
"Eeeel... tolong El. Tolong Mas Aril Eeel" ucap Bela sambil menangis.
"Mas Aril kenapa?" tanya Ela terkejut.
"Tolong... Mas Aril kesulitan bernafas" teriak Bela.
"Iya.. iya kami ke sana" ucap Ela.
Ela segera menutup ponselnya dan menarik Romi untuk keluar kamar. Tapi Romi bertahan tetap di tempat tidur.
"Mas ayo.. Mas Aril dalam bahaya" ajak Ela.
"Gak mau, pasti itu cuma akal - akalan dia saja" tolak Romi.
"Nggak Mas.. Bela tadi menghubungiku sambil menangis. Bela tidak akan bohong Mas, aku yakin pasti ada sesuatu dengan Mas Aril. Ayo Mas" jawab Ela.
"Nggak, aku gak mau. Aku kenal siapa Aril. Dia pasti punya seribu satu alasan untuk menggagalkan malam pertama kita" ucap Romi enggan bergerak.
Tiba - tiba Romi dan Ela mendengar suara orang yang sedang berbicara di luar sambil terdengar suara deru kaki orang yang sedang berlarian.
Ela segera membuka pintu kamar karena penasaran. Dan mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi.
"Ada apa Pak?" tanya Ela.
"Kami mendapat laporan kalau Bapak yang ada dikamar sebelah pingsan tak sadarkan diri Bu" jawab salah satu pelayan Hotel.
"Kamar yang sebelah mana?" tanya Ela.
"Ini kamar di sebelah kamar Ibu. Bapak Aril Ekaputra" jawab pria itu lagi.
Begitu mendengar nama Aril disebut Romi segera bangkit dan berlari keluar kamar. Ela menyusulnya dari belakang. Mereka segera berlari ke kamar Bela.
Saat masuk ke kamar Aril dan Bela mereka melihat Bela sedang menangis sambil memeluk kepala Aril yang ada di atas pangkuan Bela.
"Ada apa Bel? Ada apa dengan Aril?" tanya Romi panik.
"Gak tau.. kami baru saja selesai makan malam tiba - tiba Mas Aril merasa seluruh tubuhnya panas dan gatal. Tubuhnya merah semua dan dia mulai sesak nafas" jawab Bela.
"Tadi Bapak makan apa Bu?" tanya salah satu karyawan Hotel.
"Sate gurita" jawab Bela.
"Dari ciri - ciri yang Ibu sebutkan tadi sepertinya Pak Aril alergi gurita. Sebaiknya kita harus memberikan pertolongan pertama" ujar Pelayan.
"Tolong suami saya Pak" pinta Bela sambil menangis.
Dia sangat ketakutan akan kehilangan Aril disaat seperti ini. Dia sedang hamil anak kembar. Dia dan anak - anaknya sangat membutuhkan Aril.
"Apa di hotel ini bisa melakukan pertolongan pertama?" tanya Romi khawatir.
"Sebaiknya kita bawa saja Pak Aril ke klinik Hotel Pak untuk dilakukan pertolongan pertama. Di sana ada dokter yang selalu ready" ujar Karyawan Hotel.
"Ayo mari" sambut Romi cepat.
Mereka mengangkat Aril dan segera membawanya ke klinik. Dokter segera melakukannya pertolongan pertama memberikan oksigen kepada Aril.
Wajah Aril berubah semakin merah dan membengkak. Bela tak hentinya menangis. Romi saja tak tega melihat kondisi Aril saat ini.
"Apa bisa alergi berdampak separah ini?" tanya Romi bingung.
"Bisa saja Pak, tiap - tiap manusia punya daya tahan tubuh yang berbeda - beda. Apalagi dampak alergi Pak. Ada yang hanya ringan saja tapi ada yang berat seperti Bapak ini" jawab Dokter.
"Jadi bagaimana suami saya Dok?" tanya Bela masih menangis.
Ela terus merangkul Bela mencoba untuk menenangkannya.
"Untuk sementara kita bantu alat pernapasan Bu. Tapi karena kita tidak punya alat lengkap di sini sebaiknya kita bawa Bapak ini ke RS yang ada di Gorontalo" jawab Dokter.
"Lebih cepat lebih baik Dok, saya tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada sahabat saya" potong Romi.
"Baik Pak ayo segera kita bawa" sambut Dokter.
