
Seminggu kemudian.
"Mas aku belum halangan juga, udah telat seminggu" ungkap Ela setelah mereka baru selesai shalat subuh.
"Itu artinya kamu beneran hamil kan yank?" tanya Romi bingung.
"Sebentar ya aku test dulu. Kemarin aku singgau di apotik untuk membeli alat test kehamilan" jawab Ela.
Ela bangkit dari tempat tidur dan meraih tas kerjanya. Kemudian dia mengambil tets pack dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Romi sudah tidak sabar menunggu hasilnya. Dia berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Tak lama kemudian Ela keluar dengan membawa hasil test packnya.
"Gimana yank?" tanya Romi tak sabar.
"Ini Mas" jawab Ela sambil menyerahkan alat test kehamilan.
"Ini apa artinya yank, ada dua garis merah?" tanya Romi.
"Artinya Mas sebentar lagi akan menjadi seorang Papa" jawab Ela tersenyum.
"Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah" Romi lansung sujud syukur di lantai.
Setelah itu Romi memeluk Ela dan mengangkatnya sangkin senangnya.
"Terimakasih sayang kamu sudah memberikan aku hadiah yang sangat indah" ucap Romi dengan mata berkaca - kaca.
"Sama - sama Mas, aku juga sangat bahagia" sambut Ela menangis haru.
"Kita harus segera bilang mama papa, yuk" ajak Romi.
Ela tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan keluar kamar sambil bergandengan.
"Maaa.. Paaaaa... " teriak Romi.
"Ada apa Rom?" tanya Bu Hidayat yang baru saja keluar kamar dengan tergesa - gesa karena mendengar Romi memanggil mereka dengan berteriak.
"Iya pagi - pagi kok udah teriak - teriak?" sambung Pak Hidayat penasaran.
"Ma lihat Ma" ucap Romi sambil menyerahkan hasil tes kehamilan kepada Mamanya.
Bu Hidayat langsung menerima test pack yang diberikan Romi dan melihatnya dengan teliti.
"E.. Ela hamil?" tanya Mama Romi tak percaya.
Romi dan Ela tersenyum kompak.
"Pa menantu kita sudah hamil, sebentar lagi kita akan dapat cucu pa" ujar Bu Hidayat kepada suaminya.
"Alhamdulillah... Allah mendengar doa kita Ma" sahut Pak Hidayat.
"Selamat ya sayang sebentar lagi kalian akan menjadi seorang Mama dan papa" ucap Bu Hidayat sambil memeluk menantu dan anaknya bergantian.
Begitu juga dengan Pak Hidayat yang juga menyambut kabar berita itu dengan sangat gembira.
"Ayo El kasih kabar sama Bapak dan Ibu di Surabaya" perintah Pak Hidayat.
"Eh iya Pa sampai lupa" jawab Ela.
"Sebentar aku ambil HP dulu di kamar" sambut Romi.
Romi segera berlari ke kamar mereka dan mengambil ponsel Ela dan juga ponselnya. Setelah itu dia menyerahkan ponsel Ela.
Ela dan yang lainnya sudah duduk di ruang keluarga. Ela segera mencari nomor Bapaknya dan menghubunginya.
"Assalamu'alaikum Nduk.. apa kabar kamu" sambut Pak Budi dengan ceria.
"Wa'alaikumsalam.. alhamdulillah aku sehat Pak. Bapak dan Ibu gimana kabarnya?" tanya Ela.
"Alhamdulillah kami juga sehat. Suami dan mertua kamu Nduk?" tanya Pak Budi lagi.
"Kami semua di sini sehat Pak" jawab Ela.
"Jadi ada apa kamu telepon Bapak pagi - pagi begini? Bukannya pagi - pagi begini biasanya kamu kan bantuin mertua kamu di dapur. Kamu itu menantu Nduk, malu donk kalau bangunnya lebih lama dari mertua kamu?" tanya Pak Budi.
"Kabar apa? Kamu akan pindah ke Surabaya kah?" tanya Pak Budi.
Ela tersenyum mendengar pertanyaan Bapaknya.
"Maaf Pak bukan kabar itu. Tapi kabar yang lain" jawab Ela.
"Kabar apa Nduk? Bapak jadi semakin penasaran" ujar Pak Budi tak sabar.
"Alhamdulillah Pak aku sudah hamil. Pagi ini aku baru periksa pakai alat test kehamilan" ungkap Ela.
"Kamu yakin alatnya gak salah Nduk?" tanya Pak Budi belum percaya.
