
Malam harinya setelah pulang dari rumah Bimo, Riko menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Tiba - tiba hujan turun dengan lebatnya.
Dalam kondisi malam seperti ini Riko melihat ada mobil di depan yang berhenti. Dia melihat sepasang suami istri yang sudah berumur sedang berada di luar. Si istri sedang memegang payung untuk menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya yang sedang mengganti ban mobilnya.
Hati Riko tergeral untuk membantu mereka. Riko kasihan melihat pasutri tua itu hujan - hujanan seperti itu. Riko segera menepikan mobilnya di belakang mobil itu.
Riko keluar dengan membawa payung dan berjalan mendekati pasutri yang sudah tak muda itu.
"Maaf Pak, Bu mobilnya kenapa?" tanya Riko sambil melihat kondisi mobil tersebut.
"Bannya kempes Nak" jawab si Istri yang sedang memegang payung.
"Mari sini Pak saya bantu. Biar saya saja yang mengganti bannya" pinta Riko.
Lelaki tua itu segera berdiri dan melihat kearah Riko. Baik pria itu ataupun Riko sama - sama terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Ka.. kamu" ucap Pria tua itu.
"Bapak" sambut Riko.
Riko baru melirik ke arah wanita tua yang membawa payung tadi.
"Ibu.. " ucap Riko.
"Nak Riko" balas wanita tua itu sambil kedinginan.
Mereka adalah Papa dan Mama Dini. Suatu kebetulan Riko bertemu mereka di jalan dalam keadaan seperti ini. Pasti Riko semakin tidak tega meninggalkan mereka apalagi kini Riko tau dua orang yang ada di hadapannya ini adalah orang tua dari wanita yang sedang dia perjuangkan sebagai calon istrinya kelak.
"Ibu dan Bapak masuk saja dulu ke mobil saya ya biar saya yang bantuin gantiin ban mobil kalian. Sudah malam dan hujan, Bapak dan Ibu pasti kedinginan" ucap Riko.
"Tidak usah, saya bisa kok mengerjakannya sendiri" tolak Papa Dini.
"Pak tolong... anggap saja saya orang lain dan terimalah bantuan dari saya. Kondisinya saat ini hujan deras, kalau Bapak dan Ibu tetap memaksakan diri nanti kalian akan sakit" pinta Riko.
Papa Dini hendak menolak lagi tapi istrinya langsung menghentikan sikap penolakan suaminya.
"Pa sebaiknya kita masuk saja ke dalam mobil. Lihat tubuh Papa sudah kedinginan" ajak Mama Dini.
Pria tua itu tampak sedang berpikir panjang.
"Tolong Pak, kalau Bapak sangat membenci saya, anggap saja saya seperti orang lain dan jangan sungkan dengan bantuan yang saya berikan. Saya tulus ingin membantu Bapak. Tidak sedang ingin mencari simpatik Bapak" ujar Riko dengan tegas.
"Baiklah, ya sudah Bu. Yuk kita masuk ke dalam mobilnya" Pria itu mengajak istrinya masuk ke dalam mobil.
Riko mulai mengganti mobil Papa nya Dini. Sementara pasutri itu masuk kedalam mobil Riko dan duduk di kursi penumpang.
"Lihat Pa anak itu, Mama melihat ketulusan dari tatapannya" ucap Mama Dini.
"Halaah dia pasti cuma pura - pura cari simpatik kita" elak Papa Dini.
"Mama lihat dia tadi juga terkejut Pa ketika mengenali wajah kita. Pasti dia tidak menduga sama sekali kalau orang yang dia bantu adalah kita" bela Mama Dini.
"Itu pasti sudah dia rencanakan" sambut Papa Dini.
Mama Dini hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Mereka melihat dari mobil Riko bagaimana Riko dalam hujan yang sangat deras mengganti ban mobil mereka.
"Seandainya pun dia merencanakannya tapi dia benar - benar sudah membantu kita. Kalau tidak ada dia Mama rasa kita besok pasti akan sama - sama sakit karena terkena hujan deras begini" Mama Dini masih berusaha ingin meruntuhkan dinginnya hati suaminya.