"Tunggu aku ikut" ucap Bela.
"Jangan Bel biar aku saja yang temani Aril. Kamu kan sedang hamil muda nanti kamu kelelahan dan membahayakan kandungan kamu" cegah Romi.
"Iya Bel, kita tunggu di sini saja ya. Biar aku yang temani kamu di sini" sambut Ela.
Aril segera dibawa ke Kota Gorontalo dan dilarikan ke RS terdekat. Satu jam kemudian nafas Aril terlihat sudah normal kembali. Wajahnya juga sudah tidak semerah dan sebengkak tadi.
Romi segera melaporkan keadaan Aril kepada Bela.
Romi
Pernafasan Aril sudah mulai normal. Kata dokter tidak ada yang mengkhawatirkan, besok kalau keadaan Aril semakin membaik kami akan balik ke Hotel. Kamu dan Ela tidur saja Bel, istirahat. Jangan khawatir keadaan Aril. Mudah - mudahan Aril akan sehat
Bela
Alhamdulillah ya Allah... Terimakasih Mas Romi, maaf sudah merepotkan Mas Romi jadinya. Titip Mas Aril ya tolong jagain dia
Romi
Iya Bel
Romi segera mengirim pesan ke group mereka.
Romi
Mohon bantuan doa untuk sahabat kita
Tulis Romi dibawah foto Aril yang sedang terbaring lemah dengan selang oksigen menutup hidungnya.
Bimo segera melakukan panggilan video call group. Semua masuk dalam panggilan tersebut.
"Lho kok bisa Aril bareng kamu? Kamu kan lagi honeymoon di Pantai Cinta?" tanya Bimo.
"Si kunyuk ini nyusul lebih tepatnya informasi honeymoonku bocor dan dia tiba lebih dulu di sini" jawab Romi.
"Jadi apa yang terjadi padanya? Mengapa dia sampai di rawat di Rumah Sakit?" tanya Refan.
"Dia ternyata alergi gurita. Tadi saat makan malam, Bela bilang kalau Aril memesan sate gurita. Setelah itu tubuh Aril merah panas dan gatal dan dia mulai kesulitan bernafas hingga akhirnya Aril pingsan" ungkap Romi.
"Innalillahi... apes kali nasib kamu Ril. Kemarin ngidam si Riko. Apa karena kamu ini Ko. Kamu gak mau di deketin Aril sampai Aril harus pergi menjauh untuk bisa mengalihkan pikirannya pada Bimo. Tadi Aril sempat curhat padaku" sambut Bagus.
"Duuuh aku jadi merasa bersalah" jawab Riko menyesal.
"Jadi bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Refan khawatir.
"Sudah mulai membaik, nafasnya sudah teratur. Kalau besok keadaannya semakin membaik kami akan pulang" jawab Romi.
"Alhamdulillah... jadi Bela mana?" tanya Bimo.
"Bela dan Ela tinggal di Hotel. Aku tidak mau Bela kelelahan dan berakibat buruk sama kandungannya. Apalagi Bela tadi sangat shock dan menangis" jawab Romi.
"Kasihan banget mereka" sambung Bimo.
"Kamu yang sabar ya Rom dan ikhlas jagain Aril" ucap Riko memberi semangat.
"Yaaah walaupun malam pertama kamu harus gagal seperti Riko juga dan semua karena Aril walau kali ini ceritanya berbeda" sambut Bagus.
Gleeeg.... Romi menahan salivanya dan mulai tersadar.
Bener juga karena telalu panik tadi, aku sampai lupa kalau malam ini adalah malam pertamaku. Gagal deh.. semua gara - gara Aril. Ah tapi mana aku tega melihat dia seperti tadi. Batin Romi.
Romi akhirnya bisa bernafas lega.
"Sudah dulu ya guys aku mau istirahat. Aril sudah tidur dengan tenang, aku juga mau tidur capek" ujar Romi.
"Oke bro.. titip adik iparku ya. Tolong kamu bantuin dia" sambut Bimo.
"Semoga Aril cepat sembuh" ujar Refan.
"Aamiin.. salam ya pada Aril saat di sadar nanti" ucap Riko.
Telepon terputus, Romi segera mengambil posisi tiduran di sofa dan mulai memejamkan matanya untuk istirahat tidur.
.
.
BERSAMBUNG