikumsalam Bel. Sebelumnya selamat ya atas kehamilan kamu" sambut Romi.


"Lho dari mana Mas Romi bisa tau? Belum ada lho yang tau tentang kehamilan aku ini. Bahkan Bapak dan Ibu belum aku kabari karena masih sibuk dengan morning sickness" ujar Bela penasaran.


Rasa mualnya baru saja hilang setelah dia minum obat yang diberikan Dokter.


"Barusan Aril datang ke Kantor Mas dan cerita tentang kehamilan kamu. Tapi Mas gak mengerti dengan sikap Aril. Mengapa dia jadi cengeng seperti anak kecil, merengek - rengek minta Mas untuk menghubungi Riko?" tanya Romi bingung.


"Kata Dokter Mas Aril mengalami hamil simpatik. Jadi aku yang hamil dia yang ngidam dan anehnya ngidam dia itu merindukan Mas Riko. Mungkin hukuman untuk dia Mas karena terlalu nakal sama Mas Riko. Jadi kalau besok - besok Mas Aril datang lagi dan meminta Mas untuk menghubungi Mas Riko jangan mau ya. Aku tidak mau Mas Riko terganggu disana sedang beribadah dan bulan madu" pinta Bela.


"Baiklah aku mengerti sekarang setelah mendengar penjelasan kamu. Tapi aku geli melihat tingkah Aril yang seperti itu. Riko seolah seperti Mamanya yang pergi meninggalkan Aril waktu kecil. Bisa - bisanya Aril merengek seperti anak kecil karena kangen sama Riko" tawa Romi pecah.


"Yah aneh memang Mas tapi itulah yang namanya ngidam. Kalau tidak aneh ya gak ngidam namanya. Nanti setelah Mas nikah dan Ela hamil, Mas pasti bisa merasakannya. Mudah - mudahan bukan Mas yang ngidam" sambut Bela.


"Oke Bel kalau begitu kamu istirahat ya dan jaga kandungan kamu. Aku akan ingat pesan kamu tadi. Udah dulu ya aku mau lanjut kerja" ujar Romi mengakhiri panggilannya.


"Iya Mas, makasih ya Mas. Assalamu'alaikum" tutup Bela.


"Wa'alaikumsalam" jawab Romi.


Setelah mendengar penjelasan dari Bela akhirnya Romi percaya dan mengerti dengan perubahan sikap Aril. Sejak saat itu setiap pagi Aril selalu merengek kepada Romi untuk meminta bantuan Romi menghubungi Riko di Mekkah.


Tapi Romi tidak pernah mengabulkan permintaan Aril. Walau terkadang Aril memohon sampai keluar air mata. Romi bingung menghadapi sikap sahabatnya ini.


Antara geli campur kasihan. Mau tidak yakin tapi nyata. Terkadang Romi tertawa melihat perubahan sikap Aril, tapi lebih seringnya kesal karena setiap pagi Aril selalu datang untuk mengganggunya di kantor.


Flashback Off


.


.


BERSAMBUNG