"Jangan Pa, jangan tambah sakit hatinya. Jangan lukai perasaannya lebih dalam lagi. Mama tau setiap dia datang ke rumah kita, Papa tolak dan Papa usir pasti hatinya terluka. Tapi dia tidak pantang menyerah. Dia masih saja terus menerus datang ke rumah kita untuk berkenalan dengan keluarga kita padahal di rumah sudah tidak ada Dini. Mama sudah bertanya pada Ibu kos Dini di Bandung apakah pernah teman pria Dini datang ke kosan? Mereka bilang tidak pernah ada tamu pria Dini yang datang ke kosannya" ungkap Mama Dini.
Papa Dini langsung membuang pandangannya ke arah lain. Sebenarnya dia sangat berat mengalah dan menerima uluran tangan pemuda itu untuk membantunya malam ini.
Tapi apa daya tubuhnya memang sudah tidak muda lagi. Dia sudah kedinginan karena hujan deras dan angin malam ini yang sangat kencang.
Kalau ditanya harga diri. Papa Dini merasa harga dirinya sudah terganggu karena sikap Riko ini. Dia seperti berhutang budi karena bantuan yang diberikan Riko kepadanya dan istrinya malam ini.
Riko sudah selesai mengganti ban mobil yang kempes dengan ban serap yang ada di bagasi mobil. Kemudian Riko memasukkan ban kempes itu kedalam bagasi mobil.
Setelah itu dengan tubuh yang sudah basah kuyup Riko berjalan ke arah mobilnya untuk menemui Papa dan Mama Dini yang berteduh di dalam mobilnya.
"Pak, Bu mobilnya sudah selesai" ucap Riko.
Wajah Riko tampak pucat karena menahan dingin. Mama Dini keluar dan memakai payung. Sedangkan Papa Dini keluar dari sisi mobil yang lain dan Riko langsung memayunginya.
"Tidak usah" tolak Papa Dini.
"Tidak apa Pak, saya juga sudah nanggung pakai payungnya. Sudah basah semua" jawab Riko tulus.
Papa Dini hanya diam dan berjalan menuju mobilnya sedangkan Riko mengikutinya dari belakang sambil memayungi Papa Dini sampai ke dalam mobilnya.
"Terimakasih banyak ya Nak Riko" ucap Mama Dini sambil tersenyum tulus
"Ah biasa aja Bu, cuma begini aja kok. Wajarkan saya membantu" balas Riko.
Papa Dini tampak masih enggan bersuara.
"Hati - hati ya Pak, Bu. Pelan - pelan saja bawa mobilnya. Jalanan gelap dan hujan deras" ujar Riko.
"Iya Nak Riko, sekali lagi terimakasih ya" sambung Mama Dini.
Papa Dini mulai menyalakan mobilnya, sebelum pergi Papa Dini melirik Riko sekilas.
"Terimakasih atas bantuan kamu malam ini. Anggap saya punya hutang kepada kamu, suatu saat saya berjanji akan membayarnya. Saya tidak ingin punya hutang budi pada kamu" ucap Papa Dini.
Walau kata - kata Papa Dini itu sangat menyakitkan Riko berusaha kuat dan tetap tersenyum menatap wajah pria yang paling disayangi oleh wanita impiannya.
"Tidak perlu Pak, saya ikhlas dan tulus kok bantu Bapak. Bapak tidak berhutang apapun pada saya" jawab Riko tulus.
"Sudah ya Nak Riko kami pulang dulu. Hati - hati juga pulangnya, langsung mandi ya biar kamu gak sakit" pesan Mama Dini.
"Iya Bu" jawab Riko.
Papa Dini segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan Riko sendirian dalam gelapnya malam dan hujan yang deras. Dinginnya angin malam yang menusuk tulang Riko tak lagi dia rasakan sakitnya. Karena luka hatinya atas sikap penolakan Papanya Dini lebih sakit menusuk hatinya.
Ya Allah, hamba ikhlas membantu mereka malam ini. Tolonglah lembutkan hati mereka untuk mulai menatapku sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa. Doa Riko dalam hati.
Riko kembali ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mobilnya kembali menuju apartemennya.
.
.
BERSAMBUNG