"InsyaAllah gak salah Pak. Dua minggu yang lalu kami sudah periksa ke dokter, tapi saat itu janinnya memang belum kelihatan tapi ciri - ciri kehamilannya sudah ada. Dokter kasih saran aku untuk periksa dua minggu lagi. Tadi habis shalat subuh aku sudah test dan hasilnya aku hamil" jawab Ela.
"Alhamdulillah... selamat ya Nduk.. salam juga sama suami kamu. Semoga Allah memberikan kalian anak soleh dan solehah. Bapak senang sekali mendapat kabar ini" ujar Pak Budi.
"Ibu mana Pak?" tanya Ela.
"Ibu lagi masak di rumah, Bapak lagi buka toko. Biasanya pagi - pagi begini banyak pembeli" jawab Pak Budi.
"Alhamdulillah semoga usahanya lancar ya Pak. Tolong sampaikan pesan Ela dan titip salam buat Ibu" pinta Ela.
"InsyaAllah akan Bapak sampaikan pada Ibu kamu kabar gembira ini. Dia juga pasti sangat senang mendengar berita ini" ujar Pak Budi.
"Iya Pak, Papa dan Mama di sini juga sangat senang sekali mendengar berita pagi ini" sambut Ela.
"Salam buat mertua dan suami kamu ya Nduk. Kamu hati - hati jangan lasak selama hamil. Jangan sibuk kerja, harus ingat makan dan istirahat" pesan Pak Budi.
"Iya Pak" Jawab Ela.
"Jangan kirim uang lagi kepada Bapak dan Ibu ya.. " pinta Pak Budi.
"Lho kenapa Pak?" tanya Ela bingung.
"Kamu kan sedang hamil, simpan saja uang kamu untuk masa depan anak kamu. Uangnya di tabung. Bapak dan Ibu sudah sangat cukup dari hasil usaha di toko. Ini sudah banyak sekali Nduk hasilnya. Bapak dan Ibu sekarang sudah nabung untuk Haji plus. Kalau tabungan haji biasa rasanya tidak mungkin lagi mengingat antriannya sangat panjang. Sementara usia Bapak dan ibu sudah tua. Kalau kami naik haji puluhan tahun lagi kami tidak akan sanggup lagi Nduk" ungkap Pak Budi.
"Nanti aku akan bantu ya Pak. InsyaAllah tahun depan Bapak dan Ibu sudah bisa berangkat haji" jawab Ela.
"Jangan Nduk.. gak enak sama suami kamu. Kalian sudah banyak sekali membantu Bapak dan Ibu di sini" tolak Pak Budi.
"Gak apa - apa Pak. Mas Romi pasti mengerti" balas Ela.
"Ya terserah kamu saja yang penting jangan buat kalian repot. Sebenarnya Bapak dan ibu bisa kok berangkat sendiri" ulang Pak Budi.
"Iya aku tau. Kalau begitu udah dulu ya Pak. Bapak dan ibu baik - baik di sana, jaga kesehatan juga. Salam buat Ibu ya Pak, nanti kalau sudah santai aku telepon Ibu lagi" pamit Ela.
"Iya Nduk. Assalamu'alaikum" jawab Pak Budi.
"Wa'alaikumsalam" sahut Ela.
Ela menutup teleponnya dan menatap wajah suaminya.
"Gimana yank? Bapak bilang apa aja tadi?" tanya Romi tak sabar.
"Bapak Ibu senang sekali mendengar berita gembira ini Mas. Bapak juga cerita tadi kalau mereka sudah nabung untuk haji plus. Karena kalau haji biasa mereka takut usianya sudah tua nunggu antrian berangkat" jawab Ela.
"Kalau begitu umroh aja El. Papa dan Mama juga beberapa hari ini sudah berencana mau umroh. Bisa daftar bersama - sama. Jadi kami bisa pergi umroh berempat. Ya kan Ma? Kalau ada teman kan lebih semangat" sambut Pak Hidayat.
"Bener itu Pa, kita syukuran karena mendapat kabar gembira ini dengan berangkat umroh. Nanti kita di sana berdoa semoga cucu kita dan Ibunya sehat - sehat sampai lahiran" ujar Bu Hidayat.
"Tuh yank kamu dengar apa kata Papa dan Mama. Aku juga setuju Bapak dan Ibu pergi umroh bareng sama Papa dan Mama. Nanti aku yank akan daftarin semuanya ya. Bapak dan ibu berangkat dari Jakarta saja sama Papa dan Mama, gimana?" tanya Romi.
"A.. aku tanya Bapak dan Ibu dulu ya Mas" jawab Ela.
.
.
BERSAMBUNG